Bab 2
Aku bekerja seperti biasa. Bertugas jaga di lobi apartemen Bellejja suites, mengawasi lalu lalang tenant, tamu, ojol pengantar makanan, dan memastikan keamanan dan kenyamanan para penghuni apartemen.
Berjaga di lobi apartemen memungkinkan aku bertemu banyak orang.
Malam ini, saat mendekati jam 12 malam, dimana sesaat lagi waktunya pergantian shift jaga dengan regu lain, aku melihat Pak Burhan, salah satu penghuni apartemen, masuk bersama seorang gadis yang aku kenal.
Hampir tiap malam, Pak Burhan yang merupakan seorang pengusaha ini selalu pulang larut malam dengan menggandeng cewek cewek cantik ke apartemennya.
Namun cewek digandeng oleh Pak Burhan malam hari ini adalah... Desti!
Dengan mengenakan mini dress di atas lutut dan ketat tanpa lengan, Desti bergelayut manja pada lengan Pak Burhan.
"Selamat malam, Pak?" Seperti biasanya, aku selalu menyapa dengan ramah setiap tenant yang lalu lalang dan sudah kuhapal wajahnya termasuk juga Pak Burhan.
"Malam..." ucapnya santai. Aku melirik ke arah Desti yang wajahnya terkejut melihat keberadaanku yang bekerja sebagai security di apartemen ini. Namun pada saat itu Desti tampak diam saja. Dia bertingkah seolah olah tak mengenaliku.
Dia pasti merasa malu, jika rahasia pekerjaannya sebagai cewek One night stand, ketahuan olehku!
Hingga pada saat jam 12 malam tiba, saat nya bagiku untuk turun jaga. Pekerjaanku di lanjutkan oleh rekanku dari grup lain yang tugas berjaga dari jam 12 malam sampai jam 8 pagi keesokan harinya.
Saat tiba di rumah, istriku menyambutku dengan tatapan dingin dan acuh.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanyaku saat kulihat Nisa menyambutku tanpa sepatah kata, menatapku dengan sinis, lalu kembali pergi ke tempat tidur.
Apa mungkin dia masih marah dengan peristiwa tadi siang?
"Sayang... Kamu kenapa, sih?" ucapku sambil mengikuti langkahnya masuk ke dalam kamar.
"Ck, mandi dulu sana! Mas bau!" cetusnya dengan nada jutek.
"Kasih tau dulu, ada apa? Kamu kok suaminya pulang, bukannya di sambut dengan senyuman, dibuatkan minuman kek, malah di cuekin?" protesku sambil menatapnya lekat.
Nisa diam saja. Dia lantas mengambil sebuah baju milikku yang sudah koyak koyak dan robek di sana sini. Sepertinya baju itu sengaja di gunting gunting lalu di koyak sedemikian rupa sehingga tak bisa lagi untuk dipakai.
Aku ingat sekali, kaos putih polos itulah yang kemarin aku titipkan ke Desti, untuk kemudian di cuci karena kotor sehabis membantu dia pindahan.
"Lho, kok bajuku bisa sampai seperti ini!?? Ini pasti kerjaan kamu 'kan, yank? Kenapa?" tanyaku sambil menaikkan alis.
"Masih nanya kenapa!? Aku enggak sudi baju kamu dicucikan sama wanita lain, mas!? Otak kamu dimana sih, mas!? Atau kamu sengaja mau bikin aku cemburu!? Iya!?" sentak Nisa dengan nada meninggi.
Hmm, mulai deh tantrumnya istriku ini.
"Maafin mas ya, sayang... Mas cuma enggak enak, nolak niat baik dia..." ucapku dengan nada lemah.
"Halah, alasan! Jangan jangan kamu juga merasa enggak enak juga 'kan nolak ajakan dia buat Ng*we!? Jujur aja kamu sama aku, mas!" serangnya, tanpa basa basi.
"Astaga, Yank... Mana ada aku berbuat seperti itu sama orang yang baru dikenal yank!? Dia tetangga kita loh? Kok kamu bisa mikir sampe sejauh itu, Yank!?"
"Ya bisa aja 'kan!? Bisa banget malah! Apalagi tetangga baru kita itu kerjaanya adalah wanita enggak genah! Wanita penghibur alias lont*!" sentak Nisa yang ucapannya tanpa difilter.
"Hei! Hati hati lho kamu, yank. Ngomongin orang sampai sebegitunya? Apa buktinya kalau kamu bilang dia wanita tuna susila!?" tukasku dengan nada tak suka.
"Kamu enggak tau 'kan mas, kalau semua tetangga kita di sini lagi ngomongin dia!? Belum genap sehari perempuan itu tinggal disini, para tetangga di sini udah tau kalau dia itu pe-eska! Tadi itu lho, di di jemput sama om om tua bermobil! Apalagi pakaian perempuan itu serba mini! Apalagi kerjaan dia kalau bukan kerja sebagai pe'eska!?" beber Nisa, panjang lebar.
Aku terdiam. Aku kembali teringat perjumpaanku dengan Desti tadi di apartemen. Ternyata dia salah satu cewek bispak nya Pak Burhan.
"Ya sudah kalau begitu, yank. Aku capek. Aku lelah... Tolong buatin aku minuman hangat ya?" ucapku dengan malas.
Aku segera mencopot seragam securityku, lalu menyambar handuk yang tergantung dekat lemari pakaian. Sementara Nisa melangkah menuju dapur untuk membuatkan aku minuman.
Usai mandi, rasanya tubuhku yang semula penat dan lengket, kembali bugar dan segar.
Apalagi setelah Nisa menghidangkan aku air jahe hangat dan kue ongol ongol yang tadi siang dia bawa dari rumah orang tuanya.
Sambil menghabiskan satu buah rokok, aku sesekali menyesap jahe hangat dan makan kue yang disajikan Nisa.
Nisa menemaniku duduk di ruang tengah.
"Mas, tadi Selly minta uang lagi. Katanya buat bayar uang kuliah..." ucap Nisa dengan suara pelan.
Aku yang saat itu sedang menikmati sesapan terakhir kopi di mulutku, urung menghabiskannya.
"Lagi? Bukannya seminggu yang lalu, saat Mas gajian. Sebagian gaji Mas, udah kita berikan buat menalangi biaya kuliah Selly?" Tanyaku dengan alis berkerut.
"Iya, tapi katanya masih kurang, Mas! Minggu ini Selly butuh uang buat biaya praktikum. Selagi kita bisa bantu, apa salahnya sih, Mas?"
"Iya, tapi 'kan kita juga harus mengukur diri kita, Nisa? Kita masih punya hutang di kedai Bu Nimah. Belum lagi kebutuhan rumah tangga kita, bayar sewa kontrakan, kebutuhan belanja, belum lagi kita sama sekali tak ada tabungan masa depan kalau kalau suatu saat nanti kamu hamil dan melahirkan!?" tukasku dengan nada kesal.
Aku tak habis fikir, setelah menikahi Nisa, pihak mertuaku justru menuntut aku turut membiayai biaya kuliah Selly, adik iparku yang bungsu.
Padahal jelas jelas ekonomi keluarga kecilku ini belum sepenuhnya stabil.
Sementara itu, Nisa masih punya kakak sulungnya yang merupakan seorang Dokter bernama Bramomo. Keluarga Bramomo jauh lebih mapan ketimbang diriku yang hanya seorang satpam.
Namun pihak mertuaku tetap menuntut aku untuk ikut menyumbang biaya kuliah Selly hingga lulus!
Nisa menatapku dengan tajam.
"Bilang saja mas enggak mau membantu pendidikan adikku! Mas Zain pelit dan perhitungan!!" Usai berkata demikian, Nisa pun ngambek kemudian merajuk masuk ke dalam kamar.
Aku menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan.
Entah sampai kapan aku harus menjalani kehidupan seperti ini?
****
Keesokan harinya Ibu mertuaku datang berkunjung ke rumah kontrakanku. Kebetulan aku masih shift sore, jadi pagi hari sampai pukul tiga sore, aku masih memiliki waktu senggang di kontrakan.
"Zain! Masa kamu tidak bisa usahakan dulu uang kuliah untuk Selly!? Kasihan lho, dia dibully teman temannya karena masih belum membayar uang kuliah!?" tandas ibu mertuaku dengan nada sedikit memaksa.
"Maaf lho, Bu. Ibu kan tahu sendiri, Zain gajihan setiap tanggal 25? Itu sudah berlalu seminggu yang lalu? Lagi pula seminggu yang lalu 'kan Nisa sudah memberikannya pada Selly? Sekarang Zain mana punya uang, Bu?" ucapku jujur apa adanya.
"Halah! Bilang aja kalau kamu pelit, Zain! Kamu itu cuma sayang sama istri kamu doang, tapi tidak dengan keluarganya! Nyesal sekali aku menyetujui Nisa menikah sama kamu! Kalau bukan karena bujukan bujukan manis ibumu, tentu ibu enggak akan sudi menikahkan putriku yang cantik ini sama laki laki kere dan pelit seperti kamu!" oceh ibu mertuaku, tanpa basa basi. Membuat rasa nyeri di hati ini.
Aku hanya diam. Tak menjawab apalagi membalas ucapannya.
Padahal, aku sudah berusaha memenuhi kewajiban ku sebagai seorang Suami, yaitu memberikan nafkah lahir dan batin untuk istriku.
Aku juga berusaha membantu biaya kuliah adik iparku, meskipun hal itu bukanlah kewajibanku. Aku dan Nisa bahu membahu menyisihkan sebagian gajiku untuk biaya kuliah Selly.
"Pokoknya ibu enggak mau tahu ya, Zain! Kamu harus cari dari mana kek, uang buat biaya kuliah Selly! Kamu itu laki laki, Zain! Kamu punya tanggung jawab! Bukannya santai santai seperti sekarang ini! Kamu cari kek uang sampingan! Jadi kuli kek! Jualan apa kek!?" omel ibu mertuaku lagi.
"Tapi kan mas Zain ini kerja, Bu! Dia masuk shift sore!?" Nisa menyahut, membela suaminya.
"Lha iya, terus punya waktu luang di pagi harinya di pergunakan buat apa!? Leha leha doang, to? Itu namanya suami pemalas! Kamu masih mau hidup miskin sama suami pemalas macam si Zain ini, Nisa!?" tukas Ibu mertuaku, membuat emosiku mulai mendidih rasanya.
"Sudah, sudah! Ibu pulang saja! Jauh jauh kesini cuma membuang buang waktu saja!" dengkus Ibu mertuaku dengan ketus. "Ingat ya, Nisa... Dua hari lagi, pokoknya uangnya harus sudah ada! Ingat, itu sudah menjadi kewajiban kalian untuk membiayai pendidikan adik kalian! Awas ya, kalau ibu kesini uangnya belum ada!" ancamnya lagi. Membuatku mengurut dada, berusaha menenangkan hatiku yang terasa sakit mendengar ucapan ucapan beliau.
Sepeninggal ibu mertuaku. Nisa lagi lagi bersikap judes kepadaku.
"Makanya mas cari kerja sampingan dong, Mas!? Jangan cuma ngandelin uang gaji satpam yang pas pasan itu! Kamu ikut kuli proyek kek!? Ikut jualan apa kek gitu supaya kita ada uang tambahan!? Mas lihat sendiri bukan, bagaimana ibu menjelek jelekkan rumah tangga kita?!"
Aku diam saja, sambil menyalakan satu puntung rokok untuk menenangkan pikiranku yang kacau.
(Bersambung)
