Bab 6- Kampus Megah
Sebelum pergi dari sekolah, Ethan dan Wade memutuskan untuk mengajak Natasya berkeliling agar besok Natasya tidak terlalu gugup saat bersekolah disini. Sekolah ini begitu luas sampai membuat Natasya menjadi sangat yakin kalau dia butuh waktu beberapa hari untuk bisa menghafal selak-beluk sekolah barunya ini.
“Terasa nostalgia ya, Wade. Dulu kita sering bertanding di sini.” Ethan tersenyum.
“Ya. Bagaimana kalau kita bertanding lagi seperti dulu, Ethan? Siapa yang kalah harus mentraktir yang menang. Bagaimana?” Wade menyeringai penuh arti terhadap Ethan yang saat ini juga sedang menyeringai.
“Dengan senang hati tapi jangan menangis kalau kau kalah, ya.” Ethan balik menyeringai. Ethan melepas jaket dan juga pakaian tangan panjangnya sampai tersisa kaus buntungnya saja yang membuat otot-otot kekar Ethan langsung terlihat.
Seluruh perhatian orang-orang di sekitar mereka langsung terfokus kepada pemuda berambut cepak tersebut. “Maaf, bisa pinjam bola basketnya sebentar?” Ethan tersenyum ramah kepada salah satu siswi yang saat ini sedang bermain di lapangan.
“Ten-tentu,” Jawab gadis itu dengan gugup.
“Kau tidak akan bisa mengalahkanku, Ethan.” seringai Wade dengan penuh percaya diri.
“Kita lihat saja nanti, Wade.” Ethan berkata dengan santai. Ethan mendribble bola tersebut dan langsung menyerahkannya pada Wade. “Kau duluan…”
Pertarungan berlangsung dengan sangat sengit ketika dua orang pria tampan yang sangat pandai berolahraga tersebut bertanding di lapangan membuat perhatian seluruh orang langsung terpusat ke arah mereka.
Tidak ada yang mau menyerah di antara mereka berdua. Kekuatan mereka seimbang dan terus saling menyusul ketika sedang mencetak point. Di detik-detik terakhir, Ethan berhasil mencetak angka membuat Wade langsung mengerucutkan bibirnya kesal.
Dia kalah lagi.
“Curang!!” teriak Wade kesal.
“Apanya yang curang hmm?” Ethan tertawa. “akui saja kekalahanmu, Wade!”
“Aku hanya kesal kenapa aku tidak pernah bisa menang ketika melawanmu di lapangan. Kau memang rubah liar dari sekolah ini, Ethan.” Wade mendengus jengkel.
“Dan kau adalah si otak robot dari sekolah ini. Tidak ada yang bisa menandingi kejeniusanmu itu, Wade. Aku benar kan?” Ethan tersenyum. “kita memiliki kekurangan masing-masing. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Bukan begitu, Natasya?”
“Ehh...” Natasya langsung terkejut ketika dirinya ditanya tiba-tiba.
“Kau juga pasti bisa melakukanya. Aku percaya padamu.” Kedua mata Natasya terlihat berkedip berulang kali ketika Ethan mengatakan hal tersebut. Ethan melirik jam tangannya yang berbunyi. “ Sudah waktunya aku pergi ke kampus. Aku pamit duluan, ya. Aku takut telat” Ethan mengambil jaket beserta pakaiannya yang tadi sudah ia lempar ke pinggir lapangan.
Natasya sendiri masih mencerna perkataan Ethan padanya sampai perhatiannya teralihkan kepada Wade yang sedang duduk di pinggir lapangan karena merasa kelelahan setelah melawan Ethan tadi.
“Aku tidak menyangka Ethan yang terlihat kalem bisa menjadi seliar itu ketika ia sedang berada di lapangan.” Natasya menghampiri Wade dan menyerahkan handuk kecil untuk Wade gunakan agar Wade bisa mengusap keringatnya yang terus menetes dari pelipisnya.
“Kau belum mengetahui julukan Ethan sebagai rubah liar dari sekolah ini, bukan? Tidak akan ada yang bisa menandingi Ethan kalau orang itu sudah turun ke lapangan. Dia selalu menjuarai lomba-lomba tingkat internasional dan mengharumkan nama Jepang.” Wade mendengus.
“Benarkah? Ethan sehebat itu..” Natasya berdecak kagum.
“Dulu, Ethan juga adalah anak yang gagal. Dia nakal, ceroboh dan selalu mencuri perhatian orang lain dengan tingkahnya yang menjengkelkan. Mungkin kau juga bisa merasakannya, Natasya. Dia juga sama sepertimu. Ethan selalu kesepian karena selalu ditinggal oleh kedua orangtuanya apalagi mengingat dia adalah anak tunggal tapi apa kau melihatnya sekarang? Dia tumbuh menjadi pemuda yang kuat, tangguh dan juga bisa diandalkan. Bahkan aku mengakui kalau dia juga bisa bersikap lebih dewasa dariku. Memang tingkahnya agak konyol tapi saat sedang serius, aku juga bisa kalah darinya.” Natasya langsung tersenyum mendengarnya.
“Ethan itu orang yang baik.” Natasya tertawa.
“Tentu saja.” Wade menepuk kepala Natasya dengan lembut. “mungkin kalian juga baru saling mengenal tapi aku yakin kalian pasti bisa berteman dengan akrab nantinya.”
“Tapi Kak Wade, apa menurutmu aku akan sanggup bersekolah di sekolah ini?” Natasya mengamati tempat yang akan menjadi sekolahnya besok. “semua orang terlalu berharap padaku padahal aku tidak sehebat yang mereka kira.” Natasya tersenyum hambar.
“Kau lupa kalau ada aku dan Ethan yang akan selalu berada di sisimu? Kau tahu julukan kami sekarang, bukan? Karena itulah aku dan Ethan sendiri yang akan melatihmu. Aku yakin kemampuanmu pasti akan bisa melebihi kami. Aku percaya padamu kalau kau bisa melakukannya. Percayalah padaku!” Wade masih mencoba menyemangati sahabatnya itu.
Dia tidak ingin mengecewakan Ethan maupun Wade. Mereka sudah berharap banyak padanya. Karena itulah dia akan berusaha sebaik mungkin agar dia bisa membanggakan mereka. Tidak boleh menyerah sebelum mencoba. Dia harus bisa melakukannya. Baik Ethan ataupun Wade, mereka sudah menaruh harapan banyak padanya.
“Bagaimana? Apa kau mau ikut denganku ke kampus?” Wade bangkit berdiri dari posisinya sambil tersenyum membuat Natasya langsung terkejut melihatnya. “akan lebih baik kalau kau ikut denganku daripada kau merasa bosan berada di apartemen sendirian.”
“ Tentu,” jawab Natasya dengan bersemangat.
.
.
.
Perjalanan dari Sekolah Geshika menuju kampus tempat Ethan dan Wade berkuliah saat ini tidak terlalu jauh dan bisa ditempuh dalam waktu dekat. Menurut Wade, Ethan juga berkuliah disini meskipun jurusan yang mereka ambil berbeda.
Kampus yang sekarang berada di hadapannya ini tidak kalah besarnya dari Sekolah Geshika. Para mahasiswa dan mahasiswi terlihat sedang berkeliaran di sekitar mereka saat ini.
“Natasya, kau sendiri mau masuk jurusan apa nanti? Kau sudah kelas XII, bukan? Sebentar lagi kau juga akan masuk kuliah. Kau harus sudah memikirkan jurusan apa yang kau sukai.” Wade bertanya dengan raut wajah penasaran.
“Hmm…” Natasya menopang dagunya sejenak kemudian menggelengkan kepalanya, pertanda dia belum bisa menjawab pertanyaan dari Wade. “entahlah. Aku belum memikirkan soal jurusan apa yang akan kuambil nanti. Mungkin dengan ikut Kak Wade sekarang, aku juga jadi memiliki gambaran untuk jurusan yang akan kuambil nanti.” Natasya tersenyum lima jari.
“Kau benar juga. Coba kau fikirkan saja. Di kampus ini banyak sekali jurusan-jurusan yang bisa kau pilih. Dari Fakultas teknik, seni, IPA, manajemen, komputer dan masih banyak lagi,” jelas Wade panjang lebar. “kau bisa memilih salah satunya.”
Wade adalah orang yang sangat cerdas. Wade mengambil jurusan manejemen bisnis agar bisa meneruskan perusahaan keluarganya. Keluarga Namikara termasuk salah satu keluarga kedua paling kaya di negara Jepang sekarang karena itulah mereka memerlukan seorang penerus.
Kazuha sudah memilih jurusan hukum sehingga Kazuha tidak bisa meneruskan perusahaan keluarga mereka sehingga semua keluarga mereka hanya bisa berharap kepada Wade.
Beban yang dipikul Wade memang sangat berat.
“Kau tunggu saja disini! Ingat! Jangan pergi kemana-mana sendirian! Aku harus masuk kelas dulu.” Natasya mengangguk dan memilih untuk duduk di salah satu bangku yang ada di sana kemudian tersenyum.
“Baiklah. Semangat, Kak Wade!” Natasya melambaikan tangannya dengan bersemangat.
“Tentu.”
Natasya memilih menyenderkan punggungnya sambil menarik sebuah headset untuk mendengarkan lagu sambil menunggu Wade selesai kelas tapi semakin lama, Natasya menjadi semakin bosan sehingga Natasya memutuskan untuk mencabut headsetnya dan menatap pintu yang masih tertutup rapat. Belum ada tanda-tanda kelas sahabatnya akan bubar.
Dia benar-benar merasa bosan saat ini.
TBC
