Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Layaknya Sendu

"Seperti gemerencik hujan yang jatuh tepat pada dedaunan, menjadi rindu lalu berubah sendu"

-Yasmin Aurora

--

Devina menggeram kesal lantaran kegiatannya mengutak atik ponselnya terganggu karena tangan jahil Yasmin. Ingin rasanya sumpah serapah terlontarkan seandainya mereka bukan berada di perpustakaan saat ini.

"Asem banget tuh muka." Yasmin berbisik tepat di telinga Devina.

Devina menarik napas cukup panjang dan menghembuskan tepat di wajah Yasmin. Sungguh ia sangat kesal pada Yasmin yang mengganggu aktivitasnya pada ponsel mewah berwarna pink itu.

"Bau, Monyet!" pekik Yasmin tertahan. "Lo makan apa sih tadi? Bangkai buaya, ya?" tambahnya sembari menutup hidung.

Sekilas Devina melirik Yasmin. "Bukan bangkai buaya yang gue makan tadi."

"Terus?"

"Bangkai manusia. Puas lo?" seru Devina. Ia kembali melanjutkan fokus pada ponselnya.

"Lo ngapain sih? Itu bola mata bisa copot kalau lo melotot kayak gitu," tegur Yasmin. Tatapan menjurus pada wajah Devina, menelisik begitu dalam seolah ia adalah detektif kriminal yang sedang menginterogasi tersangka.

Devina menengadah. "Biasalah, menggombali anak orang."

"Kali ini siapa lagi? Feri? Atau Wahyu?"

Devina menggeleng lantas menunjukkan foto seorang lelaki yang tidak memakai atasan hanya menggunakan celana training berwarna hitam pekat. Yasmin menelan ludahnya saat netranya menangkap otot perut yang sempurna layaknya roti sobek, kotak-kotak yang terbagi enam bagian.

"Gila! Itu roti sobek harganya berapa? Ambyar hati gue." Dengan susah payah Yasmin menelan ludahnya.

Dengan cepat Devina menarik ponselnya dari pandangan Yasmin. Ia takut jika sahabatnya itu kerasukan setan gara-gara foto hot Revin, si tetangga barunya.

"Itu iler dihapus. Berceceran," goda Devina.

"Sialan lo," gerutu Yasmin lantas membersihkan area bibir hingga ke dagu.

Devina menahan senyum. Ia berhasil mengerjai Yasmin dalam hitungan detik.

"Itu siapa sih? Kok gantengnya lumayan?"

Netra cokelat Devina membulat. Lumayan? Yang benar saja? Revin itu ganteng, sempurna dan hot. Mata Yasmin sepertinya katarak. "Lumayan? Mau kepala lo gue tebas pake kawat giginya Maimunah?"

Bulu roma Yasmin merinding mendengar nama Maimunah. Masih teringat jelas d otak saat sebelah sepatu murid genius itu mendarat di punggungnya.

"Terjangkit virus rabies gue."

Senyum Devina mengembang. Ia selalu berhasil mengancam Yasmin menggunakan nama Maimunah. Padahal cewek berkacamata itu sama sekali tidak ada hubungannya pada pembahasan mereka. Namun, selalu terbawa dan sukses membuat Maimunah semakin gencar mengadukan mereka pada guru.

"Ngomong-ngomong, itu cowok siapa sih? Gebetan baru lo?" Yasmin menelisik wajah Devina. Dan kenyataan mengatakan ada sesuatu di antara keduanya.

"Namanya Revin, tetangga baru." Senyum semringah terpancar di wajah Devina.

Yasmin mengangguk, paham betul apa otak sahabatnya itu. "Dan gue yakin sekarang lo lagi melancarkan aksi rayu merayu."

Kini giliran Devina yang mengangguk. "Lo emang sahabat terbaik gue. Lo bisa nebak segala hal tentang gue."

Yasmin mendecit. Terlihat jelas senyum tipis terpatri. Apa pun keputusan Devina, dalam bentuk yang jelas atau tidak, Yasmin selalu berada di pihak sahabatnya itu.

"Jangan mendekat ke area Revin! Gue kirim lo ke neraka!" peringat Devina saat menangkap mimik Yasmin yang tersenyum mencurigakan.

Yasmin menepuk jidat Devina. Dan cewek berambut pendek sebahu itu mengaduh kesakitan.

"Gila lo ya? Sakit!"

"Lah, salah lo juga, prasangka buruk banget jadi manusia." Yasmin menjeda kalimatnya sekedar menelan ludah, "... lagian takdir gue itu sudah jelas di depan mata. Raja!"

Ada yang beda saat Yasmin mengucapkan nama adik kelasnya itu. Binar kebahagiaan tertera jelas di netranya.

Apa ia sudah jatuh cinta terlalu dalam?

"Lo kalau mimpi jangan ketinggian. Lo kira itu cowok mau sama lo?"

"Kenapa enggak?" Alis Yasmin naik sebelah.

Devina menarik napas. Fokus pada Yasmin dan mengabaikan ponselnya yang berulang kali berdering karena pesan masuk.

"Gue bisa nebak, Raja itu cowok yang suka sama cewek kalem dan pendiam. Sedang lo? Agresif plus centil minta ampun."

Bibir Yasmin mengerucut. Pernyataan yang di keluarkan oleh Devina membuatnya kesal bukan main.

"Devina, ini zaman milenial, so ... tidak masalah kalau cewek lebih agresif dari cowok. Bukannya lo sama gue itu sama saja?"

Devina terdiam. Apa yang dikatakan Yasmin itu benar, mereka berdua tidak ada bedanya. Sama-sama agresif!

"Eh, lo berdua bisa diam enggak sih? Ini perpus bukan diskotek. Jangan berisik!" tegur salah satu murid cewek yang merasa terganggu dengan Yasmin dan Devina.

Keduanya tersadar. Yasmin melirik ke seluruh ruangan, dan gilanya semua mata tertuju pada mereka. Terlalu asyik gibah sampai lupa tempat.

"Maaf," cicit Devina. Segera menarik tangan Yasmin untuk mengajak keluar dari sana. " Cabut yuk."

Yasmin mengangguk. Mengikuti langkah Devina yang terus menyeretnya keluar dari perpus.

****

Yasmin melepas ikatan rambut saat netranya menangkap bayangan Raja yang duduk di bawah pohon Akasia. Senyum mengembang sempurna bersamaan dengan langkah kaki yang menuju ke arah idaman hati.

Dengan perlahan tanpa menimbulkan suara segera duduk di samping Raja. Yasmin memfokuskan atensinya pada cowok yang sedang terpejam itu. Memuaskan mata dan hati untuk memandang tanpa perlawanan.

Seketika wajah Yasmin memanas dan ia yakin telah memerah layaknya tomat. Dalam keadaan seperti ini saja, tubuhnya bereaksi begitu cepat apalagi jika Raja telah menjadi miliknya.

Tangan tidak tinggal diam, bergerak perlahan menyingkirkan rambut yang menutupi kening Raja, kemudian beralih ke hidung yang mancung mengikuti bentuk, seolah Yasmin sedang melukis di atas kanvas.

Namun saat tangan menuju ke area bibir, Yasmin terdiam, menelisik bibir penuh yang sedikit memerah itu. Dengan susah payah ia menelan salivanya! Sepertinya otak mesum menguasai dalam sesaat. Yasmin membasahi bibirnya, kemudian memperkecil jarak antara wajahnya dan Raja.

Sedikit lagi bibir itu mendarat di kening mulus Raja seandainya mata itu tidak terbuka. Refleks Yasmin mundur hingga membuatnya tersungkur ke belakang.

"Lo ngapain? Mesum ya?" Raja melontarkan pertanyaan sarkastis. Jangan lupa mata yang menatap tajam, menelisik ke arah Yasmin dari atas kepala hingga ujung kaki.

Yasmin yang telah berdiri dari posisi tersungkurnya menepuk rok bagian belakang. Pipi menggembung bersamaan dengan dengusan kasar yang keluar dari mulut.

"Siapa yang mesum?" elak Yasmin tidak terima atas tuduhan yang Raja layangkan.

"Elo!" Jelas, padat dan tidak bisa disanggah. Namun bukan Yasmin kalau mengalah begitu saja.

"Enak saja kalau ngomong." Yasmin berkacak pinggang di depan Raja.

Raja membetulkan posisi duduknya. Senyum simpul tertera jelas di sudut bibirnya. "Jadi apa namanya kalau bukan mesum?"

"Pokoknya gue enggak mesum!" elak Yasmin.

Raja menaikkan sebelah alisnya. "Mana ada maling mau ngaku? Kalau ngaku penjara penuh."

Yasmin menggeram tertahan. Dia tidak suka dengan tuduhan yang dilemparkan oleh Raja. Walau kenyataannya bibirnya hampir menyentuh jidat Raja, tadinya. Tapi ... itu tidak membuktikan kalau ia mesum, bukan?

"Raja mau ke mana?" tanyanya saat Raja berjalan menjauh.

Raja memutar tubuhnya ke belakang, menatap horor pada Yasmin yang mendekat. "Ke neraka!"

Senyum Yasmin mengembang. Ia menyamakan langkahnya dengan Raja yang berjalan sedikit lebih cepat darinya. "Lo makin lama makin menggemaskan. Sumpah!" Jari membentuk huruf di depan wajah. "Nikah saja yuk. Biar halal! Jadi pas sayang-sayang, enggak ada iblis yang nyasar." Yasmin menggandeng tangan Raja.

Raja menahan napas. Seluruh wajah memerah karena amarah sudah mencapai pada garis batas. Rasanya, Raja ingin sekali memelintir leher Yasmin agar berhenti merecoki hidupnya yang tenang. Sialnya, ia tidak mampu melakukannya. Bagaimana pun, hatinya tak mampu menyakiti seorang perempuan.

Seandainya saja ia bisa melakukannya?

"Gue serius, Raja. Kita nikah yuk. Terus kita bikin anak. Em ... sepasang saja biar adil. Nanti anak-anak, kita kasih nama Princess sama King." Yasmin bertutur panjang lebar, mengeluarkan segala sesuatu yang ada di hati dan pikirannya.

Lupa jika Raja tidak pernah ikut berpartisipasi dalam ide gilanya itu.

Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Yasmin membuat Raja spontan berhenti. Mengusap wajahnya frustrasi. Menghadapi Yasmin itu sungguh menguras otak dan ototnya. Ia kira perempuan yang asal usulnya tidak ia tahu itu akan menyerah mengganggunya jika diabaikan. Tapi nyatanya tidak menyerah.

Malah semakin merecoki dengan tingkah lebih mengesalkan lagi.

"Sakit lo!" Mimik wajah marah terlukis jelas. Raja sudah terlalu muak.

Yasmin tersenyum semringah. Tidak pernah peduli pada ekspresi yang ditampilkan Raja. Bagi Yasmin itu hanya sekedar gertakan.

"Gue memang sakit Raja. Dan itu karena lo," kata Yasmin. "Jadi gue butuh obat. Dan obatnya itu juga elo."

"Gila!"

"Raja, jangan sering katai gue gila. Entar lo tergila-gila sama gue lagi. Gue mah, ikhlas saja. Malah syukur alhamdulillah."

Raja menggeleng. Tidak ada yang bisa lagi ia lakukan lagi untuk menghentikan aksi Yasmin mengganggunya.

Percuma saja, Yasmin itu terlalu agresif dan Raja benci itu!

****

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel