Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Menciptakan kenangan

"Untuk jatuh cinta itu butuh perjuangan! Namun, terkadang ketika hati sudah lelah, apakah masih layak untuk berjuang?"

-Yasmin Aurora

--

"Sumpah ya, Yas. Gue pengin banget sumpahi lo sekarang ini."

Yasmin yang tengah menjilat ice cream itu hanya melirik sesaat tanpa berniat menyahut ucapan Devina.

"Lo kira-kira dong kalau mau ngajak kuliner gitu. Ini bikin malu gue tahu," protes Devina kesal.

"Kok malu sih? Kan kita enggak telanjang."

Itu mulut kenapa asal ceplos saja sih? Devina heran.

"Yang bilang telanjang siapa, bego?" Devina benar-benar kesal. "Makan ice cream tanpa bawa duit apa enggak malu? Lo kira ini kafe milik nenek gue, apa?"

Yasmin menjilat sendok yang masih menempel sisa ice cream. "Mana gue tahu kalau lo enggak bawa duit?"

"Sialan lo! Jadi gimana nih? Elo juga ... ngapain pakai lupa dompet segala."

"Kedip mata saja sama kasirnya. Elo 'kan jago soal merayu," saran Yasmin.

Sudut bibir Devina naik. Kekesalannya semakin menjadi. Ia lupa bahwa sahabatnya itu sedikit gila.

"Kasirnya cewek, Monyet!"

"Sorry. Gue kira cowok." Yasmin terkekeh pelan.

"Jadi gimana? Mikir dong! Masa iya kita cuci piring buat bayar ice cream?"

"Ide bagus. Tapi elo aja, ya."

Perdebatan kecil itu akhirnya mencapai pada klimaks. Keduanya memilih kabur dengan cara sembunyi-sembunyi. Namun, niat itu tidak terwujud karena seseorang datang dan mendudukkan diri di bangku kosong.

"Bersenang-senang?" Pertanyaan itu lebih mirip seperti ejekan menurut Yasmin.

Yasmin memutar bola matanya malas. Ia sangat malas berurusan dengan Giovano.

"Kalau iya, kenapa? Masalah buat lo?" ketus Yasmin. Ia sempat mendapatkan cubitan kecil di pinggang dan pelakunya tentu saja Devina.

"Enggak masalah sih. Cuma nanya aja kok. Jangan baper gitu dong."

"Giovano, mantan gue tersayang tapi bohong, siapa sih yang baper? Elo kali!"

"Gue? Baper? Mimpi kali." Giovano memasang mimik angkuh.

"Ya sudah kalau lo enggak baper. Santai dong." Yasmin tersenyum manis. "Devina, yuk pulang. Gerah gue lama-lama di sini."

Devina mengangguk.

"Bayari ice cream gue ya. Kebetulan lupa bawa duit kes," celetuk Yasmin.

Giovano hanya menganga, kemudian mendengus pelan setelah mencerna kalimat Yasmin barusan. Lagi-lagi mantan pacarnya itu bikin emosi bercampur aduk.

Marah pun akan percuma. Karena kedua manusia tanpa malu itu telah menghilang dari pandangan mata. Dan terpaksa, ia harus melunasi makanan milik orang lain.

****

"Bunda pulang jam berapa?" Yasmin mengekori perempuan cantik yang tengah mengotak atik ponsel.

"Mungkin jam sembilan. Jangan tunggu Bunda. Makan saja sendiri." Viola berucap tanpa melirik Yasmin sama sekali.

Yasmin mengangguk pasrah. "Bunda pulang, 'kan?"

Viola mengalihkan fokus pada Yasmin. "Kalau acara cepat selesai, Bunda akan pulang. Intinya, jangan tunggu Bunda."

Jawaban yang diberikan Viola tidak memuaskan hati Yasmin sama sekali, tapi mau bagaimana lagi, jika itu sudah diucapkan. Sebagai anak, dirinya hanya bisa patuh. Walau sebenarnya ia menginginkan hal lain.

Semacam kasih sayang.

Bundanya terlalu sibuk bekerja dan berkumpul bersama teman-teman arisan.

Yasmin memang butuh materi, tapi jika boleh jujur, ia lebih butuh kasih sayang.

Namun, Bundanya tidak memberi apa yang sepantasnya diterima anak seusianya.

"Bunda hati-hati ya." Hanya kalimat itu yang Yasmin ucapkan saat Viola masuk ke dalam mobil.

Tidak ada sahutan sama sekali. Viola sibuk menyalakan mobil lalu setelah itu meninggalkan pekarangan rumah mewah mereka.

Sebulir air mata merembes dari netra Yasmin. Untuk kesekian kalinya, ia ditinggal oleh bunda dan lebih memilih menghabiskan waktu di luar rumah.

Yasmin sudah lupa kapan terakhir kali ia makan bersama Viola. Mungkin setahun yang lalu, saat ayahnya masih hidup.

"Ayah, Yasmin rindu."

****

Yasmin menghentikan jari-jarinya yang bermain di atas keyboard laptopnya saat suara deru mobil terdengar dan berhenti di depan rumahnya. Dengan buru-buru, ia menuju jendela, menyibakkan sedikit gorden dan mengintip ke luar lewat jendela kaca.

Mata fokus pada titik target. Seorang yang berjenis kelamin laki-laki keluar dari dalam mobil, dan disusul oleh seorang perempuan. Yasmin menajamkan penglihatannya, lantas kemudian tersenyum sendu. Perempuan itu adalah bundanya.

Yasmin memalingkan tubuhnya saat lelaki itu mendaratkan kecupan di kening sang perempuan. Jari-jari Yasmin mengepal dan sejurus air matanya jatuh.

Entah kenapa hatinya terasa sakit melihat adegan romantis itu.

Dengan sangat perlahan, Yasmin berjalan ke ranjangnya dan melemparkan diri ke atasnya. Ia sangat malas untuk lanjut mengerjakan tugas sekolahnya. Memilih tidur, apalagi jarum jam sudah menunjuk pada angka 10 malam.

"Yasmin."

Panggilan dari luar kamar bersamaan ketukan di pintu, membuat Yasmin membuka mata. Niat untuk membuka pintu tidak ada sama sekali, ia hanya menatap fokus ke sana.

"Jangan berpura-pura tidur."

Suara itu seperti biasa, datar tanpa kelembutan di dalamnya. Yasmin benci itu!

"Bunda bawakan kue cokelat kesukaanmu. Bunda letak di depan pintu. Ambil sekarang sebelum tikus yang menikmati."

Lalu, hening setelahnya. Tidak ada suara dari luar. Yasmin menghela napas, selalu seperti ini. Apa susahnya bundanya itu masuk ke dalam kamar dan memberikannya dengan lembut penuh kasih sayang?

Yasmin menyibak selimut, turun dari ranjang lalu berjalan menuju pintu. Secara pelan membuka pintu, mengintip ke luar dan sudut bibirnya naik saat melihat kotak kue cokelat.

Ia segera mengambil lalu menutup pintu kembali. Dan berbalik menuju ranjang. Yasmin membuka kotak kue itu. Air matanya mengalir lantaran kue cokelat itu mengingatkannya pada almarhum ayahnya.

Yasmin mengambil ponselnya, masuk ke aplikasi Facebook dan membuat postingan singkat.

"Kue cokelat atau kenangan?"

Ia tidak menunggu komentar sama sekali. Karena setelah membuat postingan, Yasmin langsung keluar dari aplikasi Facebook.

Rasa sesak menjalar di hati. Demi Tuhan, ini adalah kesakitan dirinya yang paling tidak bisa dikuasai. Melihat bundanya pulang dengan lelaki asing. Ada apa dengan perempuan cantik yang sudah melahirkannya itu?

Sejak kepergian ayahnya, semua telah berubah. Dunianya seketika tidak lagi sama. Bahkan kue cokelat kesukannya terasa hambar tanpa rasa. Jika saja ia bisa mengulang waktu, ia ingin ayahnya tetap di sini, tapi?

Apa yang bisa ia lakukan? Semua takdir telah tersusun rapi, dan dirinya hanya bisa menerima tanpa mengeluh. Memang, pada dasarnya manusia itu selalu saja tidak puas dengan apa yang sedang dijalani. Namun, apa salah.

Yasmin memejamkan matanya. Namun, otaknya masih tidak bisa tenang dan bahkan rasa kantuk tidak juga menghampiri. Ia kembali mengambil ponselnya dan kali ini membuka aplikasi chat untuk bertukar rasa sedih dengan sahabatnya.

"Lo tidur?"

Pesan singkat untuk Devina. Cukup lama Yasmin menunggu hingga dalam waktu sepuluh menit masih juga belum terbalas.

"Lo tidur ternyata. Ya, sudah. Mimpi indah!"

Ia kembali melanjutkan mengirim pesan. Seteah itu meletakkan ponselnya ke sembarang arah.

"Kenapa masih sakit aja ini hati?" tanyanya dengan pelan. Sejurus air matanya jatuh tanpa bisa ia bendung lagi.

Dunianya benar-benar kacau.

*****

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel