bab 1: Api Dendam dari Lubang Makam
Sesak. Dingin. Dan sangat gelap.
Annette tersentak bangun dengan napas yang memburu, paru-parunya seolah baru saja dipaksa menghirup oksigen setelah berjam-jam tenggelam. Jantungnya berdentum keras, menghantam rongga dadanya dengan ritme yang menyakitkan. Secara refleks, tangannya meraba lehernya sendiri, mencari bekas tali kasar yang seharusnya masih melilit di sana.
"Nona? Nona Annette? Anda baik-baik saja?"
Suara itu lembut, namun terdengar seperti ledakan di telinga Annette. Ia membelalakkan mata. Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah-celah gorden sutra berwarna krem, menyinari kamar yang sangat ia kenali. Kamar tidurnya di kediaman utama keluarga. Bukan sel penjara yang lembap dan berbau tikus.
"Martha?" bisik Annette. Suaranya serak, seolah ada pasir yang mengganjal di tenggorokannya.
"Ya, Nona. Saya di sini. Anda berkeringat dingin lagi. Apakah mimpi buruknya kembali?" Martha, pelayan setianya yang seharusnya sudah meninggal karena wabah setahun sebelum eksekusi Annette, berdiri di samping tempat tidur dengan wajah penuh kekhawatiran.
Annette tidak menjawab. Ia meraih tangan Martha, menggenggamnya dengan kekuatan yang mengejutkan hingga pelayan itu meringis. Kulit Martha hangat. Ada denyut nadi di sana. Nyata.
"Tahun berapa sekarang, Martha?" tanya Annette, matanya menatap liar ke sekeliling ruangan.
"Tahun 425, Nona. Bulan Mei. Mengapa Anda bertanya?" Martha meletakkan nampan teh di meja samping tempat tidur.
Mei 425. Pikiran Annette berputar cepat. Itu lima tahun sebelum hari eksekusinya. Tiga tahun sebelum ayahnya dituduh berkhianat, dan tepat satu bulan sebelum pertunangannya dengan Lord Alaric diumumkan secara resmi.
"Cermin. Berikan aku cermin, sekarang!" perintah Annette.
Martha dengan ragu menyerahkan sebuah cermin tangan perak yang tergeletak di meja rias. Annette menatap pantulan dirinya. Tidak ada kulit pucat yang kusam karena kurang gizi. Tidak ada lingkaran hitam yang dalam di bawah mata. Di cermin itu, ia melihat seorang gadis berusia dua puluh tahun dengan kulit porselen yang sempurna dan mata yang, meskipun sekarang dipenuhi kengerian, masih memiliki kilau kehidupan.
"Aku kembali," bisik Annette pada dirinya sendiri. "Aku benar-benar kembali."
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Seorang wanita dengan gaun sutra berwarna biru muda melangkah masuk dengan keanggunan yang dipelajari. Senyumnya manis, namun bagi Annette, senyum itu terasa seperti bisa menyayat kulitnya.
"Adikku sayang, suara teriakanmu terdengar sampai ke lorong. Apa kau sedang mencoba menarik perhatian seluruh penghuni rumah di pagi buta begini?" Antoinette berdiri di ujung tempat tidur, melipat tangannya dengan gaya meremehkan yang halus.
Annette merasakan gelombang mual yang hebat. Inilah wanita yang telah memfitnahnya. Wanita yang berdiri di barisan depan saat kepala Annette diletakkan di bawah pisau algojo, sambil berpura-pura menyeka air mata buaya dengan saputangan berhias renda.
"Antoinette," ucap Annette pelan. Nama itu terasa pahit di lidahnya.
"Kau terlihat sangat berantakan, Annette. Apa kau sakit? Ataukah kau terlalu memikirkan balai dansa akhir pekan nanti?" Antoinette mendekat, jemarinya yang lentik mencoba menyentuh kening Annette, namun Annette segera menepisnya.
"Jangan sentuh aku," desis Annette.
Antoinette tertegun sejenak, matanya berkilat karena terkejut sebelum kembali ke ekspresi lembutnya yang palsu. "Astaga, kasar sekali. Aku hanya khawatir. Alaric akan datang siang ini, dan aku tidak ingin dia melihat calon tunangannya dalam kondisi menyedihkan seperti ini."
"Alaric akan datang?" Annette memaksakan sebuah senyuman kecil yang tidak mencapai matanya. Ah, Alaric. Pria yang berdiri diam saat aku memohon keadilan.
"Tentu saja. Dia membawakan bunga lili favoritmu. Atau setidaknya, itu yang dia katakan padaku kemarin saat kami bertemu di taman kota secara tidak sengaja," kata Antoinette dengan nada yang sengaja dibuat misterius.
"Tentu, pertemuan yang tidak disengaja," sahut Annette dingin. "Bukankah semua hal yang kau lakukan selalu terlihat tidak disengaja, Kakak?"
Antoinette menyipitkan mata. "Ada yang aneh denganmu hari ini. Kau biasanya akan tersipu malu setiap kali aku menyebut nama Alaric. Apakah kau sedang mencoba memainkan peran baru? Menjadi wanita pemberani?"
Annette perlahan turun dari tempat tidur. Ia berdiri tegak, membiarkan gaun tidurnya yang tipis menjuntai di lantai. Meskipun ia lebih pendek beberapa senti dari kakaknya, kehadirannya saat ini terasa jauh lebih mengintimidasi.
"Bukan peran baru, Antoinette. Hanya saja, aku baru menyadari bahwa ada banyak hal yang harus aku selesaikan. Dan aku tidak punya waktu untuk mendengarkan bualanmu tentang pertemuan tidak sengaja dengan tunangan orang lain."
"Beraninya kau—" Antoinette memulai dengan nada tajam, namun ia segera menahan diri saat melihat Martha masih di sana. Ia kembali memasang wajah manisnya. "Baiklah. Mungkin kau hanya butuh udara segar. Aku akan menunggu di bawah bersama Alaric nanti. Pastikan kau memakai sesuatu yang... tidak memalukan."
Setelah Antoinette keluar dan menutup pintu dengan dentuman kecil, Annette segera berpaling ke arah Martha.
"Martha, aku butuh kau melakukan sesuatu untukku. Dan jangan tanyakan alasannya."
"Tentu saja, Nona. Apa pun itu."
"Aku ingin kau pergi ke gudang tua di sayap barat. Di sana ada sebuah peti kayu yang tertutup debu, milik mendiang nenekku. Cari sebuah buku dengan sampul kulit berwarna hitam pekat tanpa judul. Bawa kemari tanpa ada seorang pun yang melihat, termasuk Antoinette."
Martha mengangguk patuh, meski wajahnya menunjukkan kebingungan. Setelah pelayan itu pergi, Annette melangkah menuju jendela yang menghadap ke taman yang luas. Ia bisa melihat Antoinette di bawah sana, sedang memerintahkan tukang kebun untuk memetik bunga, bersikap seolah dialah nyonya di rumah ini.
Annette mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Ingatan tentang dinginnya logam di lehernya masih terasa begitu nyata. Setiap tarikan napasnya sekarang adalah utang yang harus dibayar oleh mereka yang telah menghancurkannya.
"Kau pikir aku masih gadis naif yang bisa kau setir, Antoinette?" gumamnya pada kaca jendela yang berembun. "Di kehidupan ini, akulah yang akan memegang talinya. Dan kau yang akan merasakan bagaimana rasanya tercekik pelan-pelan."
Setengah jam kemudian, Martha kembali dengan napas tersengal. Ia mendekap sebuah benda yang dibungkus kain beludru tua.
"Ini yang Anda cari, Nona? Buku ini sangat kotor, saya harus menggali di bawah tumpukan permadani tua."
Annette mengambil bungkusan itu dengan tangan gemetar. Ia membuka kainnya, menyingkap buku kuno yang permukaannya terasa sedingin es. Di kehidupan sebelumnya, ia pernah menemukan buku ini namun menganggapnya hanya tumpukan kertas tua yang membosankan. Ia tidak pernah tahu bahwa buku ini berisi catatan rahasia tentang aliran dana gelap keluarga bangsawan dan koneksi rahasia yang bisa menjatuhkan takhta.
Ia membuka halaman pertama. Ada aroma kayu cendana dan debu yang menyeruak. Di sana, tertulis nama-nama orang yang di masa depan akan menjadi pengkhianat negara.
"Nona? Anda baik-baik saja?" Martha bertanya, merasa cemas melihat senyum aneh yang mengembang di bibir Annette.
"Aku sangat baik, Martha," jawab Annette tanpa mengalihkan pandangan dari buku itu. "Bahkan, aku merasa belum pernah sehidup ini sebelumnya."
Annette menutup buku itu dengan suara debuman yang mantap. Ia tahu langkah pertamanya harus sangat hati-hati. Alaric akan datang siang ini, dan ia harus memberikan sambutan yang tidak akan pernah dilupakan oleh pria itu.
"Siapkan gaun hitamku, Martha. Yang memiliki kerah tinggi dari renda."
"Hitam, Nona? Tapi Lord Alaric sangat menyukai Anda dalam warna merah muda atau putih."
Annette menatap Martha dengan tatapan yang membuat pelayan itu terdiam seketika. "Merah muda adalah untuk gadis yang sedang jatuh cinta. Aku ingin dia tahu bahwa hari ini, dia sedang berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih berbahaya."
Annette membelai sampul buku hitam itu. Senjata pertamanya sudah ada di tangan. Sekarang, saatnya menyusun bidak-bidak di atas papan catur yang akan menghancurkan Antoinette dan seluruh dunianya.
Di luar, suara kereta kuda mulai terdengar mendekat ke gerbang depan. Lord Alaric telah tiba.
Annette berdiri di depan cermin sekali lagi, memperbaiki tatanan rambutnya dengan gerakan yang sangat tenang. Ia tidak lagi melihat seorang korban. Ia melihat seorang pemburu yang siap menerkam.
"Mari kita mulai permainannya, Kakak tersayang," bisiknya tepat saat ketukan keras terdengar di pintunya.
