Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Gara-Gara Iri Melihat Zahra Bahagia

Disebuah cafe, dibawah gemericik air hujan, kini Fatimah dan Jesika mengatur rencana untuk kembali menjauhkan Roni dengan Zahra. Tak pernah jera dan tak pernah bosan untuk melakukan hal itu, karna bagi mereka berpisahnya suami istri tersebut akan membuatnya bahagia.

"Jadi, mungkin kamu bisa percepat proyek kamu dengan Roni di Surabaya, dan disana kamu bisa jalani rencana kita ini," ucap Fatimah yang membuat Jesika kini tersenyum.

"Oke, aku akan jalani rencana ini dengan cantik, makasih ya tante, tante udah izinin Roni buat aku."

"Iya sayang, tante seneng kalau nanti kalian menikah."

Begitulah sepenggal kalimat yang diucapkan Jesika dan Fatimah.

••••

"Mas, kamu cobain deh kue buatan aku," ucap Zahra yang kini menaruh sepiring kue berwarna hijau dihadapan Roni.

"Oke, aku cobain ya."

"Hem, ini enak banget sayang," ujar Roni setelah merasakan rasa dari kue tersebut.

"Beneran mas?"

"Iya beneran. Kamu emang jagonya deh kalau masalah makanan, kamu pinter buat aku kenyang," tambah Roni yang membuat Zahra terkekeh.

Namun tiba tiba dreeet dreeet terdengar ponsel Roni berdering, dengan cepat ia meraih dari saku celananya.

Sedikit terdiam kala melihat nama Aliya menari nari dilayar ponselnya.

"Siapa mas?"

"Aliya," jawab Roni yang membuat ekspresi wajah Zahra seketika berubah.

"Assalamualikum Al."

"Walaikum salam, Ron maaf ya aku ganggu. Soalnya aku lagi bingung banget nih."

"Bingung kenapa?"

"Sehari ini aku coba cari kerjaan Ron, tapi ngga dapet."

"Kerjaan?" ucap Roni dengan melirik Zahra.

"Iya, apa kamu ada kerjaan buat aku Ron? Apa aja gitu aku mau kok."

"Sebenernya dikantor aku lagi butuh staf dapur, apa kamu mau?" ucap Roni yang membuat Aliya tersenyum dan tampak bahagia.

"Mau Ron, mau banget. Apa aku boleh kerja dikantor kamu?" tanya Aliya yang membuat Roni kini memperhatikan Zahra.

Tampaknya ia mencoba meminta izin pada Zahra. Setelah sebuah anggukan Zahra lakukan, kini Roni tersenyum dan berkata...

"Boleh kok Al, besok kamu langsung dateng aja ke kantor aku ya, nanti alamatnya aku shareloc."

"Makasih banyak ya Ron, makasih banyak."

"Iya sama sama."

Keakraban mereka masih sama seperti dulu, bahkan Aliya tak sungkan meminta tolong pada Roni, ya karena dulu apa pun yang menyangkut tentang Aliya Roni akan selalu tau, dan ia menjadi garda terdepan saat Aliya tertimpa masalah.

Sedikit membuat Zahra tertegun, pasalnya kini fikirannya tertuju pada hati Aliya, apakah perasaannya terhadap Roni masih sama seperti dulu? Masih sama seperti apa yang sering kali diceritakan Aliya beberapa belas tahun yang lalu padanya? Dan apakah saat itu Roni juga memiliki rasa yang sama dengan Aliya?

Entahlah, Zahra hanya berfikir, masalah dengan ibu mertuanya saja belum selasai, malah sekarang ada Aliya yang mungkin akan menyebabkan masalah baru.

"Sayang kamu kenapa?" Tanya Roni yang membuat lamunan Zahra terbuyar.

"Oh ngga papa kok mas."

"Oiya apa kamu ngga mau kenal sama Aliya? Orangnya baik tau, dulu waktu SMA aku bersahabat baik sama dia."

"Oya? Emang ada ya mas, laki laki dan perempuan yang hubungannya hanya sebatas persahabatan?"

"Ada, aku dan Aliya buktinya."

"Serius? Emang ngga ada perasaan lain gitu? waktu itu loh, saat dimana kalian tiap hari berdua."

"Perasaan? Engga ada. Aku menganggap Aliya ya sahabat, ngga ada perasaan apa apa, maksud kamu perasaan suka gitu? Engga sayang ngga ada perasaan itu dari aku untuk Aliya," jawab Roni yang membuat Zahra mengerutkan dahinya.

"Kalau emang bener, berarti aku sedikit aman dong, karena perasaan Aliya yang dulu ternyata bertepuk sebelah tangan," batin Zahra dengan bibir yang sedikit tersenyum.

"Dih, kenapa malah senyum senyum sendiri?" Tanya Roni yang membuat Zahra menggelengkan kepala.

"Gimana, mau ngga aku kenalin sama Aliya? biar kamu kenal sama dia dan aku ngga ngerasa ngga enak sama kamu, aku takut nanti malah kamu mikir yang ngga ngga."

"Engga usah mas, lain kali aja ya. Lagian aku percaya kok sama kamu, kamu ngga mungkinkan nyakitin aku."

"Engga mungkin dong, aku bakal jadi orang yang anti buat nyakitin kamu," jawab Roni yang membuat keduanya terkekeh.

Sementara Fatimah yang ternyata melihat kebersamaan Roni dan Zahra, ada canda dan tawa didalamnya, juga terlihat raut wajah bahagia pada keduanya. Membuat Fatimah memperhatikannya dengan sinis.

Tatapannya bak memandang sesuatu yang menjijikan, sesuatu yang seharusnya tak layak untuk diperlihatkan, tanpa senyuman dan ekspresi wajah penuh kebencian.

"Kamu liat aja Zahra, setelah rencanaku dan Jesika berjalan, aku yakin kamu ngga akan lagi bisa tersenyum bahagia seperti ini," ucap Fatimah tersenyum licik.

Setelah bosan melihat drama korea dihadapannya itu, kini Fatimah dengan cepat memutar badannya dan hendak pergi menjauh, namun ternyata kakinya justru tergores ujung meja dan meninggalkan luka berdarah.

"Aduh," desah Fatimah yang membuat Roni dan Zahra seketika menoleh.

"Ibu," ucap keduanya yang lalu dengan cepat menghampiri.

"Ibu kenapa bu?"

"Kaki ibu Ron, berdarah."

"Astafirullah ibu, sini biar aku obatin ya bu," sambut Zahra baik seraya sedikit membungkuk karena hendak meraih kaki Fatimah.

Namun Fatimah justru menjauh dan tampak tak sudi disentuh oleh menantunya itu.

"Ngga usah, ibu ngga mau kamu sentuh," ucap Fatimah yang membuat Zahra dan Roni melebarkan mata.

Sementara darah dikakinya terus mengalir.

"Yaudah sini biar aku aja yang obatin ibu," pinta Roni yang lalu meraih kotak P3K itu dari tangan Zahra.

Ia pun membersihkan luka berdarah itu, dan lalu diberinya obat merah sebelum akhirnya ia menutup luka itu dengan plester.

"Kok bisa kaya gini sih bu? Hati hati dong."

"Iya ibu ngga sengaja Ron, tadi mau jalan malah ternyata ada meja disini. Makanya Zahra kalau naruh meja ditempatnya dong."

"Tapi bu, bukannya dari dulu meja ini memang disini ya?"

"Kamu ya jawab aja kalau dikasih tau, ngga jadi istri ngga jadi menantu sama sama ngga berguna," ucapnya yang lalu meninggalkan tempat.

Kembali hatinya terkoyak kala mendengar ucapan semacam itu, kali ini Zahra berusaha tenang, dan berulang kali menghela nafas agar dapat menahan emosi sekaligus air mata.

"Sabar ya."

Hanya ucapan itu yang selalu Roni katakan pada Zahra.

Karena memang saat ini Roni berada diposisi yang sulit, antara ibu atau istrinya yang harus ia bela.

Sementara ibu dan istrinya tak pernah damai yang selalu ada pertikaian setiap harinya. Beruntung Zahra adalah Zahra, wanita tangguh yang mampu menopang sakit hatinya sendirian.

Jika bukan Zahra entahlah apa yang akan terjadi sebelum ini, akankah wanita itu mampu bertahan seperti Zahra, jika setelah hari dimana ia mengaku mandul ibu mertuanya ini selalu berkata kasar padanya, bahkan selalu menganggapnya bersalah, tak sedikit pun ada hal baik yang dapat dipandangnya.

••••

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel