Bab 7- Kampus Megah part 2
“Kau tunggu saja disini! Ingat! Jangan pergi kemana-mana sendirian! Aku harus masuk kelas dulu.” Natasya mengangguk dan memilih untuk duduk di salah satu bangku yang ada di sana kemudian tersenyum.
“Baiklah. Semangat, Kak Wade!” Natasya melambaikan tangannya dengan bersemangat.
“Tentu.”
Natasya memilih menyenderkan punggungnya sambil menarik sebuah headset untuk mendengarkan lagu sambil menunggu Wade selesai kelas tapi semakin lama, Natasya menjadi semakin bosan sehingga Natasya memutuskan untuk mencabut headsetnya dan menatap pintu yang masih tertutup rapat. Belum ada tanda-tanda kelas sahabatnya akan bubar.
Dia benar-benar merasa bosan saat ini.
Merasa bosan menunggu, Natasya akhirnya memutuskan untuk bangkit berdiri dan memilih mengelilingi kampus sendirian saja. Tidak terlalu jauh dari kelas Wade berada kok. Natasya melihat banyak sekali mahasiswa dan juga mahasiswi yang terlihat sedang berkeliaran saat ini.
Ada yang sedang mengobrol, berkumpul bersama dengan genknya, ada yang sedang pacaran dan masih banyak lagi. Pemandangan itu tidak luput dari perhatian Natasya saat ini. Kampus ini terlihat ramai sekali, ya…
“Keren! Kampus ini benar-benar luas.” Decak Natasya kagum.
“ Ayo... ayo!!”
“ Kau pasti bisa, Ethan!”
Mendengar nama Ethan disebut membuat langkah Natasya langsung terhenti. Kedua mata safirnya langsung melirik sebuah ruangan yang berada tepat di depannya saat ini.
Apa Ethan yang mereka panggil tadi adalah Ethan yang ia kenal, ya?
Karena rasa penasaran Natasya yang cukup tinggi, Natasya memilih untuk mengintip ke dalam ruangan yang ternyata adalah sebuah aula yang sangat besar. Kedua mata safirnya menangkap ada dua orang yang sedang bertarung di tengah ruangan aula dan ternyata salah satunya memang Ethan yang ia kenal.
“Ethan…” Kedua mata Natasya terlihat berkedip berulang kali ketika melihat Ethan yang sedang bertarung melawan seseorang bermata hitam pekat yang sangat kuat tapi Ethan juga tidak kalah hebatnya.
Teknik-teknik yang dipakai dan gerakannya yang sangat luwes membuat Ethan dapat menandingi kekuatan pria itu tanpa merasa kewalahan sedikitpun. Rubah liar dari Sekolah Geshika, huh?
“Keren!”
Duakkk
“Kau kalah lagi, Ryan. Bertarunglah lebih serius lagi!” Ethan membantu Ryan untuk berdiri.
“Itu karena semakin hari kau semakin kuat, Ethan. Aku memang tidak bisa meremehkanmu..” Ryan mendengus jengkel.
Ethan mengusap hidungnya dengan bangga. “Kau harus mengetahui siapa yang kau lawan dulu,” seringainya bangga.
“Ethan, hebat sekali…” Natasya menatap Ethan dengan tatapan penuh binar.
Natasya yang berniat pergi dari sana langsung dibuat terkejut ketika merasakan ada seseorang yang menepuk pundaknya. Mendadak Natasya menjadi ketakutan tapi rasa takut itu langsung berubah menjadi lega ketika mengetahui siapa yang sudah menepuk pundaknya.
“Kak Wade…” Natasya menghela nafasnya dengan lega. “kukira siapa. Kau membuatku terkejut saja.” Natasya mengusap dadanya.
“Kau yang sudah membuatku terkejut karena menghilang tiba-tiba.” Wade mendengus. “bukankah sudah kubilang untuk tidak pergi sendirian? Aku cemas mencarimu kemana-mana, kau tahu?” Wade mengerang jengkel.
“Maafkan aku! Natasya mengatupkan tangannya sambil meminta maaf. “Aku hanya merasa bosan saja dan akhirnya aku memilih untuk berjalan-jalan sebentar,” jelasnya kemudian.
“Tapi kau membuatku cemas, Natasya. Kalau kau sampai tersesat, bagaimana?” Wade terlihat masih kesal dan masih sibuk mengomeli Natasya yang hanya bisa merengut mendengarnya.
Mendengar ada suara keributan di luar membuat semua orang yang sedang berlatih di aula memutuskan untuk menghentikan kegiatan mereka sementara. Ethan beserta yang lainnya lebih memilih untuk menengok ke luar, melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Ethan langsung terkejut ketika melihat dua orang yang sangat dikenalnya itu sedang bertengkar hebat sekarang.
“Wade, Natasya, ada apa? Kenapa kalian bertengkar?” tanya Ethan sambil mengangkat satu alisnya heran. “teman-teman, kita sudahi saja dulu latihan kita hari ini! Aku ada urusan dengan mereka berdua,” titah Ethan kepada seluruh anggotanya.
“Baik!!”
Setelah semua anggotanya bubar, Ethan langsung mengajak Natasya dan juga Wade untuk pergi ke kantin agar dia juga bisa mengistirahatkan tubuhnya yang terasa letih karena habis melatih para juniornya belajar teknik bela diri.
Selain pandai berolahraga, Ethan juga ternyata pandai dalam hal bela diri. Wushu, pencak silat, taekwondo. Semua cabang itu sudah Ethan pelajari semua dengan baik membuat julukannya sebagai rubah liar semakin tersohor di kampusnya.
“Jadi kenapa kalian bisa sampai bertengkar di depan pintu aula, Natasya, Wade?” tanya Ethan sambil menyesap jus jeruk yang sudah dipesannya. “Kalian membuat perhatian semua orang menjadi teralihkan kepada kalian tadi.”
“Tanyakan saja padanya yang tiba-tiba saja menghilang. Membuatku khawatir saja!” Wade mendengus kesal. “aku malah melihatnya sedang mengintip ruangan aula tadi. Kau sedang apa?”
“Mengintip?” Ethan mengangkat alisnya heran ketika pernyataan Wade saat ini.
Mendengar hal tersebut membuat wajah Natasya langsung memerah hebat. “I-itu karena aku mendengar ada seseorang yang menyebut nama Ethan ja-jadi aku mencoba mengintip ke dalam dan melihat Ethan sedang bertarung. A-aku hanya kagum melihat per-pertandingan barusan jadi aku malah ke-keterusan,” celotehnya gugup.
“Hmm… benarkah?” Ethan tersenyum geli.
“Pokoknya aku hanya penasaran saja.” Natasya mengerucutkan bibirnya ketika melihat mereka berdua yang malah mentertawakannya.
“Penasaran memang boleh tapi jangan membuat orang jadi khawatir. Dasar kau ini!” Wade menjitak kepala gadis itu dengan cukup keras membuat sang empu langsung mengaduh kesakitan. Wade langsung tertawa melihatnya.
Ethan yang melihat interaksi kedua sahabatnya sekarang terlihat langsung tersenyum. Sejak Natasya hadir di dalam kehidupan mereka, kehidupan mereka jadi jauh lebih berwarna. Gadis yang cukup menarik. Pantas saja Wade juga betah berdekatan dengan gadis itu. Dia memang berbeda dari gadis lainnya.
Tadinya Ethan ingin berucap sebelum tiba-tiba saja, ada suara seseorang yang memanggil Wade dari kejauhan. Kepala Wade menengok kebelakang dimana ia melihat sahabatnya yang saat ini sedang berlari terpogoh-pogoh menghampirinya.
“Hoy… Wade…akhirnya kutemukan juga kau! Kupikir kau ada dimana!!” Salah seorang berambut merah pekat datang menghampiri mereka dengan raut wajah kesal. “Shirakana-sensei memanggilmu tuh..”
“Huhh.. apa harus sekarang?” Wade menghela nafasnya dengan lelah. “padahal aku baru saja mau istirahat.”
Pria itu hanya memutar kedua bola matanya dengan jengah ketika mendengar keluhan Wade saat ini. Hiraka menarik tangan Wade untuk berdiri dari tempat duduknya. “Apa kau lupa jika Shirakana-sensei menyuruh kita untuk berkumpul agar kita bisa berlatih untuk mengikuti ajang olimpiade minggu depan?” Seru Hiraka dengan nada cukup kesal.
“Ya…ya…ya aku tahu...” Wade mengibaskan tangannya. “Ethan, apa kau masih memiliki jadwal kuliah setelah ini? Apa aku boleh menitipkan Natasya padamu?” Wade memandang Ethan dengan tatapan tidak enak.
“Tentu saja. Aku akan menjaganya dengan baik! Kau temui saja Shirakana-sensei.” Ethan tersenyum.
“Baiklah. Aku mengandalkanmu.” Setelah mengatakan itu, Wade memutuskan untuk pergibersama dengan Hiraka meninggalkan Natasya dan Ethan berduaan di kantin.
Seketika suasanya menjadi canggung di antara mereka berdua.
Kenapa Wade harus pergi meninggalkan mereka sih?
TBC
