Bab 1
Sebuah mobil pickup berhenti tepat di depan rumah kontrakan kosong yang persis berada di samping kontrakanku. Seorang wanita muda yang duduk di sebelah kemudi, turun bersama sang sopir.
Wanita itu masih muda, berparas ayu, rambutnya panjang dan dicat pirang, kulitnya putih dan make-upnya cukup tebal menghiasi wajah cantiknya.
Bodynya tinggi semampai dengan lekuk gitar spanyol yang aduhai.
Lalu tatapannya tak sengaja bertemu dengan mataku. Dia tersenyum manis.
"Permisi, Mas..." sapanya dengan suaranya yang renyah dan enak di dengar.
"Penghuni baru, ya?" sapaku, ramah. Kedua netraku seolah enggan berpaling dari sosok wanita cantik dan aduhai di depan mataku.
"Hehe... Iya. Nama aku Desti. Aku baru pindahan kemari, Mas. Salam kenal yaa?" ujarnya lagi masih dengan senyum manis di bibirnya. Gadis itu mengulurkan tangannya, mengajakku bersalaman.
Dengan antusias aku menyambut uluran tangannya. Terasa lembut sekali, membuat tangan ini seolah enggan lepas.
"Mau sekalian ku bantu?" tawarku, tanpa basa basi.
"Oh, boleh kalau masnya enggak keberatan. Oia, nama masnya siapa?"
"Panggil saya Zain. Nama panjang Zainal," jawabku dengan senyum lebar.
Desti pun membuka pintu rumah kontrakannya.
Aku dan sopir pick up, beserta satu orang kondektur, bahu membahu menurunkan segala macam perabotan milik Desti dari atas mobil.
Ada lemari pakaian, kasur, mesin cuci, kulkas, kompor, meja, tv dan lain-lain.
Beruntung, istriku sedang pergi ke rumah orang tuanya. Sehingga aku tak perlu kawatir istriku bakal cemburu.
Ya, Nisa adalah istri yang baru aku nikahi lima bulan lalu. Meski sudah lima bulan menikah, belum ada tanda tanda dia sedang hamil.
Namaku adalah Zain alias Zainal Arifin. Pekerjaan ku sehari hari adalah seorang satpam di salah satu apartemen mewah dikawasan Jakarta Selatan.
Aku menikah dengan Nisa, karena dijodohkan oleh orang tuaku.
Awalnya Aku mengira Nisa, gadis yang kunikahi adalah sosok wanita yang lembut dan penyabar. Namun setelah menikah dan seiring berjalannya waktu, nampaklah tabiat asli Nisa yang keras kepala, pencemburu dan juga temperamental.
Usai membantu mengangkat dan barang barang, aku juga sekalian membantunya menata lemari, mengangkat kasur, memindahkan kulkas dan lain sebagainya hingga selesai. Sementara sopir dan kernetnya sudah pulang lebih dulu.
Tinggalah aku dan Desti saja dalam rumah kontrakan itu.
"Ya ampun... Maaf ya mas Zain, gara gara bantuin Desti, Mas nya jadi keringatan. Oia, sebentar... Desti buatkan kopi dulu ya di belakang," ucap gadis cantik itu. Aku hanya mengangguk dan menatap bagian belakangnya yang aduhai besar dan menggoda.
Aku menyadari kaos putih yang aku kenakan sudah basah oleh keringat dan juga kotor di beberapa bagian. Tanpa ragu aku pun melepas kaos itu hingga tampaklah bodyku yang berotot dan atletis ini, basah oleh keringat.
Saat Desti masuk dengan membawa nampan berisi kopi dan cemilan, kulihat wajahnya bersemu merah memandangiku.
"Maaf ya, Desti. Mas kepanasan..." celetukku yang sudah tau jika dia malu melihat bentuk tubuhku yang berkilat basah oleh keringat.
"Enggak apa apa mas. Santai. Itu baju masnya kesinikan. Biar Desti yang cucikan. Besok kalau sudah bersih dan kering akan Desti kembalikan..." ujarnya sambil meletakkan kopi dan kue kue di hadapanku.
Aku sempat melirik ke arah sesuatu yang meny3mbul, mengintip dari dalam baju ketat yang dia kenakan. Bentuknya padat dan besar.
Aku bersusah payah menelan saliva. Terlebih aroma tubuh Desti yang wangi, membuat darahku berdesir cepat.
"Silahkan di minum mas, kopinya. Maaf ya, Mas. Ala kadarnya saja. Soalnya Desti kan baru pindahan..." ucapnya sambil tersenyum manis lalu duduk lesehan di ubin menghadapku.
"Terima kasih ya, Desti. Oia, kamu tinggal sama siapa disini? Kamu sudah menikah?" tanyaku, tak mampu menahan rasa penasaran.
"Ehm... Iya mas Desti sudah menikah. Tapi sekarang Desti sudah cerai sama suami..." ujarnya dengan malu malu.
'Ulala... Ternyata janda?? Wuahh... Kalau janda bentukannya seperti Desti ini sih, aku yakin, banyak sekali lelaki yang antri!' Pikirku dalam hati.
"Hmm... Maaf ya, Des. Enggak seharusnya mas bertanya sesuatu yang sifatnya pribadi. Apalagi kita baru saja kenal," ucapku, pura pura menyesal.
"Oh, enggak apa apa, kok mas Zain. Kalau mas nya sendiri? Apakah belum menikah?" Desti balik bertanya.
"Aku... Aku sudah menikah, Desti." jawabku jujur, meskipun dalam hati, ingin sekali aku berbohong. Akan tetapi tentu saja hal itu tidak mungkin! Apalagi sejak saat ini dan seterusnya, aku dan Desti akan terus hidup berdampingan sebagai seorang tetangga.
Aku pun menyeruput kopi dan camilan yang Desti suguhkan, hingga tak terasa satu jam kami mengobrol.
"Kalau begitu, mas pulang dulu ya, Desti. Kalau kamu ada perlu apa apa, ataupun butuh bantuan. Jangan sungkan sungkan, minta bantuan mas Zain. Oke?" ucapku sebelum akhirnya pamit.
Aku keluar dari rumah Desti dengan tanpa mengenakan baju, karena Desti meminta agar dia sendiri yang mencucikannya.
Sayangnya, saat aku keluar, aku berpapasan dengan tetanggaku, Tatik dan Nining, dua emak emak rempong yang hobinya suka sekali menggibahi tetangga.
Ku lihat, keduanya berbisik bisik sembari menatap aneh ke arahku. Aku yakin Tatik dan Nining itu sedang membicarakan aku. Tapi aku tak peduli dengan mulut mulut tetangga. Toh, sejak dulu mereka memang seperti itu.
Setelah memakai baju, aku pun tidur siang. Karena nanti sore aku harus pergi bekerja shift sore.
Namun belum satu jam aku tidur, terdengar suara pintu yang di hempaskan dengan kasar, membuat aku sontak terjaga dari tidur ayam ayamku.
BRAKK!!
"Baang! Abang!!"
Disusul kemudian suara istriku yang memanggil manggil dengan suara kencang.
Aku segera mengucek kedua mataku, takut jika rumahku kemalingan.
"Ada apa Nisa? Mana malingnya?" tanyaku sambil beranjak dari atas tempat tidur.
Namun aku mendapati wajah Nisa yang cemberut dengan bibir monyong lima Senti. Dia menatap tajam ke arahku.
"Ada apa sayang? Kenapa baru datang, kamu udah pasang muka asem seperti itu? Kamu berantem sama si Selly lagi?" berondongku sambil mengerutkan alis.
Bukannya menjawab, Nisa malah menggelosor di ubin sambil merajuk seperti bocil betina tak dibelikan mainan.
"Kamu kenapa lagi, Nisa? Heii..?" tanyaku sambil berjongkok menghadapnya.
"Abang jahat! Abang selingkuh 'kan sama tetangga di samping rumah kita!? Ngaku bang! Saksinya banyak! Semua tetangga ngomongin Abang! Jangan mengelak bang! Kalau abang udah kagak demen sama Nisa, mending kita pisah aja bang! Huhuu..." cecarnya, persis seperti petasan di hajatan Betawi. Nyerocoos enggak kelar kelar!
"Heh, stt! Jangan ngomong sembarangan, Nisa! Lagian siapa yang selingkuh, sih? Abang tadi siang cuman nolongin Desti aja, karena dia baru aja pindahan. Lagian rumah dia persis sebelahan sama rumah kita, lho? Masa Abang cuek cuek bebek sama tetangga baru?" kilahku, berusaha meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. Entah dapat informasi dari mana si Nisa ini, sampai sampai langsung menuduhku yang bukan bukan.
"Halah! Banyak saksi matanya, kalau Abang itu keganjenan sama tetangga baru yang baru pindah di sebelah rumah kita! Nining, Tatik, Rita, Sumi. Mereka semua ngomongin Abang! Katanya Abang keluar dari rumahnya si cewek itu enggak pakai baju! Abang habis gituan kan sama dia!? Jawab jujur bang!?" sembur Nisa sambil menangis kejer dan memukul mukul lenganku.
"Oo... Jadi mereka mereka itu biang keroknya!? Apa perlu Abang samperin mereka, Abang bawain cabe segerobak!? Biar Abang cabein tuh mulut mulut rempong mereka!?" dengkusku penuh emosi.
"Abang enggak usah berkelit lagi! Terus Abang kenapa keluar dari rumahnya si cewek itu enggak pakai baju!? Mau ngeles gimana Abang!?" cecar Nisa lagi masih sambil menangis.
Aku pun mendekap Nisa berusaha meredakan tangisannya.
"Abang cuma nolong bantu bantu angkatin barang dia aja kok, dek. Soalnya dia kan tinggal sendirian. Kasihan dia, enggak ada yang bisa dimintain tolong. Abang angkatin lah itu lemari, kulkas, kompor, mesin cuci, dan lain lain sampai Abang keringatan. Akhirnya karena baju Abang kotor, dia nawarin buat cuci baju Abang yang kotor penuh keringat karena merasa enggak enak. Begitu ceritanya, Dek..." paparku, panjang lebar.
Ku usap pipi Nisa yang berkaca kaca. Dia masih saja sesenggukan.
"Ya sudah... Adek siapin sepatu sama seragam Abang, ya? Sebentar lagi Abang mau berangkat kerja..." pintaku dengan nada lemah lembut.
"Ck, siapin aja sendiri!" tukas Nisa dengan ketus. Dia pun menghempaskan diri ke atas tempat tidur.
Aku hanya bisa menghela nafas panjang seraya geleng geleng kepala.
Karena sudah pukul tiga siang, aku pun segera menyambar handuk, lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Saat berada di dalam kamar mandi itulah, aku mendengar suara seseorang sedang mandi juga di kamar mandi rumah sebelah.
Ya! Kamar mandi kami berhimpitan dan hanya dipisahkan oleh sekat dinding saja.
Jika jika lelakiku meronta ronta. Khayalanku tiba tiba membayangkan Desti dengan bodynya yang aduhai itu sedang mandi dalam keadaan polos.
Aku menenggak Salivaku dengan susah payah. Kebetulan aku pernah menemukan sebuah retakan kecil yang jika mengintip, suasana kamar mandi akan kelihatan!
Lututku gemetaran. Dengan mengendap endap aku pun beranjak menuju celah retakan dinding yang pecah akibat gempa bumi beberapa tahun silam itu.
Aku menyipitkan mata dan mengintip dengan sebelah mata.
Aku menahan nafas. Lututku makin lemas. Sebelah netraku mendapati pemandangan yang aduhai syumm! Jantungku berdebar kencang dan sesuatu di bawah sana berdiri tegak dengan gagahnya!!
(Bersambung)
