BAB 2 — KUTUKAN YANG TIDAK BISA DITOLAK
Tiga hari setelah malam itu, Arvan masih duduk di depan gundukan tanah kecil di tepi hutan.
Tidak ada batu nisan. Tidak ada upacara. Tidak ada kultivator yang datang memberi penghormatan. Hanya sebatang kayu yang ia tancapkan sendiri, dengan nama ibunya ia goreskan menggunakan batu tajam.
SERA DUSKARA.
Tiga kata yang merangkum seluruh dunia Arvan selama delapan belas tahun.
Denta duduk di sampingnya sejak pagi, tidak bicara, hanya menemani. Itulah yang Arvan sukai dari sahabatnya itu. Denta tahu kapan kata-kata tidak diperlukan.
Penduduk desa Kaldvera yang tersisa sudah mulai membangun kembali reruntuhan mereka. Kehidupan berjalan terus seperti biasa. Tidak ada yang bertanya kenapa ibu Arvan mati tanpa sebab. Tidak ada yang peduli cukup dalam untuk mencari jawaban.
Kecuali Arvan sendiri.
Ia menatap tangannya. Tangan yang tiga malam lalu menangkap cakar Garuda Batu Abyssal. Tangan yang kini kembali terlihat seperti tangan biasa, kurus, dengan kalus di telapak dari bertahun-tahun bekerja di ladang.
Di dalam pikirannya, tulisan itu masih ada.
SISTEM KULTIVASI TERBANGUN.
LEVEL 1 TERCAPAI.
PROTOKOL KUTUKAN DARAH AKTIF.
PERINGATAN BERIKUTNYA: LEVEL 2.
"Kau tidak tidur lagi semalam," kata Denta akhirnya.
"Tidak."
"Makan?"
"Tidak."
Denta menghela napas panjang. "Arvan, ibumu tidak mau kau—"
"Kutukan Darah." Arvan memotong pelan. "Pernah dengar?"
Denta terdiam. Keningnya berkerut. "Dari mana kau tahu soal itu?"
Arvan menatap sahabatnya. "Kau tahu?"
"Kakekku pernah cerita." Denta duduk lebih tegak, suaranya turun menjadi bisikan meski tidak ada orang lain di sekitar mereka. "Katanya ada kultivator kuno yang dikutuk oleh leluhur iblis ribuan tahun lalu. Setiap kali naik level, seseorang yang paling ia cintai akan mati sebagai gantinya. Kekuatan tidak datang gratis. Ada yang harus dibayar."
Sunyi.
Angin melewati sela-sela pepohonan, menggerakkan daun-daun kering yang berjatuhan seperti serpihan abu.
"Itu bukan dongeng," kata Arvan.
Denta menatapnya lama. Lalu pelan-pelan, seperti seseorang yang baru menyadari bahwa lantai di bawah kakinya ternyata adalah jurang, ia berkata, "Kau serius."
"Malam itu aku naik ke Level 1." Arvan tidak memalingkan wajah dari gundukan tanah di depannya. "Dan ibu mati tanpa sebab yang bisa dijelaskan siapapun."
"Itu bisa jadi kebetulan—"
"Tidak ada yang kebetulan, Denta."
Hening lagi. Lebih panjang kali ini.
Denta menelan ludah. "Kalau itu benar, kalau kutukan itu nyata, maka kau tidak boleh naik level lagi. Hentikan kultivasi. Jangan pernah berlatih. Hiduplah seperti orang biasa dan—"
"Dunia akan hancur."
Kata-kata itu keluar dari mulut Arvan tanpa ia rencanakan. Seperti sesuatu yang sudah ia tahu sejak lama tapi baru tersusun menjadi kalimat sekarang.
Denta terbeku.
Arvan akhirnya menoleh ke arah sahabatnya. "Sistem ini bukan hanya memberi kekuatan. Ia juga memberiku informasi. Garuda Batu Abyssal yang menyerang desa kita kemarin bukan yang terakhir. Itu hanya yang terkecil. Yang akan datang berikutnya jauh lebih besar, dan waktunya tidak lama."
"Berapa lama?"
"Cukup lama untuk kita bicara soal ini." Arvan berdiri, menepuk tanah dari celananya. "Tidak cukup lama untuk bersantai."
Denta berdiri mengikutinya. Di wajahnya tergambar perang antara logika dan kepanikan. "Jadi kau akan terus kultivasi? Arvan, kau baru saja kehilangan ibumu karena—"
"Aku tahu."
"Kalau kau naik ke Level 2, seseorang yang kau sayang akan—"
"Aku tahu, Denta!" Suara Arvan meninggi untuk pertama kalinya, lalu ia menarik napas panjang, memejamkan mata sebentar, dan berkata lebih pelan, "Aku tahu."
Denta menatapnya dengan ekspresi yang Arvan tidak sanggup membacanya terlalu dalam.
"Siapa yang akan mati berikutnya?" bisik Denta.
Arvan tidak menjawab.
Tapi matanya berbicara terlalu jelas.
Denta adalah satu-satunya sahabatnya. Di luar ibunya yang sudah tiada, hanya ada dua orang yang benar-benar dekat dengan Arvan. Denta. Dan seorang gadis bernama Seraphine, putri kepala desa yang entah mengapa selalu menyisakan makanan lebih di depan gubuk Arvan sejak mereka kecil, meski tidak pernah mengakui bahwa itu darinya.
Dua orang.
Dua nyawa yang menjadi taruhan untuk setiap langkah kekuatan yang ia ambil.
"Pergi dariku," kata Arvan tiba-tiba.
Denta terdiam.
"Pergi jauh. Tinggalkan desa ini. Temukan hidup baru di kota lain. Jangan hubungi aku." Suara Arvan datar tapi ada sesuatu di baliknya yang retak. "Kalau kau bukan orang yang aku sayang, kutukan ini tidak akan menyentuhmu."
"Kau pikir itu semudah itu?" Denta tertawa pahit. "Kau pikir aku bisa berhenti peduli padamu hanya karena kau minta?"
"Kau harus mencoba."
"Tidak."
"Denta—"
"Tidak, Arvan." Denta melangkah maju, mencengkeram bahu sahabatnya dengan kedua tangan. "Dengarkan aku. Aku tidak pergi. Aku tidak akan berpura-pura tidak mengenalmu. Dan kalau kutukan itu memang nyata dan aku harus mati karenanya, maka itu pilihanku. Bukan pilihanmu untuk memutuskan."
Arvan menatap matanya lama.
Lalu ia mendorong tangan Denta pelan dan berbalik.
"Aku perlu tahu lebih banyak tentang kutukan ini," katanya. "Di Kaldvera tidak ada yang bisa mengajariku apapun. Aku harus pergi ke Menara Kultivasi di Kota Veldran."
"Sendirian?"
"Lebih aman sendirian."
Langkah Arvan tidak berhenti. Ia berjalan menuju gubuknya yang setengah hancur, mengambil bungkusan kecil berisi beberapa potong roti keras dan satu set pakaian ganti, lalu mengikatnya di punggungnya.
Di ambang pintu yang tinggal separuh berdiri, ia berhenti sebentar.
Tanpa menoleh ia berkata, "Jaga Seraphine."
Denta tidak menjawab.
Arvan melangkah keluar.
Jalan menuju Kota Veldran membutuhkan tiga hari berjalan kaki melewati hutan yang sejak kemarin mulai dipenuhi jejak makhluk purba baru. Ia tidak punya senjata. Tidak punya bekal yang cukup. Tidak punya panduan kultivasi apapun.
Yang ia punya hanya sistem misterius dalam pikirannya dan kutukan yang tidak ia minta.
Di persimpangan jalan sebelum hutan, ia berpapasan dengan rombongan kultivator dari perguruan Sabuk Perak, enam orang berseragam putih-perak dengan sabuk logam di pinggang mereka, lambang kultivator tingkat Perunggu hingga Besi.
Mereka melirik Arvan sekilas dan memalingkan muka.
Seorang pemuda desa biasa tidak layak mendapat perhatian lebih dari itu.
Salah satu dari mereka, seorang pemuda seusia Arvan dengan rambut tersisir rapi dan jubah yang tampak mahal, meludah ke tanah saat melewatinya.
"Bau ladang," gumamnya, cukup keras untuk didengar.
Temannya tertawa.
Arvan tidak bereaksi. Ia berjalan terus, matanya lurus ke depan, dengan satu kalimat yang terus berputar dalam pikirannya.
Sistem di kepalanya berkedip pelan.
LEVEL SAAT INI: 1
JARAK KE LEVEL 2: 34%
PERINGATAN AKTIF: PROTOKOL KUTUKAN DARAH
Tiga puluh empat persen.
Arvan tidak tahu apakah itu angka yang besar atau kecil. Ia tidak tahu seberapa cepat levelnya akan naik. Ia tidak tahu apakah ada cara untuk memutus kutukan ini sebelum seseorang berikutnya harus membayar harganya.
Yang ia tahu, langkahnya tidak boleh berhenti.
Di belakangnya, hutan Kaldvera semakin jauh.
Di depannya, jalan menuju Veldran membentang panjang dan sunyi.
Dan di dalam dadanya, di tempat yang dulu ditempati oleh kehangatan ibunya, kini hanya tersisa satu hal.
Tekad yang dingin seperti batu nisan.
Lanjut Bab 3?
