Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5

Pagi harinya, aku bangun kesiangan. Ku lihat cahaya matahari sudah meninggi dari celah celah ventilasi kamarku.

Aku bangkit dengan cepat, menuju ruang depan. Ternyata Desti juga belum bangun.

Wanita itu masih terlelap di atas sofa dengan selimut yang jatuh menjuntai di lantai.

Posisi tidur Desti begitu menggoda dengan kedua kaki melebar. Sehingga isi dalam rok pendeknya tersingkap.

Dadaku seketika bertalu talu. Saliva di tenggorokanku terasa tercekat.

Aku membasahi bibir atas dan bawahku yang terasa kering.

Saat itu juga juniorku di bawah sana, bangkit dengan ugal ugalan.

Terlebih melihat t0brut Desti yang hanya terbungkus oleh tanktop tipis, membuatku seolah hampir kehilangan akal.

Namun meskipun godaan kali sudah sedemikian besar, aku masih berusaha bertahan untuk tidak tergoda dengan bujuk rayu syetan.

"Des... Desti... Sudah siang..." aku menyentuh dan menggoyang goyangkan ujung kaki wanita itu, berusaha untuk membangunkannya.

"Engh..." Desti bergumam pelan sambil bergerak sedikit. Matanya masih saja terpejam.

"Des... Desti..." ucap ku, lagi.

Desti membuka kedua matanya. Dia tersentak kaget saat melihat keberadaanku. Lalu pandangannya di edarkan ke seluruh ruangan.

"Hmm... Maafin Desti ya, Mas... Udah ngerepotin..." lirihnya sambil mengubah posisi menjadi duduk lalu mengucek kucek kedua matanya dengan tangan.

"Iya enggak apa apa. Kamu mau cuci muka di kamar mandi atau mau langsung pulang?"

"Pulang aja, Mas. Desti harus buru buru masak..." jawab Desti sambil berjalan mendekat ke arah pintu keluar.

"Des! Tunggu!"

Namun terlambat, pintu rumah kontrakanku sudah terbuka.

Desti berdiri di ambang pintu sambil menoleh ke arahku.

"Iya, mas?"

Tadinya aku hendak mengawasi keadaan di luar terlebih dahulu sebelum membiarkan Desti keluar dari rumahku. Namun rupanya terlambat.

Aku berjalan mengawasi keadaan di luar dan ternyata...

Ada segerombolan emak emak yang pagi ini sedang mengerumumi tukang sayur.

Mati deh, aku!

Sudah bisa di tebak. Mereka terkejut dan saling bisik bisik saat melihat kehadiran Desti yang keluar dari dalam rumah kontrakanku dengan keadaan rambut kusut masai karena baru bangun tidur.

"Heh! Lihat tuh kelakuan suaminya Nisa! Dia selingkuh sama tetangga barunya! Gila ya, si Zainal itu!" seru Bu Nining sambil menunjuk nunjuk kearah aku dan Desti.

"Heh! Zaenal! Enggak nyangka ya, ditinggal Nisa minggat, kok malah masukin perempuan lain ke rumah kontrakannya! Habis berjinah kalian, kan!?" teriak Sumi, sambil menunjuk nunjuk ke arah aku dan Desti.

"Laporin ke pak RT aja, yok, bu ibu! Ada yang habis berzinah di lingkungan kita!" usul Rita dengan nada penuh semangat.

"Heh, iya! Kalau perlu kita rajam sampai mati aja si pezinah di kampung kita!" usul Sumi lagi sambil berseru heboh!

Aku pun merasa perlu untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada para emak emak rempong itu, karena jika di biarkan, keadaannya bakal jadi tambah runyam!

Aku pun keluar menemui mereka semua.

"Ibu ibu jangan menuduh sembarangan! Saya dan Desti sama sekali tidak berbuat macam seperti yang kalian tuduhkan! Desti numpang nginap di rumah kontrakan saya karena dia merasa terancam dengan seseorang!" tandasku berusaha mengatakan yang sebenarnya.

"Bohong! Kamu pikir kami ini boc-il boc-il Pe'a yang bisa dengan mudahnya dibodoh bodohi? Hah!? Lelaki dan perempuan yang enggak ada hubungan keluarga dan tidur satu ruangan, apalagi namanya kalau bukan berzinah!? Ya enggak ibu ibu!" sergah Nining dengan nada berapi api, diikuti seruan emak emak komplek yang lainnya.

"Betul itu, Ning! Sedari awal kita memang sudah curiga kalau si Zaenal ini udah main serong sama perempuan lonteh itu! Buktinya, si Nisa aja sampai pulang ke rumah orangtuanya!? Artinya apa? Artinya si Zaenal ini bener bener udah selingkuh sama perempuan di samping rumah kontrakannya itu!" timpal Sumi lagi panjang lebar dengan suara keras.

"Usir aja mereka dari sini! usir!!" teriak Tatik dengan heboh.

"Rajam aja mereka woy! Rajam!!"

Para emak emak itu pun berteriak teriak hingga memancing rasa keingin tahuan warga yang lain.

"Oh, kalau begitu urusannya, kita perlu membawa mereka ke balai desa! Biar pak RT yang mengadili mereka!" seru an Anwar, suami dari Wak Tatik.

"Iya lho! Pezinah enggak boleh dibiarkan melakukan perbuatan bejatnya di kampung kita! Bisa kena tulah kampung kita ini!" seru Fuad, suami dari Nining.

Akhirnya aku dan Desti di giring beramai ramai ke balai desa. Aku hanya bisa pasrah, menghadapi tuduhan para warga kampung.

*****

"Jadi kalian berdua ini tidur satu kamar!?" tanya pak RT dengan nada menyelidik.

Aku dan Desti di sidang dalam ruangan balai desa. Banyak sekali warga yang berkerumun ingin menonton.

Banyak sekali desas desus yang berhembus di kalangan para warga. Ada yang bilang aku dan Desti kepergok sedang berzina. Ada pula yang bilang aku yang melakukan rudal paksa pada janda yang tinggal di sebelah rumahku itu.

"Kan saya sudah cerita kronologisnya, pak RT... Tadi malam ada seseorang yang datang dan hendak menculik Desti. Banyak juga kok warga yang melihat? Itulah kenapa Desti numpang menginap di rumah kontrakan saya!" tandasku dengan sedikit ngegas. Sudah tiga kali ku jelaskan, tapi pertanyaan serupa kembali ditanyakan seolah hendak memancing pengakuanku.

"Tapi kan logikanya laki laki normal, tidur bedua satu rumah, dan mereka tak punya hubungan kekerabatan sebagai anggota keluarga, mustahil rasanya mereka tidak melakukan suatu hal yang tidak tidak, kecuali si Zaenal ini lelaki tak normal atau banci!!" seru Fuad dengan nada berapi api.

Suara seruan riuh para warga bergemuruh, seolah membenarkan pernyataan Fuad itu. Aku menggeram menahan emosi.

Harga diriku rasanya di injak injak di hadapan orang banyak.

"Betul pak RT! Sekuat kuatnya imam lelaki, kalau dihadapannya sudah di sodorkan surabi legit, pasti enggak akan sanggup menolak, kecuali si lelaki itu punya kelainan alias laki suka lelaki atau boti!" teriak salah seorang warga yang lainnya.

Aku mengepalkan tangan. Mereka bilang aku LSL! Benar benar membuat harga diriku turun derajat! Apalagi aku bekerja sebagai seorang satpam dimana kegagahan dan keberanian menjadi modal utama.

"Hei! Diam kalian semua! Siapa bilang aku tidak normal!? Aku bisa kok mengawini seorang wanita! Termasuk juga Desti!!" seruku dengan suara keras dan bergetar.

"Kalau begitu kamu harus bertanggung jawab, Zain! Kawini Desti! Jangan bisanya cuma berzinah tapi enggak mau bertanggung jawab! Jangan sebut diri kamu laki laki kalau kamu enggak sanggup menikahi si Desti!" seru Jupri, suaminya Rita yang berprofesi sebagai tukang kuli bangunan.

"Betul, pak RT! Kalau si Zain masih ingin tinggal di lingkungan kita, baiknya nikahkan saja dia dengan Desti, pak RT!!  dari pada meresahkan warga!!" sahut Juned, mantan suaminya si Sumi yang berprofesi sebagai sopir angkot dan doyan mabuk mabukan itu.

"Betull!! Nikahkan aja mereka berdua, pak RT!!?"

****

Singkat kata, aku dan Desti pun di nikahkan secara paksa dan ala kadarnya.

Anehnya, Desti sama sekali tak menolak atau menunjukkan tanda tanda keberatan.

Sebaliknya, aku merasa resah, karena pernikahanku dengan Nisa belum berakhir secara resmi.

Aku baru mentalak Nisa, belum menceraikannya secara sah di pengadilan agama.

Singkat kata, usai dinikahkan secara paksa di balai desa,  aku dan Desti pulang ke rumah masing masing.

Pernikahan antara aku dan Desti seperti terkesan main main.

Tak ada wali nikah Desti. Hanya ada pak RT yang bertindak sebagai wali hakim dan beberapa orang warga yang bertindak sebagai saksi nikah. Mas kawin juga hanya dengan uang lima puluh ribu rupiah yang dipinjamkan dari si Tatik, karena kebetulan aku tak membawa dompet.

Aku masih belum menerima keadaan bahwa kini, aku sudah sah sebagai suami Desti, janda pirang yang bekerja sebagai wanita penghibur itu.

(Bersambung)

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel