BAB 1 — MALAM YANG MENGUBAH SEGALANYA
Angin malam membawa bau darah.
Arvan Duskara berdiri di tengah ladang yang terbakar, memandangi desa Kaldvera yang perlahan dilahap api. Ia berumur delapan belas tahun, berbadan kurus, dengan tangan yang lebih terbiasa memegang cangkul daripada pedang. Di antara ratusan penduduk yang berlarian panik, tidak ada yang peduli dengan keberadaannya.
Memang tidak pernah ada yang peduli.
"Arvan! Lari!"
Suara itu milik Denta, sahabat satu-satunya sejak kecil. Lelaki bertubuh lebih besar darinya itu menarik lengan Arvan dengan kasar, mencoba menyeretnya menjauh dari kobaran api yang semakin membesar.
"Ibuku masih di dalam!" Arvan menepis tangan Denta. Matanya terkunci pada sebuah gubuk kecil di ujung desa, tepat di mana lidah api paling ganas menjilat dindingnya.
"Sudah ada yang menyelamatkannya! Kita harus pergi sekarang sebelum—"
Suara Denta terputus oleh teriakan panjang yang membekukan darah.
Dari hutan di tepi desa, sesuatu keluar.
Bukan manusia.
Tingginya dua kali lipat pohon tertua di Kaldvera. Tubuhnya dibalut batu hitam yang tampak seperti kulit, dengan empat lengan panjang masing-masing berujung cakar sebesar manusia dewasa. Sepasang matanya menyala merah tua seperti bara yang tidak pernah padam. Di setiap langkahnya, tanah retak dan rumput mati seketika.
Makhluk purba. Kultivator mana pun yang pernah melihatnya akan langsung mengenalinya.
Garuda Batu Abyssal. Makhluk tingkat tujuh. Bahkan kultivator tingkat Emas pun tidak berani menghadapinya sendirian.
Dan di desa ini, tidak ada satu pun kultivator.
Semua orang berlari. Para tetua yang biasanya bicara soal keberanian mendadak menjadi yang paling cepat melarikan diri. Para penjaga desa dengan tombak kayu mereka melempar senjata begitu saja dan tunggang langgang mengikuti arus kepanikan.
Arvan tidak bergerak.
Bukan karena berani. Kakinya gemetar begitu keras sampai ia hampir jatuh berlutut. Jantungnya berdegup seperti hendak menembus tulang rusuk. Seluruh nalurinya berteriak untuk berlari, untuk menyelamatkan diri, untuk tidak menjadi pahlawan bodoh yang mati tanpa guna.
Tapi ibunya masih di dalam gubuk itu.
Ia melihat Denta menghilang bersama kerumunan, wajahnya penuh ketakutan dan rasa bersalah. Tidak apa-apa. Arvan tidak menyalahkannya. Tidak ada orang waras yang akan bertahan di sini.
Ia mengambil sebatang kayu yang terbakar dari reruntuhan pagar, menggenggamnya erat meski telapak tangannya langsung melepuh, lalu melangkah maju.
Garuda Batu Abyssal itu belum menyadari kehadirannya. Makhluk itu sedang sibuk meruntuhkan bangunan terbesar di desa, balai pertemuan tua yang sudah berdiri seratus tahun, dengan satu ayunan lengannya.
Arvan berlari ke arah gubuk ibunya.
Ia hampir sampai ketika sesuatu yang besar menghantam tubuhnya dari samping.
Satu lengan makhluk itu menyapu tanpa arah, dan Arvan terpelanting sejauh sepuluh meter, menghantam dinding batu sumur desa dengan punggungnya. Tulang-tulangnya berderak. Pandangannya berputar. Rasa sakit yang luar biasa meledak dari tulang belakang hingga ke ujung jari kakinya.
Ia mencoba bangkit. Tidak bisa.
Darah mengalir dari sudut bibirnya. Tulang rusuknya terasa seperti dipukul palu raksasa. Ia menatap langit malam yang berwarna oranye karena kobaran api, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arvan benar-benar berpikir bahwa ia akan mati.
Bakat kultivasi nol. Tidak punya meridian yang aktif. Tidak punya satu pun teknik bertarung. Hanya seorang pemuda desa bodoh yang mencoba melawan makhluk purba dengan kayu bakar.
Konyol.
Di ujung kesadarannya yang mulai memudar, ia mendengar suara ibunya memanggil namanya dari dalam gubuk yang terbakar.
Sesuatu di dalam dadanya bergetar.
Bukan sakit. Bukan takut.
Sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang dalam. Sesuatu yang terasa seperti pintu tua yang terkunci ribuan tahun tiba-tiba retak dari dalam.
Garuda Batu Abyssal itu berjalan ke arahnya. Tanah berguncang di setiap langkahnya. Matanya yang merah menatap Arvan dengan ekspresi yang pada makhluk manusia mungkin akan disebut sebagai rasa ingin tahu. Seperti memandangi serangga kecil yang entah kenapa belum mati.
Cakar raksasa itu terangkat.
Arvan memejamkan mata.
Dan sesuatu di dalam dirinya meledak.
Tidak ada cahaya. Tidak ada suara. Hanya rasa seperti seluruh tulangnya dibakar dari dalam, seperti darahnya diganti dengan lahar gunung berapi, seperti setiap sel dalam tubuhnya dirombak ulang dalam satu detik yang terasa seperti selamanya.
Cakar itu turun.
Arvan menangkapnya dengan satu tangan.
Ia sendiri tidak percaya. Tangannya, tangan kurus yang bahkan tidak kuat membawa dua ember air sekaligus, kini mencengkeram cakar makhluk tingkat tujuh itu tanpa bergeser satu inci pun.
Garuda Batu Abyssal itu mendorong lebih keras.
Arvan tidak bergerak.
Sesuatu mengalir dalam tubuhnya, bukan seperti aliran air, tapi seperti arus sungai besar yang selama ini dibendung dan kini bendungannya jebol semua sekaligus. Kekuatan itu mengisi setiap sudut tubuhnya, setiap meridian yang selama delapan belas tahun dinyatakan mati oleh semua tabib dan tetua yang pernah memeriksanya.
Ia berdiri.
Makhluk itu mundur satu langkah. Pertama kalinya sejak tiba di Kaldvera.
Arvan tidak tahu apa yang terjadi. Ia tidak tahu dari mana kekuatan ini. Ia tidak tahu bagaimana menggunakannya. Ia hanya tahu satu hal yaitu ibunya masih di dalam gubuk yang terbakar dan ia harus sampai ke sana.
Ia mendorong lengan makhluk itu ke samping, sama seperti mendorong pintu, dan berjalan menembus kobaran api.
Panas yang seharusnya meluluhlantakkan kulit tidak terasa. Api yang menjilat bajunya padam begitu menyentuh kulitnya. Ia masuk ke dalam gubuk yang sudah setengah runtuh dan menemukan ibunya tergeletak di lantai, pingsan karena asap.
Ia menggendong tubuh ringkih itu dan keluar.
Garuda Batu Abyssal menatapnya dari kejauhan, tidak menyerang. Seperti menunggu. Seperti menilai.
Arvan berbaring di tanah dingin di luar desa, ibunya di sampingnya, napasnya tersengal-sengal. Kekuatan tadi sudah tidak terasa lagi. Tubuhnya kembali sakit seperti seharusnya, bahkan lebih sakit, seperti harga yang harus dibayar atas beberapa menit keajaiban itu.
Dari kejauhan, ia melihat makhluk itu berbalik dan masuk kembali ke dalam hutan.
Selesai.
Arvan menutup matanya, mencoba mengatur napas. Di benaknya masih berputar pertanyaan yang belum bisa ia jawab. Kekuatan apa yang tadi mengalir dalam tubuhnya. Dari mana asalnya. Kenapa baru sekarang muncul setelah delapan belas tahun tidak ada tanda-tanda.
Sebuah notifikasi asing muncul di dalam pikirannya, bukan suara, bukan tulisan, tapi seperti pemahaman yang langsung tercetak begitu saja.
SISTEM KULTIVASI TERBANGUN.
LEVEL 1 TERCAPAI.
PERINGATAN: PROTOKOL KUTUKAN DARAH AKTIF.
Arvan tidak mengerti artinya.
Lalu ia mendengar tangisan.
Tangisan Denta, dari arah kerumunan pengungsi yang mulai kembali ke reruntuhan desa.
Tangisan yang sangat ia kenal. Tangisan yang belum pernah ia dengar dari sahabatnya yang selalu keras kepala itu.
Dengan susah payah Arvan bangkit dan berjalan ke arah suara itu.
Di tengah kerumunan, di atas tanah yang belum sempat padam baranya, ibunya terbaring diam.
Perempuan yang baru saja ia selamatkan. Perempuan yang ia gendong keluar dari api dengan tangannya sendiri. Perempuan yang napasnya masih terasa di bahunya beberapa menit yang lalu.
Tidak bernapas lagi.
Tidak ada luka. Tidak ada bekas api. Tidak ada alasan yang bisa dilihat oleh siapapun.
Denta menatapnya dengan mata merah. "Aku tidak tahu, Arvan. Dia tiba-tiba saja—"
Arvan tidak mendengar sisa kalimat itu.
Di dalam pikirannya, tulisan asing itu masih berpendar pelan.
PROTOKOL KUTUKAN DARAH AKTIF.
Dan untuk pertama kalinya, ia mulai mengerti apa artinya.
---
Bab 2 lanjut?
