Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Membuat Mood Berantakan

"Wah, kamu hebat ya Ron, bisa punya perusahaan sebesar ini, dan ini ruangan kamu? gede banget, bagus lagi," ucap Aliya kala kini ia memasuki sebuah gedung bertingkat bersama Roni.

Pandangannya tak terhenti memandang tiap sudut ruangan megah ini. Ini adalah pertama kalinya Aliya saksikan tempat yang sama seperti tempat dimana para aktris atau aktor bersyuting ftv.

"Tapi maaf ya Al, aku cuma bisa bantu ini ke kamu."

"Ngga papa Ron, ini udah lebih dari cukup kok, kan kamu udah bantu aku banyak."

Ditengah tengah percakapannya, tiba tiba terdengar seseorang mengetuk pintu.

"Masuk," ucap Roni yang membuat pintu kini perlahan terbuka.

Tampak seorang wanita berjalan bak model memasuki ruangan, ternyata dia adalah Jesika. Pandangan Aliya tak terhenti memperhatikan betapa cantiknya wanita bertubuh ideal ini berpenampilan.

"Hem, Al kamu silahkan mulai kerja ya, kalau ada yang perlu ditanyain kamu temui Dian, dia senior kamu."

"Oh iya Ron, yaudah aku permisi ya," ucap Aliya yang kini meninggalkan tempat.

"Ada apa Jes?"

"Hay Ron, hem sebelumnya aku mau minta maaf, tapi apa ngga sebaiknya kita percepan pembangunan proyek kita Ron? Besok mungkin?" Ucap Jesika tiba tiba yang membuat Roni melebarkan mata.

"Besok? Bukankah kita udah menjadwalnya? Dan masih satu minggu lagi, kenapa tiba tiba kamu mau ajuin jadwalnya?" Tanya Roni pada Jesika yang datang dan mengutarakan semua niatnya, jika proyeknya ingin segera dijalankan.

"Iya Ron, tapi bukankah lebih cepat lebih baik?"

"Iya memang benar, tapi kerjaan saya ngga cuma ini Jes, masih banyak yang lainnya, jadi kalau kamu minta secepat ini dan majuin jadwal seenaknya sepertinya saya ngga bisa."

"Ron, jangan gitu dong. Aku ngga ada niat apa apa Ron, cuma... Papi aku lagi sakit, parah dan dia bilang dia pengen liat pembuatan hotel itu dimulai sebelum dia pergi," ucap Jesika yang membuat Roni terdiam.

Entah benar atau tidak alasan itu tapi nampaknya Jesika serius dengan ucapannya. Perlu berfikir keras untuk satu hal ini, selain harus menunda jadwal proyek yang lainnya, Roni juga harus menunda banyak semacamnya.

"Ron, aku mohon ya, ayolah bantu aku," rengek Jesika kembali yang membuat Roni benar benar bingung.

Mendengar Jesika yang terus memohon dan membawa nama orang tua membuat Roni tak tega untuk menolak, meski ia tak mengenal siapa orang tua Jesika, namun rasanya jika sudah membawa orang tua tak ada lagi yang bisa menolak.

"Yasudah besok kita ke Surabaya, kita cek lokasi dan tempat buat hotel itu," jawab Roni yang membuat Jesika kini tersenyum.

Perasaanya kian melayang setelah Roni kini mewujudkan keinginannya. Rasanya seperti mendapatkan bulan, bahagia tiada tara.

"Makasih banyak Ron."

••••

"Besok mas? Bukannya masih satu minggu lagi? Kenapa mendadak?"

"Iya itu jadwal sebelumnya, tapi tadi Jesika ke kantor dan bilang ingin dipercepat karena orang tuanya sakit parah dan mau lihat pembuatan hotel itu berjalan sebelum kepergiannya," jelas Roni yang membuat Zahra terdiam.

"Yaudah lah, kan emang lebih cepat lebih baik, kalau bisa besok kenapa harus nunggu seminggu yang akan datang?" sambar Fatimah yang tiba tiba datang bersama Roni dan Zahra diruang makan.

"Dan kamu jangan pernah mempersulit pekerjaan Roni dong, yang ngerjain kan dia bukan kamu, kenapa kamu banyak ngatur?"

Kembali ucapan pedasnya kini menghampiri, seakan menjadi lauk dalam piring dihidangan makan malamnya saat ini.

"Aku ngga ngatur bu, aku kan cuma tanya."

"Buat apa tanya tanya, ngga penting juga buat kamu, kamu juga ngga bisa bantu apa apa untuk Roni, jadi lebih baik diem deh."

"Tapi buk..."

"Udah udah, kenapa sih selalu hidangan seperti ini yang kalian sajikan? Bosan tau ngga."

"Istri kamu tuh, ngga berguna aja sok sokan berguna. Ngaca dong bisa kamu apa? Selama ini kalau bukan anak ibu yang kerja, kamu mana bisa makan?" ucap Fatimah dengan penuh kebencian.

Mendengar ucapan itu membuat mood Roni seketika berantakan, spontan ia beranjak dari kursinya dan dengan cepat meninggalkan tempat, meninggalkan makanan yang masih terlihat banyak dipiringnya, kepergian Roni membuat Zahra dan Fatimah kini memperhatikannya.

"Tuhkan semua gara gara kamu, jadi istri kok ngga bisa bikin tenang suami, bisa nya bikin ulah terus, ngga pernah ada benernya," ucap Fatimah yang juga berlalu dan membuat Zahra menggelengkan kepala.

Kembali ia mengehela nafas, ia tak habis fikir dengan ibu mertuanya itu, ada saja celah untuknya menyalahkan. Bahkan kebaikannya tak pernah terlihat sedikitpun, semua tertutup dengan satu kesalahannya.

Kini Zahra pun memasuki ruang kamarnya, ia berniat meminta maaf pada Roni, karena telah membuatnya tak nyaman. Namun langkah kebutnya kini memelan setelah ia dapati Roni yang kini sudah tertidur.

Pandangannya kini terus memperhatikan laki laki berwajah tampan itu berbaring dengan mata terpejam, ia merasa bersalah karena telah membuatnya hilang selera saat makan malam tadi, sampai sampai makanan yang belum habis sudah ia tinggal begitu saja.

"Aku minta maaf mas, udah buat kamu badmood," ucapnya setelah mendekat.

Namun sayang ucapannya tak lagi terdengar oleh laki laki bertubuh atletis yang sudah nyenyak tertidur itu.

Roni memang laki laki yang sangat tampan wajahnya sangat mempesona sekalipun ia sedang tertidur, tak heran jika banyak wanita diluar sana yang ingin memiliki Roni.

Tubuhnya kekar, berotot, tinggi, wajahnya tampan, karismatik, berdamage, sedikit cuek terhadap orang lain namun sangat perhatian pada orang disekiling nya, itu lah gambaran bagaimana sosok Roni.

Banyak orang yang bilang jika Roni adalah laki laki yang sempurna, namun ternyata ucapan itu salah, ia disempurnakan oleh Zahra, jika bukan Zahra istrinya mungkin saat ini cap sempurna itu tak lagi ia sandang.

Karena nyatanya Roni memiliki kekurangan, dan tak sesempurna yang orang orang bicarakan. ia tak dapat memiliki keturunan, Namun, kekurangan itu tak ada seorang pun yang mengetahuinya, hanya Allah, Zahra dan dokter kandungan yang tau akan hal ini.

"Bagus Jesika kamu berhasil membujuk Roni, ingat ya apa rencana kita, pokoknya tante serahin semuanya sama kamu, dan tante yakin setelah ini Roni pasti akan menjadi milikmu seutuhnya, karena tante udah males banget sama si Zahra itu," ucap Fatimah tengah malam melalui media ponselnya.

Ya dengan siapa lagi jika bukan dengan Jesika, ia kembali mengingatkan akan rencana yang harus dilakukan Jesika di Surabaya nanti, karena sepertinya ia akan lebih leluasa menjalankan rencananya itu ditempat yang jauh dari Zahra.

"Iya, tante tenang aja, aku udah siapin semuanya kok, dan mulai besok aku yakin Roni akan menjadi milikku," jawab Jesika dengan senyum licik.

••••

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel