Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

bab 2: Kupu-kupu dengan Sayap Besi

Ketukan di pintu itu masih bergema, namun Annette tidak segera membukanya. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara pagi yang sejuk menenangkan detak jantungnya yang liar. Ia tahu siapa yang berdiri di balik daun pintu ek itu. Alaric. Pria yang di kehidupan lalu mengabaikan permohonannya, kini datang sebagai tunangan yang penuh kepura-puraan.

"Biarkan dia menunggu sejenak, Martha," ucap Annette tenang sembari merapikan letak renda hitam di pergelangan tangannya.

"Tapi Nona, Lord Alaric sudah—"

"Aku tahu. Tapi hari ini, akulah yang menentukan ritmenya, bukan dia." Annette berjalan menuju mejanya yang kini dipenuhi tumpukan dokumen keluarga dan beberapa lembar koran bisnis dari minggu lalu. Matanya menyapu deretan angka dan nama-nama perusahaan. Di kehidupan sebelumnya, ia menganggap semua ini sebagai tumpukan kertas yang membosankan. Kini, setiap angka adalah senjata. Setiap nama adalah bidak.

Annette mengambil pena bulu, mencoret beberapa nama di buku catatan pribadinya. Sektor tekstil akan jatuh dalam tiga bulan karena krisis ulat sutra di timur, sementara harga tanah di pinggiran ibu kota akan meroket karena pembangunan kanal baru. Ia ingat betul berita-berita itu. Berita yang dulu hanya lewat di telinganya, kini menjadi peta menuju kekuasaan.

"Martha, ambilkan semua gaun berwarna merah muda dan pastel dari lemari itu," perintah Annette tanpa mengalihkan pandangan dari dokumennya.

Pelayan itu mengerjap bingung. "Semuanya, Nona? Tapi itu adalah warna-warna favorit Anda."

"Itu adalah warna-warna yang membuatku terlihat lemah dan mudah dikendalikan. Singkirkan semuanya ke gudang. Mulai hari ini, aku hanya ingin memakai warna yang tegas. Hitam, biru tua, atau merah darah."

Annette berdiri dan mendekati cermin besar di sudut ruangan. Ia menatap pantulannya sendiri. Ia bukan lagi gadis yang hanya tahu cara tersenyum malu-malu. Ia memotong pita-pita renda yang terlalu ramai dari gaun hitamnya, menyisakan siluet yang tajam dan elegan. Penampilannya kini jauh lebih modern, melampaui tren masa kini yang masih terjebak dalam hiasan-hiasan berlebihan.

Aku harus terlihat seperti wanita yang tahu apa yang dia inginkan, batinnya.

Pintu tiba-tiba terbuka lebar tanpa peringatan. Antoinette melangkah masuk dengan gaun kuning cerah yang mencolok, wajahnya menunjukkan ketidaksabaran yang tidak bisa disembunyikan lagi.

"Annette! Apa yang kau lakukan? Alaric sudah menunggumu selama sepuluh menit di ruang tamu! Dan apa-apaan pakaian ini?" Antoinette menunjuk gaun hitam Annette dengan ekspresi jijik yang sangat nyata. "Kau terlihat seperti sedang menghadiri pemakamanmu sendiri."

Annette berbalik pelan, menatap kakaknya dengan pandangan yang membuat Antoinette terdiam sejenak. "Memang ada yang sedang dikuburkan hari ini, Kakak."

"Apa maksudmu?"

"Kenaifanku," jawab Annette pendek. Ia melangkah mendekati Antoinette, tingginya kini terasa lebih mendominasi meskipun ia hanya diam. "Dan bukankah hitam adalah warna yang sangat cocok untuk menyambut tamu yang paling istimewa?"

Antoinette tertawa sinis, meskipun ada sedikit keraguan di matanya. "Kau pikir dengan mengubah pakaianmu, kau bisa mengubah dirimu? Alaric menyukai wanita yang lembut, bukan wanita yang terlihat seperti burung gagak yang haus darah. Kau hanya akan membuatnya merasa ngeri."

"Biarkan dia merasa ngeri, kalau begitu. Rasa ngeri sering kali merupakan awal dari rasa hormat," sahut Annette dingin. Ia melewati kakaknya begitu saja, bahunya menyenggol bahu Antoinette dengan sengaja. "Ayo, jangan biarkan Lord Alaric yang agung itu menunggu terlalu lama. Aku punya banyak hal yang ingin kubicarakan dengannya."

Di ruang tamu bawah, Lord Alaric berdiri di depan jendela besar, memunggungi pintu masuk. Ia mengenakan setelan formal berwarna abu-abu, memegang seikat bunga lili putih di tangannya. Saat mendengar langkah kaki, ia berbalik dengan senyum yang sudah dipersiapkan. Namun, senyum itu perlahan luntur saat ia melihat sosok yang melangkah turun dari tangga.

Annette melangkah dengan keanggunan yang tidak pernah ia miliki sebelumnya. Kepalanya terangkat tinggi, tatapannya tajam dan lurus. Tidak ada lagi rona merah di pipi atau gerakan tangan yang gelisah.

"Lord Alaric," sapa Annette. Suaranya tenang, hampir terlalu datar untuk seorang tunangan.

"Annette? Kau... kau terlihat sangat berbeda," Alaric bergumam, matanya menyapu gaun hitam Annette dengan penuh kebingungan. "Bunga lili ini... aku membawakannya karena kau bilang kau menyukainya."

Annette menatap bunga-bunga putih itu. Di kehidupan sebelumnya, ia akan memeluk bunga itu seolah-olah itu adalah harta paling berharga. Sekarang, ia hanya melihat simbol kepalsuan.

"Terima kasih, Milord. Namun, seleraku sudah sedikit berubah belakangan ini. Putih terlalu mudah ternoda, bukankah begitu?" Annette memberi isyarat pada Martha untuk mengambil bunga itu. "Silakan duduk. Aku mendengar Anda baru saja kembali dari pertemuan dengan menteri perdagangan."

Alaric mengerutkan kening, tampak terkejut. "Bagaimana kau tahu? Aku tidak pernah menyebutkan hal itu pada siapa pun kecuali ayahmu."

"Dinding di rumah ini punya telinga, dan aku baru saja belajar untuk mendengarkan," sahut Annette santai sembari duduk di sofa utama, posisi yang biasanya diambil oleh Antoinette atau Bibi Eleanor.

Antoinette, yang baru saja masuk ke ruangan, tampak geram melihat posisi duduk Annette. "Adikku sedang dalam suasana hati yang aneh hari ini, Alaric. Dia menghabiskan waktu berjam-jam membaca kertas-kertas tua daripada mempersiapkan diri untuk kunjunganmu."

"Kertas-kertas itu berisi masa depan, Antoinette. Sesuatu yang sepertinya kau anggap remeh," timpal Annette tanpa menoleh. Ia kembali menatap Alaric. "Bagaimana pendapat Anda tentang rencana kenaikan pajak ekspor gandum, Milord? Saya rasa itu akan menjadi bencana bagi para tuan tanah di wilayah utara, termasuk keluarga Anda."

Alaric tertegun. Ia meletakkan cangkir tehnya yang baru saja ia angkat. Diskusi politik bukanlah sesuatu yang biasa ia lakukan dengan Annette. "Itu adalah masalah yang rumit. Aku tidak yakin kau akan mengerti—"

"Saya mengerti bahwa cadangan gandum Anda sedang menipis karena cuaca buruk tahun lalu, dan pajak tambahan ini akan mencekik keuntungan Anda hingga setengahnya. Jika saya jadi Anda, saya akan segera menjual lahan di sektor barat sebelum pengumuman resmi dilakukan minggu depan."

Keheningan yang berat menyelimuti ruangan itu. Alaric menatap Annette seolah-olah ia baru saja melihat orang asing yang mengenakan kulit tunangannya. Antoinette tampak ingin meledak, namun ia tidak tahu bagaimana cara membalas karena ia sendiri tidak paham apa yang sedang dibicarakan.

Tiba-tiba, suara tepuk tangan pelan terdengar dari arah pintu masuk. Seorang wanita paruh baya dengan gaun ungu tua yang megah dan tatapan mata yang setajam elang melangkah masuk. Bibi Eleanor. Matriark keluarga yang paling disegani, wanita yang memegang kendali atas sebagian besar aset keluarga.

Eleanor menatap Annette dengan minat yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Ia mengabaikan Alaric dan Antoinette, matanya hanya tertuju pada Annette yang masih duduk dengan tenang.

"Sangat menarik," ucap Bibi Eleanor, suaranya berat dan penuh wibawa. "Annette, sejak kapan kau mulai memperhatikan pergerakan pasar gandum?"

Annette berdiri dan memberikan hormat yang sempurna. "Sejak saya menyadari bahwa kecantikan saja tidak akan bisa mempertahankan atap di atas kepala kita, Bibi."

Bibi Eleanor berjalan mendekati meja tempat Annette meletakkan catatan-catatannya tadi pagi, yang ternyata dibawa oleh Annette ke bawah. Ia membolak-balik halaman catatan itu sejenak, lalu menatap Annette kembali. Ada kilatan aneh di mata wanita tua itu—campuran antara kecurigaan dan kekaguman yang tersembunyi.

"Ikutlah ke ruang kerjaku setelah Lord Alaric pergi," perintah Bibi Eleanor tanpa basa-basi. "Ada beberapa hal yang ingin kutunjukkan padamu. Dan kau, Alaric, sepertinya tunanganmu sudah jauh lebih pintar daripada yang kau duga."

Alaric hanya bisa mengangguk kaku, wajahnya memerah karena malu sekaligus penasaran. Sementara itu, Antoinette berdiri di sudut ruangan, tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih. Ia merasa panggung yang biasanya ia kuasai sedang runtuh di bawah kakinya sendiri.

Annette tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak menunjukkan kehangatan. Ini baru permulaan, Kakak, bisiknya dalam hati. Kau belum melihat apa yang bisa dilakukan oleh kupu-kupu yang sayapnya terbuat dari besi.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel