Bab 5
Baca yuk jangan lupa komen dan tap bintang. Gomawo :)
****
Seno pulang ke rumah setelah mengantarkan Lady. Seharian ini dia berada di lapangan terus
mengawal kolega bisnis bos-nya, ia juga meninjau coffe shop miliknya. Dia memiliki beberapa cabang coffe shop di kota ini. Modalnya ia dapat dari menyisihkan sebagian dari gaji. Dengan dua orang temannya, Seno membangun usaha tersebut, dia sebagai investor sedangkan dua temannya pelaksana. Awal berdiri coffe shop tersebut sepi sampai lebih dari setengah tahun. Imron juga Trio sempat putus asa, tapi Seno berhasil meyakinkan mereka untuk terus bertahan, bahkan Seno merelakan gajinya untuk menggaji dua temannya.
Perjuangan mereka tidak sia-sia, sedikit demi sedikit pengunjung mulai berdatangan dan sekarang semakin ramai setiap harinya. Bosnya juga sempat datang ke coffe shop miliknya dan Eru benar-benar bangga padanya bahwa dirinya memiliki keinginan untuk maju. Eru menawarkan bantuan jika ia mengalami kesulitan, tetapi secara halus Seno tolak, sudah terlalu banyak bantuan yang pria itu berikan padanya dan Seno tak tahu bagaimana harus membalasnya.
Seno tengah berdiri di balkon kamarnya, dua tangannya ia tumpukan dan menggenggam erat pagar setinggi perutnya. Pandangan matanya menerawang jauh menyaksikan gemerlap lampu kota. Jika dilihat dari kejauhan tampak indah tapi siapa sangka dibalik itu semua tersimpan cerita tersendiri.
Sama halnya dengan dia. Jika teman-temannya melihat dia sekarang sudah hidup mapan, lain halnya dengan hatinya. Hatinya belum mapan. Dulu Seno memang sempat merasakan perasaan yang berbeda saat melihat adik dari bos-nya. Di matanya Lady begitu menarik, memikat hingga dalam benaknya terus terbayang, tapi ia tidak tahu apakah yang ia rasakan itu cinta atau hanya sekedar kekagumannya saja.
Pribadi Lady yang low-profile membuat Seno semakin menyimpan rasa di hatinya tapi dia tidak berani menaruh harapan besar, karena itu ia sedikit demi sedikit mengikis rasa tersebut. Dan memang benar seperti dugaannya rasa yang ia miliki hanyalah rasa kagum. Terbukti saat dia bertemu kembali dengan Asti, rasa yang ia punyai menguap lalu tertutup oleh perasaan cintanya pada Asti.
Asti yang kalem, sabar, dan lembut membuat dirinya cepat memiliki perasaan suka, ditambah lagi perempuan itu cinta pertamanya. Meskipun belum sampai menjalin kasih tapi Seno yakin mereka mempunyai perasaan yang sama.
Bunyi nyaring handphone miliknya di atas kasur mengalihkan perhatiannya dari pikirannya. Ia masuk lalu mengambil ponselnya itu. Dilihatnya nama si penelepon. "Ya, Dy. Ada apa?"
"Bang bisa temani aku keluar ada yang ingin aku beli. Di rumah lagi nggak ada orang, jadi nggak ada yang antar."
Seno mendesah pelan. "Maaf, Dy. Aku nggak bisa, capek banget hari ini."
"Yahh ...." Terdengar nada kekecewaan dalam suara Lady. "Ya udah nggak apa-apa, aku pergi sendiri aja. Kamu istirahat gih jangan kecapekan nanti sakit lagi. Malem Bang, mimpiin Lady ya hehe ...."
Sambungan telepon itu diputus dari seberang. Tebersit rasa bersalah dalam dirinya untuk perempuan itu, mungkin dia pria jahat yang dengan sengaja bermain hati, padahal jelasjelas dirinya sudah memiliki kekasih. Pikirannya pecah antara Asti juga Lady.
Kembali ponselnya berdering, kali ini Asti yang meneleponnya. "Ya, As."
"...."
"Bisa. Tunggu aku di situ jangan ke mana-mana. Aku ke sana." Secepat kilat Seno menyambar kemeja di lemari, lalu mengambil kunci mobil. Dengan tergesa-gesa Seno lari menuruni anak tangga dua trap sekaligus. mila yang ada sedang menonton televisi terlihat kaget dengan ulah Seno.
"No. Ada apa?" tanya ibunya.
"Eh itu, Bu. Seno mau jemput Asti di kantornya. Seno pergi dulu ya, Bu. Assalamualaikum." Seno mengambil tangan ibunya kemudian mencium punggung tangan ibunya lalu bergegas pergi.
Ibunya memandang kepergian Seno dengan hati bertanyatanya. Sebenarnya ada apa antara Seno dengan Asti, kenapa perhatian anaknya lebih besar pada temannya itu daripada calon tunangannya? Mila berdoa dalam hati semoga Seno tidak salah jalan yang akan dia sesali nantinya. Bagi Mila, Lady perempuan baik, santun dan mau menerima keadaan Seno apa adanya meskipun dia berasal dari keluarga berada. Mila sudah merasa cocok dengan Lady walaupun Asti juga sama baiknya.
***
Mobil hitam mengkilap yang biasa untuk menjemput Lady, berhenti tepat di depan pintu gerbang kantor milik Eru. Asti adalah karyawan di perusahaan milik bos-nya, di kantor inilah pertama kali ia bertemu dengan Asti setelah beberapa tahun tidak bertemu.
Perempuan itu terlihat duduk di pos satpam, Seno turun melambaikan tangan pada Asti kemudian masuk kembali saat Asti berjalan ke arah pintu mobil satunya. Dengan cepat Asti menutup pintu mobil saat tubuhnya menyentuh jok mobil yang nyaman. Ia menoleh ke arah Seno dengan senyum terbaik dan dibalas oleh Seno. Pria itu melajukan mobilnya meninggalkan gedung kantor itu. Mereka tidak langsung pulang, tapi menuju salah satu departemen store ternama di kota Jakarta yang tidak jauh tempatnya dari kantor Asti.
Setelah berputar-putar mencari barang yang wanita itu inginkan, mereka masuk ke salah satu restoran. Mereka memilih meja di sudut ruangan, pelayan menghampiri mereka dan mencatat pesanan mereka.
"No, kalau boleh tahu perempuan waktu itu siapa?" tanya Asti begitu pelayanan pergi setelah mengantarkan pesanan mereka.
"Dia adik temanku," jawab Seno cepat. Setan dari mana yang merasuki dirinya sampai berani berbohong.
"Oh, sepertinya dia deket banget sama kamu, ya," sambung Asti disela-sela makannya.
"Iya, kami sudah kenal lama."
"Eemm ... No, sebenarnya kamu mau bilang apa waktu itu?" Asti tidak bisa menahan lagi rasa ingin tahunya. Andai adik dari teman Seno tidak datang ia tak akan penasaran.
"Sebenarnya aku mau bilang kalau aku--"
Getaran di saku celananya Seno menghentikan ucapannya. Pria itu merogoh kantong celana, mengeluarkan handphonenya. Seno menghela napasnya mengetahui si penelepon. "Belum, baru mau rebahan tadi lagi ngobrol sama ibu. Kenapa?"
"Nggak apa-apa. Aku lagi di mall dan pasti salah lihat. Nggak mungkin kan Abang ada di dua tempat sekaligus."
Terdengar kekehan Lady dari seberang telepon. Seno mengedarkan pandangan, matanya menangkap sosok perempuan yang meneleponnya berdiri di pagar pembatas menghadap persis ke arahnya dengan pandangan yang tak bisa diartikan pria itu. Seno lupa jika tembok restoran ini terbuat dari kaca sehingga siapa saja bisa melihat ke dalam begitu juga sebaliknya.
"Dy ...." Hanya itu yang dapat Seno ucapkan. Suaranya hilang dan terhenti di tenggorokan.
"Hati-hati di jalan, Bang." Tanpa menunggu dirinya mendapat jawaban sambungan telepon terputus. Lady menatapnya dalam kemudian berbalik meninggalkan tempatnya. Perempuan itu sendiri, tidak ada Felly yang biasanya menemani wanita tersebut ke mana-mana.
Seno menatap punggung Lady sampai hilang ditelan keramaian. Disimpannya benda pipih itu ke dalam saku celananya. Menatap makanan yang tersaji di depannya. Meskipun tadi ia sangat menginginkan makanan itu, sekarang nafsunya hilang tak berbekas.
"No, siapa?" tanya Asti ingin tahu.
"Hah? Apa, As?" dengan tergagap Seno menyahuti Asti.
"Siapa yang telepon? Kok kamu kelihatan bingung gitu."
"Oh, bukan siapa-siapa. Lanjut deh makannya abis itu aku antar pulang," kilah Seno.
Setelah makanan mereka habis dan Seno membayarnya, dia mengantar Asti pulang. Ia menolak saat wanita itu menawarinya untuk mampir. Pikiran Seno sedang tidak baik untuk sekedar basa-basi dengan Asti. Pikirannya tertuju pada Lady. Ia sudah menyakiti perempuan tersebut, perempuan yang sebentar lagi menjadi tunangannya. Ia mengusap kasar wajahnya, Seno tak bisa berpikir.
Tbc.
