Bab 4
Malam ini aku duduk di teras rumahku dengan wajah frustasi.
Sudah lima batang rokok kretek yang aku habiskan, puntungnya ku biarkan berserakan di halaman rumah.
Pikiranku kalut dan ruwet. Apalagi penyebabnya kalau bukan karena permintaan Nisa yang ingin bercera?
Tepat pada saat itu, tiba tiba saja Desti keluar dari rumah kontrakannya dengan berpakaian serba minim dan aduhai menggoda.
Kulit nya putih mulus, bibirnya merah merekah, make up-nya cetar membahana, rambut pirangnya tergerai indah sepundak, membuat dia begitu menarik jika saja bisa aku kawini.
Saat tatapan kami bertemu, Desti menyungging senyum lebarnya yang mempesona.
"Kok malam malam duduk sendirian di luar, Mas? Mbak Nisa nya kemana?" sapanya dengan nada ramah.
"Eh, iya Des. Mas lagi galau berat,ditinggal Nisa minggat ke rumah orangtuanya!" jawabku dengan nada lemah, sambil menghisap dalam dalam rokok kretek ku.
Desti berjalan mendekat, Lalu ikut duduk di teras rumahku.
Aroma parfumenya yang lembut dan menyegarkan, terasa mengusik indra penciumanku.
Dalam jarak begitu dekat, aku bisa melihat dengan jelas kecantikan Desti. Apa lagi lewat celah gaun dengan belahan dadanya yang rendah, sesuatu yang besar menyembul,seolah sengaja menggoda imanku.
"Memangnya mas Zain galau kenapa, Kalau Desti boleh tau?" tanyanya dengan nada lembut.
Aku menyesap rokok yang terselip di jariku lalu menghembuskan perlahan.
"Aku bertengkar hebat dengan Nisa. Dia pulang ke rumah orang tuanya..." lirihku dengan suara bergetar.
"Sabar, Mas. Yang namanya rumah tangga pasti ada aja cobaannya. Semoga mas diberi kekuatan ya, dalam menjalaninya?" hibur Desti sambil menyentuh tanganku.
Aku kaget dan melirik penuh tanya ke arahnya. Desti tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang seputih mutiara.
"Makasih, ya Desti..." balasku, sambil tak berkedip memandang wajahnya. "Oia, sebenarnya kamu kerja dimana? Kenapa selalu pergi saat malam hari?"
"Mas sudah tau 'kan kerjaan Desti? Jadi Desti mohon, mas jangan bilang ke tetangga tetangga ya, mas?" pintanya.
"Maksudmu?" tanya ku pura pura tak mengerti, sambil memiringkan kepala.
"Aku kerja di tempat karaoke di Jakarta Utara, Mas..."
"Leci?"
"Iya Leci alias pemandu karaoke. Jadi kalau ada yang kepingin karaoke sekaligus ditemenin, Desti yang temenin. Begitu lho, mas?" jawabnya lagi. Namun aku yakin, Desti bukan hanya sebagai LC. Dia pasti bekerja Nyambi sebagai wanita pemuas lelaki. Itu hal yang umum.
"Terus yang pas malam itu kamu ke apartemen Pak Burhan?" tanyaku saat teringat perjumpaan tak sengajaku di apartemen tempatku bekerja.
"Nah, itu lagi dapat side job, mas. Lumayan buat uang tambahan beli make-up..." ucapnya senyum senyum di kulum. Aku pun semakin paham.
Aku mengangguk angguk. Tak perlu rasanya mengintrogasi Desti dengan pertanyaan pertanyaan bodoh yang jawabannya sudah aku ketahui.
"Mas sudah lama kerja di apartemen itu?" Desti kembali bertanya padaku.
"Mmm... Lumayan. Sudah tiga tahun, Des..."
"Berarti tahu dong, nama istrinya Om Burhan?" tanya nya lagi dengan nada super kepo.
"Setahuku, pak Burhan itu enggak punya istri, deh! Dia hampir tiap malam gonta ganti cewek!" jawabku, apa adanya.
"Hah? Serius!? Wah kurang ajar berarti si Om Burhan itu! Selama ini aku udah ditipunya mentah mentah!" ucapnya dengan nada menggeram.
Aku makin bingung. Apakah ada kalimatku yang salah?
"Lho memangnya kenapa, Des?" aku bertanya keheranan.
"Enggak, Mas. Lupakan aja. Sepertinya aku udah kena tipu!"
Desti pun pamit untuk kembali ke rumahnya. Aku makin keheranan. Namun aku tak berniat menanyakan lebih jauh. Biarlah itu menjadi urusan pribadinya.
Setelah merasa puas merokok, aku segera kembali kedalam kontrakan sambil membawa gelas kosong berisi ampas kopi.
Saat hendak pergi tidur, ku dengar suara ribut ribut dari kontrakan sebelah. Sepertinya terjadi pertengkaran di kontrakan Desti.
Aku bergegas keluar dan mengintip dari celah celah gorden.
Aku melihat seorang laki laki yang tak lain adalah pak Burhan, penghuni apartemen tempatku bekerja, menarik narik tangan Desti dengan paksa, supaya Desti segera masuk ke dalam mobilnya.
"Lepas! Lepasin aku, Om! Tolong! Tolong!" jerit Desi yang sepertinya hendak di culik pria paruh baya berkepala botak itu.
Aku bergegas keluar, lalu menarik tangan Desti supaya lepas dari cekalan Pak Burhan.
"Bangs*t!! Berani sekali kamu ikut campur urusanku!!" sentak pak Burhan. Namun dia tertegun saat mengenaliku
"Kamu!? Security di apartemen itu, kan!?" tunjuknya ke arahku.
"Iya! Saya security di apartemen Bapak! Lain kali jangan bersikap kasar sama perempuan, Pak! Apalagi bapak membuat kegaduhan di lingkungan sini!" sentakku, sama sekali tak takut padanya.
"Heh! Kamu jangan coba coba ikut campur urusanku, ya! Dasar satpam sontoloyo! Saya bisa saja komplain dan mengadukan perbuatan kamu ke yayasan, supaya kamu di pecat!" ancamnya dengan rahang mengeras.
"Ck, memangnya Bapak siapa!? Pak Burhan itu cuma penyewa unit apartemen! Bukan pemilik, apalagi Building management!? Lagi pula urusan ini enggak ada urusannya dengan pekerjaan saya! Pergi! Atau saya tidak segan menggunakan kekerasan!!" semburku dengan mata melotot.
"Fine! Awas kamu ya, satpam bodoh! Besok pagi, saya pastikan kamu akan dipecat!!" ancamnya sambil menunjuk nunjuk ke arah wajahku.
Pak Burhan menaiki mobil Alphardnya, lalu pergi meninggalkan komplek kontrakanku.
Meskipun sudah malam, banyak para tetangga yang keluar rumah, sekedar kepo dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Aku mengajak Desti untuk masuk ke dalam rumah kosnya.
"Kamu masuk ya, Des. Kalau pak Burhan datang lagi, kamu jangan bukakan pintu..." ucapku.
"Terima kasih banyak, Mas... Kalau mas enggak menolong aku. Mungkin aku udah di jual sama Om Burhan ke luar negeri! Hiks... Hiks..." jawab Desti sambil menangis terisak.
Meski aku tak mengerti dengan ucapannya, aku hanya mengangguk.
Desti pun masuk ke dalam rumah kontrakannya
****
Tengah malam, saat aku masih asik terlelap dibuai mimpi, terdengar suara ketukan pelan dari arah pintu rumah kontrakanku.
Aku mendengkus Nafas kasar. Siapa lagi sih orang yang mengetuk ngetuk pintu rumahku di jam dua malam hari??
Dengan malas, aku yang tidur tak mengenakan baju karena merasa kegerahan, bergegas bangkit dari pembaringan menuju ruang tamu, sesaat aku mengintip dari gorden jendela.
Desti? Mau apa dia?
Aku pun membuka pintu.
"Desti?"
Desti tak menjawab. Dia langsung masuk ke dalam rumah kontrakanku tanpa permisi.
"Mas, tolong biarkan aku malam ini nginap di sini. Sekali saja, ya?" bisiknya dengan suara pelan dan genting.
"Lho memangnya di rumah kamu ada apa, Des? Kalau ada tetangga yang memergoki kita, bagaimana?" tanyaku, dengan nada gusar.
"Om Burhan mau bawa orang orang suruhannya buat menculik aku, Mas!" bisik Desti lagi dengan wajah memelas, seolah olah secara tak langsung memohon perlindungan kepadaku.
Aku terkejut.
"Tolong biarkan Desti tidur di sofa, mas. Yang penting Desti merasa aman di sini!" ucapnya lagi.
Walau merasa keberatan, aku pun terpaksa mengangguk setuju.
Meskipun merasa cemas dan khawatir bila ada tetangga yang melihat di keesokan harinya, aku berharap hal itu tidak akan terjadi.
Meskipun ada hasrat terpendam dalam diri ini untuk berbuat yang tidak tidak bersama Desti, namun akal sehatku masih bisa berpikir jernih.
Desti memilih tidur di sofa. Aku pun mengeluarkan selimut dan bantal untuknya.
"Maaf ya, Des. Di rumahku enggak ada kasur lantai..."
"Enggak apa apa, kok mas. Yang penting Desti merasa aman..." balasnya sambil menerima selimut dan bantal dari tanganku.
Sekilas Desti menyungging senyum menggoda, membuat jiwa jiwa lelakiku ingin sekali melakukan perselingkuhan dengannya, namun karena aku masih memiliki pikiran waras, aku pun bergegas masuk. Takut, jika setan setan membisikkan sesuatu yang akan membuatku khilaf.
(Bersambung)
