Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

bab 3: Simfoni Keangkuhan dan Bayangan

"Kau masih di sini, Alaric? Kupikir pembicaraan tentang gandum sudah cukup membuat kepalamu pening," celetuk Antoinette, memecah keheningan yang sempat membeku setelah kepergian Bibi Eleanor dari ruangan.

Antoinette melangkah mendekati Alaric, jemarinya yang lentik dengan berani mengusap lengan jas pria itu. Gerakan yang sangat intim untuk ukuran wanita yang belum bertunangan secara resmi. "Mari kita pindah ke teras. Udara di sini terasa... sangat berat karena semua omong kosong politik ini."

Alaric tidak segera menanggapi. Matanya masih terpaku pada Annette yang kini sedang menyesap tehnya dengan sangat tenang, seolah-olah ia baru saja membicarakan cuaca dan bukan krisis ekonomi yang bisa membangkrutkan sebuah wilayah.

"Annette?" panggil Alaric pelan. "Dari mana kau mendapatkan ide tentang penjualan lahan di sektor barat itu? Bahkan penasihat keuangan keluargaku menyarankan untuk mempertahankannya karena potensi tambang yang belum terbukti."

Annette meletakkan cangkirnya di atas piring porselen dengan bunyi denting yang sangat halus. Ia menatap Alaric, membiarkan matanya mengunci pandangan pria itu. "Penasihat Anda bekerja berdasarkan harapan, Milord. Saya bekerja berdasarkan pola. Tambang itu tidak akan pernah menghasilkan apa pun kecuali debu dan hutang. Jika Anda menunggu sampai pengumuman resmi pemerintah, harga lahan itu akan jatuh lebih dalam daripada sumur tua."

"Kau bicara seolah-olah kau bisa melihat masa depan," bisik Alaric, setengah bercanda namun ada kilatan serius di matanya.

"Aku hanya belajar untuk membaca tanda-tanda yang diabaikan orang lain," sahut Annette dingin.

Antoinette tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti lonceng yang dipaksakan. "Astaga, Annette. Berhentilah bersikap begitu misterius. Alaric, jangan dengarkan dia. Dia hanya sedang berusaha menarik perhatianmu karena dia tahu kau jarang berkunjung belakangan ini."

Antoinette kembali bergelayut di lengan Alaric, kali ini lebih erat. "Ingat tidak, saat kita bertemu di pameran lukisan bulan lalu? Kau bilang kau ingin mengajakku melihat koleksi mawar di kediamanmu. Bukankah sekarang saat yang tepat?"

Annette merasakan denyut kebencian yang akrab di dadanya. Di kehidupan sebelumnya, melihat pemandangan ini akan membuatnya berlari ke kamar dan menangis hingga matanya bengkak. Ia akan merasa tidak cukup cantik, tidak cukup menarik dibandingkan kakaknya yang selalu menjadi pusat perhatian.

Namun sekarang, melihat Antoinette yang berusaha keras menggoda Alaric di depannya hanya membuat Annette merasa... mual. Ia menatap tangan Antoinette di lengan Alaric, lalu beralih ke wajah Alaric yang tampak canggung namun tidak menolak.

"Silakan pergi jika Anda ingin melihat mawar, Lord Alaric," ucap Annette datar. "Mawar memang sangat indah, meskipun mereka memiliki duri yang bisa menusuk tanpa peringatan. Persis seperti beberapa orang di ruangan ini."

Wajah Antoinette menegang. "Apa maksudmu, Adik Kecil?"

"Tidak ada maksud apa-apa, Kakak. Aku hanya merasa mawar adalah bunga yang terlalu... biasa. Cantik di luar, namun cepat layu jika tidak mendapatkan perhatian konstan. Aku lebih suka sesuatu yang lebih kokoh. Seperti besi, misalnya."

Annette berdiri dari kursinya. Gaun hitamnya jatuh dengan sempurna, membungkus tubuhnya yang ramping namun kini terlihat jauh lebih kuat. "Jika kalian permisi, aku harus menemui Bibi Eleanor. Beliau tidak suka menunggu."

"Tunggu, Annette," Alaric melangkah maju, tanpa sadar melepaskan diri dari pegangan Antoinette. "Tentang pajak gandum itu... apakah kau punya saran lain?"

Annette berhenti di ambang pintu. Ia menoleh sedikit, memberikan profil wajahnya yang tajam di bawah cahaya lampu gantung. "Saran saya hanya satu, Milord. Berhentilah mempercayai semua yang dikatakan oleh orang-orang yang tersenyum terlalu manis padamu. Terkadang, kebenaran yang paling pahit datang dari mereka yang berani memakai warna hitam di hari yang cerah."

Setelah meninggalkan ruang tamu, Annette berjalan menyusuri lorong panjang menuju ruang kerja Bibi Eleanor. Setiap langkahnya terasa mantap. Ia bisa merasakan tatapan bingung dan marah Antoinette yang masih tertinggal di belakangnya.

Teruslah merayu dia, Antoinette, batin Annette. Gunakan semua trik murahanmu. Semakin kau menariknya padamu, semakin mudah bagiku untuk menghancurkan kalian berdua sekaligus.

Annette mengetuk pintu kayu besar di ujung lorong. Suara Bibi Eleanor yang berwibawa menyuruhnya masuk. Ruangan itu berbau kertas tua dan lilin lebah. Bibi Eleanor duduk di balik meja mahoni besar, memegang kacamata baca.

"Duduklah, Annette," kata Eleanor tanpa basa-basi. "Aku sudah memeriksa catatan yang kau tinggalkan di meja tamu tadi. Analisismu tentang investasi tekstil... dari mana kau tahu tentang wabah ulat sutra di wilayah timur? Laporan resmi bahkan belum sampai ke ibu kota."

Annette duduk dengan punggung tegak. "Saya punya kenalan di kalangan pedagang pasar bawah, Bibi. Mereka selalu tahu lebih dulu daripada para bangsawan yang terlalu sibuk berpesta."

Eleanor menyipitkan mata. "Kau berbohong. Tapi aku tidak peduli dari mana kau mendapatkannya, selama informasi itu akurat. Jika prediksi ini benar, keluarga kita bisa menguasai pasar kain dalam waktu singkat."

"Itulah tujuan saya, Bibi. Saya ingin keluarga kita tidak lagi bergantung pada nama besar, melainkan pada kekuatan finansial yang tidak bisa digoyahkan oleh siapa pun. Termasuk oleh fitnah politik."

Bibi Eleanor menyandarkan tubuhnya, menatap keponakannya seolah-olah ia baru pertama kali melihatnya. "Kau berubah, Annette. Sangat drastis. Gadis yang kukenal dulu hanya peduli pada warna pita gaunnya."

"Gadis itu sudah mati, Bibi. Dia mati di hari dia menyadari bahwa dunia ini adalah tempat pemotongan hewan bagi mereka yang terlalu lemah untuk memegang pisau."

Keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa saat. Eleanor akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Aku akan memberimu modal kecil. Gunakan untuk investasi tekstil itu. Jika kau berhasil melipatgandakannya dalam satu bulan, aku akan memberikan akses penuh pada dana cadangan keluarga."

"Terima kasih, Bibi. Anda tidak akan menyesal."

Malam harinya, Annette duduk di meja riasnya. Martha sudah keluar setelah membantunya berganti pakaian tidur. Cahaya lilin menari-nari di dinding kamar. Annette mengambil setumpuk koran lama dari laci rahasianya—koran yang ia kumpulkan dari gudang, terbitan lima tahun yang lalu di kehidupan ini, namun merupakan kenangan masa lalu baginya.

Ia membuka halaman bisnis. Matanya tertuju pada sebuah iklan kecil tentang penjualan sebuah perusahaan kapal yang hampir bangkrut di pelabuhan selatan. Di kehidupan aslinya, perusahaan ini dibeli oleh Baron Richter dan dalam dua tahun menjadi raksasa logistik yang menyokong kekuasaan Antoinette.

Annette mengambil pena dan tinta. Ia mulai menulis sebuah surat dengan nama samaran.

"Baron Richter tidak akan mendapatkan kapal-kapal itu," gumam Annette. "Dan Antoinette tidak akan mendapatkan dukungan logistiknya."

Tiba-tiba, ia mendengar suara gaduh dari kamar sebelah—kamar Antoinette. Suara benda pecah, diikuti oleh teriakan frustrasi kakaknya. Sepertinya Alaric pulang lebih awal daripada yang diharapkan Antoinette.

Annette tersenyum tipis. Ia berjalan menuju jendela, menatap bulan sabit yang menggantung pucat di langit malam. Tangannya meraba lehernya, merasakan sensasi dingin yang imajiner dari tali algojo yang dulu mengakhiri hidupnya.

"Satu per satu," bisiknya pada angin malam. "Aku akan mengambil semua yang kalian cintai, sampai yang tersisa hanyalah kehampaan yang sama seperti yang kalian berikan padaku di lubang makam."

Ia menutup gorden dengan sentakan kasar. Besok adalah hari di mana ia akan melakukan pembelian pertamanya. Sebuah langkah kecil yang akan memicu longsoran besar bagi mereka yang meremehkannya. Namun, ada satu hal yang mengganggunya. Tatapan Alaric sore tadi. Itu bukan lagi tatapan kasihan, melainkan tatapan berburu.

Annette harus berhati-hati. Alaric bukan sekadar pion. Pria itu adalah pemain yang berbahaya jika ia mulai merasa penasaran. Dan rasa penasaran adalah benih yang paling sulit dicabut jika sudah tertanam di hati seorang pria.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel