Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 1 DUA GARIS MERAH

Hujan turun sejak sore.

Bukan hujan deras yang membuat jalanan Jakarta berubah menjadi sungai, melainkan gerimis panjang yang seolah sengaja menahan siapa pun untuk pulang.

Naya berdiri sendirian di depan sebuah minimarket yang hampir tutup. Tangannya menggenggam kantong plastik kecil berisi sesuatu yang sejak tadi membuat dadanya sesak.

Sebuah alat tes kehamilan.

Jari-jarinya dingin.

Bibirnya pucat.

Sudah hampir sepuluh menit Naya hanya berdiri di sana tanpa bergerak, sementara matanya terus tertuju pada benda kecil yang baru saja ia beli.

“Enggak mungkin…”

Suara Naya hampir tak terdengar.

Ia menelan ludah.

“Enggak mungkin aku hamil.”

Kalimat itu ia ulangi berkali-kali, seolah dengan mengucapkannya berulang kali kenyataan akan berubah.

Padahal ia sudah terlambat datang bulan hampir dua minggu.

Awalnya Naya mengira itu hanya karena kelelahan. Beberapa minggu terakhir ia memang bekerja lebih banyak dari biasanya. Kuliahnya juga sedang padat.

Tetapi beberapa hari terakhir tubuhnya terasa berbeda.

Mual pada pagi hari.

Cepat lelah.

Tidak tahan mencium aroma makanan tertentu.

Dan hari ini, setelah seharian menahan rasa mual, ia akhirnya membeli alat tes kehamilan.

Naya menghela napas panjang.

Kemudian ia berjalan menuju rumah kontrakannya.

---

Kamar Naya hanya berukuran kecil.

Sebuah kasur tipis berada di sudut ruangan. Di sebelahnya terdapat meja belajar yang dipenuhi buku kuliah, laptop tua, dan beberapa lembar tugas.

Tidak ada kemewahan.

Tidak ada tempat untuk bersembunyi.

Begitu pintu ditutup, Naya langsung menyandarkan punggungnya ke sana.

Ia menatap kantong plastik di tangannya.

Dadanya semakin berdebar.

“Kalau hasilnya negatif…”

Naya menarik napas.

“Besok aku bakal ketawa karena sudah panik seperti orang bodoh.”

Ia mencoba tersenyum.

Namun senyum itu tidak bertahan lama.

Lima belas menit kemudian, Naya keluar dari kamar mandi dengan wajah yang jauh lebih pucat.

Alat tes itu masih berada di tangannya.

Dua garis.

Jelas.

Tidak samar.

Dua garis merah.

Naya membeku.

Matanya tidak berkedip.

Untuk beberapa detik, dunia seolah berhenti bergerak.

Suara hujan di luar terdengar semakin jauh.

Tangannya perlahan gemetar.

“Dua…”

Naya mendekatkan alat itu ke wajahnya.

“Dua garis…”

Air matanya jatuh sebelum ia sempat menyadarinya.

Ia mundur beberapa langkah hingga tubuhnya menyentuh tepi kasur.

Kemudian lututnya kehilangan tenaga.

Naya terduduk.

Alat tes itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai.

“Ya Tuhan…”

Kedua tangannya menutup mulut.

Tangisnya pecah.

Bukan karena ia membenci bayi yang mungkin sedang tumbuh di dalam tubuhnya.

Justru itulah yang membuatnya semakin takut.

Karena sekarang ada kehidupan lain yang bergantung kepadanya.

Naya menundukkan kepalanya.

“Maaf…”

Air matanya semakin deras.

“Maaf…”

Ia bahkan tidak tahu kepada siapa ia meminta maaf.

Kepada dirinya sendiri?

Kepada keluarganya?

Atau kepada seseorang yang belum pernah ia lihat wajahnya?

Ponselnya yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar.

Satu pesan masuk.

Arga ❤️

Naya menatap nama itu.

Jantungnya semakin sakit.

Ia mengambil ponselnya.

> Arga:

Kamu sudah sampai rumah?

Naya tidak langsung menjawab.

Beberapa detik kemudian, pesan berikutnya masuk.

> Arga:

Kok nggak jawab?

Aku telepon ya.

Ponsel Naya langsung berdering.

Nama Arga muncul di layar.

Naya menatapnya dengan mata basah.

Selama ini, hanya melihat nama itu saja sudah cukup membuatnya tersenyum.

Arga adalah pria yang membuatnya percaya bahwa perbedaan bukan alasan untuk berpisah.

Arga adalah pria yang selama hampir dua tahun terakhir menjadi tempatnya bercerita.

Tempatnya menangis.

Tempatnya merasa dicintai.

Namun malam ini…

Naya tidak tahu apakah pria itu masih akan menjadi tempatnya pulang setelah mengetahui semuanya.

Telepon berhenti.

Kemudian berdering lagi.

Naya akhirnya mengangkat.

“Halo…”

Suaranya bergetar.

“Sayang?”

Suara Arga terdengar dari seberang.

Naya langsung menutup mulutnya.

Ia tidak ingin Arga mendengar tangisnya.

“Kamu kenapa?”

“Enggak apa-apa.”

“Suaramu aneh.”

Naya mengusap air mata.

“Aku cuma capek.”

“Besok aku jemput, ya.”

Naya terdiam.

“Buat apa?”

“Makan malam. Aku mau ajak kamu ke tempat yang kamu suka.”

Biasanya Naya akan langsung mengiyakan.

Tetapi malam ini berbeda.

“Ga…”

“Hm?”

“Aku mau ngomong sesuatu.”

Nada suara Arga berubah.

“Serius?”

“Iya.”

“Masalah apa?”

Naya menggigit bibir bawahnya.

Ia ingin mengatakannya.

Sangat ingin.

Tetapi kata-kata itu seperti tersangkut di tenggorokan.

“Aku…”

“Sayang?”

Naya menarik napas panjang.

“Aku kayaknya…”

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, suara Arga terdengar lagi.

“Besok aja ngomongnya, ya. Aku lagi ada urusan.”

Naya terdiam.

“Oh.”

“Jangan murung. Aku sayang kamu.”

Tiga kata itu membuat dada Naya semakin sesak.

“Aku juga sayang kamu.”

“Tidur yang cukup.”

“Iya.”

Telepon berakhir.

Naya menatap layar ponselnya.

Kemudian pandangannya jatuh lagi pada alat tes kehamilan di lantai.

Tangannya perlahan bergerak ke perutnya.

Masih datar.

Belum ada perubahan apa pun.

Namun sekarang ia tahu bahwa sesuatu telah berubah.

Hidupnya.

Masa depannya.

Semuanya.

---

Keesokan paginya, Naya datang ke sebuah klinik kecil tidak jauh dari kampus.

Ia duduk sendirian di ruang tunggu.

Tangannya terus menggenggam ujung bajunya.

Seorang perawat memanggil namanya.

“Naya Prameswari?”

Naya berdiri.

“Iya.”

“Silakan masuk.”

Jantung Naya berdegup semakin cepat.

Beberapa pemeriksaan dilakukan.

Setelah itu, dokter menatap Naya dengan senyum tipis.

“Selamat.”

Naya menatap dokter tersebut.

“Selamat?”

Dokter mengangguk.

“Dari hasil pemeriksaan awal, kemungkinan besar Anda hamil.”

Dunia Naya kembali terasa sunyi.

Kali ini ia tidak menangis.

Ia hanya menundukkan kepala.

“Usianya masih sangat awal.”

Naya mengangguk perlahan.

“Dok…”

“Iya?”

Naya ragu.

“Kalau… kalau saya belum menikah?”

Dokter tidak menunjukkan ekspresi menghakimi.

“Itu tidak mengubah kenyataan bahwa Anda sedang mengandung. Yang paling penting sekarang adalah menjaga kesehatan Anda dan melakukan pemeriksaan lanjutan.”

Naya mengusap matanya.

“Baik, Dok.”

Ketika keluar dari klinik, Naya berdiri cukup lama di trotoar.

Orang-orang berlalu-lalang di sekitarnya.

Ada pasangan yang berjalan sambil tertawa.

Ada ibu yang menggandeng anaknya.

Ada mahasiswa yang terburu-buru mengejar bus.

Semua terlihat normal.

Hanya Naya yang merasa hidupnya baru saja berhenti.

Ponselnya berbunyi.

Arga menelepon.

Naya memejamkan mata.

Kali ini ia harus mengatakannya.

Tidak peduli apa yang terjadi setelah itu.

Ia mengangkat telepon.

“Halo.”

“Sayang, kamu di mana?”

“Di luar.”

“Bisa ketemu sekarang?”

Naya terdiam.

“Bisa.”

“Di kafe dekat kampus?”

“Iya.”

---

Satu jam kemudian, Naya duduk berhadapan dengan Arga.

Pria itu terlihat seperti biasanya.

Kemeja putih.

Jam tangan mahal.

Rambut tertata rapi.

Senyum yang selama ini Naya sukai.

“Kamu kelihatan pucat.”

Arga meraih tangan Naya di atas meja.

Naya membiarkannya.

“Semalam kamu mau ngomong sesuatu, kan?”

Naya menatap tangan mereka.

“Iya.”

“Apa?”

Naya menarik napas panjang.

“Ga…”

“Hm?”

“Aku hamil.”

Senyum Arga menghilang.

Tangannya yang tadi menggenggam tangan Naya perlahan terlepas.

“Apa?”

Naya menatapnya.

“Aku hamil.”

Arga tidak berkata apa-apa.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian ia tertawa kecil.

Bukan tawa bahagia.

Lebih seperti seseorang yang tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Kamu bercanda?”

Naya menggeleng.

“Aku sudah periksa ke dokter.”

Wajah Arga berubah.

“Serius?”

Naya mengangguk.

Arga menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Tangannya mengusap wajah.

“Berapa lama?”

“Masih sangat awal.”

“Dan kamu yakin?”

Naya menahan air mata.

“Aku enggak mungkin bercanda soal ini.”

Arga terdiam.

Naya menunggu.

Satu menit.

Dua menit.

Lima menit.

Akhirnya Arga mengangkat wajah.

“Kita harus bicara baik-baik.”

Naya mengangguk.

“Iya.”

“Aku akan bertanggung jawab.”

Untuk pertama kalinya sejak mengetahui kehamilannya, Naya merasa sedikit lega.

Air matanya jatuh.

“Kamu serius?”

Arga mengangguk.

“Aku serius.”

Naya tersenyum sambil menangis.

“Terima kasih.”

Namun Arga belum selesai.

“Tapi…”

Senyum Naya perlahan menghilang.

“Aku harus bicara dulu sama keluargaku.”

Naya menatapnya.

“Kenapa?”

“Kamu tahu keluargaku.”

Naya terdiam.

Ia tahu.

Keluarga Mahendra sangat menjaga nama baik.

Terutama ibu Arga.

Wanita yang sejak awal tidak pernah benar-benar menyukai hubungan mereka.

“Tapi kamu bilang akan bertanggung jawab.”

“Aku akan.”

“Berarti…”

Naya menggenggam tangannya.

“Berarti kita menikah?”

Arga tidak menjawab.

Dan diamnya terasa lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.

“Ga?”

Arga menarik napas.

“Aku belum bisa janji.”

Naya menatap pria di hadapannya dengan mata berkaca-kaca.

“Kenapa?”

“Aku cuma butuh waktu.”

“Waktu untuk apa?”

“Untuk berpikir.”

Naya melepaskan genggaman tangannya.

“Ini bukan cuma tentang kamu.”

“Aku tahu.”

“Ini tentang anak kita.”

Arga menundukkan kepala.

“Aku tahu, Naya.”

“Kalau begitu kenapa kamu terlihat seperti orang yang ingin lari?”

Arga terdiam.

Naya berdiri.

“Kalau kamu butuh waktu untuk berpikir, aku kasih waktu.”

Arga menatapnya.

“Naya…”

“Tapi jangan buat aku menunggu tanpa kepastian.”

Naya mengambil tasnya.

Sebelum pergi, ia menatap Arga untuk terakhir kalinya.

“Aku tidak takut menjadi seorang ibu.”

Suaranya bergetar.

“Aku cuma takut harus menjadi ibu sendirian.”

Naya berbalik.

Meninggalkan Arga yang masih duduk membisu.

Namun baru beberapa langkah ia berjalan, ponselnya berbunyi.

Sebuah pesan masuk.

Dari nomor yang tidak dikenal.

Naya membukanya.

Hanya ada satu kalimat.

> “Kalau kamu benar-benar hamil, jangan berharap Arga akan menikahimu.”

Naya mengerutkan kening.

Pesan kedua masuk.

> “Karena aku akan memastikan pernikahan itu tidak pernah terjadi.”

Naya membeku.

Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari…

kehamilannya bukan satu-satunya masalah yang harus ia hadapi.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel