Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7

Pagi ini Lady baru kembali dari rumah Felly setelah dua hari menginap di tempat sahabatnya itu. Ia tidak mungkin pulang dalam keadaan tak keruan. Dalam perjalanan pulang dari kafe Seno, Lady larut dalam tangisnya. Kali ini pertahanannya jebol di depan temannya, jika sebelumnya ia bersikap biasa saja, tapi tidak kali ini. Hatinya benar-benar sakit seperti disayat-sayat.

Sepenting itukah perempuan itu sampai Seno harus berbohong padanya, atau memang selama ini hanya Asti yang menguasai kekasihnya hingga Lady seolah tak terlihat. Sebesar apapun dia menyiapkan hatinya, tapi tak urung juga dirinya terluka.

Lady masuk ke rumah setelah mengucapkan salam dan tanpa mengatakan apa-apa, dia duduk di sebelah mamanya sedangkan Seno di seberangnya. Ia mengambil makanan yang tersedia dan memakannya tanpa banyak kata, bahkan melihat Seno saja hanya sebentar.

"Gimana persiapan pertunangannya, Dek?" tanya Elen setelah menghabiskan sarapannya.

"Lancar, Ma."

"Undangannya udah disebar? Terus baju buat Bu Mila juga adik-adiknya Seno udah?" tanya Elen lagi.

"Udah kalau baju, tapi undangannya masih belum disebar, Ma," jawab Lady tanpa melihat Seno.

"Loh kok belum disebar? Kurang beberapa hari lagi loh, Dek."

"Gimana mau nyebar, Ma. Bang Seno aja belum kasih daftar nama siapa aja yang mau diundang," jawab Lady.

Eru menoleh kearah Seno. "Kenapa, No?"

"Maaf, Pak, saya kemarin belum sempat karena menyelesaikan tugas dari Pak Hendy," jawab Seno dengan tegas. Meskipun dirinya dan Lady berhubungan tapi kepada Eru dia tetap hormat, bagaimana pun dia orang yang patut ia hormati.

"Sempatkan, No. Apa perlu aku bicara dengan Hendy?" tawar Eru.

"Tidak perlu, Pak."

"Aku ikut, Dek." Arumi berdiri dari duduknya. "Ma, Pa Arum ke atas dulu ya," pamit Arumi. Prabu dan Elen mengangguk pelan kemudian melanjutkan makannya.

"Hon, hati-hati naiknya."

"Iya, Mas," jawab Arumi lalu pergi menyusul Lady yang sudah berdiri di tengah tangga.

Lady berjalan pelan di samping Arumi, menyamakan langkahnya mengiringi kakak iparnya yang sedang hamil itu. Sampai di lantai dua, Lady yang ingin masuk ke kamarnya, ditarik dengan lembut oleh Arumi ke sofa depan televisi. Lady menurut saja, tak ingin mengelak. Ia lelah bukan hanya tubuh tapi juga pikirannya.

"Dek, Mbak boleh tanya?" Dengan ragu-ragu Arumi memberanikan dirinya bertanya.

Perempuan itu mengangguk. "Apa?"

"Abangmu cerita, dia merasa Seno cuma bisa sakiti kamu aja," ucap Arumi lembut. "Kamu yakin masih mau terusin pertunangan ini? Kalau Seno cuma kasih kamu luka, Mbak mohon jangan terusin. Mbak nggak mau lihat kamu terluka terus menerus, Dek." Arumi menggenggam tangan Lady di pangkuannya.

Mereka saling tatap berbicara melalui isyarat mata. Lady memeluk Arumi erat mengeluarkan semua rasa sakit di hatinya. Dia sakit, dia terluka meskipun tidak terlihat maupun berdarah. Mengapa harus mencintai Seno begitu dalam jika sakit yang ia rasakan. Ibarat kertas putih yang digores tinta hitam dengan sekenanya, walaupun tinta itu hilang namun bekasnya masih terlihat.

Lady terus menumpahkan air matanya yang mungkin akan habis jika buatan manusia. Mengurai rasa sesak di dadanya, memecah bongkahan luka di dirinya. Meruntuhkan tekanan di hatinya. Mengapa begitu sukar menggapai Seno dalam hidupnya. Haruskah Lady menyerah?

"Dy, harus gimana, Mbak? Dy cinta dia biarpun luka yang Dy dapat. Dy nggak yakin bisa melepasnya, dunia Dy bisa hancur, Mbak," ratapnya dengan pilu dan memeluk Arumi.

Arumi mengelus punggung Lady dengan lembut dan berulang-ulang sampai tubuh perempuan itu berhenti bergetar. Arumi mengurai pelukannya menatap wajah adik iparnya. "Mbak yakin kamu bisa, Dek. Kamu bisa lewati ini semua, kamu boleh cinta sama Seno tapi jangan sampai membuatmu bodoh. Lepaskan dia jika kamu terus terluka. Move on itu sulit tapi bukan hal yang mustahil.

Jika Seno bukan jodohmu Tuhan pasti akan mengirimkan laki-laki terbaik untukmu. Dan, bila Seno jodoh kamu bagaimana pun jalannya pasti akan kembali dalam genggamanmu. Sama seperti Mbak dulu, bagaimana rasanya saat tahu tunangan Mbak harus nikah sama sepupu sendiri. Mbak hancur, sakit juga marah tapi jika memang Ibra bukan jodoh Mbak, apa yang bisa dilakukan? Ternyata Tuhan menyiapkan obat untuk sakit yang Mbak rasakan. Kamu juga harus seperti itu, Dek. Yakinlah semua pasti ada kejutan manis diakhir rasa pahit."

Lady mengangguk kecil, menghapus air matanya dengan punggung tangannya. "Dy akan lepasin Seno, saat Dy yakin dia bukan milikku, Mbak. Tolong kasih Dy waktu sampai Dy yakin bisa melepasnya."

"Mbak yakin kamu bisa. Kamu layak dapatkan laki-laki yang lebih baik," lanjut Arumi seraya mengusap kepala Lady.

Lady kembali memeluk Arumi. "Makasih ya, Mbak. Sekarang Dy mau tidur, kepalaku agak sakit."

"Iya."

Lady meninggalkan Arumi. Perempuan itu merebahkan tubuhnya di tengah-tengah ranjang empunya. Matanya menatap langit-langit kamar yang berukiran bunga melingkar.

Siapkah dirinya melepas Seno? Sedangkan selama ini dirinya terbiasa dengan laki-laki itu. Kuatkan Lady jika harus melihat Seno dengan perempuan lain? Apakah selama ini tak ada setitik cinta untuknya? Tuhan jika dia bukan yang terbaik untuknya tolong jauhkan dia darinya, hilangkan perasaan ini untuk dia.

***

Sore itu setelah Lady dari EO untuk menyerah daftar tamu undangan, ia pergi ke rumah Seno menjemput Arimbi dan Sakha untuk diajak ke pusat perbelanjaan salah satu mall ternama di Jakarta. Bu Mila tidak ikut karena harus mengikuti pengajian disalah satu rumah warga. Dan di sinilah mereka bertiga di area bermain mall, Arimbi dan Sakha terlihat gembira, senyum mereka membuat Lady sedikit melupakan kesedihannya.

Sejak kejadian di kafe dan percakapan dengan Arumi, Lady berusaha mengurangi ketergantungannya pada Seno. Mencoba meyakinkan dirinya jika dia mampu bertahan meskipun tanpa lelaki itu. Ternyata perubahan kecil sikap Lady tak berpengaruh apa-apa pada Seno. Lady terlalu bodoh mengharapkan Seno peduli padanya, nyatanya tak ada satu pesan pun dari Laki-laki laki tersebut.

Di tempat lain, Seno menemani Asti datang ke acara pernikahan salah satu teman SMA mereka. Tadinya Lady minta untuk menemani dirinya juga kedua adiknya ke mall, tapi ia menolaknya karena pekerjaan harus segera selesai. Selepas Lady dan adiknya pergi, dia berganti pakaian kemudian pergi menjemput Asti.

Selama acara berlangsung Asti tidak pernah melepaskan tangannya dari lengan Seno. Asti mengapit lengan kekar itu dengan erat menunjukkan seolah pria di sampingnya adalah miliknya. Meskipun belum terucap kata cinta dari bibir Seno, Asti yakin jika pria itu mempunyai perasaan lebih padanya.

Asti yang dulu memang menyimpan rasa untuk Seno akan dengan senang hati menerima pria itu. Meski hubungan mereka masih sebatas teman, tapi Asti yakin tidak lama lagi status pertemanan mereka berubah menjadi kekasih. Sepanjang acara tidak jarang teman-teman mereka bertanya apakah kini mereka berpasangan, Asti hanya menjawab dengan senyuman yang mungkin saja disimpulkan lain oleh teman-temannya.

Bagaimana tidak akan menyimpulkan bahwa mereka pasangan kekasih, jika perlakuan Seno terhadap Asti layaknya seorang kekasih. Seno benar-benar melupakan Lady yang notabene calon tunangannya.

Tbc.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel