Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 3: SINKRONISASI BERDARAH

Kota Astina di pukul tiga pagi adalah kuburan bagi mereka yang penakut. Di dalam bengkel Alex, lampu neon yang berkedip sekarat menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di atas bodi abu-abu Hondai C-Vick. Bau bensin oktan tinggi bercampur dengan aroma parfum mahal dan keringat dingin. Ketegangan di ruangan itu lebih panas daripada blok mesin yang baru saja dipaksa lari dua ratus kilometer per jam.

Laras masih terpaku pada monitor ganda di meja kerja, jemarinya menari di atas keyboard mekanik dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Di sampingnya, Valerie berdiri dengan anggun, menyesap kopi hitam dari cangkir porselen yang terlihat sangat tidak pantas berada di bengkel kumuh itu. Sementara Maya, dengan wajah yang legam oleh oli, sedang mengencangkan baut wastegate turbo dengan tenaga yang seolah ingin menghancurkan besi tersebut.

Lalu, suara itu datang.

Sebuah raungan bariton yang kasar, melengking tinggi, membelah kesunyian malam dari arah gerbang bengkel. Sebuah cati anigale V4 hitam legam meluncur masuk, melakukan stoppie ekstrem hingga ban belakangnya mencium udara sebelum berhenti tepat beberapa sentimeter dari ujung sepatu bot Valerie.

Seorang wanita turun. Helm karbonnya dilepas, menampakkan rambut perak yang berkilau tertimpa cahaya lampu bengkel. Matanya berwarna abu-abu baja, tajam, dan penuh dengan aura pemberontakan.

"Selina," gumam Alex. Suaranya serak, seolah kata itu adalah luka lama yang baru saja dibuka paksa.

"Masih di bengkel sampah ini, Lex? Aku pikir kau sudah mati membusuk di sel penjara sepuluh tahun lalu," suara Selina terdengar seperti gesekan beludru di atas aspal. Dingin, namun mematikan.

1. Perang Empat Pilar

Maya adalah yang pertama bereaksi. Dia membanting kunci Inggris ke lantai semen. TANG! Suaranya menggema, memicu adrenalin di ruangan itu.

"Siapa lagi wanita ini, Lex? Apa tempat ini sekarang jadi panti jompo untuk mantan pacarmu?" teriak Maya, matanya berkaca-kaca karena amarah dan cemburu yang meluap.

Selina tertawa, sebuah tawa yang meremehkan. Dia berjalan mendekati Alex, mengabaikan Maya seolah gadis itu hanyalah tumpukan ban bekas. "Dia siapa, Lex? Mekanik ingusanmu? Manis sekali. Tapi dia tidak tahu apa-apa tentang cara 'menidurkan' monster di bawah kap mesin ini."

"Jaga bicaramu, Selina," Valerie menyela, suaranya tenang namun penuh ancaman otoritas. "Aku yang mendanai proyek ini. Aku tidak butuh residivis sepertimu mengacaukan investasiku."

Selina menoleh pada Valerie, menatap setelan blazer merahnya dari atas ke bawah. "Investasi? Kau pikir ini papan catur, Tante? Di Lintas Tengah nanti, uangmu tidak bisa menyuap jurang. Dan si kacamata ini..." Selina melirik Laras yang masih sibuk dengan datanya, "Algoritmu akan buta saat unit interseptor Jakarta mengaktifkan EMP Jammer. Mereka punya teknologi militer, bukan mainan anak kuliahan."

Laras akhirnya berhenti mengetik. Dia membetulkan letak kacamatanya, menatap Selina dengan mata robotiknya yang dingin. "Berdasarkan data profil psikologismu, Selina, tingkat keberhasilanmu dalam tim adalah nol persen. Kau adalah variabel penghancur. Namun secara teknis, kau adalah satu-satunya yang tahu koordinat 'Titik Buta' di Lintas Tengah. Alex, secara logika, kita harus menerimanya. Secara emosional... itu urusanmu."

2. Bedah Jantung Sangkuriang 2.0

"Cukup!" bentak Alex. Suaranya rendah, namun mampu membungkam keempat wanita paling dominan di Astina itu. "Kita tidak punya waktu. Paket 'Hitam' itu harus sampai ke pelabuhan sebelum matahari terbit. Kalau kalian ingin saling bunuh, lakukan setelah aku selamat dari kejaran Orche Jakarta."

Alex menunjuk ke arah Sangkuriang. "Maya, pasang sistem Nitrous dua tahap. Aku butuh ledakan tenaga di tanjakan terakhir. Laras, pasang sensor infra-merah di bumper depan. Aku akan balapan tanpa lampu utama—Ghost Mode. Valerie, hubungi orang-orangmu di kepolisian, minta mereka mengalihkan patroli di sektor utara. Dan Selina..."

Alex menatap mata perak wanita itu. "Kau jadi scout. Kau di depan dengan catimu. Beri aku tanda setiap ada hambatan di jalur tikus. Jika kau mencoba lari dengan paket itu, aku tidak akan segan melindas motormu."

Selina menyeringai liar. "Itu baru Alex yang aku kenal. Alex yang punya api di matanya, bukan Alex yang tunduk pada uang perempuan kaya."

Tiga jam berikutnya adalah simfoni besi tua yang sesungguhnya. Maya bergerak dengan presisi seorang ahli bedah, memasang selang-selang baja untuk sistem NOS. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena menahan amarah pada Selina. Berkali-kali dia melirik Alex yang sedang membantu Laras memasang kabel optik untuk sistem infra-merah.

"Lex," bisik Maya saat Alex membantunya mengangkat tabung biru NOS. "Kau percaya padanya? Setelah apa yang dia lakukan sepuluh tahun lalu?"

Alex terdiam sejenak. Dia menatap bekas luka bakar kecil di lengannya, kenang-kenangan dari balapan terakhir bersama Selina. "Aku tidak percaya padanya, May. Aku percaya pada kemampuannya. Di jalanan, itu dua hal yang berbeda."

3. Keberangkatan: Simfoni Maut Dimulai

Pukul 03:45 pagi. Mesin Sangkuriang 2.0 dihidupkan. Suaranya kini bukan lagi geraman kasar, melainkan lengkingan stabil yang didukung oleh sistem manajemen mesin buatan Laras. Kaca depan mobil kini berfungsi sebagai layar HUD (Head-Up Display), menampilkan garis hijau jalur yang disarankan, suhu ban, dan tekanan turbo secara real-time.

"Semua sistem hijau," suara Laras terdengar di earpiece Alex. "Ingat, Alex, sinkronisasi sarafmu dengan ECU ini adalah 85%. Jangan buat gerakan tiba-tiba yang tidak perlu."

"Halah, persetan dengan angka," suara Selina memotong melalui radio komunikasi. Dia sudah berada di atas motornya, mesin cati-nya meraung-raung. "Ikuti lampu remku, Lex. Kalau kau tertinggal, jangan harap aku menunggumu."

Valerie berdiri di depan pintu bengkel, memegang radio panggil dengan erat. "Ingat Alex, paket itu berisi masa lalu ayahmu. Jangan biarkan mereka mengambilnya. Jika kau gagal... aku tidak bisa menjamin keselamatan bengkel ini."

Alex tidak menjawab. Dia memakai helmnya, mengencangkan sabuk pengaman empat titik, dan menatap ke depan. Di sampingnya, di kursi penumpang, Maya duduk dengan laptop cadangan di pangkuannya. Dia menolak tinggal di bengkel. "Aku yang merakit mesin ini, aku yang akan memastikan dia tidak meledak di bawah kakimu," katanya tegas.

"Siap, Sangkuriang?" bisik Alex pada kemudinya.

Lampu indikator di dasbor menyala biru. Alex menginjak pedal kopling, memasukkan gigi satu, dan melepaskannya dengan sentakan kasar.

VROOOOOOOM!

Sangkuriang 2.0 melesat keluar, meninggalkan jejak ban hitam yang membara di lantai bengkel. Di depannya, motor Selina membelah kegelapan seperti peluru perak.

4. Menembus Lintas Tengah

Jalur Lintas Tengah adalah labirin aspal yang hancur, dikelilingi oleh hutan jati yang rapat dan jurang yang menganga. Di sinilah "Paket Hitam" itu menjadi incaran.

Tiba-tiba, layar HUD di kaca depan Alex berkedip merah. "Peringatan! Sinyal GPS terganggu! EMP Jammer terdeteksi di radius 500 meter!" suara Laras terdengar pecah karena gangguan frekuensi.

"Laras! Aku kehilangan visual!" teriak Alex. Kaca depannya mendadak gelap, semua data digital menghilang.

"Gunakan matamu, Lex! Matikan lampu!" teriak Selina dari depan.

Alex menarik tuas, dan seketika seluruh lampu mobil mati. Kegelapan total menyergap. Hanya ada cahaya rem merah dari motor Selina yang menjadi penuntun di tengah kecepatan 180 km/jam.

Tiba-tiba, dari arah belakang, empat pasang lampu xenon putih terang muncul. Itu adalah mereka. Unit interseptor Orche Jakarta. Mobil-mobil sport Eropa dengan teknologi pengejaran tercanggih.

"Mereka di belakangmu, Lex!" teriak Maya sambil melihat kaca spion yang bergetar hebat. "Mereka mencoba menjepit kita!"

"Maya, buka katup NOS tahap satu sekarang!" perintah Alex.

Maya menekan tombol di konsol tengah. Suara HISS terdengar saat gas tawa masuk ke ruang bakar. Sangkuriang seolah ditendang oleh raksasa dari belakang. Kecepatan melonjak drastis, menghempaskan punggung mereka ke jok.

Di depan, Selina melakukan manuver gila. Dia memiringkan motornya hingga lututnya menyentuh aspal, berbelok di tikungan hairpin tanpa mengurangi kecepatan. Alex mengikuti, melakukan drift yang begitu presisi hingga bemper belakangnya menyentuh daun-daun di pinggir jurang.

"Permainan baru saja dimulai, Sayang!" suara Selina tertawa di radio, diiringi suara tembakan dari arah belakang. "Selamat datang di neraka sesungguhnya!"

Alex mempererat genggamannya pada setir. Di antara empat wanita yang memperebutkan jiwanya, dan musuh yang menginginkan nyawanya, dia sadar: malam ini, hanya satu hal yang nyata. Getaran mesin di bawah kakinya, dan keinginan untuk terus bernapas di ujung piston.

5. Jejak Pengkhianatan di Balik Dashboard

Di tengah raungan mesin yang menyentuh angka 9.000 RPM, mata Maya tidak sengaja menangkap sesuatu yang janggal di bawah panel instrumen. Sebuah kabel tipis berwarna ungu, yang tidak pernah dia pasang, tersambung langsung ke jalur fuel pump.

"Lex! Ada kabel liar!" teriak Maya, suaranya nyaris tenggelam oleh suara angin yang menghantam kaca depan.

Alex melirik sekilas. "Potong, May!"

"Nggak bisa! Ini kabel bypass peledak statis! Kalau kupotong sekarang, tekanan bensin bakal melonjak dan kita jadi bola api dalam tiga detik!" tangan Maya gemetar. Dia menatap ke arah spion, di mana Borgini Valerie dan motor Selina masih terlihat di kejauhan. "Seseorang di antara mereka... atau Laras... ingin kita berhenti di koordinat tertentu."

Pikiran Alex berputar. Valerie punya uang, Laras punya akses data, dan Selina punya motif balas dendam. Siapa yang menanam bom itu?

6. Tarian Maut di Kelok Sembilan (Vibe Sinematik)

Sangkuriang 2.0 kini memasuki sektor paling mematikan di Lintas Tengah: Kelok Sembilan. Jalur aspal yang meliuk seperti ular sanca di pinggir tebing setinggi dua ratus meter.

"Alex, kurangi kecepatan! Ban belakangmu sudah mencapai suhu 120 derajat celcius! Risiko blowout di angka 90%!" suara Laras di radio kembali terdengar, kali ini dengan nada yang sedikit panik.

"Persetan dengan data, Laras! Kalau aku ngerem, Orche di belakang bakal menabrak kita ke jurang!" balas Alex.

Tiba-tiba, Selina yang berada di depan melakukan aksi gila. Dia melepaskan setang motornya dengan satu tangan, melemparkan sebuah tabung kecil ke arah jalanan di belakang motornya. BOOM! Tabung itu meledak, mengeluarkan asap tebal berwarna merah darah—Thermal Smoke Screen.

"Sekarang, Lex! Ghost Mode aktifkan!" teriak Selina.

Alex mematikan seluruh instrumen. Kabin menjadi gelap gulita. Dia hanya mengandalkan Night Vision Goggles yang terhubung ke sensor infra-merah di bumper. Di dunia luar, Sangkuriang menghilang ditelan asap merah. Tim Orche Jakarta yang mengejar dengan kecepatan tinggi mendadak buta. Suara benturan keras terdengar di belakang—dua unit Orche menghantam dinding tebing karena kehilangan visual.

7. Klimaks: Pilihan di Ujung Pelabuhan

Pelabuhan

Astina sudah terlihat di ufuk barat, lampu-lampu mercusuarnya berkedip seperti mata raksasa. Namun, jalan masuk utama sudah diblokade oleh barisan truk kontainer milik konsorsium yang tak dikenal.

"Itu bukan orang-orangku!" suara Valerie pecah di radio. "Alex, putar balik! Itu jebakan!"

"Nggak ada waktu buat putar balik, Val!" Alex melihat ke arah Selina. Selina justru menambah kecepatan motornya, mengarah langsung ke celah sempit di antara dua kontainer yang sedang bergerak menutup.

"Ikuti aku atau mati sebagai pecundang, Lex!" tantang Selina.

Maya menatap Alex, lalu menatap kabel bom di tangannya. Dia mengambil keputusan nekat. Dia mencabut kabel itu dan menyambungkannya langsung ke baterai laptop Laras. "Lex, aku bakal alihkan arus ledakannya ke boost turbo! Kau punya waktu lima detik sebelum mesin ini hancur total! INJAK GASNYA SEKARANG!"

Alex menggeram, menginjak pedal gas hingga menyentuh lantai besi. Boost melonjak ke angka yang tak masuk akal. Sangkuriang melesat seperti komet perak, terbang melewati celah kontainer yang hanya menyisakan ruang setebal rambut bagi cat mobil mereka.

Mobil berhenti dengan rem yang membara merah di ujung dermaga. Selina sudah menunggu di sana, bersandar di motornya sambil memegang sebuah amplop cokelat yang diambilnya dari saku jaket Alex saat di bengkel tadi—tanpa ada yang sadar.

"Kerja bagus, Dewa Lintasan," Selina tersenyum misterius.

Tiba-tiba, ponsel Alex bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal, berisi sebuah foto masa kecil Alex bersama ayahnya. Di belakang foto itu ada sosok wanita yang sangat familiar, sedang memegang kunci Inggris yang sama dengan milik Maya.

Namun, bukan itu yang membuat jantung Alex berhenti berdetak.

Laras berjalan mendekat, wajahnya datar tanpa emosi. Dia melepas kacamatanya, menatap Alex dengan mata yang kini tidak lagi dingin, tapi penuh air mata. "Maafkan aku, Alex. Misi ini... paket ini... sebenarnya bukan untuk menyelamatkan

Laras mengeluarkan sebuah remot kecil dari sakunya.

"Paket itu adalah pemicu untuk menghancurkan seluruh data otomotif di Nusantara. Dan ayahmu... dia masih hidup, Alex. Dia adalah orang yang mengirim Selina untuk menjemputmu."

Di kejauhan, suara sirine polisi dan helikopter tempur mulai mengepung dermaga. Valerie turun dari mobilnya dengan wajah pucat, menatap ke arah laut.

"Selamat datang di perang yang sesungguhnya, Nak," sebuah suara berat muncul dari interkom mobil Sangkuriang yang seharusnya sudah mati. Suara ayahnya.

Alex kini terjepit di antara empat wanita yang masing-masing memegang potongan teka-teki hidupnya, sementara ayahnya yang dianggap mati ternyata adalah dalang di balik semua kekacauan ini.

bantu suportnya ya gess like dan komen ya

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel