BAB 3 PEREMPUAN DI SAMPING ARGA
Naya tidak bergerak.
Dari balik jendela, ia menatap mobil hitam yang berhenti tepat di depan rumah kontrakannya.
Pintu belakang terbuka.
Arga turun.
Namun bukan itu yang membuat Naya merasa seperti kehilangan napas.
Seorang perempuan turun setelahnya.
Perempuan yang sama.
Perempuan yang meneleponnya beberapa menit lalu.
Rania.
Naya menggenggam ujung tirai dengan tangan gemetar.
Tidak mungkin.
Bagaimana bisa Arga datang bersama perempuan yang baru saja mengancamnya?
Dan lebih buruk lagi...
Bagaimana perempuan itu bisa tahu alamat rumahnya?
"Naya!"
Suara Arga terdengar dari luar.
"Naya, buka pintunya!"
Naya memejamkan mata.
Ia ingin berlari.
Tetapi kedua kakinya terasa berat.
Ketukan kembali terdengar.
"Naya!"
Kali ini suara Arga lebih keras.
"Aku tahu kamu di dalam."
Naya menarik napas dalam-dalam.
Kemudian membuka pintu.
Arga langsung menatapnya.
"Kamu kenapa?"
Naya tidak menjawab.
Matanya berpindah kepada Rania.
Perempuan itu tersenyum tipis.
"Jadi ini Naya?"
Naya menatapnya dingin.
"Kamu..."
Rania melangkah mendekat.
"Hai."
Naya mundur sedikit.
"Kamu datang ke rumahku semalam."
Arga mengerutkan kening.
"Semalam?"
Rania langsung menjawab.
"Aku memang datang."
Naya menatap Arga.
"Kenapa dia ada di sini?"
Arga terlihat ragu.
"Aku ingin bicara denganmu."
"Dengan membawa dia?"
"Rania kebetulan—"
"Aku tidak kebetulan datang."
Rania memotong perkataan Arga.
Naya menatap perempuan itu.
Rania tersenyum.
"Aku sengaja datang."
"Naya," Arga berkata pelan, "boleh kita masuk?"
Naya tidak menjawab.
Namun akhirnya ia bergeser dan membiarkan keduanya masuk.
Begitu pintu tertutup, suasana kamar kecil itu langsung terasa sesak.
Arga duduk di kursi.
Rania berdiri di sampingnya.
Sementara Naya tetap berdiri.
"Ada apa?" tanya Naya.
Arga menatapnya.
"Kamu sudah lihat berita?"
"Sudah."
"Aku sedang mengurusnya."
Naya tertawa kecil.
"Mengurus apa?"
"Berita itu."
"Orang-orang sudah tahu aku hamil."
Arga mengusap wajah.
"Aku akan meminta mereka menghapusnya."
"Percuma."
"Aku akan menjelaskan semuanya."
"Menjelaskan apa?"
Naya menatap Arga.
"Bahwa aku perempuan yang membuat pewaris keluarga Mahendra hamil?"
Arga langsung berdiri.
"Jangan bicara seperti itu."
"Lalu aku harus bicara seperti apa?"
Suara Naya bergetar.
"Sejak kemarin kamu bilang akan bertanggung jawab. Tapi sampai sekarang kamu bahkan belum berani mengatakan kepada keluargamu bahwa kamu akan menikah denganku."
Arga terdiam.
Rania memperhatikan mereka tanpa mengatakan apa-apa.
Naya kemudian menatap Rania.
"Dan sekarang kamu datang bersama dia."
Rania menyilangkan tangan.
"Aku rasa kamu berhak tahu semuanya."
Arga langsung menoleh.
"Rania."
"Apa?"
"Aku yang akan menjelaskan."
Rania tersenyum.
"Kalau begitu jelaskan."
Naya menunggu.
Arga terlihat gelisah.
"Naya, aku dan Rania memang pernah punya hubungan."
"Aku tahu."
"Hubungan itu sudah berakhir."
Rania tertawa kecil.
"Benarkah?"
Arga menatapnya tajam.
"Rania."
"Apa? Bukankah dia berhak tahu?"
Naya merasakan dadanya semakin sesak.
"Kenapa hubungan kalian berakhir?"
Arga diam.
Rania menjawab.
"Karena keluarga Arga tidak menyukaiku."
Naya menatapnya.
"Jadi?"
"Jadi kami berpisah."
Rania melangkah mendekat.
"Tapi beberapa bulan lalu, Arga menghubungiku lagi."
Arga langsung membantah.
"Aku menghubungimu karena urusan bisnis."
"Awalnya."
Rania menatap Arga.
"Tapi setelah itu kita kembali dekat."
Naya merasa seperti ada sesuatu yang menusuk dadanya.
"Arga?"
"Aku tidak pernah kembali menjalin hubungan dengannya."
Rania tersenyum.
"Kalau begitu kenapa kamu datang menemuiku diam-diam?"
"Karena—"
Arga berhenti.
Naya menatapnya.
"Karena apa?"
Arga tidak menjawab.
Hening.
Sangat lama.
Akhirnya Naya berkata pelan.
"Jadi benar?"
Arga menatapnya.
"Apa?"
"Kamu masih berhubungan dengannya?"
Arga menghela napas.
"Naya, semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan."
"Jawab saja."
Arga terdiam.
Naya menatap matanya.
"Masih?"
Beberapa detik kemudian, Arga menjawab.
"Iya."
Satu kata.
Namun cukup untuk menghancurkan sesuatu di dalam diri Naya.
Air matanya mulai menggenang.
Rania menatapnya tanpa ekspresi.
Naya berusaha keras tidak menangis di depan mereka.
"Sejak kapan?"
"Beberapa bulan."
Naya tertawa getir.
"Beberapa bulan?"
Ia menggeleng.
"Berarti saat kamu masih bersamaku?"
Arga tidak menjawab.
Jawaban itu sudah cukup.
Naya memejamkan mata.
Selama ini ia percaya bahwa Arga hanya miliknya.
Ternyata ketika ia tertawa bersamanya, ketika mereka makan malam bersama, ketika Arga mengatakan bahwa dirinya adalah satu-satunya perempuan yang dicintai...
Ada perempuan lain yang diam-diam masih berada di kehidupan Arga.
"Naya..."
"Jangan."
Naya mengangkat tangan.
"Aku tidak mau dengar."
Arga mendekat.
"Rania dan aku memang pernah dekat lagi, tapi tidak seperti yang kamu bayangkan."
Naya menatapnya dengan air mata yang akhirnya jatuh.
"Kalau begitu kenapa dia ada di rumahku?"
Arga terdiam.
"Kenapa dia tahu aku hamil?"
Tidak ada jawaban.
"Kenapa dia tahu alamat rumahku?"
Tetap diam.
Naya mengusap pipinya.
"Dan kenapa semalam dia datang ke sini?"
Arga menoleh kepada Rania.
"Rania?"
Rania justru tersenyum.
"Aku hanya ingin bicara dengannya."
"Tanpa memberitahuku?"
"Aku tidak perlu izin darimu."
Arga terlihat marah.
"Kamu sudah keterlaluan."
Rania mendekat.
"Yang keterlaluan itu kamu."
"Apa maksudmu?"
Rania menatap Arga tajam.
"Kamu mengatakan kepada Naya bahwa kamu akan bertanggung jawab."
Arga terdiam.
"Tapi kamu tidak pernah benar-benar ingin menikah dengannya."
Naya membeku.
Arga langsung menoleh.
"Jangan bicara sembarangan."
"Kenapa?"
Rania tersenyum pahit.
"Karena kamu takut dia tahu?"
Naya menatap Arga.
"Arga..."
Rania melanjutkan.
"Kalau kamu benar-benar ingin menikahinya, kenapa sampai sekarang kamu belum bicara kepada ibumu?"
Arga mengepalkan tangan.
"Sudah cukup."
"Naya perlu tahu."
"Diam!"
Untuk pertama kalinya Arga membentak Rania.
Ruangan menjadi sunyi.
Naya menatap keduanya.
Kemudian ia berkata dengan suara pelan.
"Keluar."
Arga menatapnya.
"Naya..."
"Aku bilang keluar."
"Aku ingin menjelaskan."
"Aku tidak peduli."
"Naya."
"Keluar!"
Suara Naya pecah.
Arga terdiam.
Rania mengambil tasnya.
"Ayo."
Arga masih berdiri.
Ia menatap Naya beberapa detik.
Kemudian berjalan menuju pintu.
Sebelum keluar, ia berhenti.
"Aku akan kembali."
Naya tidak menjawab.
Pintu tertutup.
Naya berdiri sendirian.
Begitu suara mobil mereka menghilang, tubuhnya langsung kehilangan tenaga.
Ia terduduk di lantai.
Tangisnya pecah.
Tangannya refleks memeluk perutnya.
"Aku harus bagaimana?"
---
Di dalam mobil, suasana terasa sangat tegang.
Arga duduk di kursi belakang.
Rania berada di sebelahnya.
Selama beberapa menit tidak ada yang bicara.
Akhirnya Arga berkata,
"Kenapa kamu melakukan itu?"
Rania menoleh.
"Melakukan apa?"
"Datang ke rumah Naya."
"Aku sudah bilang. Aku ingin bicara."
"Kamu membuat semuanya lebih buruk."
Rania tersenyum.
"Memang itu tujuanku."
Arga menatapnya.
"Apa?"
"Aku ingin kalian berpisah."
"Kamu gila?"
Rania menatap lurus ke depan.
"Aku masih mencintaimu."
"Sudah terlambat."
"Tidak."
Rania tersenyum.
"Belum."
Arga menggeleng.
"Aku mencintai Naya."
Rania terdiam.
Kemudian ia berkata pelan,
"Kalau begitu, kenapa kamu menyimpan sesuatu darinya?"
Arga membeku.
"Apa maksudmu?"
Rania menoleh.
"Foto-foto itu."
Wajah Arga berubah.
"Darimana kamu tahu?"
Rania tertawa kecil.
"Karena bukan cuma ibumu yang memilikinya."
Arga langsung menggenggam lengannya.
"Rania, apa yang sebenarnya kamu lakukan?"
Rania melepaskan tangannya.
"Tenang."
"Kamu mendapatkan foto-foto itu dari siapa?"
Rania tidak menjawab.
"Rania!"
Perempuan itu akhirnya menatapnya.
"Kalau kamu ingin tahu siapa pria dalam foto itu..."
Ia berhenti sejenak.
"Besok aku akan memberitahumu."
---
Malam semakin larut.
Naya duduk di tepi kasur.
Maya baru saja pulang setelah menemani Naya selama beberapa jam.
Sebelum pergi, Maya berkali-kali mengingatkan Naya agar tidak sendirian.
Namun setelah pintu tertutup, Naya kembali menatap ponselnya.
Tidak ada pesan dari Arga.
Tidak ada telepon.
Naya membuka galeri.
Ada banyak foto mereka.
Foto pertama saat mereka bertemu.
Foto ketika Arga membelikannya bunga.
Foto ulang tahun Naya.
Foto saat mereka makan malam.
Foto ketika Arga memeluknya dari belakang.
Semuanya terasa seperti kebohongan.
Air mata Naya jatuh lagi.
Ia menghapus satu foto.
Kemudian berhenti.
Tangannya tidak sanggup menghapus semuanya.
Ponselnya bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Naya mengangkat.
"Halo?"
Suara Rania terdengar.
"Aku tahu kamu masih mencintai Arga."
Naya tidak menjawab.
"Tapi kamu harus tahu satu hal."
"Apa?"
"Pria dalam foto itu..."
Naya menahan napas.
"...bukan sekadar teman Naya."
Naya langsung mengerutkan kening.
"Apa maksudmu?"
Rania menjawab dengan suara pelan.
"Dia adalah pria yang ditemui Naya sebelum mengenal Arga."
"Itu bohong."
"Besok kamu akan melihat buktinya."
Telepon terputus.
Naya menatap layar.
Kemudian tiba-tiba sebuah foto masuk melalui pesan.
Naya membukanya.
Matanya langsung membesar.
Foto itu memperlihatkan dirinya sendiri.
Namun foto tersebut diambil sebelum ia mengenal Arga.
Dan di sampingnya berdiri pria yang sama seperti dalam foto milik keluarga Mahendra.
Di bagian belakang foto terdapat tulisan tangan:
“Jangan biarkan Arga mengetahui siapa ayah sebenarnya.”
Naya merasa seluruh tubuhnya membeku.
Tangannya perlahan turun.
"Siapa..."
Suaranya nyaris tak terdengar.
"Siapa ayah sebenarnya?"
Untuk pertama kalinya, Naya mulai takut pada satu kemungkinan yang selama ini tidak pernah terlintas dalam pikirannya.
Bagaimana jika kehamilannya memang bukan satu-satunya rahasia dalam hidupnya?
