Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 2: TIGA PILAR TAKDIR

Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur Kota Astina, menyiram bengkel tua Alex dengan cahaya oranye yang melankolis. Bau sangit ban bekas semalam masih tertinggal. Di tengah ruangan, Hondai C-Vick abu-abu itu teronggok dengan kap mesin terbuka, seperti gladiator yang sedang memulihkan luka.

Alex duduk di bangku kayu, menyesap kopi hitam pekat. Pikirannya masih melayang pada kartu nama emas milik Valerie yang tergeletak di meja kerja yang penuh noda oli.

"Jangan diambil, Lex. Itu tiket menuju neraka," suara Maya memecah keheningan.

1. MAYA: Sang Jangkar Emosional (The Mechanic)

Maya berjalan mendekat, mengenakan overall denim yang kedodoran dengan coretan gemuk mesin di pipinya. Dia adalah definisi kesetiaan. Sejak Alex masih bocah ingusan yang cuma bisa pegang obeng, Maya adalah orang yang mengajarkannya cara "mendengar" detak jantung mesin.

Keahlian: Internal Combustion Specialist. Dia bisa menyetel karburator atau injeksi hanya dengan perasaan.

Senjata: Kunci Inggris legendaris milik ayahnya.

Sifat: Galak tapi perhatian. Dia yang paling tahu sisi rapuh Alex yang trauma akan masa lalu ayahnya.

Vibe: Gadis tetangga yang selalu ada, tapi sering dianggap "adik" oleh Alex (padahal diam-diam dia cemburu setengah mati).

"Valerie itu pengusaha, May. Dia butuh supir. Aku butuh uang buat beli piston forged," jawab Alex datar.

"Tapi kau bukan supir, kau itu pembalap!" potong Maya ketus. "Sekali kau masuk ke dunianya, kau cuma jadi pion di papan catur orang kaya."

2. VALERIE: Sang Ratu Modal (The Sponsor)

Belum sempat Maya menyelesaikan kalimatnya, suara helikopter sayup-sayup terdengar, disusul iring-iringan dua unit Borgini Urus hitam yang berhenti di depan bengkel kumuh itu.

Valerie turun dengan kacamata hitam Gucci dan setelan blazer merah yang sangat mencolok. Dia tidak butuh undangan untuk masuk. Baginya, setiap jengkal tanah di Astina bisa dia beli jika dia mau.

Keahlian: Strategy & Networking. Dia tahu siapa yang harus disogok, siapa yang harus diancam, dan jalan tikus mana yang tidak dijaga polisi.

Senjata: Kekuasaan dan koneksi tanpa batas.

Sifat: Manipulatif, ambisius, tapi punya standar ganda yang tinggi. Dia benci kekalahan.

Vibe: Femme Fatale. Dia memandang Alex sebagai "investasi" paling berisiko namun paling menguntungkan yang pernah dia temukan.

"Waktu adalah uang, Alex," ucap Valerie sambil melirik jam tangan berliannya. "Misi pertamamu sudah siap. Kiriman paket 'hitam' ke Lintas Tengah. Musuhnya bukan cuma polisi, tapi kurir-kurir bayaran dari Jakarta yang memakai Orche terbaru."

3. LARAS: Sang Dewa Data (The Brain)

"Maaf menyela, tapi mobil ini tidak akan sampai ke Lintas Tengah jika hanya mengandalkan intuisi mekanik kuno."

Seorang gadis berkacamata frameless muncul dari balik kursi belakang Borgini Valerie. Dia membawa tas laptop taktis dan beberapa sensor laser di tangannya. Dialah Laras.

Keahlian: Electronic Control Unit (ECU) Tuning & Aero-Dynamics. Dia adalah jenius lulusan Jerman yang bisa meretas satelit hanya untuk memantau tekanan ban Alex secara real-time.

Senjata: Laptop kustom dengan prosesor tercepat yang bisa menghitung gaya gravitasi di setiap tikungan Kelok Sembilan.

Sifat: Dingin, robotik, dan menganggap emosi adalah variabel yang merusak performa.

Vibe: Kuudere. Dia tidak peduli pada cinta, dia hanya peduli pada kesempurnaan teknis. Baginya, Alex adalah "driver" yang punya sinkronisasi saraf unik dengan mesin.

Laras berjalan memutari C-Vick Alex dengan tatapan meremehkan. "Mesin B-Eight Victory ini sudah sangat uzur. Koefisien hambatannya buruk. Tapi..." Laras menyentuh sasisnya, "distribusi bobotnya... jenius. Siapa yang mengerjakannya?"

Maya membusungkan dada. "Aku. Kenapa? Ada masalah, Mbak Kacamata?"

Laras menatap Maya datar. "Terlalu banyak human error. Dengan algoritma buatanku, aku bisa membuat mobil rongsok ini melaju 20 km/jam lebih cepat di tikungan tanpa mengganti satu baut pun."

KONFLIK & MODIFIKASI: "Melahirkan Sangkuriang 2.0"

Malam itu, bengkel Alex menjadi medan tempur ego.

Valerie menuangkan dana 2 Miliar ke atas meja sebagai "DP" modifikasi.

Laras mulai membongkar seluruh sistem kelistrikan C-Vick, memasang sensor G-Force di setiap sudut.

Maya bersikeras mempertahankan blok mesin orisinal karena menurutnya, "Mesin punya jiwa, bukan sekadar angka di laptop!"

Alex berdiri di tengah mereka, melihat ketiga wanita itu berdebat hebat demi satu tujuan: Membuat Hondai C-Vick miliknya menjadi predator paling mematikan di Nusantara.

"Cukup!" teriak Alex. "Maya, pasang turbonya. Laras, atur otaknya. Valerie... pastikan jalanan kosong untuk tes lari malam ini."

Untuk pertama kalinya, ketiga wanita itu diam dan menatap Alex. Ada rasa hormat yang muncul, namun juga api persaingan yang makin membara. Mereka sadar, memperebutkan posisi di samping "Sang Dewa Lintasan" akan lebih sulit daripada memenangkan balapan itu sendiri.

Perang Dingin di Meja Oli

Suasana bengkel yang biasanya hanya diisi suara radio butut dan dentingan kunci pas, kini berubah menjadi medan magnet yang tegang. Valerie menyandarkan tubuhnya di pintu Borgini-nya yang berkilat, menyesap kopi mahal dari tumblr titanium, sementara matanya yang tajam mengawasi setiap gerak-gerik Maya.

"Kau tahu, Gadis Bengkel," Valerie membuka suara, suaranya halus tapi setajam silet. "Piston forged yang kau banggakan itu? Aku bisa membeli pabriknya dalam satu telepon. Tapi aku lebih tertarik melihat bagaimana tangan kotormu itu memasangnya di bangkai mesin ini."

Maya berhenti memutar baut. Dia berdiri, menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang legam, lalu menatap Valerie tanpa gentar. "Uangmu bisa beli pabriknya, Tante. Tapi uangmu nggak bisa beli 'rasa'. Mesin ini punya ritme. Kalau kau paksa pakai komponen kaku hasil pabrikanmu, Sangkuriang bakal menolak. Dia punya harga diri."

Laras yang sedari tadi sibuk dengan kabel-kabel optik di kabin mobil, mendengus remeh. "Istilah 'rasa' dan 'harga diri' itu hanyalah bahasa orang-orang yang gagal memahami kalkulus, Maya. Mobil ini bukan makhluk hidup. Ini adalah kumpulan variabel fisika."

Laras keluar dari kabin, membetulkan letak kacamatanya yang sedikit melorot karena hawa panas bengkel. Dia menyodorkan tablet transparan ke depan wajah Alex. "Lihat ini, Alex. Berdasarkan simulasi fluid dinamika, kap mesinmu ini menciptakan turbulensi di kecepatan 220 km/jam. Itu yang membuat bagian depan mobilmu terasa 'melayang' saat kau menyalip Orche semalam. Aku butuh dana dari Valerie untuk mencetak kap mesin berbahan serat karbon dengan ventilasi udara aktif."

"Aku tidak suka mobilku kelihatan seperti mobil balap norak, Laras," potong Alex sambil memeriksa busi. "Aku butuh dia tetap terlihat seperti mobil rongsok. Itu senjataku. Efek kejutan."

Laras tersenyum tipis—sebuah pemandangan langka yang membuat wajah dinginnya tampak sangat cantik namun berbahaya. "Itu sebabnya aku di sini. Aku akan menyembunyikan teknologi itu di balik cat kusammu. Kita akan membuat Sleeper paling mematikan dalam sejarah Lintas Nusantara."

Bedah Jantung Sangkuriang

Sepanjang malam, ketiga wanita itu dipaksa bekerja di bawah komando Alex. Ini adalah pemandangan yang mustahil: Seorang putri konglomerat, seorang mekanik jalanan, dan seorang jenius teknologi, bahu-membahu di sebuah bengkel kumuh.

Spesifikasi Modifikasi "Sangkuriang 2.0" (The Evolution):

1 Sektor Mesin (Sentuhan Maya):

Maya melakukan porting and polish pada saluran masuk udara secara manual. Dia menghaluskan dinding logam dengan presisi mikron yang bahkan mesin pabrik pun sulit menandingi. Dia memasang B-Eight Victory dengan baut-baut berbahan Inconel (logam tahan panas ekstrim) yang diselundupkan Valerie dari industri penerbangan.

2 Sektor Otak (Sentuhan Laras):

Laras mengganti ECU standar dengan Neural-Link ECU Prototype. Alat ini tidak hanya mengatur bensin dan pengapian, tapi juga mempelajari gaya mengemudi Alex. "Dia akan tahu kapan kau akan mengoper gigi sebelum tanganmu menyentuh tuasnya," bisik Laras pada Alex.

3 Sektor Aerodinamika (Dana Valerie):

Valerie mendatangkan Underbody Diffuser dari tim balap ketahanan di Eropa. Alat ini dipasang di kolong mobil, memastikan Hondai C-Vick itu seolah "terhisap" ke aspal, memberikan traksi luar biasa di tikungan maut tanpa perlu sayap belakang yang mencolok.

Ujian Pertama - Lintas Malam Astina

Pukul 03:30 WIB. Jalanan lingkar luar Astina sudah sepi. Kabut tipis mulai turun, memberikan nuansa mistis pada aspal yang hitam pekat.

"Nyalakan," perintah Valerie dari dalam mobil pemantaunya.

Alex memutar kunci kontak.

Bzzzzzztt... VROOOOOM-TATATATA!

Suara mesin Hondai C-Vick itu kini berbeda. Tidak lagi parau dan kasar, melainkan padat, berat, dan penuh intimidasi. Saat Alex menginjak gas, suara spooling turbo dari Greed-X terdengar seperti jeritan naga yang terbangun dari tidur seribu tahun.

"Data masuk. Suhu oli stabil. Tekanan turbo di 2.5 bar. Kau siap, Alex?" suara Laras terdengar melalui earpiece nirkabel di telinga Alex.

"Hati-hati, Lex. Jangan lupakan ritmenya. Jangan biarkan komputer itu mengendalikanmu," pesan Maya dengan nada khawatir yang tertahan.

Alex tidak menjawab. Dia menginjak kopling, memasukkan gigi satu, dan melesat.

G-Force yang dihasilkan membuat punggung Alex menempel erat ke jok balapnya. Dalam hitungan detik, jarum speedometer sudah melewati angka 180 km/jam. Saat melewati tikungan S pertama, Alex merasakan perbedaan gila. Mobilnya tidak lagi membuang ke samping; ia menempel seperti magnet.

"Sempurna," gumam Alex. Senyum tipis muncul di wajahnya yang biasanya kaku.

Namun, di tengah tes itu, sebuah sorot lampu Xenon biru muncul di spion. Sangat terang. Sangat cepat. Bukan Borgini milik Raka, melainkan sebuah mobil misterius tanpa plat nomor yang memiliki suara mesin sangat halus—hampir seperti siulan angin.

"Alex, ada objek mendekat dengan kecepatan 280 km/jam! Itu bukan kendaraan standar!" teriak Laras dari ruang kendali.

Itu adalah dia. Sang Rival Misterius dengan tato naga. Dia tidak datang untuk balapan, dia datang untuk memberikan peringatan. Mobil misterius itu—sebuah Orche 911 yang seluruh body-nya dilapisi material anti-radar hitam—menempel tepat di belakang bemper Alex, hanya berjarak beberapa milimeter.

Alex menambah kecepatan ke 300 km/jam. Mobil misterius itu tetap menempel.

Lalu, dengan gerakan yang meremehkan hukum fisika, mobil itu menyalip Alex dari sisi luar tikungan, membuang asap ban tipis ke arah kaca depan Alex, dan menghilang di kegelapan kabut.

Alex mengerem perlahan, membawa mobilnya berhenti di pinggir jalan. Jantungnya berdegup kencang. Bukan karena takut, tapi karena semangat yang sudah lama mati kini berkobar lagi.

"Siapa dia?" tanya Valerie melalui radio, suaranya terdengar tegang.

Alex menatap ke arah hilangnya mobil itu. "Dia adalah alasan kenapa aku harus menjadi lebih cepat. Dia... adalah targetku."

Di kejauhan, sang Rival Misterius mengamati dari puncak bukit. Dia melepaskan sarung tangan kulitnya, menatap tato naganya yang bersinar tertimpa cahaya bulan. "C-Vick itu... sudah berkembang. Tapi apakah supirnya cukup kuat untuk menanggung beban takdir Dewa Lintasan?"

bantu suportnya ya gess like dan komen ya

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel