Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4

Jangan lupa komen dan kasih bintang ya.

*****

"Abang!"

Seno menoleh ke arah sumber suara yang sangat ia kenal, ia mendesah pelan. Lady. Perempuan yang memakai dress selutut merah jambu dengan sandal medium heels itu menghampiri dirinya. Sial! Ini bukan harapannya bertemu dengan kekasih yang selama satu tahun ia terima karena bosnya.

Ia tak berharap bertemu Lady saat dirinya bersama Asti. Seno tak ingin Asti kenapa-kenapa karena berurusan dengan Lady. Pria itu kembali menatap Asti untuk memberinya sedikit waktu karena ucapannya tersela oleh adik bos-nya.

Dengan anggun Lady berjalan pada Seno, dia tak tahu siapa yang bersama dengan kekasih itu. Perempuan berparas ayu dengan warna kulit kuning langsat, rambut sebahu itu terlihat menatap Seno dengan pandangan rasa mendamba. Lady tidak menyukai itu tapi dia tak bisa melarangnya.

Sepertinya bukan hanya perempuan itu yang memiliki rasa, Seno pun sebaliknya. Pria tersebut terlihat memiliki pancaran cinta untuk wanita di hadapannya. Lady bukan perempuan bodoh yang tak bisa menyimpulkan arti dari tatapan mata mereka.

Terasa sakit hati Lady melihatnya, mengapa Seno sekejam itu pada dirinya. Jika pria tersebut menyimpan cinta untuk yang lain, mengapa harus memberi harapan palsu yang pada akhirnya melukai dirinya. Tanpa perlu diperjelas, keduanya layaknya memiliki sebuah ikatan dan itu terlihat dari gestur tubuh mereka. Sayangnya Lady tak tahu jenis hubungan seperti apa yang dimiliki antara Seno dan wanita tersebut.

"Abang kok nggak bilang kalau mau ke sini, kan aku bisa ikut sekalian, Bang," ujar Lady dengan manjanya saat tubuhnya duduk di kursi sebelah Seno dengan tangan melingkar di lengan pria itu.

Raut wajah Seno kembali kaku dan datar seolah melihat orang yang belum juga ia cintai. "Dy, jangan seperti ini." Tangan Seno berusaha melepaskan belitan tangan Lady, tapi perempuan itu tidak melepaskannya. "Dy, lepas ada. Temen aku."

Lady mendengkus dan melepaskan lengan Seno, kemudian berpura-pura melihat ke arah yang di maksud pria itu lalu kembali menoleh pada Seno. "Abang nggak mau kenalin kita?"

Sebenarnya enggan dia mengenalkan mereka tapi apa boleh buat akan terlihat aneh. "Dy, ini Asti. As, ini Lady," ujar Seno. Ini keadaan yang tidak Seno suka berada di antara dua perempuan yang berhubungan dengannya.

Lady dan Asti saling menjabat tangan. Asti kembali melanjutkan menyantap makanan yang sudah pelayan antarkan begitu juga Seno, sedangkan Lady diam lebih memfokuskan perhatiannya pada layar ponselnya membalas pesan dari customer yang masuk. Tidak satu pun dari mereka berbicara, atmosfer sekitar mereka terasa panas, dan tegang.

"Bang, abis ini antar ke butik bisa, kan? Tadi aku nebeng Felly eh dia pulang duluan," pinta Lady yang memecah keheningan di meja mereka.

"Tapi aku masih ada urusan, Dy."

Lady menatapnya. "Sama siapa? Mbak Asti? Apa sama yang lain? Abang ke arah mana?" tanya Lady beruntun.

Seno bingung ingin menjawab apa, tidak mungkin ia bilang jika masih ada yang perlu dia bicarakan dengan Asti. Namun jika membiarkan Lady pulang sendiri dan kalau bos-nya tahu maka ...

"Bang. Abang, dengar aku ngomong nggak, sih?" tanya Lady dengan suara keras. Dirinya jengkel ditanya malah diam.

"Eehh ... Itu Dy aku ...."

Melihat gelagat Seno yang ragu-ragu membuatnya bertanya, "Kenapa? Nggak bisa, ya? Ya udah kalo gitu aku telepon Bang Eru aja." Dengan lincah jari-jari Lady menekan nomor telepon yang sudah sangat dihafalnya. Sambungan telepon aktif. Baru mengucap salam pada Eru, dengan cepat handphone Lady direbut Seno. Lady kaget, matanya mendelik tajam ke arah laki-laki di sebelahnya.

"Abang. Apa-apaan sih!" hardik Lady keras. "Nggak sopan!"

Seno mendesah lega ia masih sempat memutus sambungan telepon Lady dengan kakaknya, telat sedikit saja dia bisa bayangkan apa yang akan diterima. Bos-nya itu sangat protektif terhadap Lady. Kejadian gadis itu di culik oleh musuhnya membuat Eru memperketat penjagaan pada perempuan itu.

"Aku antar."

Dahi Lady berlipat heran mendengar ucapan Seno. "Katanya lagi ada urusan sekarang mau antar, gimana sih? Nggak usah takut, tenang aja. Aku nggak akan bilang apa-apa biar abangku marah. Aku juga nggak akan minta jemput di depan kok kalau Abang takut. Sekarang kembalikan handphone aku," pinta Lady. Tangan kanannya menengadah ke arah Seno agar mengembalikan benda pipih persegi panjang tersebut.

"Aku antar saja, Dy," ulang Seno kembali.

"Nggak usah, beresin aja urusan Abang. Sini ponselnya, aku pesan taksi online aja kalau Abang takut ketahuan. Cepet balikin handphone aku," pinta Lady tak sabar. Dia tidak bermaksud mengancam Seno dengan membawa-bawa nama abangnya, hanya saja jika pulang sendiri ada sedikit rasa takut menyusup dalam pikirannya.

Pria itu menatap Lady sebentar sebelum akhirnya memasukkan handphone perempuan itu pada saku celananya, Lady tak akan berani mengambilnya. Seno menoleh kembali pada Asti yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua dan meminta maaf jika ia harus pergi lebih dulu. Meskipun sedikit kecewa karena terganggu, yang bisa Asti lakukan hanya mengangguk mengiyakan.

Seno membayar tagihan makanan miliknya juga Asti, kemudian berjalan ke parkiran depan diikuti Lady di belakangnya. Pria itu mulai menyalakan mesin, saat perempuan berambut sepunggung tersebut sudah duduk nyaman di sebelahnya dengan wajah ditekuk. Mobil hitam itu meninggalkan parkiran dan berbaur dengan kendaraan yang lain membelah padatnya jalanan ibukota.

"Mbak Asti tadi siapa sih, Bang?" Bibir Lady tak tahan juga untuk tidak bertanya tentang Asti.

"Temen."

"Yakin?" selidik Lady. Ia tidak percaya, dalam pikirannya, Seno dan Asti bukan hanya sekedar teman, ada pancaran yang berbeda dari mata keduanya. Jika ditanya apakah Lady cemburu? Maka jawabannya adalah iya. Tatapan Seno untuk wanita itu adalah tatapan cinta yang tidak Lady dapatkan dari pria di sampingnya ini. Apakah karena perempuan itu, sampai saat ini Seno sulit menerima Lady dalam hidupnya? Dan itu menyakitkan untuknya. "Ohh," hanya itu tanggapan yang Lady berikan. "Oh ya, Bang, nanti sekalian fitting jas kamu untuk acara pertunangan kita, sama nanti titip sekalian punya ibu juga adek-adek ya."

Pria itu hanya mengangguk, dirinya tak bisa mundur lagi. Kebodohannya yang ia lakukan tak bisa diperbaiki lagi. Jika saja Seno dengan tegas menolak keinginan Lady, mungkin dia tak perlu terikat dengan perempuan di sebelahnya.

"Undangan udah selesai dicetak, orang EO-nya minta daftar tamu undangan. Abang mau undang siapa aja?" Lady mengubah posisi duduknya sedikit miring menghadap Seno yang tidak menggubrisnya dan fokus pada jalanan.

Pria di hadapannya ini bukanlah orang tampan juga tidak jelek, hanya saja ia memiliki sesuatu yang membuat seseorang untuk mendekat padanya. Dan, Lady salah satunya. Ia sendiri tidak tahu, apa yang membuatnya menginginkan Seno lebih dari pria-pria lainnya. Ini bukan sekedar obsesinya tapi karena dia benar-benar sudah jatuh hati pada Seno.

"Sudah sampai."

"Eh?" jawab Lady bingung.

"Makanya jangan melamun. Itu sudah sampai di butik." Seno menunjuk ke belakang Lady. Perempuan itu mengikuti arah yang di maksud Seno.

"Ohh." Lady melepas seat belt di tubuhnya lalu membuka pintu mobil dan bersiap turun, tapi ia kembali memutar tubuhnya pada Seno kemudian menengadahkan tangan ke arah Seno. Pria itu mengeluarkan ponsel Lady lalu meletakkan di atas tangga perempuan itu.

Perempuan itu merangsek maju mencium pipi Seno sekilas serta tersenyum manis, kemudian turun dari mobil dan masuk ke butiknya tanpa menunggu Seno mengikuti dirinya. Pria itu mengusap pipi bekas kecupan Lady. Mengapa ada desiran aneh di dadanya?

Tbc.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel