BAB 4 RAHASIA YANG TAK BOLEH TERBONGKAR
Naya masih menatap foto itu.
Tangannya gemetar hebat.
Foto yang baru saja dikirim Rania membuat pikirannya kacau. Ia mengenal dirinya sendiri dalam foto tersebut. Mengenal pakaian yang dikenakannya. Bahkan mengenal tempat di mana foto itu diambil.
Tetapi pria di sebelahnya...
Naya sama sekali tidak mengenalnya.
Tulisan di belakang foto terus terbayang di kepalanya.
“Jangan biarkan Arga mengetahui siapa ayah sebenarnya.”
"Ayah siapa?"
Naya berbisik.
Ia mencoba mengingat masa lalu.
Sebelum bertemu Arga, hidupnya tidak pernah rumit.
Setidaknya, itulah yang selama ini ia pikirkan.
Naya mengambil ponselnya dan memperbesar foto.
Wajah pria itu terlihat cukup jelas.
Usianya mungkin sekitar tiga puluh tahun. Rambut pendek, mengenakan kemeja gelap.
Yang membuat Naya semakin bingung adalah ekspresi mereka.
Dalam foto itu, pria tersebut berdiri sangat dekat dengannya.
Terlalu dekat untuk disebut orang asing.
"Kenapa aku nggak ingat?"
Naya memejamkan mata.
Kemudian sebuah bayangan muncul dalam ingatannya.
Sebuah sore.
Tiga tahun lalu.
Sebelum Arga.
Sebelum kuliah.
Sebelum semuanya berubah.
Seorang pria pernah menolongnya ketika ia hampir kehilangan tas di sebuah halte.
Pria itu bernama...
Naya membuka mata.
"Raka?"
Jantungnya berdegup kencang.
Nama itu muncul begitu saja.
Raka.
Teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia temui.
Namun apakah Raka adalah pria dalam foto itu?
Naya tidak yakin.
Ia membuka kontak lama di ponselnya.
Tidak ada nama Raka.
Nomornya sudah lama terhapus.
Naya mencoba mengingat nomor tersebut.
Tidak berhasil.
Ia kemudian membuka media sosial dan mengetik nama itu.
Puluhan akun muncul.
Tidak ada yang terlihat familiar.
Naya menghela napas.
"Kenapa aku merasa seperti pernah mengenalnya?"
Tiba-tiba pintu rumah diketuk.
Naya terkejut.
Tok.
Tok.
Tok.
Ia langsung berdiri.
Siapa yang datang tengah malam?
"Naya."
Suara laki-laki terdengar dari luar.
Naya mengenal suara itu.
Arga.
Ia berjalan menuju pintu.
Namun sebelum membukanya, matanya kembali tertuju pada foto.
Naya buru-buru menyimpan foto itu.
Kemudian membuka pintu.
Arga berdiri sendirian.
Wajahnya terlihat lelah.
"Kamu belum tidur?"
Naya menggeleng.
"Ada apa?"
"Aku ingin bicara."
"Aku rasa kita sudah terlalu banyak bicara hari ini."
"Aku tahu."
Arga menatapnya.
"Tapi aku nggak bisa tidur kalau kita masih bertengkar."
Naya diam.
Arga masuk setelah Naya memberi jalan.
Ia duduk di kursi.
"Aku minta maaf."
Naya tidak menjawab.
"Aku salah karena menyembunyikan hubunganku dengan Rania."
Naya menatapnya.
"Hubungan?"
Arga menghela napas.
"Dia memang pernah kembali dekat denganku. Tapi aku tidak pernah berniat meninggalkanmu."
"Kenapa kamu tidak pernah cerita?"
"Aku takut."
Naya tertawa pahit.
"Kamu takut apa?"
"Takut kamu salah paham."
"Dan sekarang aku harus percaya?"
Arga menunduk.
"Naya..."
"Aku sedang hamil, Ga."
Naya memegang perutnya.
"Aku butuh seseorang yang jujur."
Arga berdiri dan mendekatinya.
"Aku akan jujur."
"Mulai sekarang?"
"Iya."
Naya menatap matanya.
"Kalau begitu aku juga mau bertanya."
"Tanya."
"Siapa pria bernama Raka?"
Arga membeku.
Naya langsung menyadari perubahan wajahnya.
"Kamu mengenalnya?"
Arga tidak menjawab.
"Arga?"
"Siapa yang memberitahumu nama itu?"
"Jadi kamu memang mengenalnya?"
Arga mengalihkan pandangan.
"Naya, lupakan nama itu."
"Kenapa?"
"Itu masa lalu."
"Masa lalu siapa?"
Arga tidak menjawab.
Naya semakin penasaran.
"Kenapa aku harus melupakannya?"
"Karena pria itu berbahaya."
Naya terdiam.
"Berbahaya bagaimana?"
Arga mengepalkan tangan.
"Dia bukan orang yang bisa kamu percaya."
"Kalau begitu kenapa aku ada di foto bersamanya?"
Arga langsung menatap Naya.
Wajahnya berubah.
"Kamu punya fotonya?"
Naya sadar ia baru saja keceplosan.
Arga mendekat.
"Foto apa?"
Naya diam.
"Naya."
"Enggak ada."
"Kamu bohong."
"Aku tidak bohong."
Arga meraih kedua bahunya.
"Siapa yang memberikan foto itu?"
Naya menatapnya.
"Kenapa kamu takut sekali?"
Arga terdiam.
Untuk pertama kalinya, Naya melihat ketakutan yang nyata di mata Arga.
"Arga..."
Naya mundur.
"Apa yang sebenarnya kamu tahu?"
"Aku cuma ingin melindungimu."
"Melindungiku dari siapa?"
Arga menatapnya lama.
"Raka."
---
Pagi berikutnya, Naya terbangun karena suara ponselnya.
Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal.
> “Temui aku pukul 10 pagi. Sendirian.”
Di bawahnya ada alamat sebuah kafe.
Naya tahu siapa pengirimnya.
Rania.
Ia sempat ingin mengabaikannya.
Namun rasa penasaran lebih besar daripada rasa takut.
Pukul sepuluh kurang lima menit, Naya tiba di kafe.
Rania sudah duduk di sudut ruangan.
Mengenakan kacamata hitam dan pakaian sederhana.
Tidak ada Arga.
Naya duduk di hadapannya.
"Katakan semuanya."
Rania tersenyum.
"Kamu mirip sekali dengannya."
Naya mengerutkan kening.
"Dengan siapa?"
Rania tidak menjawab.
Sebaliknya, ia mengeluarkan sebuah amplop.
"Ini untukmu."
Naya mengambilnya.
"Apa ini?"
"Buka."
Naya mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
Matanya bergerak membaca.
Kemudian berhenti.
Wajahnya seketika pucat.
"Apa ini?"
Rania hanya diam.
"Ini hasil tes DNA?"
"Iya."
Naya menatap dokumen tersebut.
Nama pertama:
Naya Prameswari.
Nama kedua:
Raka Aditya.
Hasilnya menunjukkan kecocokan hubungan biologis yang sangat tinggi.
Naya menggeleng.
"Ini palsu."
"Silakan periksa sendiri."
"Kenapa kamu melakukan ini?"
"Aku ingin kamu tahu kebenarannya."
"Kebenaran apa?"
Rania mencondongkan tubuh.
"Bahwa sebelum Arga mengenalmu..."
Ia berhenti.
"...kamu sudah pernah mengenal Raka jauh lebih dekat daripada yang kamu ingat."
Naya menatapnya dengan wajah pucat.
"Aku tidak pernah..."
Rania tersenyum tipis.
"Kalau begitu, kenapa ingatanmu tentang tiga tahun lalu hilang?"
Naya terdiam.
"Apa maksudmu?"
"Karena kamu mengalami kecelakaan."
Jantung Naya serasa berhenti.
"Setelah kecelakaan itu, sebagian ingatanmu hilang."
Naya menggeleng.
"Itu tidak mungkin."
"Dan Raka adalah orang terakhir yang bersamamu sebelum kecelakaan."
Naya menutup mulut.
Potongan-potongan ingatan mulai bermunculan.
Lampu kendaraan.
Hujan.
Suara seseorang memanggil namanya.
Kemudian benturan keras.
Lalu...
Gelap.
Naya memegang kepalanya.
"Stop..."
"Naya?"
"Stop!"
Orang-orang di kafe mulai memperhatikan mereka.
Rania menatap Naya dengan tenang.
"Ada satu hal lagi."
Naya menatapnya dengan mata penuh air.
"Apa?"
Rania mengeluarkan sebuah foto kecil.
Foto seorang bayi.
Naya mengambilnya.
Tangannya langsung membeku.
Di belakang foto tertulis tanggal.
Tanggal itu membuat Naya menghitung dalam pikirannya.
Waktu kehamilannya.
Kemudian ia melihat tulisan di bawahnya.
“Anak ini adalah alasan mengapa Raka kembali.”
Naya menatap Rania.
"Anak siapa?"
Rania tidak langsung menjawab.
Ia hanya berkata,
"Anakmu."
Naya menggeleng.
"Itu aku tahu."
Rania mendekat dan berbisik,
"Pertanyaannya bukan siapa ibunya."
Naya menahan napas.
"Tapi..."
Rania menatap matanya.
"...siapa ayahnya."
---
Pada saat yang sama, di rumah keluarga Mahendra...
Arga berdiri di depan ayahnya.
Pak Dimas duduk di belakang meja dengan wajah serius.
"Ayah harus memberitahuku sesuatu."
"Apa?"
"Siapa Raka Aditya?"
Pak Dimas langsung berhenti membaca dokumen.
Tangannya perlahan turun.
"Kamu mendapatkan nama itu dari mana?"
"Dari Naya."
Wajah Pak Dimas berubah.
"Arga, jangan pernah mencari pria itu."
"Kenapa?"
"Itu bukan urusanmu."
"Dia ada hubungannya dengan Naya."
Pak Dimas berdiri.
"Justru karena itu kamu harus berhenti."
Arga menatap ayahnya.
"Ayah tahu sesuatu."
Pak Dimas diam.
"Benar?"
Tidak ada jawaban.
Arga melangkah mendekat.
"Ayah..."
Pak Dimas akhirnya berkata pelan,
"Raka bukan orang yang harus kamu takuti."
Arga mengerutkan kening.
"Lalu siapa?"
Pak Dimas menatap putranya.
"Orang yang seharusnya kamu takuti adalah..."
Ia berhenti.
"...orang yang selama ini berada paling dekat denganmu."
Arga membeku.
Dan sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, pintu ruang kerja tiba-tiba terbuka.
Bu Ratih berdiri di sana.
Wajahnya pucat.
Ia menatap suaminya.
Kemudian menatap Arga.
"Kalian sudah membicarakan Raka?"
Pak Dimas mengangguk perlahan.
Bu Ratih memejamkan mata.
"Kalau begitu..."
Suaranya bergetar.
"...rahasia itu akhirnya mulai terbongkar."
