Memburu lalu Menjamu
Dunia itu terlalu kejam. Jika kamu terkulai lemas maka akan terjebak tanpa mampu keluar ." —Yasmin Aurora
——
Yasmin menghela napas kasar sembari mengaduk-aduk makanan yang ada di depannya. Selera makannya entah melayang ke mana. Yang jelas sedari tadi ia hanya menusuk-nusuk nasi berlauk cumi-cumi sambal itu.
Terlalu sepi. Rumah mewah nan megah peninggalan sang ayah lebih layak disebut sebagai tempat pengasingan, bahkan kuburan saja masih terlihat ramai ketika ada yang mendatanginya. Sunyi dan hampa! Bundanya terlalu sibuk mengurusi urusan di luar sana sehingga lupa pulang. Entah apa yang dikejar sang bunda? Entah apa yang lebih menarik di luar sana? Entah dan entah. Semua menjadi pemikiran buruk yang melintasi otak Yasmin tiap kali mengingat bundanya.
Sebulir air mata mengalir dari netra hitam pekat itu. Dengan kasar Yasmin menghapus cairan bening itu. Ia tidak boleh kalah pada keadaan yang menjebaknya dalam kepahitan. Apa pun itu, ketegaran harus berdiri tegak di hatinya agar ia bisa tetap menampilkan senyum walau sepahit empedu.
Bukankah dunia akan semakin kejam jika ia layu dan tidak berdaya?
Jika di luar sana, ia terlihat seperti seseorang yang terlalu bebas dan bahagia. Itu terjadi karena Yasmin tidak ingin menunjukkan pada orang-orang, bahwasanya ia terluka sangat dalam tepat di hati.
Biarlah ia bersandiwara meskipun di saat sendiri, semua keperihan menusuk dan saling berdesakkan tanpa ampun. Memaksa air matanya jatuh tanpa bisa dibendung. Ya, sejak ayahnya meninggal, entah berapa banyak air mata yang sudah tertumpahkan.
Yasmin terperanjat saat handphone-nya berbunyi cukup kuat. Sontak ia segera mengambil benda pipih yang tergeletak di atas meja.
Nama Maimunah yang tertera di layar. Sejenak, kening Yasmin mengerut bingung. Ada angin apa perempuan berkacamata tebal itu menghubunginya sore begini. Tidak mungkin Maimunah si cewek yang selalu mengadukannya pada guru itu merindukannya, bukan? Mana mungkin! Mustahil.
Yasmin mengangkat bahunya acuh, tapi tetap saja menyempatkan diri mengeklik tombol hijau agar sambungan telepon itu segera terhubung.
"Halo! Eh, Marmot! Lo di mana?"
Belum sempat Yasmin mengeluarkan suara, Maimunah di seberang telepon sudah duluan menghujani dirinya dengan ejekan yang menggebu. Suara itu nyaris membuat kuping Yasmin berdengung. Syukur saja, ia segera menjauhkan dari rungunya.
Maimunah memanggilnya Marmot. Astaga! Haruskah ia menyumpal mulut itu memakai kain pel?
Merasa suara Maimunah tidak terdengar lagi, Yasmin mendekatkan handphone kembali ke telinga.
"Ada apa, Mai? Lo sakit, ya? Tiba-tiba berteriak enggak jelas gitu. Ngatain gue Marmot lagi," keluh Yasmin dan nada suaranya dibuat pelan dan seolah mengintimidasi.
"Lo amnesia atau pikun, sih? Sore ini kita kerja kelompok di rumah gue. Dasar bego!" Suara Maimunah masih sama melengkingnya seperti awal menelepon tadi. Tidak ada keramahan di sana sama sekali. Ya Tuhan, telinga Yasmin bisa pecah jika terus diteriaki oleh Maimunah.
Yasmin menepuk jidatnya kuat. Dia lupa! Selintas melirik jam di pergelangan tangan. Jarum sudah menunjuk pada jam 16.30 WIB, padahal janji mereka tepat pada jam 16.00.
Gawat! Ia telat 30 menit. Pantes saja nenek sihir itu menggerutu terus.
"Lo dengar gue, 'kan?" Maimunah kembali bertanya dan Yasmin mengabaikan. Malah memutuskan sambungan telepon secara sepihak, secepat kilat menuju kamar untuk berganti pakaian. Tidak peduli dengan makanan yang sejak tadi hanya ia aduk tanpa niat menikmati.
"Yasmin, siap-siap lo kena sembur kemenyan," monolognya seraya mengganti pakaiannya.
****
Yasmin ragu untuk mengetuk pintu rumah sederhana bercat cokelat tua itu meskipun sudah berada di area teras.
Pasti, jika ia masuk ke dalam, kuping yang awalnya baik-baik saja akan menjadi budek karena ceramah panjang lebar Maimunah. Bukan hanya sekali atau dua kali cewek berkawat gigi itu menghujani dirinya omelan menggebu dan makian. Mungkin setiap hari dan Yasmin tidak sanggup menghitungnya lagi. Terlalu susah untuk dihitung.
Memang Yasmin yang selalu mencari masalah, tapi mau bagaimana lagi, menggoda Maimunah hingga mengamuk adalah kesenangan tersendiri. Hiburan gratis di saat hatinya teriris pilu.
Di saat Yasmin masih berkutat pada pikirannya, tiba-tiba pintu terbuka dan menampakkan sosok Devina yang hendak keluar.
"Singa betina, lo ke mana aja? Kenapa baru nongol?" Sontak Devina mendorong Yasmin agar menjauh dari pintu. Kemudian menutup pelan agar tidak mengeluarkan bunyi.
"Sorry, gue ketiduran," bohong Yasmin. Mimik wajah sengaja dibuat memelas seakan-akan merasa bersalah.
"Lah, kenapa minta maaf ke gue? Kalau gue mah, enggak masalah lo datang atau enggak. Paling gue ngambek seabad sama lo. Sialnya, itu si Monster mana peduli. Siap-siap saja besok pagi nama lo terpampang nyata di mading." Devina tertawa mengejek sahabatnya itu. Apalagi ekspresi Yasmin terlihat seperti orang bodoh, mata melotot dan mulut menganga lebar.
"Sahabat macam apa lo? Ketawa di atas penderitaan gue," gerutu Yasmin. Ia menyandarkan tubuhnya di tembok.
Sudah terlambat datang, tapi masih saja banyak tingkah. Yasmin memang ajaib.
"Lo juga, sih. Sudah tahu satu kelompok sama Maimunah, tapi masih saja bertingkah," nasihat Devina setelah mengatur kembali ekspresinya menjadi biasa.
Yasmin mengacak rambutnya frustrasi. "Wah, lo kayaknya membela Maimunah. Lo sahabat gue apa Maimunah?" tanya Yasmin kesal.
Dengan cepat tanpa berpikir Devina berkata, "Maimunah."
Yasmin mengentakkan kaki dan segera masuk ke dalam rumah. Jawaban Devina barusan membuat mood-nya jatuh bergelinding entah ke mana. Terbawa angin atau bisa jadi terinjak-injak oleh kecoak yang berjalan.
Melihat tingkah Yasmin yang seperti itu sontak membuat Devina terkekeh. Bahkan sampai membuatnya memegangi perut karena kekehan yang keluar terlalu kuat dan membuat kram.
****
Tidak ada yang bisa dilakukan Yasmin selain duduk dengan kepala menunduk dan menjadi pendengar setia ceramah Maimunah. Yasmin seperti bocah nakal yang mencuri buah dari pohon milik tetangga sebelah lalu dinasihati oleh ibunya.
Sebenarnya, Yasmin ingin sekali menjawab setiap kalimat yang dikeluarkan Maimunah, tapi Yasmin menahan sebisa mungkin. Ia tidak ingin jika besok pagi namanya menjadi topik utama dan juga tidak ingin nilainya anjlok karena tidak diikut sertakan oleh Maimunah dalam tugas kelompok mereka.
Istilah kata, saat ini Yasmin sedang merayu dan menjadi anak baik.
"Lo dengar apa yang barusan gue bilang, kan?" tanya Maimunah antusias.
Yasmin mengangguk berkali-kali. Jujur, sejak tadi dirinya tidak peduli dengan apa yang diucapkan Maimunah, bahkan ia tidak mendengar sama sekali karena pikirannya tengah melayang jauh. Jadi, untuk menghindari amukan lain, ia mengangguk saja.
"Mai, jangan percaya. Gue yakin dia tidak mendengar sama sekali." Devina berucap memanaskan suasana.
Yasmin mendelik pada Devina yang tengah menahan senyum. Dan sahabatnya itu hanya mengangkat bahu sebagai tanggapan.
"Awas lo." Diucapkan hanya dengan pergerakan bibir tanpa mengeluarkan suara.
Devina mengulurkan lidah. Yasmin semakin kesal akan tingkah Devina. Sahabatnya itu minta dikuliti, mungkin.
"Eh, lo dengar gue apa enggak?" pekik Maimunah saat menyaksikan interaksi Yasmin dan Devina. Itu membuatnya kesal bukan main.
"Dengar. Enggak usah ngegas gitu dong. Entar jadi perawan tua lo. Mau?"
Seketika Maimunah menepuk bahu Yasmin menggunakan buku. Kemudian berlalu menuju kamarnya.
"Ngambek?" Yasmin menatap Devina yang masih tersenyum.
Devina mengangguk. "Gara-gara lo."
"Aish!" Yasmin membantingkan kepalanya di sofa empuk.
Ia merasa menyesal satu kelompok dengan Maimunah. Jiwanya seolah ditindas secara kejam tanpa iba.
"Maimunah," cicitnya tertahan.
Kenapa harus Maimunah?
"Selamat menanti hukuman, Yasmin Aurora."
Devina terkekeh setelah mengucapkan kalimat itu. Sedang Yasmin, ia hanya memasang wajah nelangsa, membayangkan hukuman yang akan ia terima besok di sekolah. Karena sudah pasti Maimunah menjadikannya target berhadapan dengan guru BP atau dengan bu Saveta.
*****
