Dan Setelahnya, Kadang?
"Dunia ini terlalu sempit, menyesakkan, hingga dadaku rasanya tak sanggup menampung berjuta rindu yang menyesalkan!"
—Yasmin Aurora
__
"Yas, lo dipanggil Bu Saveta ke kantor tuh."
Yasmin yang terlalu fokus selfie, menghentikan aktivitasnya itu dan menatap si empunya suara.
"Kenapa?" tanya Yasmin bingung. Berharap Naura si pemanggil mempunyai jawaban dari pertanyaan itu.
"Mana gue tahu!" Naura mengedipkan bahu pertanda tidak tahu. Lalu berlenggang pergi meninggalkan ruang kelas begitu saja.
Yasmin menyimpan handphone ke saku rok. Berjalan keluar kelas. Namun sebelumnya, ia sempat mengembuskan napas gusar.
Khawatir? Tentu saja. Bu Saveta itu guru bahasa Indonesia yang memberi mereka tugas kelompok. Bisa jadi Maimunah sudah melapor bahwa ia terlambat datang saat berkumpul mengerjakannya.
"Maimunah!" Yasmin mengacak rambutnya frustrasi. Lagi-lagi dirinya harus mendatangi kantor guru karena si tukang mengadu.
Tangan terangkat mengetuk pintu yang terbuka sebagai penghormatan dan sopan santun. Yasmin tersenyum kikuk saat Bu Saveta menatapnya horor, lalu menggunakan isyarat mata menyuruh mendekat.
Dengan susah payah Yasmin menelan salivanya. Gugup bercampur takut. Aura horor mendominasi ruangan itu. Jika saja hanya Bu Saveta di dalam sana, Yasmin masih bisa mengelak dengan beribu alasan terbaik yang ia miliki. Tapi masalahnya, di kantor guru ada Bu Mawar dan juga Raja.
Mati gaya!
Bu Mawar itu galak bukan main. Memberi satu alasan saja belum tentu bisa diterima. Dan, bisa jadi ia berakhir di lapangan menghormati bendera.
Dan Raja?
Yasmin mengernyitkan kening bingung. Kenapa calon suami masa depannya ada di kantor? Apa Raja melakukan satu kesalahan?
"Yasmin, kamu dengar apa yang Ibu bilang barusan?"
Yasmin mengerjap, seketika tersadar dari lamunannya. Kembali fokus menghadap Bu Saveta.
"Ibu bilang apa tadi?" Cengiran polos ia sematkan di sudut bibir.
Bu Saveta menarik napas kasar. "Maimunah bilang kalau kamu -"
"Ibu, tolong deh, Maimunah jangan dibawa-bawa dalam pembahasan kita ini," keluh Yasmin memotong kalimat Bu Saveta. Namun, kemudian ia menutup mulutnya saat guru itu mendelik tajam.
"Maaf. Habis saya kesal, Bu. Ibu selalu mendengar apa yang dikatakan Maimunah."
Ekspresi Yasmin terlihat murung, menunduk tidak berani menatap Bu Saveta. Namun, percayalah ... separuh dari fokusnya tertuju kepada Raja dan Bu Mawar. Ia ingin tahu apa yang keduanya bicarakan!
"Itu karena Maimunah murid teladan. Baik dan patut dicontoh. Jujur dan juga pintar. Sedang kamu?"
Yasmin memutar bola matanya. "Iya deh. Tapi percayalah Bu, Maimunah itu tidak sebaik yang Ibu pikirkan. Nyatanya, dia selalu mengadukan saya pada semua guru."
Bu Saveta melotot. "Itu karena kamu selalu mencari masalah."
Yasmin tersenyum kikuk.
"Oke, fokus. Ibu kasih peringatan sekali lagi. Jika kamu tidak ikut mengerjakan tugas kelompok, Ibu akan mencoret nama kamu. Dan, nilai kamu bakalan Ibu kasih nol," peringat Bu Saveta. Yasmin mengangguk-angguk kecil. Sebenarnya ingin sekali membantah dan mengatakan kalau ia hadir meskipun telat, tapi ia urungkan saat ekor matanya menangkap bayangan Raja keluar dari ruang guru.
Intinya, Yasmin ingin segera menyelesaikan urusannya dengan Bu Saveta, lalu menyusul Raja, menggoda bahkan merayu pujaan hati.
"Jadi, untuk kali ini Ibu kasih kelonggaran. Namun, kamu tetap dapat hukuman. Bersihkan lapangan basket."
"What?" Yasmin menggeleng tidak percaya. Lapangan basket itu luas walau tidak seluas lapangan bola. Tapi tetap saja akan menguras tenaga.
"Kenapa? Mau Ibu tambahkan hukuman?" tanya Bu Saveta.
Yasmin menggeleng. "Oke, saya pergi, Bu." Lantas mengambil langkah seribu meninggalkan kantor guru.
Bu Saveta menggeleng, kemudian melirik ke arah Bu Mawar yang sedang menghela napas kasar.
"Kalau tidak sanggup menghadapi bocah gesrek itu, lemparkan pada saya," tukas Bu Mawar, dan Bu Saveta membalas dengan cara mengangguk.
****
"Gimana hasilnya?"
Yasmin yang baru keluar dari kantor guru langsung disambut oleh Devina. Senyum sahabatnya itu tercipta cukup lebar, layaknya model iklan pasta gigi.
Ingatkan Yasmin untuk menyumpal mulut Devina menggunakan kain kotor yang menumpuk di rumahnya.
"Yas, jawab dong." Devina mengikuti langkah Yasmin yang terus berjalan.
"Gue dihukum. Puas lo?" Yasmin menghentikan langkahnya, memutar tubuh menghadap pada Devina yang juga ikut berhenti.
"Wah, mantul dong." Devina mencolek pipi Yasmin gemas.
"Mantul kepala lo! Gue dihukum, bukan lagi kencan," ucap Yasmin kesal.
"Iya, maaf. Emang hukuman lo apa sih?" tanya Devina antusias.
Mimik Yasmin berubah sendu. "Bersihkan lapangan basket sampai kinclong."
Devina mengangguk. "Bagus dong."
"Bagus apanya? Lo bantu gue dong," mohon Yasmin, memasang mimik puppy eyes kepada Devina.
Sesaat terlihat menggemaskan layaknya anak kecil. Hingga membuat tangan Devina terangkat mencubit kedua pipi putih mulus itu.
"Ogah!" tolak Devina.
"Kasihani sahabat lo ini, dong," cicit Yasmin dengan nada pelan. Ekspresi wajahnya masih sama seperti tadi.
"Lo yakin mau gue temani?" Senyum menggoda Devina semakin tercipta.
Yasmin mengernyitkan kening. "Kenapa enggak yakin?"
Devina menarik tangan Yasmin agar kembali melanjutkan perjalanan mereka.
"Soalnya, tadi gue lihat Raja lagi jalan menuju lapang basket," jelas Devina.
Spontan Yasmin membulatkan matanya, menatap tidak percaya pada Devina.
"Serius?"
Devina mengangguk penuh semangat.
Senyum Yasmin mengembang. Kesempatan manis selalu berpihak padanya. Sejurus, ia melepaskan genggaman Devina darinya, lantas berlari meninggalkan sahabatnya itu menuju lapangan basket.
"Calon suami, tunggu gue!" teriak Yasmin layaknya orang kerasukan setan.
****
Yasmin tersenyum semringah saat punggung Raja terlihat olehnya. Sengaja berjalan pelan, bahkan terkesan seperti seorang maling. Niatnya tidak ingin membuat kegaduhan, agar bisa melancarkan aksinya mengejutkan Raja.
Namun, sayangnya takdir baik tidak berpihak padanya. Nyatanya, sebelum berhasil mengejutkan Raja, Yasmin malah tersungkur ke lantai lantaran memijak genangan air.
Raja yang mendengar bunyi benda jatuh menoleh seketika, kemudian mengernyitkan kening bingung.
Yasmin menengadah, menatap Raja dengan mimik sendunya.
"Raja, bantuin ...." Mengulurkan tangan pada Raja, berharap cowok pendiam itu segera meraih tangannya.
Namun, 1 detik, 2 detik hingga detik-detik berikutnya, cowok itu masih diam.
"Raja, help me?" mohon Yasmin masih dalam posisi tersungkur.
Sebenarnya, ia bisa saja berdiri tanpa bantuan Raja, hanya saja, ia tidak ingin membuang kesempatan yang ada di depan mata.
"Raja," cicit Yasmin memelas.
Raja melempar sapu yang ada di tangan begitu saja. Terpaksa mendekat pada Yasmin meskipun kekesalannya lebih mendominasi. Ia masih memiliki hati walau rasanya ingin mengubur Yasmin hidup-hidup.
Dengan sigap, membantu Yasmin berdiri, lalu memapah menuju bangku yang ada di sana. Raja terlalu serius, sedang Yasmin tersenyum begitu manis.
"Lain kali berhati-hati."
Yasmin mengangguk semangat. Binar mata bahagia terpancar! Meskipun kalimat itu diucapkan dengan nada datar, tapi bagi Yasmin itu suatu kemajuan. Untuk pertama kalinya, Raja Perhatian padanya.
"Karena dilain waktu, gue gak akan menolong lo."
Seketika binar bahagia itu redup. Raja begitu jago membuat hati Yasmin seperti diutak-atik layaknya mesin rusak yang hendak diperbaiki.
"Lo jahat. Cium baru tahu!" seru Yasmin sembari menggembungkan pipinya kesal.
Dasar Raja, manusia yang tercipta tanpa rasa peka!
******
