Membuat Mood Berantakan
"Aku minta maaf ya mas, tadi malem aku udah buat mood kamu berantakan. Sebenernya aku ngga ada maksut apa apa, aku cuma..."
"Udahlah Ra, aku lagi ngga mau bahas hal itu sekarang. Hari ini dan beberapa hari kedepan, aku berangkat ke Surabaya, kamu hati hati ya dirumah."
"Iya mas, kamu juga hati hati ya mas disana, aku akan selalu doain kamu, semoga kerjaan kamu lancar. Jaga diri baik baik ya mas, jangan lupa sholat dan jangan telat makan."
"Iya sayang makasih ya, yaudah aku berangkat dulu, assalamualaikum."
"Walaikum salam."
"Hati hati ya Ron, semoga kamu senang disana," sambar Fatimah dengan sumringah.
Ya, wajahnya tampak bahagia karena ia kembali teringat akan rencananya, dan ia memastikan jika rencananya kali ini akan berjalan dengan indah.
Setelah kepergian Roni pagi ini, suasana seketika menjadi sunyi, hening dan seperti ada yang hilang. Ya mungkin karena Roni pergi untuk beberapa hari kedepan.
"Sepi banget mas kamu pergi," gumam Zahra dengan kaki yang kini melangkah memasuki rumah.
"Ya, anggap aja ini sebagai latihan kamu untuk hidup tanpa Roni," sahut Fatimah yang membuat langkah Zahra seketika terhenti.
"Maksud ibu apa?"
"Kamu masih tanya maksud ibu apa? Zahra, ibu ngga pernah berhenti ya buat bujuk Roni agar dia mau menceraikan kamu, meskipun Roni selalu menolak, tapi ibu ngga akan pernah diam, ibu ngga mau punya menantu ngga berguna kaya kamu. Jadi mulai hari ini mungkin saatnya kamu belajar, belajar hidup tanpa Roni," jawab Fatimah yang membuat Zahra melebarkan mata.
Entahlah, setelah mendengar ucapan itu kini hati Zahra tiba tiba tak tenang. Ada rasa khawatir yang tak bisa dijelaskan. Ia mengerti jika mungkin Fatimah akan kembali menyusun rencana untuk Zahra, namun entah itu apa? Zahra sendiri pun tak mengerti.
"Yaallah, kenapa tiba tiba perasaan aku ngga enak?" Batin Zahra dengan terus menghela nafas.
Ia berusaha untuk tenang, berusaha berfikir positive dan pasrah apapun yang terjadi semua sudah kehendak Nya.
"Semoga kamu baik baik disana mas, doaku menyertaimu," tambah Zahra dengan memejamkan mata.
Cluuung sebuah pesan masuk di ponsel Roni.
"Ron aku udah dilokasi ya, kamu hati hati dijalan."
Begitulah isi pesan dari Jesika. Tak menjawab apa apa Roni yang kemudian memasukan kembali ponselnya kesaku celana.
Pandangannya kembali tertuju pada arah depan, dengan tubuh bersandar. Karena kini Roni tak pergi sendiri, ia melaju bersama seorang sopir kantornya.
"Langsung ke lokasi yang saya bilang tadi ya gus," ucap Roni pada sopirnya.
"Baik pak."
••••
Sesampainya disebuah gedung bertingkat berlapis lapis. Ya apartement, apartement mewah yang akan menjadi tempat istirahat Roni dan Jesika beberapa hari kedepan ini.
Kini Roni melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan yang sebelumnya sudah disiapkan dan sudah dipesan oleh sekertarisnya.
Sementara Agus, sang sopir yang kini mengikuti langkah Roni dengan menarik sebuah koper miliknya. Melati 05 itu adalah ruangan yang akan ditempati Roni.
"Makasih ya gus, sini biar saya bawa sendiri," ucap Roni seraya meraih kopernya dari tangan Agus.
Saat Roni hendak melangkah masuk tiba tiba...
"Hay Ron," panggil Jesika yang membuat langkah Roni kini terhenti, dan dengan cepat menoleh.
"Kenapa? Mau langsung dimulai?"
"Oh engga kok santai aja, lagian kamu juga kan baru datang, istirahat aja dulu."
"Yasudah saya masuk," ucap Roni yang lalu melanjutkan langkahnya kembali.
Hanya menghela nafas dan mencoba sabar saat menghadapi sifat Roni yang cuek terhadapnya. Menurut Jesika, sifat cueknya ini malah justru menjadi daya tarik tersendiri untuk Roni, selain tampan Roni juga selalu membuatnya penasaran.
"Betapa bahagianya jika aku bisa memilikimu," gumam Jesika dengan pandangan yang terus tertuju pada daun pintu yang kini sudah tertutup rapat itu.
Beberapa jam kemudian. Kini Roni dan Jesika pun memulai pekerjaannya berbicara bersama beberapa teamnya dan saling bertukar pendapat, tidak cukup waktu sebentar untuk merencanakan pembangunan proyek satu ini, bahkan tak bisa sendiri untuk menjalankannya.
Selain Roni dan Jesika ada juga beberapa anak buah terpercaya Roni yang juga ikut andil dalam proyek kali ini, setelah keputusan kini digenggam, dengan cepat kini mereka bergerak sesuai kapasitas masing masing dan sesuai pekerjaan masing masing.
Tak terasa tiga hari sudah kini Roni berada dikota Surabaya, setelah semua ide dan pendapat tertampung dengan baik, kini pembangunan hotel pun sudah bisa dimulai, dengan pemilihan tempat yang strategis, dan juga dengan persetujuan pemiliknya.
"Akhirnya pembangunan hotel ini bisa dimulai juga," gumam Jesika seraya memperhatikan banyaknya tenaga kerja yang team Roni kerahkan untuk membantu menyelesaikan bangunan hotel tersebut.
Karena terasa lelah dan kepala yang sedikit pusing, kini Roni melangkahkan kakinya bermaksut hendak kembali ke apartement untuk beristirahat walau sejenak.
Karena untuk mengerjakan proyek ini Roni harus mengkerahkan seluruh tenaga dan fikirannya demi segera berlangsungnya sebuah pembangunan, maka tak heran jika hari ini Roni tampak begitu lelah.
"Ron mau kemana?" Tanya Jesika yang membuat Langkah Roni terhenti kembali.
"Mau balik ke apartemen, kepala saya sedikit pusing, saya perlu istirahat," jawab Roni tanpa memandang wajah Jesika.
Tampaknya Roni sangat menjaga jarak dengan wanita berpenampilan bak model tersebut. Mungkin ia khawatir dan ingat dengan pesan dari Zahra untuk selalu berhati hati terhadap Jesika.
"Aku ikut ya, aku juga ngantuk nih, pengen tidur," ucap Jesika yang membuat Roni kini melanjutkan langkahnya kembali, dan melaju menuju apartement.
"Hemm Ron kamu ngga pengen makan dulu?"
"Ngga, saya belum lapar."
"Masa? Kamu kan makan tadi pagi dan sekarang udah hampir magrib, yakin belum laper?"
Tak menjawab ucapan Jesika, Roni hanya terdiam dan terus melangkah menuju ruangannya.
"Saya mau istirahat tolong jangan ganggu saya dulu," ucap Roni yang lalu dengan cepat memasuki ruangan Melati 05 itu, dan menutup pintunya rapat rapat.
"Kayanya ini waktu yang tepat buat aku jalanin rencana aku, Roni, kamu liat aja setelah ini kamu akan bisa ku miliki," gumam Jesika dengan senyum licik.
Ambisinya untuk dapat memiliki Roni benar benar tak bisa dihentikan, nampaknya wajah tampan dan tubuh atletis itu meresahkan hati dan fikiran Jesika, bagaimana pun caranya ia harus bisa mendapatkan laki laki idamannya itu. Tak peduli bagaimana perasaannya saat ini, dan tak peduli siapa yang memilikinya saat ini, yang terpenting Roni dapat diraihnya dulu.
Dengan rencana yang sudah disusun serapi mungkin, akan segera ia laksanakan dengan cantik, dan tanpa menimbulkan kecurigaan sedikitpun terhadap Roni. Dan kali ini ia benar benar yakin jika rencananya itu pasti dapat terlaksana dengan baik.
••••
