Bab 8- Seni
Ethan melirik Natasya yang terlihat sedang asyik meminum jus pesanannya. “Hey, apa kau mau kuajak berkeliling kampus ini?” tawar Ethan kepada gadis itu. Natasya pasti sedang merasa bosan saat ini lagipula saat ini ia sedang memiliki banyak waktu luang.
“Asal tidak merepotkanmu saja,” jawab Natasya sambil cengengesan.
Ethan langsung tersenyum mendengarnya.
“Tentu tidak. Ayo!”
Ethan langsung mengajak Natasya berkeliling area kampus yang ternyata memang jauh lebih besar dari perkiraannya. Wajar saja. Kampus ini memang terkenal memiliki fakultas terbanyak di seluruh Jepang. Kau mencari jurusan apa saja, semua tersedia di kampus besar ini. Dia jadi bertanya-tanya bagaimana kehidupannya nanti setelah dia menjadi anak kuliahan, ya?
“Jurusan di kampus ini terdiri dari berbagai fakultas. Kau sendiri akan memilih jurusan apa nanti?” Lagi-lagi pertanyaan itu kembali terlontar membuat Natasya langsung speechless di tempat. Bahkan sampai sekarang dia masih bingung harus memilih jurusan apa. “kuharap kau bisa masuk universitas ini juga nanti. Jadi kau akan menjadi juniorku.” Ethan mengedipkan sebelah matanya menggoda.
Natasya langsung tertawa canggung mendengarnya. “Akan kuusahakan! Ethan sendiri bagaimana? Kau juga memilih untuk masuk jurusan seni, bukan? Kenapa kau memilih jurusan itu?” tanya Natasya dengan nada penasaran.
Ethan mengusap dagunya sambil bergumam. “Dari aku kecil, aku memang sudah menyukai seni baik itu seni lukis, tari ataupun apapun itu karena menurutku seni adalah satu-satunya hal yang bisa mengaspresiasikan perasaan kita kepada orang lain. Bukankah itu merupakan sesuatu yang sangat hebat? Aku selalu berusaha menciptakan seni-seni yang bisa membuat orang lain menjadi senang. Mungkin untuk zaman sekarang, orang-orang selalu menganggap remeh hal-hal seperti seni karena mereka tidak mengetahui apa arti seni sebenarnya tapi menurutku seni merupakan sesuatu yang sangat luar biasa,” celoteh Ethan dengan riang.
Natasya tertawa kecil. “Menurutku seni itu hebat tapi sayang sekali aku tidak memiliki bakat seni sama sekali. Aku benar-benar payah soal seni apalagi soal menggambar.” Natasya menghela nafasnya dengan lelah.
“Hey….” Ethan mengacak rambut Natasya dengan gemas. “ Yang namanya seni itu tidak memerlukan sebuah bakat melainkan perasaanmu.” Ethan menunjuk dadanya sendiri. “ Sejelek apapun seni yang kita buat, setiap seni pastinya akan memiliki makna yang terpendam di dalamnya. Akan kutunjukkan contohnya padamu!”
Natasya memutuskan untuk mengikuti Ethan yang terus menuntunnya entah pergi kemana sampai akhirnya mereka sampai di sebuah taman yang sangat indah membuat Natasya yang melihatnya langsung terlihat terkesima.
Ethan mengajak Natasya untuk duduk di bangku taman yang dekat dengan tempat mereka berada sekarang.
Sebelum memulai, Ethan tampak mengambil sebuah kanvas dan juga beberapa alat lukisnya kemudian menaruh barang-barang tersebut di sampingnya. Dengan cekatan Ethan langsung mengubah kanvas kosong yang berada di pahanya menjadi kanvas yang berisikan gambar taman yang sangat indah. Gambar yang benar-benar apik dengan goresan-goresan cat air yang membentuk sebuah gambar replika taman di sekitar mereka sekarang.
“Keren! Kau memang benar-benar berbakat, Ethan.” Natasya berdecak kagum.
“Hmm…” Ethan tersenyum. “sekarang coba kau gambar seperti apa yang aku gambar sekarang.” Ethan menyerahkan sebuah kanvas baru kepada Natasya.
“A-aku tidak bisa menggambar.” Natasya tergagap. “gambarku jelek sekali. Kau pasti akan tertawa.”
“Tidak apa-apa. Coba gambar saja dulu.” Ethan tertawa. “kau akan menemukan jawaban yang kau mau nanti.”
Natasya mendengus pelan dan memutuskan untuk mengikuti permintaan Ethan padanya. Natasya mencoret-coret kanvas yang berada di genggamannya sampai membentuk sebuah gambar seadanya karena dia memang tidak bisa menggambar dari dulu. Natasya tersenyum muram. “Tuh kan…jelek…”
“Meskipun berbeda, bagus ataupun jelek tapi apa kau tidak melihat persamaan dari kedua gambar ini?” Ethan bertanya sambil tersenyum lembut.
Natasya yang mendengarnya mencoba untuk berfikir sejenak kemudian beralih menatap gambarnya sendiri dan juga gambar Ethan saat ini. “Gambar keduanya sama-sama gambar taman ini. Tidak lain...” Natasya berfikir sejenak. “hanya saja perbedaannya gambar Ethan bagus sedangkan punyaku jelek.” Natasya mengeluh.
“Lalu apa yang kau lihat dari taman ini?” Tanya Ethan sekali lagi.
“ Ngg…” Pandangan Natasya terlihat mengitari sekitarnya kemudian ia bergumam, “taman ini sangat indah, banyak orang yang berlalu lalang dan burung-burung yang yang sedang berterbangan di langit. Taman ini sangat indah pokoknya.” Natasya tersenyum.
“Sekarang kau sudah mengerti makna dari kedua gambar ini, bukan? Kedua gambar ini memiliki makna yang sama yang menggambarkan keindahan dari taman ini. Kita bisa mengapresiasikan perasaan kita lewat gambar ini. Taman ini memang sangat indah, kau memang benar.” Ethan menampakkan cengirannya. “meskipun gambar yang kita buat itu tidak sempurna tapi tetap saja sebuah seni yang sudah kita buat pastinya memiliki sebuah makna yang bisa kita curahkan kepada orang lain melewati karya seni kita di dalamnnya. Kita bisa menceritakan betapa indahnya taman ini melewati sebuah gambar saja. Orang lain juga akan ikut bisa membayangkannya. Taman yang indah, orang yang berlalu lalang, burung-burung yang berterbangan. Aku benar kan? Kita sama-sama bisa mengetahuinya,” celoteh Ethan begitu bersemangat.
Natasya langsung tertawa mendengarnya. “Sekarang aku mengerti. Mungkin kau ada benarnya juga. Dari dulu, aku selalu mengapresiasikan perasaanku lewat tulisanku. Meskipun sederhana tapi karya itu bisa membuatku tenang.” Natasya mengusap dadanya sambil tersenyum.
“Sekarang kau sudah mengerti, hmm?”
Natasya mengangguk dengan bersemangat. “Ngomong-ngomong, bolehkah aku menyimpan gambar ini? Gambar ini bagus sekali.”
“Tentu saja.” Ethan tersenyum. “kalau kau mau, aku bisa membuatkan gambar yang banyak untukmu tapi sebagai gantinya, kau juga harus memberikan tulisanmu padaku. Bagaimana?” Ethan mengedipkan sebelah matanya.
“Hieee…” Kedua mata Natasya langsung membelalak horror mendengarnya. “dasar curang!!”
“Siapa yang curang, hmm?” Ethan tersenyum puas. “sesekali aku juga ingin menilai karya sahabatku. Walaupun terkenal urakan seperti ini tapi aku juga senang kok membaca novel.”
“Tapi aku tidak pernah menunjukkan karyaku pada siapapun.” Natasya menautkan jarinya dengan gugup.
“Kenapa?”
“Karena umhh…aku hanya tidak ingin tulisanku dilihat oleh siapapun karena mengandung privasi juga. Aku tidak mau orang lain sampai tahu..” Natasya mengatakannya dengan sangat gugup.
“Apa jangan-jangan kau sedang menulis kisah hidupmu atau bahkan kisah percintaanmu?” goda Ethan dengan jahil. “atau jangan-jangan…kau menulis tentang seseorang yang kau cintai lagi ha..ha..” Ethan tertawa seakan puas dengan pra-duganya saat ini.
“Isshh… Ethan!!” Natasya mencubit lengan Ethan dengan gemas sementara Ethan sendiri langsung terlihat tertawa puas melihat ia berhasil mengerjai gadis itu.
Mereka hanya tidak sadar kalau saat ini ada gadis yang sedang memperhatikan mereka dengan amarah yang memuncak. Gadis itu tampak mengepalkan kedua tangannya.
Gadis itu adalah Sakura, kekasih Ethan saat ini. Tampaknya Ethan juga tidak menyadari kalau saat ini, kekasihnya sedang memperhatikannya dari balik pohon seperti orang yang ingin membunuh.
TIba-tiba saja....
TBC
