Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5- Mendaftar Sekolah Baru

“Baiklah. Jangan berbuat macam-macam ya, kalian berdua.” goda Yukira usil.

Ethan langsung mendengus mendengarnya membuat Yukira dan Aiden yang melihatnya langsung tertawa.

“Memangnya kalian pikir aku akan berbuat apa?” erang Ethan jengkel.

“Kami hanya bercanda. Ayo Aiden, kita berangkat!!” Yukira tertawa.

Natasya menatap kepergian para tentangga apartemennya sambil menopang dagu. “Sepertinya mereka semua sangat sibuk.”

“Mereka semua memang orang tipe pekerja keras. Kak Yui merupakan seorang mangaka terkenal di Jepang, Yukira juga bekerja di sebuah café ternama di dekat sini dan Aiden, mungkin dia sama sepertimu. Dia ingin belajar hidup mandiri, jauh dari kedua orang tuanya sehingga dia memutuskan untuk tinggal disini.” Ethan menjelaskan detailnya kepada Natasya membuat Natasya langsung mengangguk mengerti mendengarnya.

“Ethan sendiri bagaimana?” Natasya menatap Ethan dengan raut wajah penasaran.

“Aku masih menjadi mahasiswa, sama seperti Wade. Ngomong-ngomong, kau akan mendaftar sekolah hari ini, bukan? Hh… Wade belum ada kabar juga lagi sampai sekarang.” Ethan mengotak-ngatik gadgetnya sambil menghela nafas. “Tidak biasanya dia sampai terlambat seperti ini. Padahal nenekku sudah menunggu kita sekarang.”

“Maaf aku datang terlambat!!”

Baru saja dibicarakan dan tiba-tiba saja Wade datang dengan nafas terengah-engah membuat Natasya dan Ethan yang melihatnya langsung terlihat kebingungan melihat keadaan Wade saat ini. Wade langsung duduk di tatami dan menyenderkan punggungnya ke tembok sambil menarik nafasnya dengan cepat.

Ethan mengkerutkan keningnya samar, “Kau habis darimana, Wade? Kenapa kau seperti habis dikejar setan begitu?” Ethan menyodorkan segelas air putih kepada sahabat dekatnya tersebut dan langsung diteguk habis oleh sang empu.

“Entahlah. Ada orang gila yang mengejar-ngejarku tadi.” Wade mengerucutkan bibirnya dengan kesal.

“Huhh… orang gila apa!!” Natasya terkejut.

Ethan menjentikkan jarinya tanda ia mengerti sesuatu. “Pasti fansgirl dadakanmu lagi. Betul kan?”

“Begitulah. Aku jadi merasa heran karena semakin hari, mereka malah semakin menjadi dan sangat liar.” Wade menarik nafasnya dengan lelah.

Natasya langsung tertawa melihat kondisi Wade sekarang. “Bukankah itu bagus? Itu artinya Kak Wade terkenal di kalangan para gadis, bukan? Bukankah semua lelaki akan menyukai, kalau dirinya dikelilingi oleh para gadis cantik? Itu resiko karena punya wajah tampan.” Natasya tersenyum usil.

“Meskipun dibilang terkenal pun, aku tidak mau kalau fasngirlnya sampai seliar fansgirlnya Wade. Asal kau tahu saja, ya. Beberapa fansgirl Wade itu kadang suka nekad menguntit Wade, melakukan adegan tidak senonoh di depan umum bahkan hampir menjebak Wade menggunakan obat perangsang. Aku jadi heran mereka itu normal atau tidak sih?” Ethan tertawa keras. “kalau tidak ada aku, mungkin Wade sudah hancur oleh fansgirl dadakannya itu.”

Mendengar hal tersebut membuat wajah Wade menjadi merah padam. Wade menyenggol bahu Ethan agak keras. “Jangan mengingatkanku tentang hal itu! Kejadian itu benar-benar membuatku menjadi trauma terhadap perempuan. Perempuan itu menyeramkan.” Wade bergidik ngeri.

Natasya langsung mendengus mendengarnya. “Asal kau tahu kalau aku juga perempuan, Kak Wade. Itu artinya kau bilang aku menyeramkan.” Aura tidak enak mulai menyelimuti tubuh Natasya saat ini membuat keduanya langsung bergidik ngeri.

“Tidak…tidak!!” Wade menggelengkan kepalanya. “lebih baik kita segera berangkat kalau tidak ingin nenekmu menunggu kita lebih lama.” Wade mengalihkan pembicaraan. Ethan yang mendengarnya langsung tertawa.

“Jadi aku akan masuk ke sekolah yang mana?”

Suasana tegang ini mulai mencair….

“Tentang masalah itu...” Wade berdehem sejenak. “ Kau mengetahui Sekolah Geshika? Sekolah Geshika adalah tempatku dan Ethan bersekolah dulu.”

Pupil mata Natasya langsung melebar ketika mendengarnya. Dia pernah mendengar nama sekolah itu sebelumnya. Sekolah Geshika adalah sekolah nomor satu di Jepang untuk saat ini. Tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam sekolah itu karena peraturannya yang memang sangat ketat.

Kedua mata Natasya melotot ngeri. “Kak Wade, kau tidak sedang bercanda kan? Kau pasti mengetahui seberapa besar kapasitas otakku ini. ” Natasya tertawa canggung.

“Aku tahu.” Wade tertawa. “jangan khawatir! Kebetulan kepala sekolah Geshika saat ini adalah nenek dari Ethan. Ethan sendiri yang sudah menyarankanmu untuk masuk ke sana.”

“Apa aku bisa?” Natasya terlihat ragu.

“Kita tidak akan tahu sebelum mencoba, bukan? Ayo kita segera berangkat!” Ethan berseru dengan semangat yang sangat tinggi.

Natasya berniat protes ketika dengan seenaknya Ethan malah menarik tangannya dengan paksa. Sekolah Geshika terletak tidak jauh dari apartemen mereka saat ini. Bisa ditempuh dengan berjalan kaki saja.

Sekalian olahraga pagi juga sih…

……….

Wajah Natasya langsung melongo dengan tidak elitnya ketika melihat Sekolah Geshika yang terlihat berdiri megah di hadapannya saat ini. Bahkan luas sekolah ini saja tiga kali lipat lebih besar dari sekolahnya dulu. Bisa-bisa dia tersesat kalau tidak tahu jalan di sekolah ini.

Sekolah ini sangat besar sekali.

“Kalian berdua menuntut ilmu di sekolah sebesar ini dulu? Pasti kalian bukan orang sembarangan.” Natasya berdecak kagum.

“Tentu saja.” Ethan menunjuk dirinya dengan perasaan bangga. “menjadi sebuah kehormatan kita bisa bersekolah di sekolah ini.” Ethan tersenyum kemudian menghampiri petugas yang sedang berjaga di gerbang.

Setelah berbincang-bincang sedikit, petugas keamanan Sekolah Geshika terlihat langsung mengizinkan mereka untuk masuk apalagi mengingat Ethan adalah cucu dari kepala sekolah ini.

Ethan dan Wade yang memang sudah hafal selak-beluk dari sekolah ini terlihat memandu Natasya yang masih memasang wajah melongo. Sepanjang perjalanan, Natasya terlihat antusias, melihat-lihat area sekitarnya dengan tatapan kagum. Sekolah ini benar-benar keren. Pasti akan menjadi sebuah kebanggaan untuknya kalau dia bisa bersekolah di sekolah elit seperti ini. Persis seperti kata Ethan tadi.

Kantor kepala sekolah terletak di lantai tiga gedung barat. Sesampainya disana, Ethan langsung menyapa sang nenek yang sudah lama tidak ditemuinya. “ Nenek, sudah lama kita tidak bertemu,” sapa Ethan dengan nada riang. Aoi selaku nenek dari Ethan terlihat langsung tersenyum lembut ketika melihat cucu kebanggaannya sudah datang.

“Akhirnya kau datang juga, Ethan.” Aoi tersenyum. “Jadi, apa gadis itu yang akan kau rekomendasikan untuk masuk ke sekolah ini?” tanya Aoi to the point.

“Tentu saja!” Jawab Ethan tanpa berfikir. “meskipun dia anak baru tapi aku percaya pada kemampuannya. Mungkin dia bisa menggantikan kami di sekolah ini. Aku yakin Natasya bisa diandalkan untuk sekolah ini juga.” Ethan mengedipkan sebelah matanya.

“Hee…” Natasya menatap Ethan dengan tatapan horror. Apa katanya?

“Benarkah? Aku pegang janjimu!” Aoi menyerahkan sejumlah berkas kepada Natasya yang terlihat masih mematung di tempatnya berada sekarang. “dulu Ethan dan juga Wade adalah murid teladan dari sekolah ini. Mereka selalu mengharumkan nama sekolah Geshika di bidang pelajaran ataupun olahraga. Mereka selalu membanggakanku dengan prestasi mereka. Karena mereka berdua yang sudah merekomendasikanmu kemari, aku akan percaya padamu! Kau pasti bisa menjadi seperti mereka.” Aoi tersenyum tulus berbeda dengan Natasya yang terlihat kaku.

Membanggakan apanya? Bahkan nilai rapot matematikanya saja dia mendapatkan D.

Natasya yang mendapat kepercayaan itu hanya bisa mengangguk kaku dan melirik pedas kepada keduanya yang terlihat santai dengan ucapan mereka. Apa mereka tidak memikirkannya sama sekali?

“Mulai besok, kau sudah bisa bersekolah disini. Selamat bergabung di Sekolah Geshika, Natasya.” Aoi menjabat tangan Natasya yang terulur sambil tersenyum hangat.

“Terima kasih.”

“Kalau begitu, kami permisi dulu. Masih banyak urusan yang harus nenek selesaikan saat ini, bukan?” Ethan pamit pergi.

“Itu memang benar. Cepat sana pergi!” Aoi mengibaskan tangannya dengan acuh membuat ketiganya langsung speechless di tempat. Aoi sendiri tampak sibuk berdandan sambil melihati cermin yang membuat ketiganya tidak bisa berkomentar apapun.

Apa ini kelakuan kepala sekolah di sekolah elit nomer satu di Jepang?

TBC

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel