Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6

Meskipun sudah terjadi pernikahan di antara aku dan Desti, namun aku masih juga bersikap biasa biasa saja terhadapnya.

Aku dan Desti tetap hidup berdampingan layaknya bertetangga.

Namun ada yang berbeda dengan sikap Desti. Dia sering datang ke rumahku, membawakan lauk dan makananm

Seperti sore itu, setelah pulang kerja, Desti datang mengetuk pintu rumahku dengan membawa lauk pauk berupa sayur kacang, ikan goreng, sambal dan juga nasinya.

"Kita makan sama sama ya, mas?" ajaknya sambil membawa lauk pauk dan juga nasi ke kontrakanku.

"Kamu enggak takut rugi, Des... Kasih makanan buat aku? Aku belum gajian lho?" ucapku dengan nada tak enak.

"Udah... enggak apa apa mas. Kita jalani aja... Kalau mas cinta sama Desti, kita bisa teruskan pernikahan ini. Tapi kalau mas merasa keberatan... juga enggak apa apa. Kita bisa cerai" Desti menanggapi dengan santai.

Aku diam termanggu. Sikap Desti sungguh bijak. Dia tidak terlalu menuntut ini itu secara berlebihan padaku.

"Makan yang banyak ya mas, ya?" ucapnya lagi sambil menyendokkan nasi ke piringku, mengambilkan lauk pauknya lalu menyerahkannya padaku.

Kami makan dengan lahap. Sesekali aku mencuri curi pandang ke arah Desti. Dia asik menyantap lalapan kemangi dengan sambal rampai dengan begitu nikmat.

"Desti..."

"Hmm?" dia menoleh sambil mengunyah makanannya, membuat wajahnya terlihat begitu menggemaskan.

"Menurutmu... Bagaimana dengan pernikahan kita ini? Bukankah ini hanya kesalahpahaman semata? Apakah kamu tidak merasa seperti itu?"

"Ya. Ini kesalahan pahaman mas. Tapi bisa jadi juga, ini jalan dari tuhan. Kita tentu saja tidak bisa menolak takdirNYA, bukan?" jawab Desti dengan nada enteng.

"Kamu kan tahu sendiri, statusku dengan Nisa belum bercerai secara secara hukum, Des. Maksudku..."

"Mas. Kamu menyesal, karena sudah menikahi aku?" potong Desti dengan tatapan lekat ke wajahku.

Aku menggeleng. "Mas cuma belum siap saja, Desti... Karena... "

"Karena Mas masih cinta sama nisa!?" tukasnya lagi dengan cepat.

"Hubungan aku sama Nisa sebenarnya sudah tak bisa dipertahankan lagi, Des. Apalagi setelah dia kedapatan akan dipersunting oleh lelaki lain, yang lebih kaya. Mas sudah mentalaknya, Des...."  jawabku jujur.

Aku hanya tak ingin membuat Desti merasa terikat dengan pernikahan main main ini. Yang akhirnya justru membuat dia kesulitan menjalani hidupnya yang bebas.

"Ya sudah. Kalau begitu kita jalani saja dulu pernikahan ini sama sama. Mas bisa kapan saja memberiku nafkah. Sesiapnya mas saja. Mau nanti malam kek, atau bulan depan, terserah. Desti enggak akan menuntut yang macam macam!" tutur Desti, seolah pasrah.

Aku cukup tersentuh dengan perkataan wanita di hadapanku ini.

"Kalau boleh tahu... Kenapa kamu bercerai dengan suamimu, Des?" tanyaku dengan nada penasaran.

"Panjang ceritanya, Mas. Yang pasti, suamiku menceraikan aku karena dia tahu pekerjaanku yang sekarang sebagai..."

"Stop!" potongku. Aku sudah menebak pekerjaan Desti sebagai wanita penghibur. "Lalu kenapa kamu enggak berhenti saja dari pekerjaanmu yang sekarang, Des?"

Desti menatapku lekat, lalu menggeleng lemah.

"Tentu saja tidak bisa, Mas. Usaha yang Desti geluti saat ini adalah warisan dari mendingan ibuku, Mas..."

"Hah!? Jadi ibumu juga menggelutinya?" tanyaku seolah tak percaya. Desti lagi lagi hanya mengangguk.

Aku menghela nafas kasar. Rasanya tak mungkin aku memiliki istri seorang wanita penghibur yang sudah tidur dengan banyak laki laki! Bisa bisa aku terkena penyakit menular!

"Lalu dimana keluargamu, saudaramu atau siapapun yang masih ada hubungan darah denganmu? Apakah mereka tidak menegurmu?" aku bertanya lagi.

"Aku berasal dari Semarang, mas. Semua saudara dari pihak  ayah dan ibuku ada di Semarang.  Setelah ibu  menikah dengan bapak, mereka pindah dan tinggal di jakarta. Bapakku pergi meninggalkan ibu semenjak aku masih kecil. Aku di sini tinggal berdua sama ibu hingga aku berusia sembilan belas. Di saat itu ibu mulai sakit sakitan. Beliau terkena guna guna dan teluh dari pesaing bisnisnya... Akhirnya ibu meninggal. Hingga akhirnya akulah yang melanjutkan bisnis ibuku..." cerita Desti, panjang lebar.

Aku manggut manggut kemudian menghela nafas berat.

Mungkin ini dia yang dinamakan hanya sekedar mengagumi tanpa ada rasa cinta di hati. Perasaan yang timbul di hati hanya sekedar keinginan untuk mengawini, tanpa ada hasrat untuk mencintai.

*****

"Saya di pecat, Chief!? Tapi kenapa??" sentakku, terkejut luar biasa saat Chief Security Officer atau CSO yayasan tempatku bekerja, mengeluarkan surat pemecatan terhadapku.

"Kamu dapat SP3 dari pihak building management, karena ada salah satu pihak tenant yang mengaku, kamu bertindak kurang sopan saat bertugas!" terang Chief Rudi yang saat ini bertindak sebagai CSO yayasan securityku.

"Tapi apakah ada buktinya kalau saya bertindak tidak pantas, Chief? Harusnya pihak Building Management juga perlu memeriksanya sendiri lewat CCTV, kapan dan dimana saya melakukan pelanggaran berat sampai sampai saya harus di pecat secara sepihak!??" protesku dengan nada sedikit emosi.

Chief Rudi mengajakku ke pojokan tempat sepi.

"Kamu mendapat komplain dari Pak Burhan, Zain. Dan kamu tahu siapa Pak Burhan sebenarnya? Dia adalah owner dari beberapa perusahaan yang kantornya ada di office tower apartment ini, dan pak Burhan dekat sekali dengan kepala Building management. Jadi kalau beliau ada masalah pribadi sama kamu, mudah saja bagi pak Burhan buat menyingkirkan kamu, Zain. Terus terang saya sudah mengajukan keberatan pada pihak BM, tapi keputusan mereka sudah bulat. Jika saya masih ngotot mempertahankan kamu... Yayasan kita bakal di Cutt off dan semua security di yayasan kita bakal terkena imbasnya!" terang Chief Rudi, panjang lebar.

Aku menghela nafas sedih. Hanya karena berurusan secara pribadi dengan pak Burhan yang hendak menculik Desti, sekarang aku di pecat dari pekerjaanku sebagai seorang security.

Padahal aku sudah bekerja di apartemen itu selama kurang lebih tiga tahun lamanya.

Dengan langkah gontai, aku pun akhirnya memberesi semua barang barangku dalam loker kantor security, lalu pulang dengan hati yang merana.

Saat aku pulang, Desti menyambut kedatanganku dengan ekspresi penuh tanya.

"Lho, kenapa pulang lagi, mas? Ada yang ketinggalan?" tanya Desti yang siang itu sedang menyapu halaman yang penuh dengan daun daun mangga kering.

Aku Mlmenggeleng pelan.

"Aku di pecat, Des..." jawabku dengan nada lirih.

"Hah!? Dipecat!? Kok bisa!?" sentak Desti terperanjat kaget. "Atau jangan jangan... Om Burhan!?? Ini pasti kerjaan om Burhan, kan!?" cecar Siska sambil membuang sapu lidinya begitu saja.

Wanita cantik dan aduhai itu bergegas mendekatiku yang terduduk lemas di teras rumah kontrakan.

"Yang sabar ya, mas? Maafin Desti. Gara gara nolongin Desti, mas Zain jadi berurusan sama om Burhan. Dia itu memang kejam, mas!  Burhan itu seorang mafia perdagangan manusia! Banyak gadis gadis muda dan cantik, di jual untuk di jadikan perempuan penghibur ke negara negara Kamboja, Singapura, Thailand dan Hongkong!" tandas Desti dengan nada geram.

Lagi lagi aku hanya menghela nafas panjang, tak bersemangat.

Pikiranku mulai kacau.

Bagaimana caranya aku mengurus perceraianku dengan Nisa, sementara aku tak memiliki uang untuk membayar biaya perceraian?

Belum lagi aku harus menafkahi Desti yang saat ini telah sah menjadi istriku secara agama?

"Ya sudah. Mas mandi dulu gih. Habis itu istirahat supaya pikiran mas tenang." ucap Desti, seolah tahu jika pikiranku memang sedang kacau.

Sore harinya, saat Bangun tidur, ku lihat Desti sudah menghidangkan berbagai macam menu makanan di ruang depan rumah kontrakanku. Ada pepes ikan tenggiri, sayur capcay, dadar telor, oseng tahu dan juga sambal.

Bagiku, menu yang dihidangkan oleh Desti termasuk komplit dan mewah.

"Kamu masak menu segini banyak, enggak takut tekor, Des? Aku sekarang ini seorang pengangguran lho?" ucapku sedikit memperingatkan.

"Mas Zain tenang aja. Selagi Desti punya tabungan, doakan aja kita bakal tetap bisa makan. Masalah mas sekarang seorang pengangguran, Desti enggak masalah tentang hal itu, mas. Yang namanya rejeki itu pasti ada saja jalannya... Yang penting mas mau berusaha buat cari kerjaan baru..." jawab Desti dengan sikap tenang.

Aku malu hati dan merasa tertampar dengan perkataannya.

Rasanya aku ini seorang suami yang tak tahu diri. Sudah lah tak menafkahi istri, banyak bacot pula?

"Mas... Lebih baik kamu pindah saja ke kontrakanku, ya? Supaya lebih hemat. Apalagi sekarang mas Zain sedang nganggur. Maaf sebelumnya, Mas... Desti hanya ingin menyarankan saja," usul Desti saat kami sedang menikmati makan sore bersama.

Aku terdiam seraya menunduk.  Hatiku  benar benar merasa malu atas ketidakbedayaan yang kini aku alami.

"Baiklah, Des. Maafin mas ya, Des... Gara gara menikah dengan lelaki kere sepertiku, kamu jadi kena imbasnya..." lirihku dengan perasaan malu luar biasa.

"Jangan ngomong seperti itu, mas. Desti yakin suatu hari nanti, mas akan mendapatkan pekerjaan baru. Mendapatkan rezeki yang jauh lebih besar dari hari hari kemarin..." bujuknya, berusaha membesarkan hatiku.

Aku tak menyangka, kalimat kalimat bijak seperti itu justru keluar dari mulut seorang wanita penghibur.

Jauh berbeda saat masih menikah dengan Nisa dahulu. Hampir setiap hari kalimat bernada hinaan dan merendahkan, keluar dari mulutnya. Membuat aku kadang emosi jiwa.

Berbeda dengan sifat Nisa, Desti justru cenderung memiliki sifat tidak neko neko dan legowo saja apapun keadaanku.

Diam diam tumbuh rasa simpati dihati ini. Selain mengagumi wajah dan tubuhnya, aku juga mengagumi sifat sifat Desti yang terasa menentramkan hati..

(Bersambung)

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel