Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 5 ORANG YANG PALING DEKAT

“Kalau begitu…”

Bu Ratih berdiri di ambang pintu ruang kerja.

Wajahnya pucat.

“…rahasia itu akhirnya mulai terbongkar.”

Arga menatap ibunya dengan tatapan penuh pertanyaan.

“Rahasia apa?”

Tidak ada jawaban.

Pak Dimas justru berjalan menuju pintu dan menutupnya rapat.

“Ayah?”

“Duduk.”

“Aku sudah terlalu sering mendengar kata itu hari ini.”

Arga tetap berdiri.

“Aku mau jawaban.”

Pak Dimas menatap istrinya.

Bu Ratih terlihat gelisah.

“Dimas…”

“Kita tidak bisa menyembunyikannya terus.”

“Aku tahu.”

Arga mengerutkan kening.

“Apa yang kalian sembunyikan?”

Pak Dimas menarik napas panjang.

“Raka Aditya.”

Nama itu kembali terdengar.

Arga menatap ayahnya.

“Apa hubungannya Raka dengan keluarga kita?”

“Banyak.”

“Seberapa banyak?”

Pak Dimas tidak segera menjawab.

Arga mulai kehilangan kesabaran.

“Ayah! Aku sedang menghadapi masalah besar. Naya sedang hamil. Sekarang muncul seorang pria dari masa lalunya, dan kalian berdua sepertinya mengetahui sesuatu tentang dia. Aku berhak tahu.”

Bu Ratih menundukkan kepala.

“Arga…”

“Apa?”

“Jangan terlalu cepat mengambil keputusan tentang Naya.”

Arga terdiam.

“Maksud Ibu?”

“Perempuan itu mungkin tidak mengatakan semuanya kepadamu.”

Arga mengepalkan tangan.

“Jangan mulai lagi.”

“Ibu hanya ingin melindungimu.”

“Dengan menuduh Naya?”

“Dengan memberitahumu bahwa ada hal yang belum kamu ketahui!”

Arga menatap ibunya tajam.

“Kalau memang ada sesuatu, katakan sekarang.”

Bu Ratih membuka mulut.

Namun sebelum ia sempat berbicara, Pak Dimas menyela.

“Raka adalah putra dari seseorang yang pernah sangat dekat dengan keluarga kita.”

“Siapa?”

Pak Dimas terdiam.

“Siapa?”

“Namanya Bagas Aditya.”

Arga mengernyit.

“Aku tidak pernah mendengar nama itu.”

“Karena ayah tidak pernah menceritakannya.”

“Kenapa?”

Pak Dimas berjalan menuju jendela.

“Dua puluh lima tahun lalu, Bagas bekerja bersama ayah. Kami membangun bisnis dari bawah.”

“Lalu?”

“Terjadi sebuah masalah.”

“Masalah apa?”

Pak Dimas tidak menjawab.

Bu Ratih yang akhirnya berkata,

“Bagas dituduh melakukan penggelapan uang perusahaan.”

Arga terkejut.

“Dia mencuri?”

“Begitulah yang dikatakan saat itu.”

“Dan Raka?”

“Raka masih kecil.”

Arga menghela napas.

“Jadi kenapa kalian takut kepadanya?”

Pak Dimas berbalik.

“Karena Bagas tidak pernah mencuri.”

Arga terdiam.

“Apa?”

“Dia dijebak.”

Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin.

“Siapa yang menjebaknya?”

Pak Dimas menatap istrinya.

Bu Ratih langsung memalingkan wajah.

Arga memperhatikan keduanya.

“Siapa?”

Pak Dimas tidak menjawab.

Arga mulai memahami sesuatu.

“Jangan bilang…”

“Ayah tidak ingin membicarakannya.”

“Siapa yang menjebak Bagas?”

Pak Dimas memejamkan mata.

“Orang yang paling dekat dengan kami.”

Arga terdiam.

Kalimat itu sama seperti yang dikatakan ayahnya sebelumnya.

Orang yang seharusnya kamu takuti adalah orang yang selama ini berada paling dekat denganmu.

Arga perlahan menoleh kepada ibunya.

Bu Ratih langsung menatapnya.

“Apa?”

Arga tidak menjawab.

“Kenapa kamu melihat Ibu seperti itu?”

“Aku hanya berpikir.”

“Jangan menuduh Ibu.”

“Aku belum menuduh.”

“Tapi tatapanmu sudah.”

Arga mengambil napas.

“Kalau begitu siapa orangnya?”

Pak Dimas akhirnya berkata,

“Sudah cukup.”

“Tidak.”

Arga menggeleng.

“Aku mau tahu.”

“Belum waktunya.”

“Kapan?”

“Ketika semua bukti sudah ditemukan.”

Arga tertawa hambar.

“Jadi selama ini keluarga kita menyimpan rahasia sebesar ini?”

Pak Dimas tidak menjawab.

Arga mengambil ponselnya.

“Aku akan mencari Raka.”

“Jangan!”

Suara Bu Ratih terdengar panik.

Arga langsung menoleh.

“Kenapa?”

Bu Ratih terdiam.

Arga semakin curiga.

“Kenapa Ibu takut sekali?”

“Aku hanya tidak ingin kamu terlibat.”

“Sudah terlambat.”

Arga memasukkan ponselnya ke saku.

“Ini menyangkut Naya.”

Kemudian ia berjalan keluar.

Namun tepat sebelum pintu tertutup, ia mendengar suara ibunya.

“Arga…”

Ia berhenti.

“Kalau kamu masih mencintai Naya…”

Arga menoleh.

“Jangan percaya siapa pun.”

---

Sementara itu, Naya masih berada di kafe bersama Rania.

Dokumen hasil tes DNA berada di atas meja.

Naya terus menatapnya.

“Ini tidak masuk akal.”

Rania bersandar.

“Kenapa?”

“Aku tidak pernah melakukan tes DNA dengan Raka.”

“Kamu tidak perlu melakukannya sendiri.”

“Lalu?”

“Orang lain yang melakukannya.”

“Siapa?”

Rania tidak menjawab.

Naya mengambil dokumen itu.

“Kalau ini benar, kenapa aku tidak pernah tahu?”

“Karena kamu kehilangan ingatan.”

“Aku cuma kehilangan sebagian ingatan.”

“Justru bagian itu yang paling penting.”

Naya menatap Rania.

“Aku ingin bertemu Raka.”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Karena dia belum siap.”

“Dia tahu tentang aku?”

Rania mengangguk.

“Dia tahu.”

Naya merasakan dadanya semakin sesak.

“Sejak kapan?”

“Sudah lama.”

“Lalu kenapa dia tidak pernah mencariku?”

Rania menatap Naya.

“Karena seseorang memintanya untuk tidak mendekatimu.”

“Siapa?”

Rania tersenyum tipis.

“Kamu benar-benar ingin tahu?”

“Iya.”

“Orang yang sama yang selama ini berusaha menghancurkan hubunganmu dengan Arga.”

Naya membeku.

“Bu Ratih?”

Rania tidak menjawab.

“Siapa?”

Rania mengambil ponselnya.

Ia menunjukkan sebuah foto.

Dalam foto itu, Bu Ratih sedang berbicara dengan seorang pria.

Naya memperbesar foto.

Pria itu...

Raka.

Naya menatap Rania.

“Ini kapan?”

“Tiga minggu lalu.”

“Kenapa mereka bertemu?”

“Itu yang harus kamu cari tahu.”

Naya menggeleng.

“Kenapa kamu memberiku semua ini?”

Rania tersenyum.

“Karena aku punya kepentingan.”

“Apa?”

“Aku ingin Arga kembali.”

Naya menatapnya.

“Jadi semua ini hanya karena kamu ingin merebut Arga?”

“Tidak semuanya.”

Rania mengambil kembali ponselnya.

“Aku memang ingin Arga kembali. Tapi aku juga tidak ingin melihatmu dihancurkan oleh keluarga Mahendra.”

Naya tertawa getir.

“Sulit dipercaya.”

“Aku tidak meminta kamu percaya.”

Rania berdiri.

“Aku hanya memberimu pilihan.”

“Apa?”

“Pergi dari Arga sekarang, atau tetap bertahan dan menghadapi semua yang akan datang.”

Naya menatapnya.

“Aku tidak akan pergi.”

Rania terlihat sedikit terkejut.

“Kamu yakin?”

Naya mengangguk.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu. Aku tidak tahu siapa Raka. Aku juga tidak tahu apa yang disembunyikan keluarga Arga.”

Naya berdiri.

“Tapi aku tahu satu hal.”

“Apa?”

“Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil keputusan tentang hidupku.”

Rania tersenyum kecil.

“Bagus.”

Kemudian ia berjalan pergi.

Naya memperhatikannya sampai perempuan itu menghilang di balik pintu.

---

Sore harinya, Naya pulang.

Namun baru membuka pintu rumah, ia langsung merasakan sesuatu yang aneh.

Pintu kamarnya tidak terkunci.

Padahal ia yakin sudah menguncinya sebelum pergi.

Naya berhenti.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Ia perlahan masuk.

Tidak ada siapa-siapa.

Namun kamar itu berantakan.

Laci meja terbuka.

Buku-buku berserakan.

Lemari sedikit terbuka.

Naya langsung memeriksa tasnya.

Dompet masih ada.

Laptop masih ada.

Perhiasan kecil pemberian ibunya masih ada.

Tidak ada barang berharga yang hilang.

Lalu apa yang dicari orang itu?

Naya berjalan menuju meja.

Matanya langsung membesar.

Foto dari Rania hilang.

Dokumen hasil tes DNA juga tidak ada.

Naya panik.

“Tidak…”

Ia mencari ke seluruh kamar.

Tidak ditemukan.

Kemudian terdengar suara dari belakang.

“Naya.”

Naya menjerit kecil dan berbalik.

Maya berdiri di pintu.

“Ya Tuhan, Maya!”

“Maaf!”

Maya masuk.

“Aku mengetuk dari tadi.”

Naya menghela napas.

“Kamu bikin kaget.”

Maya memperhatikan kamar yang berantakan.

“Ini kenapa?”

“Ada yang masuk.”

“Apa?”

Naya menceritakan semuanya.

Maya langsung pucat.

“Kamu harus lapor polisi.”

“Belum.”

“Naya!”

“Aku takut.”

“Takut apa?”

Naya menatapnya.

“Kalau orang yang masuk ke sini mencari dokumen itu…”

Ia berhenti.

“…berarti mereka tahu tentang kehamilanku.”

Maya mengangguk.

“Memang.”

“Bukan cuma itu.”

Naya duduk.

“Mereka mungkin tahu tentang Raka.”

Maya terdiam.

“Kamu sudah bertemu dia?”

“Belum.”

“Lalu kenapa namanya terus muncul?”

Naya menggeleng.

“Aku juga tidak tahu.”

Maya duduk di sampingnya.

“Kalau begitu jangan cari sendirian.”

Naya menatap sahabatnya.

“Aku harus tahu siapa dia.”

---

Malam itu, Arga berada di dalam mobil.

Ia membuka laptop dan mulai mencari informasi tentang Raka Aditya.

Tidak banyak.

Nama tersebut seolah sengaja dihapus dari berbagai catatan publik.

Namun setelah hampir satu jam mencari, Arga menemukan sebuah alamat.

Sebuah rumah lama di pinggiran kota.

Arga langsung menghubungi sopir.

“Kita ke sini.”

Sopir melihat alamat.

“Tuan, sekarang?”

“Iya.”

---

Pukul sebelas malam.

Mobil Arga berhenti di depan rumah tua.

Lampu teras menyala.

Arga turun.

Ia berjalan menuju pintu.

Tok.

Tok.

Tok.

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi.

“Raka?”

Sunyi.

Arga mencoba membuka pintu.

Tidak terkunci.

Ia masuk.

Rumah itu kosong.

Namun ada sesuatu di atas meja.

Sebuah kotak kayu.

Arga membukanya.

Di dalamnya terdapat beberapa foto lama.

Salah satunya membuat Arga membeku.

Naya.

Tiga tahun lalu.

Berdiri di samping Raka.

Arga mengambil foto itu.

Di belakangnya terdapat tulisan:

“Untuk Naya, jika suatu hari ingatannya kembali.”

Arga merasakan jantungnya berdegup kencang.

Kemudian ia melihat foto berikutnya.

Foto Naya sedang tersenyum sambil memegang sesuatu.

Sebuah gelang kecil.

Gelang yang sangat Arga kenal.

Gelang itu pernah ia berikan kepada Naya pada ulang tahunnya dua tahun lalu.

Arga mengerutkan kening.

“Bagaimana mungkin…?”

Tiba-tiba suara pintu terdengar.

Brak!

Arga berbalik.

Seorang pria berdiri di ambang pintu.

Tinggi.

Mengenakan jaket hitam.

Wajahnya terlihat jelas di bawah cahaya lampu.

Arga langsung mengenalinya dari foto.

Raka.

Keduanya saling menatap.

Raka tidak terlihat terkejut.

Justru ia tersenyum tipis.

“Akhirnya kamu datang juga.”

Arga mengepalkan tangan.

“Kamu Raka?”

“Iya.”

“Apa hubunganmu dengan Naya?”

Raka menatap foto di tangan Arga.

Kemudian berkata pelan,

“Seharusnya kamu menanyakan itu kepada keluargamu.”

“Apa maksudmu?”

Raka berjalan mendekat.

“Karena sebelum Naya mengenalmu…”

Ia berhenti tepat di hadapan Arga.

“…keluargamu sudah lebih dulu mengenalnya.”

Arga terdiam.

“Bohong.”

Raka tersenyum.

“Kalau begitu, tanyakan kepada ibumu.”

Arga menatapnya tajam.

“Apa yang terjadi tiga tahun lalu?”

Raka tidak menjawab.

Sebaliknya, ia mengeluarkan sebuah amplop dari sakunya.

“Berikan ini kepada Naya.”

“Apa isinya?”

“Jawaban.”

Arga mengambil amplop tersebut.

Namun sebelum ia sempat membukanya, Raka berkata,

“Dan satu hal lagi.”

“Apa?”

Raka menatap Arga dengan serius.

“Jangan menikahi Naya sebelum kamu mengetahui kebenaran tentang anak yang dikandungnya.”

Arga membeku.

“Apa maksudmu?”

Raka berjalan menuju pintu belakang.

“Karena kalau kamu menikahinya tanpa mengetahui kebenaran…”

Ia menoleh untuk terakhir kalinya.

“…kamu akan menghancurkan tiga kehidupan sekaligus.”

“Raka!”

Arga mengejarnya.

Namun Raka sudah menghilang di kegelapan.

Arga kembali menatap amplop di tangannya.

Dengan tangan gemetar, ia membukanya.

Hanya ada satu lembar foto.

Foto Naya.

Foto Arga.

Dan seorang pria lain.

Di belakang foto itu tertulis:

“Kebenaran tentang ayah dari anak Naya ada di dalam keluarga Mahendra.”

Arga terdiam.

Kemudian matanya perlahan melebar.

Karena pria lain dalam foto itu...

adalah ayahnya sendiri.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel