BAB 2 PESAN DARI MASA LALU
Naya masih berdiri di trotoar.
Matanya terpaku pada layar ponsel yang menampilkan dua pesan dari nomor tidak dikenal itu.
Tangannya terasa dingin.
“Kalau kamu benar-benar hamil, jangan berharap Arga akan menikahimu.”
Dan pesan kedua.
“Karena aku akan memastikan pernikahan itu tidak pernah terjadi.”
Naya membaca kedua kalimat itu berulang kali.
Siapa pengirimnya?
Bagaimana orang itu tahu tentang kehamilannya?
Dan yang paling membuatnya takut…
Apa hubungannya dengan Arga?
“Naya!”
Suara Arga membuatnya tersentak.
Ia buru-buru memasukkan ponsel ke dalam tas.
Arga sudah berdiri beberapa meter di belakangnya.
“Kamu kenapa?” tanyanya.
“Enggak apa-apa.”
“Kamu kelihatan seperti melihat sesuatu yang menakutkan.”
Naya menggeleng.
“Aku cuma kaget.”
Arga mendekat.
“Pulang bareng aku.”
“Nggak usah.”
“Naya.”
“Aku bisa pulang sendiri.”
Arga menghela napas.
“Jangan keras kepala.”
Naya menatapnya.
Untuk sesaat, ia ingin menunjukkan pesan itu.
Ia ingin bertanya apakah Arga mengenal nomor tersebut.
Namun entah mengapa, ada sesuatu yang membuatnya menahan diri.
Mungkin karena ekspresi Arga sejak mendengar kabar kehamilannya masih membuat Naya ragu.
“Ga…”
“Hm?”
“Kalau nanti keluargamu menolak…”
Naya berhenti.
Arga menunggu.
“Kalau mereka menolak aku, kamu akan tetap memilih aku?”
Arga menatap Naya cukup lama.
“Aku belum tahu apa yang akan terjadi.”
Jawaban itu kembali membuat hati Naya sakit.
“Aku tanya kamu.”
Arga menghela napas.
“Aku akan berusaha.”
“Berusaha?”
“Iya.”
Naya tersenyum tipis.
“Baik.”
Ia berbalik dan mulai berjalan.
Arga memperhatikannya dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan.
Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar takut kehilangan Naya.
Namun ketakutan itu belum cukup kuat untuk membuatnya berani melawan keluarganya.
---
Malam itu, Arga pulang lebih cepat dari biasanya.
Rumah keluarganya terlihat megah seperti biasa.
Lampu-lampu taman menyala.
Mobil-mobil mahal berjajar di garasi.
Seorang pelayan menyambutnya saat ia masuk.
“Tuan Arga, Nyonya sedang menunggu di ruang keluarga.”
Arga berhenti.
“Ibu?”
“Iya, Tuan.”
Jantung Arga berdetak lebih cepat.
Ia tidak tahu mengapa ibunya memanggilnya malam-malam seperti ini.
Arga berjalan menuju ruang keluarga.
Pintu terbuka.
Bu Ratih duduk di sofa dengan secangkir teh di tangannya.
Wanita itu bahkan tidak menoleh ketika Arga masuk.
“Duduk.”
Arga menurut.
“Ada apa, Bu?”
Bu Ratih mengangkat wajah.
“Kamu belakangan ini sering pulang terlambat.”
“Banyak urusan.”
“Urusan dengan perempuan itu?”
Arga diam.
Bu Ratih meletakkan cangkirnya.
“Naya.”
Arga mengangkat wajah.
“Ibu jangan mulai.”
“Aku belum mulai apa-apa.”
“Kalau Ibu mau membicarakan Naya, aku sedang tidak ingin bertengkar.”
“Bagus.”
Bu Ratih tersenyum tipis.
“Karena malam ini justru aku ingin memberitahumu sesuatu.”
“Apa?”
“Ibu sudah menemukan calon istri untukmu.”
Arga langsung berdiri.
“Apa?”
“Duduk.”
“Aku tidak membutuhkan calon istri.”
“Kamu membutuhkannya.”
“Aku sudah punya Naya.”
Bu Ratih tertawa kecil.
“Naya?”
Nada suaranya membuat Arga tidak nyaman.
“Ibu tahu hubungan kalian.”
“Kalau tahu, kenapa masih bicara seperti ini?”
“Karena Ibu juga tahu perempuan seperti apa dia.”
Rahang Arga mengeras.
“Jangan menghina dia.”
“Ibu hanya mengatakan kenyataan.”
“Tidak.”
Arga menggeleng.
“Ibu tidak mengenalnya.”
“Justru kamu yang tidak mengenalinya.”
“Apa maksud Ibu?”
Bu Ratih terdiam beberapa detik.
Kemudian ia mengambil sebuah amplop cokelat dari meja.
“Lihat ini.”
Arga tidak langsung mengambilnya.
“Apa?”
“Buka.”
Arga mengambil amplop itu.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar foto.
Ia menarik satu foto.
Wajahnya langsung berubah.
Foto itu memperlihatkan Naya sedang berdiri bersama seorang pria.
Bukan Arga.
Pria itu terlihat lebih tua.
Mereka berdiri di depan sebuah restoran.
Arga mengambil foto lainnya.
Naya sedang masuk ke sebuah mobil.
Kemudian foto ketiga.
Naya sedang berbicara dengan pria yang sama.
“Ini…”
Arga menatap ibunya.
“Dari mana Ibu dapat foto ini?”
“Bukan itu yang harus kamu tanyakan.”
“Lalu?”
Bu Ratih menatapnya tajam.
“Tanyakan kepada Naya siapa pria itu.”
Arga menggenggam foto tersebut.
“Ibu sedang mencoba membuatku curiga kepadanya?”
“Tidak.”
Bu Ratih bersandar.
“Ibu sedang menyelamatkanmu.”
Arga menggeleng.
“Aku percaya Naya.”
“Bahkan kalau dia mengandung anakmu?”
Arga terdiam.
Bu Ratih memperhatikan perubahan wajah putranya.
“Dia sudah mengatakan itu kepadamu?”
“Iya.”
“Dan kamu percaya begitu saja?”
“Dia sudah diperiksa dokter.”
“Bukan itu maksud Ibu.”
Arga mengerutkan kening.
“Apa?”
Bu Ratih menatap foto di tangannya.
“Bagaimana kalau anak itu bukan anakmu?”
Ruangan mendadak sunyi.
Arga menatap ibunya seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil.
“Jangan bicara sembarangan.”
“Ibu hanya bertanya.”
“Naya bukan perempuan seperti itu.”
“Kamu yakin?”
“Sangat yakin.”
Bu Ratih tersenyum dingin.
“Kalau begitu, cari tahu.”
Arga berdiri.
“Aku tidak akan melakukan tes apa pun hanya karena Ibu menyebarkan tuduhan.”
Ia meletakkan foto-foto tersebut di meja.
“Dan satu lagi…”
Arga menatap ibunya.
“Jangan pernah menemui Naya tanpa sepengetahuanku.”
Ia berbalik.
“Arga.”
Langkahnya berhenti.
“Kalau kamu tetap memilih perempuan itu, jangan menyesal ketika semuanya terlambat.”
Arga tidak menjawab.
Ia berjalan meninggalkan ruangan.
Namun di balik wajah tenangnya, pikirannya mulai kacau.
Siapa pria dalam foto itu?
---
Di tempat lain, Naya duduk di tepi kasur.
Ia masih memikirkan pesan misterius tadi siang.
Ponselnya berada di tangan.
Ia membuka percakapan dengan nomor tersebut.
Tidak ada foto profil.
Tidak ada nama.
Naya mengetik:
> “Siapa kamu?”
Ia mengirimnya.
Tidak ada jawaban.
Satu menit.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Tetap tidak ada.
Naya meletakkan ponselnya.
Ia mengusap perutnya pelan.
“Maaf…”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Ibu belum tahu bagaimana semuanya akan berjalan.”
Ia tersenyum kecil meski air mata jatuh.
“Tapi Ibu akan jaga kamu.”
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu.
Tok.
Tok.
Tok.
Naya terkejut.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Naya bangkit.
Ketukan terdengar lagi.
Tok.
Tok.
Tok.
Jantung Naya berdegup kencang.
Ia berjalan perlahan menuju pintu.
“Siapa?”
Kali ini terdengar suara perempuan.
“Naya.”
Naya membeku.
Suara itu asing.
Namun entah mengapa terdengar sangat yakin.
“Siapa?”
“Buka pintunya.”
Naya mundur satu langkah.
“Kalau tidak mau membuka, aku akan pergi.”
Naya tetap diam.
Beberapa detik kemudian, langkah kaki terdengar menjauh.
Naya menunggu.
Kemudian ia mendekati jendela kecil di samping pintu dan mengintip.
Seorang perempuan berdiri di ujung gang.
Rambut panjang.
Mengenakan pakaian hitam.
Sebelum pergi, perempuan itu menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Naya langsung menutup tirai.
Jantungnya berdebar keras.
Siapa perempuan itu?
Dan kenapa ia datang ke rumah Naya?
---
Keesokan paginya, Naya menerima telepon dari Maya.
“Nay!”
Suara sahabatnya terdengar panik.
“Kenapa?”
“Kamu sudah lihat media sosial?”
“Belum.”
“Coba buka sekarang.”
Naya mengerutkan kening.
“Ada apa?”
“Buka dulu.”
Naya mengambil laptop.
Ia membuka salah satu media sosial.
Matanya langsung membesar.
Sebuah akun gosip mengunggah foto dirinya bersama Arga.
Judulnya besar.
“PEWARIS KELUARGA MAHENDRA DIDUGA MENGHAMILI KEKASIHNYA!”
Naya membeku.
Tangannya gemetar.
Di bawah foto itu, ribuan komentar sudah bermunculan.
“Serius?”
“Pantas saja dekat sekali.”
“Perempuan zaman sekarang…”
“Kalau benar, keluarga Mahendra pasti malu.”
Naya menutup laptop.
Napasnya memburu.
“Maya…”
“Aku di jalan menuju rumahmu.”
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Aku nggak mau kamu ikut terseret.”
“Naya, kamu pikir aku akan membiarkan kamu sendirian?”
Naya tidak menjawab.
Telepon berakhir.
Beberapa menit kemudian, ponselnya kembali berbunyi.
Kali ini dari nomor tidak dikenal.
Naya ragu sebelum mengangkat.
“Halo?”
Tidak ada suara.
“Halo?”
Kemudian terdengar suara perempuan.
Suara yang sama seperti semalam.
“Kamu sudah melihat beritanya?”
Naya membeku.
“Siapa kamu?”
Perempuan itu tertawa kecil.
“Kamu akan segera tahu.”
“Apa maumu?”
“Aku cuma ingin kamu menjauh dari Arga.”
Naya mengepalkan tangan.
“Kenapa?”
“Karena Arga tidak pernah benar-benar mencintaimu.”
“Itu bukan urusanmu.”
“Justru itu urusanku.”
“Siapa kamu?”
Perempuan itu diam sejenak.
Kemudian berkata pelan.
“Namaku Rania.”
Naya tidak mengenal nama itu.
Namun sebelum telepon terputus, perempuan tersebut mengucapkan satu kalimat yang membuat tubuh Naya terasa lemas.
“Aku mantan kekasih Arga. Dan sampai hari ini, Arga masih mencintaiku.”
Telepon terputus.
Naya berdiri membisu.
Di saat yang sama, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah kontrakannya.
Pintu belakang terbuka.
Arga keluar.
Namun ia tidak sendirian.
Di sampingnya berdiri seorang perempuan cantik dengan rambut panjang.
Perempuan yang semalam datang ke depan rumah Naya.
Rania.
