Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3

Siang harinya, tak ada lauk yang bisa ku santap untuk makan siang. Nisa tidak memasak. Sepertinya dia masih merajuk akibat pertengkaran kecil kami tadi pagi.

"Nis!? Nisa?!" panggilku pada Nisa yang masih asik rebahan di atas kasur.

"Apa!?" sahutnya, ketus.

"Kamu enggak masak? Lah kek mana aku mau makan? Ini udah waktunya makan siang lho, Nisa? Sebentar lagi aku juga harus pergi kerja, jam tiga sore?" cecarku pada Nisa yang seolah tak peduli dengan tugasnya sebagai seorang istri.

"Aku lagi malas masak!" jawabnya, acuh tak acuh. "Kalau mau makan, mas tinggal beli mie instan aja sana! Mas pikir, aku ini babumu!?  Bisa seenaknya kamu suruh suruh, tapi sandang, pangan dan papannya tidak kamu perhatikan!?" repetnya, membuatku tiba tiba saja naik pitam.

"Kamu ini ngomong apa sih, Nis? Bukannya setiap bulan, gajiku selalu aku kasih full ke kamu,  supaya bisa kamu kelola dengan baik?! Kamu kok ngomong, seolah olah aku ini suami yang jarang sekali menafkahi istri!?" tukasku dengan sedikit meninggikan intonasi.

"Kamu pikir gaji segitu cukup, Mas!? Gaji cuma UMR saja seolah olah kamu sudah menafkahi aku satu milyar per bulan!? Kamu lihat si Tatik!? Emasnya banyak, suaminya punya mobil, tiap Minggu bisa jalan jalan keluar kota dan nginap di hotel! Lihat juga tuh, tetangga kita si Nining! Suaminya punya rumah besar! Enggak ngontrak macam kita! Tiap bulan suaminya kasih uang bulanan yang banyak! Kamu juga lihat mas Bramono. Gajinya besar, punya mobil dan rumah besar, bisa jalan jalan ke luar negeri... Sementara kamu? Kerjaan cuma satpam, gaji UMR, tapi menuntut ini itu sama istri!? Kamu enggak malu, mas!?" cerocos Nisa  dengan suara bergetar penuh emosi.

Aku menghirup nafas dalam dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Baru saja aku hendak menimpali ocehan istriku yang setiap ucapannya begitu menyudutkan, tiba tiba terdengar suara ketukan dari pintu depan.

Tok! Tok! Tok!

Aku pun bergegas pergi ke ruang depan untuk membuka pintu.

Saat kubuka, rupanya ada Desti yang di tangannya membawa sesuatu.

"Permisi Mas Zain? Hehehe... Hari Ini Desti habis masak banyak, khusus buat bagi bagi ke tetangga, itung itung sebagai salam perkenalan lah buat para tetangga di lingkungan sini..." ucapnya dengan senyum mengembang di bibirnya yang ranum.

Saat ku tengok, ternyata yang dibawakan Desti adalah  beberapa potong ayam kecap.

Dari aromanya yang menggugah selera, aku yakin rasanya pasti endul, membuat perutku seketika bereaksi dengan mengeluarkan alarm pertanda sedang kelaparan hebat!

"Ouh! Terima kasih Desti! Terima kasih banyak ya? Wuah... Kebetulan, Mas belum makan siang!" cetusku dengan ekspresi sumringah.

"Iya, mas. Sama sama." Usai mengantarkan lauk ayam kecap, Desti pun pamit.

Senyum di bibirku mengembang sempurna.

Istriku tak masak, masih ada janda sebelah rumah yang begitu perhatian padaku, hingga aku bisa tetap makan enak.

Saat berbalik badan, namun rupanya sudah ada Nisa yang menunggu di belakangku. Ekspresinya kecut.

Aku mencoba tersenyum dan melupakan ucapan Nisa yang tadi sempat membuatku kesal.

"Dapat rejeki dari tetangga sebelah. Ayok, Nis. Kita makan bareng?" ucapku berusaha merayu Nisa yang masih saja merajuk.

"Ooh... Senang kamu ya, Mas! Baru aja dapat kiriman dari tetangga sebelah yang pekerjaannya jadi Lont3 itu!? Puas kamu sekarang mas!? Iya!?" sembur Nisa lagi dengan penuh emosi. Sepertinya dia benar benar cemburu berat!

"Nisa! Cukup! Kamu enggak boleh bicara seperti ini terus! Apa kamu belum puas, melihat aku kelaparan!? Sekarang, saat aku baru saja mau makan enak, kamu masih saja marah marah!?" semburku sambil melempar tatapan tajam ke arahnya.

"Oh, jadi gara gara perempuan itu, mas berani bentak bentak aku!?  Mas sudah berani marah marah sama aku!? Iya! Kalau mas sudah enggak cinta lagi, lebih baik kita pisah aja, mas! Ceraikan Nisa secepatnya!"  teriak Nisa sambil menangis kejer.

Nisa kembali masuk ke dalam kamarnya, sambil membanting daun pintu keras keras.

Aku menghembus nafas kasar.  Rasa lapar yang sedari tadi mendera, mendadak sirna.

Aku panik,  lalu mulai menggedor gedor pintu kamarku.

"Nis! Nisa! Buka pintunya!" ujarku dengan nada sedikit keras. Aku yakin, para tetangga di sekitaran rumah kontrakanku mendengar pertengkaranku dengan Nisa.

Dor! Dor! Dor!

"Nisa, buka pintunya! Nisa!"

Namun tetap saja tak ada sahutan dari dalam.

Aku semakin cemas. Bagaimana kalau Nisa sedang memberesi pakaiannya dan ingin pulang ke rumah orang tuanya?

Ternyata benar saja dugaanku. Nisa membuka pintu, sambil menjinjing sebuah tas koper miliknya.

"Mau kemana kamu, Nisa?" tanyaku dengan kedua mata terbelalak lebar.

Nisa tak menjawab. Matanya masih merah dan pipinya tampak sembab.

Nisa melangkah keluar kamar, namun aku segera menghadangnya.

"Kamu enggak boleh pergi, Nisa! Stop!"

Nisa melirikku dengan tatapan tajam. "Minggir, Mas! Aku sudah muak hidup sama kamu, mas! Kamu laki laki enggak berguna! Gara gara nikah sama kamu, aku jadi menderita! Aku mau secepatnya kita bercerai, Mas!" desisnya dengan nada dingin.

"Nisa! Jangan bicara sembarangan! Semua masih bisa dibicarakan baik baik! Kalau kamu ingin mas cari pinjaman buat biaya kuliah adik kamu, mas akan usaha carikan! Tapi kamu jangan seperti ini dong, nisaa!? Kamu enggak takut, rumah tangga kita jadi bahan pergunjingan oleh para tetangga!? Mereka bakal menjelek jelekkan aku, Nisa!?"

"Biarin aja! Biar mas sadar, kalau jadi suami itu harus bertanggung jawab kasih nafkah yang layak ke istri! Awas, minggir!" Nisa mendorongku dengan kasar, agar memberinya jalan untuk keluar dari rumah ini.

Aku pun mengejar Nisa yang keluar dengan koper besar di tangannya.

Saat keluar itulah, rupanya sudah banyak tetangga tetangga rempong yang berkerumun di sekitar rumahku.

Aku tau, mereka kepo dengan pertengkaran antara aku dan juga Nisa.

Saat aku memergoki Tatik, Nining, Sumi dan Rita yang sedang asik menguping. Mereka pura pura sibuk sedang mengobrol.

Namun aku tak peduli sedikitpun telah menjadi topik panas bahan pergibahan para emak emak rempong itu.

"Nisa! Mas mohon jangan seperti ini! Apa kata Bapak dan Ibumu, kalau kamu pergi dari rumah ini sambil bawa bawa koper segala!? Mereka pasti akan berpikiran negatif sama mas!" seruku, berusaha mencegah kepergian Nisa, meskipun aku malu luar biasa karena menjadi tontonan, bahan olok olok dan bisik bisik para tetangga.

"Biar aja! Sekalian kita bercerai, mas!!" sentak Nisa dengan nada dramatis.

Aku bersusah payah meredakan nafasku yang mulai tak beraturan. "Percuma nikah sama lelaki enggak berguna kayak kamu! Kamu itu cuma bikin hidup aku hancur berantakan, mas! Aku nyesal nikah sama kamu!" Sembur Nisa lagi, dengan setengah berteriak di depan wajahku.

Aku berusah payah menelan saliva yang tercekat di tenggorokan.

Hati ini terasa sakit dan nyeri sekali. Apalagi saat para tetangga menatapku sambil saling berbisik bisik.

Aku mengangguk perlahan, lalu diam dan terduduk pasrah.

Nisa pun akhirnya pergi sambil menyeret kopernya menuju jalan besar.

Rasa malu, kecewa, dan sakit hati, atas kalimat kalimat Nisa yang bernada merendahkan, membuatku frustasi.

Sejak awal pernikahan, aku memang mengenal Nisa sebagai sosok perempuan keras kepala, egois dan over posesif.

Samar samar aku mendengar para tetangga yang duduk duduk di warung tatik, tak jauh dari rumahku, mulai menggibahiku.

"Lihat deh, si Jaenal! Pasti si Nisa sampai marah kayak gitu gara gara mergokin si Jenal selingkuh sama p3rek sebelah rumahnya itu, tuh!" bisik Nining.

"Ikh, lagian si Nisa kok bisa ya, nikah sama satpam banyak gaya kayak si Jae itu!?" bisik suara Sumi dengan nada sinis.

Aku melangkah masuk ke dalam rumahku, lalu membanting pintnya keras keras.

BRAKKK!!!

****

Keesokan harinya, aku merasa perlu untuk menjemput Nisa di rumah orang tuanya. Sudah cukup baginya merajuk dan pergi dari rumah kontrakan, meninggalkan aku seorang diri.

Rasa kesal dan marah akibat perkataan Nisa kemarin sudah lenyap, berganti perasaan rindu di hati ini yang tak terbendung.

Aku kangen kopi buatan Nisa. Kangen masakannya, juga kangen goyangan mautnya di atas ranjang.

Kebetulan, hari ini aku libur jaga. Jadi hari ini dan esok hari, aku memiliki waktu luang untuk quality time, menata kembali rumah tangga kami, yang sempat goyah akibat keributan kecil kemarin.

Setiba di rumah mertua. Aku melihat ada sebuah mobil Toyota Avanza warna silver yang terparkir di halaman rumah mertuaku.

Sudah pasti itu bukanlah mobil milik bapak mertuaku ataupun mas Bram.

Lalu mobil siapa?

Aku segera memarkirkan motorku, di samping mobil itu.

Saat aku mendekat ke arah pintu, ku dengar suara tertawa keras keras seorang lelaki dari dalam rumah. Sepertinya itu adalah suara pak Ahmad, bapak mertuaku.

Aku berhenti sejenak, mendengarkan percakapan mereka dari teras rumah.

"Bapak tenang saja. Kalau si Nisa menikah dengan saya... Saya janji, saya akan bawa bapak dan ibu pergi umroh ke tanah Mekkah. Saya akan merenovasi total rumah ini menjadi lebih mewah! Saya juga akan membiayai kuliah Selly sampai lulus kuliah S3! Pokoknya saya akan modalin semuanya!" cetus lelaki itu, yang samar samar terdengar hingga ke telingaku.

Emosiku mendidih. Dadaku seolah bergemuruh. Nafasku terasa naik turun mendengar perkataan lelaki durjana yang bahkan terang terangan hendak merebut istriku, di saat statusku dan Nisa masih sah sebagai pasangan suami istri.

Dengan langkah lebar, aku nyelonong masuk ke dalam rumah!

Kutatap satu persatu orang orang yang sedang duduk mengobrol di sofa ruang tamu. Ada bapak dan ibu mertuaku, seorang lelaki yang tidak aku kenal, juga... Nisa!

"Zainal! Apa apaan kamu! Kenapa kamu masuk ke dalam rumah tidak mengucap salam atau mengetuk pintu!? Sudah hilang adab rupanya kamu, Zain!!" bentak pak Ahmad dengan suara meninggi dan tatapan tajam ke arahku.

"Dasar menantu tak tau adab  dan tata Krama!! Berani sekali kamu bersikap tidak sopan di rumah mertuamu sendiri!?" ibu mertuaku ikut menghujat kelakuanku.

Aku tak tertarik untuk meladeni sumpah serapah kedua mertuaku itu.

Tatapanku beralih pada Nisa.

"Nisa! Ayo pulang sekarang juga! Ayo pulang!" Aku menyeret lengan Nisa yang duduk tepat di samping lelaki tak di kenal itu.

Nisa memberontak lalu menepis tanganku dengan kasar.

"Lepas!!" teriaknya dengan nyalang. "Sekarang juga kamu pergi dari sini, mas! Mulai sekarang aku mau cerai sama kamu! Pergi!" pekiknya sambil menunjuk ke arah pintu.

"Nisa..."

"Pergi! Ayo perg, Mas!" hardik Nisa lagi sambil berteriak melengking.

Kulihat sekilas lelaki tua di sampingnya menyungging senyum miring. Senyuman mengejek.

Aku mendengkus kasar.

"Baiklah Nisa! Kalau memang itu maumu! Aku talak kamu hari ini juga!" tandasku  dengan nada tegas.

Bapak dan ibu mertuaku serta laki laki yang tdi hendak di jodohkan dengan Nisa tersenyum miring penuh kemenangan Mereka seperti merayakan uforia, karena ucapan yang mereka tunggu tunggu, akhirnya keluar juga dari mulutku.

"Ingat, Zain! Kamu yang menceraikan putri kami, kamu juga yang harus menanggung semua biaya perceraian kalian! Nisa cuma perlu terima surat cerai darimu! Ingat itu!" tandas pak Ahmad dengan kata kata yang terdengar sangat memuakkan di telingaku.

(Bersambung)

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel