Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 5: REQUIEM DI ATAS ASPAL HITAM

Fajar di Kota Astina tidak pernah benar-benar membawa cahaya; ia hanya mengganti kegelapan pekat dengan abu-abu yang menyesakkan. Di kejauhan, menara-menara kaca milik Konsorsium Orche menjulang tinggi, menembus awan polusi seperti pedang perak yang haus darah. Di puncaknya, kemewahan adalah agama, dan pengkhianatan adalah mata uang yang paling berharga.

Alex memacu jip tua itu menembus kabut laut yang asin. Di sampingnya, Maya masih memeluk koper perak itu seolah benda itu adalah jantungnya sendiri. Isak tangisnya telah kering, digantikan oleh tatapan kosong yang menghujam jalanan retak di depan mereka. Di dalam kabin yang berbau apek dan bensin basi, sunyi menjadi melodi yang paling memekakkan telinga.

"Selina..." bisik Alex. Nama itu terasa seperti belati di tenggorokannya.

Bayangan ledakan di Dermaga 7 masih menari-nari di spion tengah. Api oranye yang melahap siluet motor Cati milik Selina adalah kembang api duka cita. Alex tahu, di dunia ini, pahlawan tidak mati di tempat tidur yang empuk; mereka mati di atas aspal, di antara rongsokan logam dan janji-janji yang tak terpenuhi.

Istana yang Terbuang

Mereka tiba di pinggiran Distrik Tua, sebuah wilayah yang dihapus dari peta digital Astina. Di sini, gedung-gedung kolonial yang megah dibiarkan membusuk, dibalut tanaman merambat dan lumut. Di tengah reruntuhan itu, berdiri sebuah gudang amunisi tua peninggalan perang yang kini dikenal sebagai The Ossuary—Makam Tulang.

Seorang pria berdiri di depan gerbang besi raksasa yang berkarat. Ia mengenakan setelan jas linen berwarna gading yang tampak terlalu mewah untuk tempat seburuk ini. Rambutnya putih sempurna, disisir ke belakang, dan tangannya yang keriput namun kokoh memegang sebatang cerutu Kuba yang asapnya meliuk-liuk puitis di udara dingin.

"Kau terlambat, Alex," suara pria itu berat, berwibawa, menyerupai gema di dalam katedral kosong. Dialah Si Tua Barong. "Dan kau membawa bau kegagalan yang sangat menyengat."

Barong tidak melihat ke arah jip yang hancur itu, melainkan ke arah langit. "Bramantyo selalu menyukai drama. Dia menganggap kota ini adalah panggung operanya, dan kita semua hanyalah figuran yang menunggu giliran untuk mati."

Perjamuan di Bawah Tanah

Mereka dibawa masuk ke kedalaman The Ossuary. Berbeda dengan luarnya yang hancur, bagian dalamnya adalah perpaduan antara kemewahan klasik dan teknologi analog yang brutal. Dindingnya dihiasi karpet Persia merah darah, sementara lampu gantung kristal menerangi deretan mesin-mesin V8 yang dipoles hingga mengkilap seperti permata.

Barong menuangkan wiski ke dalam gelas kristal, denting es batunya terdengar seperti lonceng kematian.

"Duduklah. Minum ini sebelum sarafmu benar-benar terbakar," perintah Barong.

Alex jatuh terduduk di kursi kulit tua. Tangannya yang kebiruan akibat Neural Overload bergetar saat memegang gelas. Di depannya, koper perak itu diletakkan di atas meja mahoni. Barong membukanya dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah sedang membuka peti mati seorang raja.

Di dalam koper itu, modul Neural Sync berkilau dengan cahaya biru pucat yang dingin.

"Valerie menyebut ini kemajuan," Barong meludah ke lantai. "Aku menyebutnya perbudakan. Mereka tidak ingin kau menjadi pembalap tercepat, Alex. Mereka ingin kau menjadi mesin yang tidak bisa membangkang. Data di kepalamu adalah algoritma yang bisa memprediksi kematian. Dan sekarang, mereka memiliki kunci enkripsinya."

Gema Pengkhianatan

Tiba-tiba, sebuah layar proyektor tua di dinding menyala secara otomatis. Gambar itu buram, namun sosok di dalamnya sangat jelas. Valerie.

Ia duduk di kantornya yang serba putih di lantai 99 Menara Orche. Di tangannya, ia memegang sebuah tablet transparan. Wajahnya cantik, simetris, namun matanya sedingin es di kutub.

"Alex," suara Valerie terdengar melalui pengeras suara yang tersembunyi. "Aku tahu kau bersama Barong. Aku tahu kau merasa dikhianati. Tapi pahamilah, emosi adalah variabel yang mengganggu efisiensi. Kau telah memberikan data yang luar biasa di Dermaga 7. Pengorbanan Selina... itu adalah data statistik yang sangat berharga tentang limitasi empati manusia di bawah tekanan."

"Kau iblis, Valerie!" teriak Maya, suaranya parau.

Valerie tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang tampak sangat mekanis. "Aku adalah masa depan, Maya. Dan Alex... jangan coba-coba kembali ke bengkel. Laras bersamaku sekarang. Dia sedang membantu kami memperbaiki 'bug' di sistem sarafmu. Jika kau ingin dia tetap bernapas, serahkan modul itu pada Barong. Dia tahu cara mengirimkannya padaku."

Layar itu mati. Keheningan kembali menyerbu, lebih berat dari sebelumnya.

The Outlaw: Sang Pembalas Dendam

"Barong," suara Alex kini datar, tanpa emosi. "Tunjukkan padaku."

Barong mengangguk perlahan. Ia menarik sebuah rantai besar, dan sebuah tirai beludru hitam jatuh ke lantai. Di baliknya, bukan sebuah mobil balap modern dengan sayap karbon dan sensor canggih.

Itu adalah sebuah 1970 Dodge Charger yang telah dimodifikasi secara total. Bodinya dicat hitam matte yang menyerap cahaya, tanpa krom, tanpa stiker sponsor. Mesinnya menonjol keluar dari kap mesin—sebuah blok mesin raksasa yang tampak seperti jantung monster yang sedang tidur.

"Ini adalah The Outlaw," bisik Barong. "Mobil ini tidak punya komputer. Tidak punya sensor. Tidak punya sistem saraf. Dia hanya punya jiwa dan kemarahan. Ayahmu membangunnya untuk satu tujuan: meruntuhkan mereka yang merasa menjadi Tuhan di atas aspal."

Alex mendekat, menyentuh bodi mobil yang dingin itu. Dia bisa merasakan getaran dari masa lalu. Di sinilah letak kemewahan yang sebenarnya—bukan pada chip komputer atau layar HUD, melainkan pada kejujuran mekanik dan aroma bensin yang murni.

"Malam ini, Astina akan terbakar," gumam Alex.

Dia masuk ke dalam kursi pengemudi. Bau kulit tua dan oli menyambutnya. Saat dia memutar kunci kontak, mesin V8 itu meraung—sebuah suara bariton yang menggetarkan fondasi The Ossuary. Itu bukan suara mesin; itu adalah teriakan perang.

Fajar telah berakhir. Malam yang panjang bagi Konsorsium Orche baru saja dimulai. Alex tidak lagi membalap untuk kemenangan. Dia membalap untuk kehancuran.

Sentuhan di Antara Besi Tua

Di sudut gudang yang diterangi cahaya temaram dari lampu gantung kristal, Maya mendekati Alex yang masih mencengkeram kemudi The Outlaw. Maya tidak menangis lagi; matanya mencerminkan api kemarahan yang sama dengan Alex.

Ia mengulurkan tangannya, menyentuh jemari Alex yang masih gemetar karena sisa neural overload. Sentuhannya hangat, kontras dengan dinginnya bodi mobil hitam itu.

"Alex, lihat aku," bisik Maya. Suaranya lembut tapi tajam. "Valerie mengambil Sangkuriang, dia mengambil Laras, dan dia mencoba mengambil otakmu. Tapi dia tidak bisa mengambil ini.

Maya meletakkan tangan Alex di dadanya sendiri, di mana jantungnya berdegup kencang. "Jangan jadi mesin, Lex. Jadilah monster yang mereka takuti. Jika kau mati malam ini, aku yang akan memastikan gedung Orche itu runtuh bersamamu."

Alex menatap Maya. Di bawah lampu The Ossuary, Maya terlihat seperti dewi peperangan—gaunnya yang sobek dan wajahnya yang terkena noda oli justru membuatnya terlihat lebih berkuasa daripada Valerie di menara kacanya.

"Kau tidak seharusnya ikut, May," kata Alex, suaranya parau.

"Aku tidak minta izin," jawab Maya sambil masuk ke kursi penumpang, mengunci sabuk pengaman manual yang kasar. "Jalanan ini milik kita sekarang. Bukan milik satelit mereka."

INTERLUDE: LITURGI BESI DAN AMARAH

Di bawah temaram lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya pada lantai marmer kusam, The Outlaw berdiri seperti altar pengorbanan. Bau maskulin dari oli pelumas, kulit tua, dan sisa wiski mahal memenuhi udara.

Alex melepaskan jaket balapnya yang penuh noda darah, menyisakan kaos hitam yang basah oleh keringat. Di sampingnya, Maya menyingsingkan lengan kemeja sutranya yang sudah koyak. Tidak ada lagi gaun pesta; yang ada hanyalah dua jiwa yang haus akan pembalasan.

"Valerie memburu kita dengan frekuensi suara, Alex," bisik Maya sambil membuka skema jalur knalpot di meja kayu mahoni. "Sangkuriang 2.0 terlalu halus, terlalu digital. Dia mudah dilacak karena suaranya punya pola algoritma."

Alex mengangguk, tangannya yang masih bergetar kini memegang kunci Inggris berlapis krom. "Kita butuh sesuatu yang mentah. Sesuatu yang memecah udara, bukan mengalir di dalamnya."

Arsitektur Suara Kematian

Maya, dengan ketelitian seorang arsitek yang merancang katedral, mulai memodifikasi sistem pembuangan (exhaust system). Dia membuang semua muffler dan filter emisi yang menghambat napas mesin V8 itu. Sebagai gantinya, dia memasang pipa baja tahan karat berdiameter besar yang meliuk seperti urat nadi naga di bawah bodi mobil.

"Aku akan memasang Cut-Out elektronik di sini," kata Maya, jemarinya lincah merangkai kabel analog. "Saat kau menekan tombol ini, suara mesin tidak akan melewati peredam sama sekali. Ini bukan lagi suara knalpot, Lex. Ini adalah frekuensi infrasonik yang bisa menggetarkan kaca-kaca di Menara Orche sebelum mereka melihat kita datang."

Alex fokus pada bagian Supercharger yang menonjol keluar dari kap mesin. Dia menyetel ulang asupan udara (intake) agar menghisap oksigen lebih rakus. Dia mengganti baut-baut standar dengan baut titanium yang berkilau seperti berlian di bawah lampu gudang.

Ritual Terakhir

Saat malam mencapai puncaknya, mereka berdiri di depan mesin yang sudah terbuka itu. Maya mengambil sebuah botol kecil berisi cairan aditif balap tingkat tinggi yang berwarna ungu pekat—seperti anggur mahal, tapi mematikan.

"Tuangkan ini," perintah Maya. "Ini akan membuat pembakaran di ruang mesin menjadi tidak stabil, tapi menghasilkan ledakan tenaga yang luar biasa. Dan suaranya..."

Alex menuangkannya perlahan. Saat cairan itu masuk, dia seolah mendengar mesin itu berbisik balik padanya.

"Nyalakan, Lex," bisik Maya, berdiri tepat di samping pintu pengemudi, matanya menatap tajam ke arah Alex.

Alex masuk ke kabin, duduk di kursi kulit yang keras, dan menginjak pedal gas dalam-dalam. Dia memutar kunci kontak manual.

BRRRRAAAAAKKKKKK!

Suara itu meledak. Bukan raungan mobil sport yang melengking manja, tapi ledakan bariton yang sangat berat, serak, dan penuh otoritas. Setiap dentuman piston terasa seperti hantaman palu godam ke dada. Dinding The Ossuary bergetar, lampu kristal berdenting pecah, dan debu-debu sejarah terbang tertiup badai suara itu.

"Itu dia," gumam Alex. Suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin. "Suara ini tidak akan bisa dilacak oleh sensor Valerie. Ini adalah suara kekacauan murni."

Maya tersenyum—senyum paling cantik sekaligus paling mengerikan yang pernah dilihat Alex. Dia mengusap kap mesin hitam matte itu dengan lembut.

"Aroma kematiannya sudah sempurna, Lex. Sekarang, mari kita kirimkan undangan perjamuan darah ini ke pintu depan Tuan Bramantyo."

bantu suportnya ya gess like dan komen ya

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel