Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 1: NAFAS DI UJUNG PISTON

Simfoni Besi Tua

Kota Astina adalah monster beton yang tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya berpura-pura lelah di bawah kepulan asap pabrik dan lampu neon yang berkedip sekarat. Di pinggiran distrik yang dijuluki "Lubang Hitam"—kawasan kumuh tempat hukum hanya berlaku bagi mereka yang punya peluru—berdiri sebuah bengkel tua dengan atap seng yang bocor.

Bau oli terbakar, bensin oktan rendah yang menguap, dan aroma besi berkarat adalah parfum harian bagi Alex.

Tangan pemuda itu legam. Lapisan pelumas hitam sudah menyatu dengan pori-porinya, seolah-olah darah yang mengalir di nadinya telah bermutasi menjadi oli mesin. Di depannya, sebuah rongsokan besi tua—sebuah sedan Jepang tahun 90-an yang catnya sudah mengelupas hingga menampakkan plat dasarnya—teronggok bisu.

Bagi para kolektor di pusat kota, mobil ini adalah sampah yang layak masuk mesin penghancur. Tapi bagi Alex, mobil ini adalah satu-satunya alasan dia masih merasa hidup.

"Kau terlalu memaksanya, Lex. Piston nomor tiga itu sudah minta pensiun sejak minggu lalu."

Suara itu lembut, namun tegas. Alex tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang bicara. Maya, gadis dengan rambut dikuncir kuda dan wajah yang selalu tercoreng gemuk mesin, melangkah mendekat. Di tangannya ada sebuah intercooler bekas yang baru saja dia bersihkan hingga mengkilap.

"Dia belum menyerah, May. Dia cuma butuh sedikit napas," jawab Alex serak. Dia memutar baut manifold dengan perasaan, seolah sedang menyentuh nadi seseorang. "Kalau dia masih bisa berteriak di putaran 8.000 RPM, artinya dia masih mau bertarung."

Maya menghela napas, menyandarkan tubuhnya pada meja kerja yang penuh dengan tumpukan busi mati. "Malam ini Lintas Sumatera sedang ganas. Kabut di Sitinjau Lauik katanya tebal sekali. Para 'Bangsawan' dari klub Red Line bakal turun dengan mobil-mobil Eropa mereka. Kau yakin mau menantang maut dengan mesin yang bautnya saja ada yang hilang satu?"

Alex berdiri, menyeka keringat dengan punggung tangan yang kotor. Matanya yang tajam menatap ke arah kegelapan jalan raya yang membentang di kejauhan, menembus batas kota. "Di sana, May... uang tidak bisa menyetir. Aspal tidak peduli berapa digit saldo bankmu. Hanya nyali yang punya hak bicara."

Pertemuan di Garis Start (Intrik & Harem)

Pukul 01:30 WIB. Udara malam terasa seperti es yang menusuk kulit. Di sebuah rest area terbengkalai yang menjadi titik kumpul para pembalap liar, deretan mobil eksotis terparkir rapi. borghini, orsche, dan Laren berkilat tertimpa lampu sorot portabel.

Di tengah kerumunan pria-pria berjas sport dan wanita-wanita berpakaian minim, sebuah raungan kasar memecah suasana. Itu bukan suara merdu mesin V12, melainkan suara parau mesin empat silinder turbo yang dipaksa bekerja melampaui batasnya.

Mobil Alex masuk ke area itu. Kusam, bergetar, dan terlihat sangat salah tempat.

"Lihat siapa yang datang. Sang 'Hantu Bengkel' membawa tempat sampah berjalannya," ejek seorang pria tinggi dengan jaket kulit mahal. Itu adalah Raka, putra konglomerat otomotif yang merasa memiliki Lintas Nusantara.

Di samping Raka, berdiri seorang wanita yang kontras dengan lingkungan itu. Valerie, putri dari pemilik konsorsium logistik terbesar di Indonesia. Matanya yang dingin menatap mobil Alex dengan rasa ingin tahu yang aneh. Dia bosan dengan kemewahan; dia haus akan sesuatu yang liar.

"Mobil itu..." bisik Valerie, "Kenapa suaranya tidak selaras dengan bentuknya?"

"Itu hanya rongsokan, Val. Jangan buang waktumu," jawab Raka sombong.

Namun, di sudut lain, seorang wanita dengan helm full-face hitam duduk di atas motor sport-nya. Dia adalah sang Rival Misterius. Dari balik kaca helm yang gelap, matanya terkunci pada gerakan tangan Alex yang sedang memeriksa tekanan ban. Dia tahu sesuatu yang tidak diketahui orang lain: mesin di bawah kap mobil kusam itu adalah monster yang dibangun dari rasa sakit.

Tarian di Tepi Jurang

Bendera start jatuh. Bukan oleh aba-aba resmi, tapi oleh dentuman bas dari musik EDM yang menggelegar.

VROOOOOM!

Mobil Raka melesat seperti peluru, meninggalkan kepulan asap putih dari ban Slick mahalnya. Alex tertinggal di belakang, berjuang mencari traksi di aspal yang mulai berembun.

"Ayo, Nak... jangan malu-malukan aku," gumam Alex pada kemudi yang retak.

Saat memasuki tanjakan curam yang berkelok, keajaiban dimulai. Di mana mobil-mobil mewah itu harus mengerem karena bobot mereka yang berat dan sensor elektronik yang terlalu protektif, mobil Alex justru seolah menemukan rumahnya.

Alex tidak mengerem. Dia melakukan Scandinavia Flick.

Sentakan kemudi ke kiri, lalu banting ke kanan, diiringi injakan kopling yang cepat—clutch kick. Buritan mobilnya terbuang, meluncur menyamping dengan sudut yang mustahil. Ban belakangnya hanya berjarak beberapa milimeter dari pagar pembatas yang langsung menghadap jurang sedalam seratus meter.

"Dia gila!" teriak mekanik Raka melalui radio. "Dia drifting di kecepatan 160 km/jam di tikungan buta!"

Di dalam kabin, dunia Alex menyempit. Suara bising mesin menjadi musik klasik di telinganya. Dia bisa merasakan setiap butir pasir di bawah bannya. Ini adalah 'Zone'—keadaan di mana waktu seolah melambat.

Dia menyalip satu per satu mobil klub Red Line. Saat dia berada tepat di belakang Raka, Alex melakukan sesuatu yang dianggap menghina: dia mematikan lampu utamanya. Blind Attack.

Dalam kegelapan total, hanya mengandalkan ingatan tentang lekuk jalan dan suara angin, Alex melesat di sisi dalam tikungan hairpin. Saat Raka menoleh ke samping, dia hanya melihat bayangan hitam yang meluncur tenang, sebelum lampu belakang merah mobil Alex menyala tepat di depannya—seperti sepasang mata iblis yang mengejek.

Takdir yang Terbuka

Garis finish dilewati. Alex tidak berhenti untuk merayakan. Dia memutar balik, menghilang ke dalam kegelapan sebelum polisi atau wartawan sempat mengabadikan wajahnya.

Namun, malam itu mengubah segalanya.

Di bengkel, Maya menunggu dengan cemas. Saat Alex kembali, dia melihat gadis itu sedang berbicara dengan seorang pria berjas rapi yang membawa koper perak. Di sisi lain jalan, mobil mewah Valerie terparkir, menunggu sang pengemudi misterius.

Dan di atas bukit yang menghadap bengkel, sang Rival Misterius membuka helmnya. Rambut panjangnya terurai, wajahnya cantik namun penuh luka parut di satu sisi pipinya.

"Permainan baru saja dimulai, Alex," bisiknya pada angin malam. "Dewa tidak boleh tidur terlalu lama."

Di Balik Tirai Besi dan Keringat

Setelah asap ban menyublim ke udara malam yang dingin, Alex membawa "Sangkuriang"—begitu dia menyebut mobilnya—kembali ke bengkel. Mesinnya berdetak tak beraturan, ticking logam panas yang mendingin terdengar seperti tepuk tangan pelan di kesunyian gudang.

Alex menyandarkan punggungnya di pintu mobil yang kasar. Napasnya masih memburu, adrenalinnya belum benar-benar surut. Di dunia luar, dia hanyalah sampah. Tapi di balik kemudi tadi, dia adalah tuhan atas takdirnya sendiri.

"Kau hampir membunuhnya, Lex."

Maya muncul dari balik bayang-bayang rak kunci pas. Wajahnya tidak marah, tapi cemas yang mendalam. Dia berjalan mendekat, menyentuh kap mesin yang masih memancarkan gelombang panas ekstrem.

"Pistonnya hampir meleleh. Campuran air-fuel ratio-nya terlalu kering di putaran atas," kritik Maya sambil membuka kap mesin.

Di sanalah rahasia itu terungkap. Di bawah kap yang kusam dan berkarat, bersemayam sebuah mahakarya. Mesin itu tidak bersih, penuh dengan lilitan kabel tambahan dan sensor buatan tangan. Ada sebuah komponen berbentuk aneh yang terbungkus kain tahan panas—sebuah prototipe sistem induksi udara yang dirancang Maya dari skema mesin pesawat tua

"Kalau bukan karena sistem pendingin air yang kita pasang kemarin, blok mesin ini sudah jadi rongsokan di dasar jurang," lanjut Maya. Dia menatap Alex, matanya berkaca-kaca tertimpa lampu neon yang berkedip. "Kenapa kau selalu melakukannya? Melawan mereka yang punya segalanya?"

Alex terdiam. Dia menatap tangannya yang gemetar. "Karena hanya di jalanan itu, May... mereka tidak bisa memandang rendah aku. Saat aku di depan mereka, mereka hanya bisa melihat debuku. Itu satu-satunya saat aku merasa... setara."

Tamu dari Dunia Lain

Tiba-tiba, suara derit ban mahal terdengar di depan bengkel. Sebuah sedan mewah berwarna putih mutiara berhenti tepat di depan gerbang seng yang miring.

Pintu terbuka. Valerie turun.

Sepatu hak tingginya beradu dengan lantai semen yang penuh noda oli. Dia tampak seperti bidadari yang tersesat di neraka. Gaun sutranya sangat kontras dengan lingkungan kumuh itu. Maya langsung berdiri protektif di samping Alex, memegang kunci Inggris seolah itu adalah pedang.

"Siapa kau? Ini wilayah pribadi," cetus Maya tajam.

Valerie mengabaikan Maya. Matanya terkunci pada Alex yang masih duduk di lantai, bersimbah keringat dan oli. "Teknik Inertia Drift di tikungan kelima tadi... aku belum pernah melihat manusia melakukannya dengan mobil sekuno itu tanpa bantuan elektronik."

Alex hanya menatapnya datar. "Mobil tidak butuh otak elektronik untuk tahu cara berbelok. Dia hanya butuh seseorang yang tidak takut mati."

Valerie tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan ribuan rencana. "Ayahku mencari supir untuk pengiriman 'khusus' melewati Lintas Tengah. Jalur merah yang dikuasai kartel. Risikonya maut, tapi bayarannya bisa membeli sepuluh bengkel ini beserta isinya."

Dia meletakkan sebuah kartu nama berlapis emas di atas meja kerja yang kotor. "Pikirkan, Hantu Lintas. Menjadi legenda di jalanan kumuh ini memang keren, tapi menjadi penguasa Nusantara... itu baru namanya hidup."

Bayangan yang Mengintai

Setelah Valerie pergi, keheningan kembali mencekam. Namun, di kegelapan lantai dua bengkel tetangga yang sudah kosong, sepasang mata masih mengawasi.

Itu adalah sang Rival Misterius. Dia melepas sarung tangan balapnya, menyingkap tato berbentuk naga yang melilit pergelangan tangannya hingga ke leher—simbol dari organisasi bawah tanah yang paling ditakuti, The Black Asphalt.

Dia mengeluarkan ponsel satelit. "Target terkonfirmasi. Dia lebih dari sekadar supir jalanan. Dia punya 'insting' itu. Insting yang sama dengan pria yang menghilang sepuluh tahun lalu di Lintas Sumatera."

Di ujung telepon, sebuah suara berat menjawab, "Pantau terus. Jika dia benar-benar 'Dewa' yang kita cari, habisi dia sebelum dia mencapai Jakarta. Dunia tidak butuh pahlawan di atas aspal."

Wanita itu menutup teleponnya. Dia menatap Alex yang kini mulai bekerja lagi di bawah kolong mobilnya, tidak menyadari bahwa nyawanya kini menjadi incaran para penguasa kegelapan.

Alex memutar baut, otot lengannya menegang. Dia tahu malam ini hanyalah awal. Lintas Nusantara bukan lagi sekadar tempat balapan; itu adalah medan perang. Ambisi Valerie, kesetiaan Maya, dan dendam sang Rival kini mulai berputar di sekelilingnya seperti pusaran angin puyuh di kecepatan tinggi.

"May," panggil Alex dari bawah mobil.

"Siapkan ban cadangan yang paling lunak. Besok... kita akan pergi ke tempat yang lebih gelap."

Di kejauhan, petir menyambar di langit Sumatera. Badai besar akan datang, dan Sang Dewa Lintasan baru saja menyalakan mesinnya.

bantu suportnya ya gess like dan komen ya

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel