Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

bab 4: Benih Kecurigaan yang Terlalu Halus

Sinar matahari pagi yang pucat menyelinap masuk melalui jendela besar di ruang kerja Bibi Eleanor, menyinari butiran debu yang menari di atas meja mahoni. Di hadapan Annette, wanita tua itu duduk dengan punggung tegak, jemarinya yang mengenakan cincin zamrud besar mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan irama yang menuntut.

"Jadi, kau benar-benar ingin aku mempertaruhkan dana cadangan keluarga untuk kain sutra dari wilayah timur?" suara Bibi Eleanor terdengar rendah, namun penuh wibawa. "Annette, kau tahu wilayah itu sedang dalam masa damai. Tidak ada alasan bagi harga sutra untuk melonjak. Justru, para spekulan sedang membuang stok mereka."

Annette menyesap tehnya perlahan, membiarkan aroma melati menenangkan sarafnya. "Damai memang membawa ketenangan, Bibi, tapi tidak bagi ulat sutra. Apakah Bibi memperhatikan laporan cuaca dari pelabuhan timur belakangan ini? Kelembapan di sana mencapai tingkat yang tidak wajar. Kabut tebal menyelimuti perkebunan murbei selama berminggu-minggu."

Bibi Eleanor mengangkat sebelah alisnya. "Kelembapan? Apa hubungannya dengan investasi sebesar sepuluh ribu keping emas?"

"Ulat sutra sangat rentan terhadap jamur yang tumbuh di daun murbei saat cuaca terlalu lembap, Bibi," jawab Annette tenang, matanya menatap langsung ke mata tajam bibinya. "Dalam satu bulan, pasokan sutra mentah akan merosot tajam. Saat dunia menyadari bahwa produksi tahun ini gagal total, mereka yang memegang stok akan menjadi raja."

"Dan kau mendapatkan informasi ini dari... insting?" tanya Eleanor, suaranya mengandung nada ejekan yang halus.

Annette tersenyum tipis. "Sebut saja itu sebagai ilham di tengah malam. Atau mungkin, bisikan dari seorang pedagang kecil yang kutemui di pasar bawah saat aku menyamar minggu lalu. Mereka melihat tanda-tanda yang diabaikan oleh para bangsawan yang terlalu sibuk dengan pesta dansa mereka."

Dan karena aku sudah melihat bagaimana gudang-gudang itu terbakar dan ulat-ulat itu mati di kehidupanku yang lalu, batin Annette.

Bibi Eleanor terdiam cukup lama. Ia menatap keponakannya seolah-olah sedang mencoba membedah isi kepalanya. "Ini adalah perjudian yang gila, Annette. Jika kau salah, reputasimu—dan kredibilitas finansial yang baru saja kau bangun di depanku—akan hancur seketika."

"Jika saya salah, saya akan menyerahkan seluruh perhiasan warisan ibu saya untuk menutupi kerugiannya," balas Annette tanpa ragu. "Namun, jika saya benar, kita akan memiliki cukup emas untuk membeli setengah dari distrik komersial ibu kota."

"Baiklah," desis Eleanor akhirnya. "Aku akan mengambil risiko ini. Bukan karena aku percaya pada teorimu tentang ulat sutra, tapi karena aku ingin melihat sejauh mana keberanianmu membawamu."

Tiga minggu berlalu dengan lambat. Di rumah, Antoinette masih sibuk dengan persiapan pesta tehnya, sesekali melontarkan sindiran tentang bagaimana Annette sekarang lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan daripada di depan meja rias. Annette mengabaikan semuanya. Ia menunggu kabar dari pelabuhan.

Pagi itu, saat sarapan baru saja dimulai, seorang kurir dengan seragam keluarga masuk dengan tergesa-gesa, menyerahkan sepucuk surat dengan segel merah kepada Bibi Eleanor.

Annette memperhatikan perubahan ekspresi bibinya. Kulit pucat wanita tua itu perlahan kehilangan warnanya, lalu matanya membelalak saat membaca baris demi baris surat tersebut.

"Bibi? Ada apa?" tanya Antoinette dengan nada manja yang dibuat-buat. "Apakah ada berita buruk tentang pengiriman gaun baruku?"

Bibi Eleanor tidak menjawab Antoinette. Ia justru menatap Annette dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kekaguman, rasa takut, dan kebingungan yang mendalam.

"Wabah jamur," bisik Eleanor, tangannya sedikit gemetar. "Tiga perempat produksi sutra di timur musnah hanya dalam sepuluh hari. Harga di bursa saham pagi ini melonjak empat ratus persen. Dan kita... kita memegang kontrak pembelian terbesar di seluruh kerajaan."

Antoinette menjatuhkan sendok peraknya ke lantai. "Apa? Bagaimana mungkin? Itu hanya keberuntungan, bukan?"

Annette menyeka bibirnya dengan serbet sutra, gerakannya sangat anggun. "Keberuntungan adalah ketika persiapan bertemu dengan kesempatan, Kakak. Aku hanya melakukan persiapan yang diperlukan."

Setelah sarapan yang canggung itu berakhir, Bibi Eleanor menarik Annette ke ruang kerjanya kembali. Kali ini, pintu dikunci rapat.

"Annette, katakan yang sebenarnya padaku," suara Eleanor kini terdengar mendesak, hampir seperti bisikan ketakutan. "Bagaimana kau bisa tahu? Prediksimu bukan sekadar akurat, itu... itu presisi secara matematis. Kau bahkan menyebutkan tanggal mulainya krisis itu dengan tepat."

Annette berdiri di dekat jendela, menatap taman di mana Antoinette sedang melampiaskan kemarahannya pada seorang pelayan. "Bibi, bukankah aku sudah mengatakannya? Aku hanya memperhatikan hal-hal kecil."

"Jangan membodohiku!" Eleanor memukul meja. "Aku sudah berkecimpung di dunia investasi selama tiga puluh tahun. Tidak ada seorang pun, bahkan menteri keuangan sekalipun, yang bisa memprediksi bencana alam seakurat itu. Siapa yang memberitahumu? Apakah kau memiliki mata-mata di dalam istana?"

Annette berbalik, tatapannya kini sedingin es. "Apakah itu penting, Bibi? Yang penting adalah sekarang kita memiliki modal yang cukup untuk memulai rencana yang sesungguhnya. Modal yang tidak berasal dari pundi-pundi ayah, sehingga Antoinette tidak bisa menyentuhnya."

Bibi Eleanor menyipitkan mata, menciptakan lipatan kecil di sudut matanya yang tajam. "Kau bukan lagi gadis yang kubesarkan. Ada sesuatu yang sangat... kuno dalam matamu, Annette. Sesuatu yang terasa seperti sudah hidup selama berabad-abad dan menyaksikan ribuan kematian."

"Mungkin saya hanya sudah bangun dari mimpi yang sangat panjang, Bibi," sahut Annette pelan. "Sekarang, dengan keuntungan ini, saya ingin Bibi mulai membeli saham di perusahaan pelayaran selatan secara anonim. Semua yang bisa kita dapatkan."

"Perusahaan yang hampir bangkrut itu? Untuk apa?"

"Karena dalam dua bulan, penemuan jalur laut baru akan diumumkan. Dan perusahaan itu memegang hak eksklusif atas pelabuhan transitnya," jawab Annette, senyum kemenangan tersungging di bibirnya.

Eleanor menghela napas panjang, tampak menyerah pada misteri yang menyelimuti keponakannya. "Baiklah. Aku akan melakukannya. Sepertinya aku tidak punya pilihan selain mengikuti arusmu, Annette. Kau telah membuktikan bahwa kau adalah pemain yang lebih berbahaya daripada siapa pun di rumah ini."

Malam itu, Annette duduk di mejanya yang diterangi lilin. Di hadapannya, sebuah buku catatan kulit hitam terbuka. Ia bukan lagi menulis angka-angka investasi, melainkan daftar nama.

Nyonya Dubois.

Lord Beaumont.

Lady Cecilia.

Dan di bagian bawah, ia menuliskan dua nama dengan tinta merah yang tebal: Antoinette dan Alaric.

Ia menarik garis dari nama-nama sekutu potensial menuju nama-nama musuhnya, membentuk sebuah jaring yang rumit. Tangannya berhenti di nama Lord Alaric. Ingatan tentang bagaimana pria itu hanya diam saat ia diseret menuju panggung eksekusi membuat dadanya kembali sesak.

"Kau akan merangkak memohon cintaku, Alaric," bisiknya pada kegelapan kamar. "Dan saat kau sudah benar-benar terjatuh, aku akan memastikan kaulah yang pertama kali melihat bagaimana Antoinette hancur berkeping-keping."

Tiba-tiba, sebuah ketukan pelan terdengar di pintunya. Bukan ketukan Martha yang biasanya riang, melainkan ketukan yang terasa ragu namun berat.

Annette segera menutup buku catatannya dan menyembunyikannya di bawah tumpukan dokumen. "Masuk."

Pintu terbuka, dan yang berdiri di sana bukan pelayannya. Itu adalah Alaric. Wajah pria itu tampak pucat di bawah cahaya lampu koridor, dan matanya memancarkan kegelisahan yang belum pernah Annette lihat sebelumnya.

"Annette," suara Alaric parau. "Aku baru saja mendengar tentang apa yang terjadi di pasar modal hari ini. Bibi Eleanor menceritakan segalanya."

Annette berdiri, membiarkan bayangannya memanjang di dinding. "Lalu? Mengapa Anda berada di kamar seorang wanita di tengah malam, Milord? Bukankah itu sangat tidak pantas bagi seorang pria yang sangat menjaga reputasinya?"

Alaric melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. "Aku tidak peduli tentang itu sekarang. Aku hanya ingin tahu... siapa kau sebenarnya? Annette yang kukenal tidak akan pernah bisa melakukan ini."

Annette mendekati Alaric, berhenti tepat di depannya hingga ia bisa mencium aroma kayu cendana dari jas pria itu. Ia menatap langsung ke dalam manik mata Alaric, mencari sisa-sisa pria yang dulu ia cintai, namun hanya menemukan bayangan seorang pengecut.

"Annette yang kau kenal sudah mati, Alaric," bisiknya tepat di telinga pria itu, membuat Alaric tersentak. "Gadis itu mati karena kedinginan di tengah pengabaianmu. Dan sekarang, kau sedang berhadapan dengan apa yang tersisa dari abunya."

Alaric hendak menjawab, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Sebelum ia bisa berkata apa-apa, suara teriakan melengking dari arah kamar Antoinette membelah kesunyian malam, diikuti oleh suara benda berat yang jatuh dengan keras.

Annette tersenyum dingin. Sepertinya Kakak tersayang sudah menerima surat tagihan pertamanya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel