BAB 4: DERMAGA TUJUH DAN PERJAMUAN DARAH
Sisa Adrenalin dan Aroma Kematian
Asap putih dari kap mesin Sangkuriang 2.0 perlahan berganti menjadi hitam pekat. Bau kabel terbakar dan plastik yang meleleh memenuhi udara dermaga yang lembap. Alex masih terduduk di aspal, paru-parunya terasa seperti diisi pasir panas. Setiap tarikan napas adalah perjuangan. Di sampingnya, Maya mencoba melepaskan sabuk pengaman yang macet karena benturan tadi.
"Alex! Jangan pingsan sekarang, brengsek!" teriak Maya. Suaranya pecah, bercampur antara tangis dan amarah. Dengan satu sentakan kuat dari kunci Inggris yang masih ia genggam, Maya menghantam mekanisme sabuk hingga terlepas.
Layar HUD di kaca depan Sangkuriang yang retak memberikan peringatan terakhir: CRITICAL NEURAL OVERLOAD - SYSTEM SHUTDOWN.
Di hadapan mereka, berdiri sosok yang selama sepuluh tahun ini hanya muncul dalam mimpi buruk Alex. Tuan Bramantyo. Pria itu berdiri tenang di tengah kepungan belasan pria bersenjata yang mengenakan seragam taktis hitam tanpa atribut. Di tangannya, tongkat perak berkepala serigala itu bukan sekadar hiasan; itu adalah simbol kekuasaan absolut di Kota Astina.
"Kau terlihat persis seperti ayahmu saat malam terakhirnya, Alex," suara Bramantyo bergema, diredam oleh suara ombak yang menghantam tiang-tiang dermaga. "Penuh luka, penuh bensin, dan penuh dengan idealisme sampah tentang 'kebebasan' di jalanan."
Pengkhianatan di Jalur Komunikasi
"Valerie... kau tahu tentang ini?" bisik Alex melalui mikrofon di helmnya yang retak.
Hening sejenak. Hanya suara statis yang terdengar dari pusat komando di bengkel. Lalu, suara Valerie terdengar, namun nadanya telah berubah. Tidak ada lagi kekhawatiran. Hanya nada bisnis yang dingin.
"Alex, kau harus paham," kata Valerie. "Bengkelmu, riset Laras, bahkan Sangkuriang itu sendiri... semuanya dibiayai oleh konsorsium ayahku. Aku tidak membiayaimu karena aku peduli pada hobi balapmu. Aku membiayaimu karena kau adalah spesimen terbaik untuk menguji sistem Neural Sync."
Hati Alex mencelos. Ternyata selama ini dia hanya tikus laboratorium yang diberi mobil kencang. Laras, di sisi lain komunikasi, terdengar terisak. "Aku tidak tahu, Alex... Aku bersumpah, aku hanya ingin menciptakan teknologi yang membantu manusia, bukan mesin perang..."
"Cukup dramanya!" bentak Bramantyo. Dia menghentakkan tongkatnya ke aspal. TAK! "Berikan paket itu, atau aku akan memastikan gadis mekanik di sampingmu itu tidak akan pernah bisa memegang kunci pas lagi."
Selina: Sang Variabel Penghancur
Selina, yang sejak tadi berdiri kaku di samping motor Cati-nya, tiba-tiba tertawa. Tawa yang serak dan penuh kegilaan. Dia melangkah maju, menghalangi pandangan para prajurit Bramantyo ke arah Alex.
"Tuan Bram, kau bicara soal kesempurnaan?" Selina meludah ke aspal. "Kau menghabiskan miliaran hanya untuk mengejar data dari otak anak ini? Kau benar-benar sudah tua dan pikun. Kesempurnaan itu tidak ada dalam kode komputer. Kesempurnaan itu ada saat kau berada di kecepatan 300 km/jam dan kau tahu kau bisa mati kapan saja."
Selina melirik Alex melalui bahunya. Matanya yang abu-abu baja berkilat penuh arti. "Alex, ingat apa yang aku katakan sepuluh tahun lalu? Jangan pernah percayai siapa pun yang memakai jas mahal."
Tanpa peringatan, Selina menarik tuas gas motornya yang masih menyala dalam posisi netral hingga raungannya memekakkan telinga, menciptakan distraksi suara. Bersamaan dengan itu, dia melemparkan sebuah tabung kecil ke bawah kaki para prajurit Bramantyo.
BOOM!
Bukan ledakan penghancur, tapi bom cahaya (flashbang) yang dipadu dengan asap kimia pekat. Dermaga 7 seketika buta.
"LARI KE KONTAINER B-12! SEKARANG!" raung Selina.
Labirin Besi dan Hujan Peluru
Alex menarik tangan Maya. Rasa sakit di sarafnya dipaksa tunduk oleh adrenalin yang melonjak. Mereka berlari menembus kabut asap, membawa koper perak yang terasa seberat dosa masa lalu.
RATATATATAT!
Tembakan laras panjang mulai menyalak, membelah kesunyian fajar. Peluru-peluru panas menghantam bodi kontainer baja di sekeliling mereka, menciptakan percikan api dan suara dentingan logam yang mengerikan.
"Alex, ke kiri!" teriak Laras dari komunikasi cadangan. Dia berhasil meretas kamera pengawas dermaga. "Ada celah di antara kontainer biru! Di sana ada jip tua milik kru pelabuhan yang kuncinya masih tertinggal!"
Mereka merayap di bawah bayangan raksasa-raksasa besi. Maya terengah-engah, air matanya mengalir tapi tangannya tetap kuat memeluk koper itu. "Kenapa mereka menginginkan ini, Lex? Apa isinya?!"
"Bukan isinya, May... tapi kunci enkripsinya," jawab Alex sambil bersandar di sebuah ban traktor besar untuk mengambil napas. "Data Neural Sync di kepalaku hanya bisa dibuka dengan modul di koper ini. Tanpa ini, data di server Bramantyo hanyalah sampah digital."
Tiba-tiba, seorang prajurit muncul dari balik sudut kontainer. Alex tidak punya senjata. Dia hanya punya insting jalanan. Saat prajurit itu hendak menarik pelatuk, Alex menghantamkan helm karbonnya ke wajah orang itu dengan kekuatan penuh. Suara tulang hidung yang patah terdengar renyah. Alex merebut pistol glock milik prajurit itu—gerakan yang tidak pernah dia bayangkan akan dia lakukan.
Konfrontasi Jarak Dekat
"Alex! Di atasmu!" teriak Maya.
Dua orang sniper melompat turun dari atap kontainer, mendarat dengan taktis di depan mereka. Mereka bukan tentara biasa; mereka adalah unit elit Orche yang dilatih untuk pertempuran jarak dekat.
Pertarungan pecah di ruang sempit antar kontainer. Alex menggunakan teknik bela diri kasar yang dia pelajari di sel penjara sepuluh tahun lalu. Dia menghindari tebasan pisau komando, membalas dengan pukulan ke ulu hati. Namun, kondisi sarafnya yang belum stabil membuatnya limbung.
Satu pukulan mendarat telak di rahang Alex, membuatnya tersungkur. Prajurit itu mengangkat pisaunya, siap mengakhiri garis keturunan Sangkuriang.
DOR! DOR!
Dua lubang peluru muncul di dada prajurit itu. Dia tumbang seketika.
Selina berdiri di sana, memegang pistol dengan tangan yang gemetar karena luka tembak di bahunya. Darah membasahi jaket kulitnya, membuatnya terlihat seperti malaikat maut yang terluka.
"Jangan... jangan pernah berpikir kau bisa mati sebelum aku yang membunuhmu, Lex," bisik Selina sambil terbatuk darah.
Fajar yang Berdarah
Mereka berhasil mencapai jip tua yang disebutkan Laras. Alex melemparkan Maya ke kursi penumpang dan menghidupkan mesinnya. Suara mesin diesel tua itu terdengar sangat menyedihkan dibandingkan raungan Sangkuriang, tapi inilah satu-satunya harapan mereka.
Selina menggeleng. Dia bersandar pada motornya yang dia tuntun sampai ke sana. "Aku akan menahan mereka di gerbang dermaga. Jika aku ikut, kita semua akan mati terjepit. Bawa paket itu ke Pelabuhan Lama, cari pria bernama 'Si Tua Barong'. Dia satu-satunya orang yang tidak bisa dibeli oleh Bramantyo."
"Selina, tidak! Kita keluar dari sini bersama!" Alex mencoba keluar dari jip, tapi Maya menahannya.
"Alex, lihat!" Maya menunjuk ke arah gerbang. Tiga mobil interseptor Orche yang tersisa sudah memblokade jalan keluar, dan Bramantyo berdiri di depan mereka, menatap datar.
Selina memakai helmnya kembali. Dia memacu motornya menuju blokade itu sendirian. Sebuah aksi bunuh diri yang indah.
"Pergilah, Alex!" suara Selina terdengar di radio untuk terakhir kalinya. "Tunjukkan pada mereka bahwa Sangkuriang tidak akan pernah bisa dijinakkan!"
Alex menginjak pedal gas dalam-dalam. Dia memutar jip itu ke arah dermaga kayu yang menjorok ke laut, mencari jalur tikus yang hanya diketahui oleh para penyelundup. Di belakangnya, dia mendengar ledakan besar dari arah gerbang.
Cahaya oranye fajar mulai menyentuh permukaan air, namun bagi Alex, kegelapan baru saja dimulai. Dia telah kehilangan mobilnya, dikhianati oleh donaturnya, dan mungkin kehilangan wanita yang selama ini dia benci namun cintai.
"Aku akan membayarnya, Bram..." gumam Alex dengan mata yang kini berubah menjadi merah karena pecahnya pembuluh darah akibat overload. "Aku akan meruntuhkan seluruh gedung pencakar langitmu dengan tangan ini."
Jip itu melesat melompati celah dermaga, menghilang di antara tumpukan kayu tua, meninggalkan Dermaga 7 yang kini menjadi kuburan berasap.
Gema Pengkhianatan di Ruang Hampa
Di dalam jip tua yang berderit itu, kabin terasa sangat sempit. Maya mencoba menekan luka di bahu Alex dengan potongan kain dari kaosnya yang kotor oleh oli. "Tahan, Lex! Jangan biarkan matamu tertutup!"
Alex tidak mendengar. Di dalam kepalanya, suara Valerie masih bergema seperti hantu. “Spesimen terbaik...” Kata-kata itu lebih tajam daripada peluru yang menyerempetnya tadi. Valerie, wanita yang selama ini memberinya harapan untuk membangun kembali kejayaan ayahnya, ternyata hanyalah seorang kurator yang sedang mengoleksi artefak hidup.
"Laras! Masih di sana?" suara Alex parau, beradu dengan batuk yang mengeluarkan darah.
"Aku... aku meretas paksa sistem enkripsi ayah Valerie, Alex," suara Laras terdengar di sela isolasi suara yang buruk. "Aku menemukan sesuatu di server rahasia mereka. Proyek Sangkuriang bukan cuma soal balapan. Neural Sync itu dirancang untuk pilot drone militer. Mereka butuh refleks manusia yang menyatu dengan mesin tanpa jeda milidetik sedikit pun. Dan kau... kau adalah prototipe yang paling sukses sekaligus paling berbahaya."
Alex tertawa sinis, sebuah tawa yang berakhir dengan rintihan kesakitan. "Jadi ini alasan Ayah menyembunyikan data ini? Dia tidak ingin karyanya jadi mesin pembunuh."
"Ayahmu ingin kau balapan, Lex. Bukan berperang," bisik Maya lembut, matanya menatap koper perak di pangkuannya dengan benci.
Sisa-Sisa Amukan di Dermaga
Di belakang mereka, kepulan asap dari motor Selina masih membubung tinggi. Alex melihat melalui spion yang retak; siluet motor hitam itu kini terbaring di aspal, dikelilingi oleh pasukan Bramantyo yang mulai bergerak maju. Selina telah memberikan mereka waktu, tapi harga yang dibayar adalah nyawanya—atau kebebasannya.
Tiba-tiba, ponsel satelit di dasbor jip berdering. Sebuah panggilan video masuk. Layar kecil itu menampilkan wajah Valerie yang masih terlihat sempurna, tanpa setitik pun debu bengkel di blazer merahnya.
"Kau tidak akan bisa lari jauh, Alex," kata Valerie dingin. "Sistem Neural Sync di otakmu punya protokol self-destruct jika tidak disinkronisasi ulang dalam enam jam. Kau butuh aku. Kau butuh fasilitas medis pribadiku."
Alex menatap kamera ponsel itu dengan mata yang merah padam. "Aku lebih baik mati meledak di jalanan sebagai manusia, daripada hidup sebagai budak mesinmu, Val. Katakan pada ayahmu... Sangkuriang tidak pernah punya rem. Kami hanya tahu cara menabrak target sampai hancur."
Alex menghantamkan tangannya ke ponsel itu hingga hancur berkeping-keping.
Menuju Pelabuhan Lama: Tanah Tak Bertuan
Jip itu terus melaju, keluar dari zona industri modern Dermaga 7 menuju area Pelabuhan Lama yang terbengkalai. Di sini, jalanannya bukan lagi aspal mulus, melainkan tanah merah dan tumpukan kontainer berkarat dari era 80-an. Bau busuk ikan dan kayu lapuk menyengat hidung.
"Kita hampir sampai di koordinat Si Tua Barong," kata Laras, suaranya mulai stabil meski masih ada nada isak tangis. "Tapi Alex, detak jantungmu... 140 bpm dalam kondisi diam. Sarafmu mulai menolak oksigen. Kau harus segera melepas helm itu dan melakukan hard reset manual."
Alex mencoba membuka pengunci helmnya, tapi jari-jarinya kaku. Otot-ototnya mengalami spasme akibat sisa arus listrik dari sistem Sangkuriang yang masih mengalir di saraf tulang belakangnya.
"Biar aku, Lex!" Maya dengan sigap membuka paksa pengunci helm karbon tersebut. Saat helm terlepas, uap panas seolah keluar dari kepala Alex. Wajahnya pucat pasi, dengan garis-garis biru pembuluh darah yang menonjol di pelipisnya.
"Kita tidak boleh berhenti," bisik Alex, suaranya nyaris hilang. "Bramantyo punya satelit. Dia akan melacak jip ini dalam hitungan menit."
"Aku sudah menyiapkan pengalih perhatian di sektor timur," sahut Laras cepat. "Aku memicu alarm kebakaran di lima gudang sekaligus. Itu akan membutakan sensor termal mereka untuk sementara. Sekarang, masuklah ke Gudang Arang nomor 4. Barong menunggumu di sana."
Alex menginjak gas untuk terakhir kalinya sebelum mesin diesel jip itu mati total tepat di depan sebuah pintu besi raksasa yang tertutup lumut. Fajar kini benar-benar pecah, menyinari debu-debu yang beterbangan di udara. Di depan pintu itu, seorang pria raksasa dengan tato macan di sekujur lengannya berdiri memegang cerutu.
"Jadi kau anak si pengkhianat itu?" suara Barong berat, seperti gesekan batu koral. "Masuklah. Sebelum aku berubah pikiran dan menjual kepalamu ke Bramantyo."
Alex jatuh tersungkur saat turun dari jip, koper perak itu terlepas dari genggamannya. Maya segera memungutnya, menatap Barong dengan tatapan menantang.
"Selamatkan dia dulu," tegas Maya. "Baru kita bicara soal bisnis."
bantu suportnya ya gess like dan komen ya
