Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6

Lady pulang dengan wajah tak karuan. Hidung merah, mata sembab, dan bekas air mata di sana-sini. Beruntung saat Lady sampai di rumah, keluarganya masih belum datang dari acara jadi Lady tidak perlu mencari-cari alasan. Sampai di kamar, Lady langsung mengunci kamar dan mengempaskan tubuh di tengah ranjang dengan posisi telungkup. Air mata kembali keluar dan meningkat.

Lady memaksakan kakinya melangkah meninggalkan tempatnya berdiri memandangi Seno dan Asti perempuan yang beberapa kali ia lihat bersama Seno. Lady berjalan dengan kepala tegak seolah tak terpengaruh dengan apa yang dilihatnya. Ia tahan buliran bening yang ingin meluruh dari sudut mata, ia tidak ingin tampak lemah di hadapan orang-orang. Ia kuat dan harus kuat. Ini pilihannya.

Jika dihitung bukan kali ini saja ia memergoki mereka tapi Lady diam saja. Selama ini ia menutup mata juga telinga dari laporan Felly, sahabatnya itu sudah meminta dirinya untuk melepaskan Seno jika pria tersebut hanya menorehkan luka untuknya.

Jika ada yang bertanya apakah dia sakit hati? Jelas sekali. Siapa yang tidak akan sakit jika melihat kekasihnya lebih peduli dengan wanita lain, sedangkan dirinya tak lelaki itu hiraukan. Berkali-kali Seno melukai dirinya tapi ia tetap bertahan. Mungkin benar kata Felly, Seno hanya menerima karena balas budi bukan karena mencintai dirinya. Lady bukannya diam saja tidak berusaha membuat Seno menatap dirinya, ia sudah melakukan berbagai cara tetapi begitu sulit mendapatkan secuil cinta darinya

Lady belajar semua keahlian yang memang wajib dimiliki seorang wanita padahal selama ini dirinya terbiasa dilayani, terbiasa meminta namun demi Seno ia rela jari tangannya teriris pisau, rela kulit melepuh terkena cipratan minyak panas. Mencuci baju dan piring, bahkan menyapu. Ia tidak ingin mempermalukan Seno kelak, rupanya itu belum cukup untuk pria itu menolehnya.

Perempuan itu masuk ke toilet wanita kemudian masuk ke salah satu bilik dalam toilet. Ia duduk di kloset menyandarkan punggung ke dinding. Lady memejamkan mata menghalau air mata yang akan turun. Sekuat apapun ia menahan akhirnya menetes juga. Isakan kecil itu membesar seiring semakin banyaknya air mata yang berderai di pipi.

Ia pukuli dada yang terasa menyesakkan. Benar-benar sakit seakan jantungnya dihujam pisau tajam, setelahnya dicabut secara perlahan. Tubuh perempuan itu bergetar hebat, tak sanggup menahan luapan emosi dari dalam dirinya. Ya Tuhan, mengapa Engkau hadirkan rasa ini jika hanya untuk memberinya luka? Kenapa tidak Kau ambil saja rasa ini hingga dirinya terbebas dari pesakitan ini.

***

Sudah lebih dari sepekan sejak kejadian itu Lady bersikap biasa saja, tidak berusaha mengungkitnya atau menanyakan lebih lanjut pada Seno. Pria di sampingnya ini juga tidak terlihat berusaha untuk menjelaskan, jadi tak ada perlunya bertanya. Tanpa banyak bicara Seno melajukan mobil milik Lady ke tempat biasa. Keadaan dalam mobil pun hening mereka saling diam.

Seno melirik Lady melalui ekor mata. Wanita itu tampak biasa saja tidak terpengaruh kejadian kemarin. Sudah sepekan tapi kenapa perempuan itu tak bertanya padanya. Apakah akhirnya Lady

paham jika dipikiran Seno, Asti lebih besar ketimbang dirinya.

"Bang, udah tahu siapa aja yang mau Abang undang ke acara pertunangan? Terus baju ibu sama adek-adek gimana, pas kan?" tanya Lady dengan sedikit menoleh ke arah Seno.

"Belum. Kalau bajunya pas semua."

"Cepat, Bang, buat daftarnya kurang dua minggu loh acaranya, jangan terlalu mepet juga nanti mereka ada acara lain jadi nggak bisa datang," sambung Lady. Perempuan itu kemudian memperhatikan kembali layar handphonenya.

"Iya."

"Nanti nggak usah jemput dulu aku mau pergi sama tementemen. Kalau mau pulang baru aku kabari, ya." Lady mengubah posisi duduknya menghadap Seno, memperhatikan pria itu. "Oh ya, Bang. Kenal sama Mbak Asti udah lama, ya?"

Seno menolehnya sebentar kemudian memfokuskan perhatian ke jalan. "Iya, kita satu SMA dan satu kelas."

"Pantes kalian kelihatan deket."

"Ya, kami sangat dekat. Dia cinta pertamaku, tapi belum sempat aku bilang cinta dia sudah pergi lebih dulu ke kota lain untuk kuliah." Tanpa sadar Seno menceritakan pada Lady apa yang dirasakannya.

Apa pria itu tidak sadar jika ucapannya menyakiti dirinya? Kenapa sakit seperti ini mendengar laki-laki yang dicintainya menceritakan cinta pertamanya apalagi wanita itu hadir diantara mereka. Apakah Seno masih memiliki perasaan tersebut? Akankah dia harus bersaing dengan Asti?

Dengan menguatkan hatinya lady kembali bertanya, "Apa sampai sekarang Abang ... Eum ... Masih punya perasaan sama Mbak Asti?"

"Apa?"

"Eh? Nggak apa-apa, kok."

Lady menggeleng kemudian menggeser duduknya merapat ke pintu mobil, membuang pandangan ke luar jendela memperhatikan jalanan yang ia lalui. Bukan tidak mungkin perasaan kedua orang itu kembali tumbuh jika ditilik dari kedekatan keduanya. Apakah ini akhir dari perjuangannya mendapatkan Seno? Haruskah ia melepasnya disaat tidak lebih dari dua minggu Lady bisa mengikat pria itu? Kenapa dirinya harus mencintai Seno sedalam ini atau mungkinkah ini hanya obsesi semata?

Pria itu kembali melirik Lady lewat ekor matanya yang termenung sejak pertanyaannya tidak Seno jawab. Bukannya dia tak mendengar apa yang ditanyakan Lady, hanya saja ia tak ingin menjawabnya saat ini. Itu bukanlah urusan perempuan tersebut jadi Seno tidak ingin Lady mengetahuinya.

***

"Dy, bareng aku aja. Ini udah malam loh, Seno lagi ada tugas kali dari Abang kamu." Felly duduk di samping Lady menemani gadis itu menunggu Seno.

"Sebentar lagi ya, Fell. Ini ponselnya nggak diangkat-angkat," pinta Lady agar Felly mau bersabar sedikit lagi. Sudah beberapa kali ia menelepon Seno tapi tidak ada jawaban.

"Lima belas menit lagi, ok?"

Lady mengangguk. Ia terus mencoba menghubungi Seno handphone itu aktif dan tersambung tapi tak diangkat. "Antar aku ke coffe shop-nya aja gimana? Padahal tadi pagi aku udah bilang sama dia loh," ucap Lady pelan. Kenapa jantungnya berdetak tak keruan ya? Ada apa ini? Perasaannya tak tenang.

Lady di belakangnya.

Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Felly mengarahkan mobil tersebut ke Jakarta Selatan tempat kafe Seno berdiri. Tak perlu butuh waktu lama mereka sampai di tempat tujuan. Felly menunggu dan akan pergi jika Lady yakin Seno bisa mengantarnya.

Perempuan itu turun lalu masuk ke dalam kafe itu. Sampai saat ini belum ada satu karyawan pun yang mengetahui jika dirinya kekasih Seno, karena pria itu selalu melarang jika ia ingin ikut. Lady layaknya pengunjung biasa, ia mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan tersebut dan betapa terkejutnya saat matanya menangkap sosok yang dikenalnya.

Di sudut ruangan, duduk di sofa pojok yang nyaman Seno dan perempuan itu sedang bersenda gurau. Kaki Lady seperti jelly lemas tak bertulang. Ia menggapai kursi di sebelahnya kemudian duduk agar dirinya tak terjatuh. Lama ia menyaksikan dua insan itu. Tidak jarang Seno mengusap rambut Asti, tersenyum manis, membersihkan sudut bibir maupun pipi Asti dari kotoran. Untuk kesekian kalinya Seno melupakan dirinya. Menorehkan luka dalam dirinya.

Rupanya Tuhan kali ini ikut campur dalam hal percintaannya, menunjukkan siapa Seno, memberinya jawaban untuk semua usahanya. Memberi pilihan bertahan atau melepas, menegaskan bahwa pria itu bukan terbaik untuknya. Lady mencoba lagi menelepon Seno dan kali ini pria tersebut memutuskan untuk menerima panggilan darinya.

"Bang, jemput aku di tempat biasa, ya?" Lady berusaha mempertahankan suaranya dari getaran tangis yang ia tahan.

"Aduh maaf, Dy, aku nggak bisa. Aku lupa kasih tahu kamu kalau aku lagi antar ibu ke rumah saudara."

"Ohh, ya sudah aku minta jemput Bang Eru aja. Malem Bang, hati-hati dijalan ya."

Lady menutup sambungan telepon setelah mendapat jawaban dari Seno. Dengan tangan gemetar dan mata memanas karena air mata, Lady memotret Seno dan Asti. Tidak hanya satu foto yang diambil tapi beberapa. Apakah karena ini jantung tidak keruan dan perasaannya tidak nyaman. Sepertinya Tuhan menuntun kaki kemari untuk membuka matanya.

Dengan masih duduk di tempatnya, Lady mengirimkan fotofoto itu lalu berdiri dan berjalan keluar. Terlihat Seno membuka handphonenya dan mencari-cari sosok perempuan itu, sampai matanya menangkap siluet tubuh Lady di pintu keluar. Lady mempercepat langkahnya kemudian sedikit berlari ke mobil Felly dan menyuruh Felly segera menjalankan mobilnya. Meski bingung dan kaget, Felly dengan cepat mengeluarkan mobil dari parkiran kemudian melesatkan mobil ke jalanan.

Tbc.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel