Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Yang Berubah Jadi Rindu

"Melihatmu dengan amarah yang memuncak, membuat seluruh jiwaku seakan mati rasa!"

-Yasmin Aurora

--

Raja membantingkan buku di meja. Kekesalan sudah mendarah daging dan menjadi ekspresi setiap harinya sejak mengenal Yasmin. Perempuan agresif itu sepertinya tidak ingin membuat jiwanya tenang. Ini pertama kalinya Raja bertemu dengan orang yang selalu mengumbar kata ' nikah' seolah itu hanya sebuah mainan yang bisa dilakukan kapan saja tanpa memikirkan ke depan.

"Aish!" Dengkusan kasar keluar dari bibir Raja. Mengacak rambutnya frustrasi, lalu setelahnya ia memilih memosisikan kepala di meja dengan kedua lengan sebagai bantalan.

Raja tidak menyadari jika kedatangannya beberapa saat lalu telah mencuri perhatian seorang Malvin, teman sebangkunya. Lelaki yang tingginya hampir sama namun terlihat lebih berisi dari Raja itu menatap tanpa berkedip.

Bukan karena ia penyuka sesama jenis. Malvin normal bahkan sangat normal, sehingga memiliki banyak kekasih. Ia hanya penasaran saja, kenapa Raja selalu terlihat kesal sekaligus marah jika kembali dari luar kelas.

Apa Raja kesambet setan?

"Gue normal! Jangan lihat gue seakan-akan gue adalah makanan lezat!" Raja berucap pelan tanpa mengubah posisinya. Hanya wajah yang sedikit menengadah dan mata yang melirik sekilas.

Spontan Malvin membuang pandangannya ke arah lain. Sial, ia ketahuan jika menatap dalam pada Raja.

"Gue juga normal!" kata Malvin. Ia masih belum mengubah arah pandangnya.

"Terserah! Gue enggak peduli!" Raja memejam mata. Untuk apa menanggapi ucapan Malvin jika pada akhirnya akan menambah api amarah.

Diam lebih baik, bukan?

Malvin yang diabaikan oleh Raja hanya mengangkat bahu cuek. Lalu mengotak atik ponselnya dan masuk ke aplikasi Instagram. Namun, beberapa menit kemudian matanya melotot bersamaan dengan mulutnya yang terbuka lebar. Melirik bergantian antara ponsel lalu ke Raja dan kembali ke ponsel.

"Raja! Raja!" panggilnya sembari mengguncang bahu Raja. Raja yang merasa terganggu menepis tangan Malvin.

"Berisik!" protes Raja.

Malvin tidak peduli dengan tingkah Raja. Ia semakin mengguncang bahu itu agar segera melihat ke arahnya.

"Brengsek! Ada apa?" tanya Raja yang sudah membenarkan duduknya. Melotot tajam pada Malvin.

"Lihat saja sendiri." Malvin menyerahkan ponselnya pada Raja.

Kening Raja mengerut karena bingung, tapi tak menolak saat Malvin menyodorkan ponsel itu. Matanya memicing sempurna bersamaan dengan helaan napas kasar.

Yasmin berulah lagi!

Fotonya yang entah kapan Yasmin potret tib-tiba berada di Instagram. Raja ingat, sweter warna biru tua kombinasi merah itu persis seperti apa yang ia kenakan hari ini. Berarti, foto itu diambil Yasmin secara diam-diam saat ia berada di taman.

"Sial!" maki Raja.

Perempuan itu semakin lama semakin melonjak. Dibiarkan ... malah mengusik tanpa peduli pada perasaan Raja.

"Lo pacaran sama senior itu?" Malvin masih fokus pada Raja.

Raja menyerahkan ponsel kepada Malvin. "Senior?" Raja balik bertanya.

"Maksud gue itu kak Yasmin," jelas Malvin.

Kening Raja mengerut. Jujur ia tidak pernah tahu jika Yasmin adalah senior di sekolahnya. Tingkah perempuan itu lebih mirip adik kelas yang masih suka cari perhatian.

"Postingan kak Yasmin itu menjelaskan tentang hubungan kalian yang sudah cukup jauh." Senyum Malvin terpatri. Menggoda Raja sesekali tidak masalah bukan? Lagian, Yasmin sepertinya ingin memberi tahu pada semua orang jika Raja adalah miliknya.

"Dia itu sakit jiwa! Gue enggak punya hubungan apa pun sama dia," elak Raja. Mimik wajahnya sungguh sulit diartikan.

Malvin lagi-lagi mengangkat bahunya cuek, fokus pada ponselnya. Bibirnya masih setia memamerkan senyum. Selang beberapa waktu ia beralih pada Raja dan berkata, "awas jangan sampai kebencian lo berubah jadi cinta. Wajah sendu yang lo tampilkan saat ini bisa aja berubah jadi rindu."

Decitan Raja terdengar. Tidak ingin berlama-lama di dekat Malvin, karena lelaki itu tidak jauh bedanya dengan Yasmin. Keduanya sama-sama membuat emosi memuncak.

"Kalau lo terus menolak kehadirannya, gue jamin dalam hitungan minggu bahkan hari lo akan bertekuk lutut padanya. Siap-siap saja!" nasihat Malvin.

Raja merespon menggunakan jari tengahnya. Pertanda ia sangat muak membahas apa pun tentang Yasmin.

"Hei, Bung! Lo hati-hati saja. Gue enggak bermaksud khawatir sama lo, tapi postingan itu bisa membuat lo dalam masalah."

Raja menulikan pendengarannya seolah teriakan Malvin hanya bisik angin lewat.

Persetan dengan semuanya.

Tujuannya cuma satu, menyelesaikan masalah yang menggerogoti hati dan pikirannya.

"Yasmin!" pekiknya tertahan.

****

Yasmin berhenti tertawa saat tiba-tiba tubuhnya terseret karena tangan seseorang menariknya cukup kuat. Keterkejutan mendera saat tahu jika orang yang tanpa berbicara tapi bertindak kasar itu adalah Raja.

Sempat Yasmin meminta tolong pada Devina untuk menghentikan Raja menyeretnya, namun Devina tidak melakukan apa-apa. Yasmin tahu, Devina takut karena Raja menatapnya seolah ingin menguliti hidup-hidup.

Tidak ada cara lain lagi untuk melepaskan diri dari Raja. Sebab itu, Yasmin mengikuti langkah itu dengan senang hati. Lagian, jarang-jarang 'kan Raja menggenggam tangannya erat, tepatnya tidak pernah.

"Calon suami, jangan kasar gitu dong. Santai dikit. Tangan calon istri lo ini sakit. Nanti kalau luka, bagaimana? Kan lo juga yang rugi."

Raja menghentikan langkahnya tepat di depan UKS, lalu mendorong tubuh Yasmin ke dalam. Cukup kuat sehingga Yasmin hampir tersungkur seandainya tidak menjaga keseimbangan.

"Raja ... kok kasar banget sih? Gue ini calon istri lo."

Raja mengusap wajahnya frustrasi. Kemudian menatap Yasmin tanpa berkedip. Menelisik hingga jauh ke dalam netra hitam pekat itu. Dan Yasmin bukannya takut malah terpesona akan tatapan teduh itu.

"Mau lo apa sih? Kenapa merecoki hidup gue terus? Lo waras, 'kan?" Pertanyaan itu keluar secara beruntun dari mulut Raja.

Yasmin tersenyum. "Mau gue itu sederhana kok. Lo jadi suami gue."

"Sakit jiwa lo!" pekik Raja.

"Raja gitu deh. Kan tadi lo nanya gue maunya apa, terus kenapa lo marah pas gue jawab? Aneh lo ya!"

Raja menghela napas kasar. "Bisa enggak sih, lo berhenti mengusik hidup gue?" pinta Raja memelas. Bahkan kedua tangannya sudah mendekap di depan wajah sebagai permohonan.

Yasmin menggeleng. "Gue berhenti, tapi setelah lo jadi milik gue."

"Gue ... gue enggak mau punya masalah di sekolah ini. Please?" Lagi-lagi Raja memohon.

"Raja, lo jangan bikin gue galau dong. Kalau lo kayak gini, bawaannya gue pengin bawa lo pulang terus gue karungi, terus gue ajak ke KUA." Cengiran khas Yasmin terpatri.

Raja membantingkan kepalanya cukup kuat ke dinding semen UKS. Dan seketika darah segar mengalir dari sana.

Yasmin melotot tajam. "Ja, apa-apaan sih?" khawatirnya. Segera mengambil sapu tangan dari saku rok dan hendak mengelap darah yang mengalir dari kepala Raja.

Dengan kasar Raja menepis. "Menjauh dari gue. Jika lo terus mengusik hidup gue, lo bakalan melihat lebih dari ini." Raja berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban apa pun dari Yasmin.

Yasmin terduduk di lantai. Meremas ujung roknya kuat. Melihat Raja yang membantingkan kepalanya di dinding tadi membuat seluruh sarafnya seakan mati.

Kenapa harus sesadis itu?

*****

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel