Bab 4- Sarapan Bersama
Tok-Tok
Keesokan harinya, Natasya yang terlihat sedang tertidur lelap dibuat terganggu oleh ketukan pintu yang terus memaksanya untuk bangun. Mengerang pelan, Natasya memutuskan untuk meregangkan ototnya terlebih dahulu kemudian bangkit dari tempat tidurnya sambil mengomel tidak jelas.
“Heh… siapa yang mengetuk pintu pagi-pagi begini sih? Mengganggu tidurku saja!” omel gadis itu dengan nada kesal. “aku kan masih mengantuk.”
Tidak mungkin Wade yang datang pagi-pagi buta begini kan? Lagipula Wade bilang dia akan datang sekitar jam tujuh pagi sedangkan ini masih jam setengah enam.
“Sia- ehh…E-Ethan!!” pekik Natasya terkejut. Kedua mata Natasya mengerjab pelan membuat Ethan yang melihatnya langsung terkekeh pelan.
“Selamat pagi, Natasya. Apa aku mengganggu tidurmu?” Ethan meneliti penampilan Natasya saat ini. “ahh… pasti kau masih tertidur tadi. Apa aku mengganggumu? Maafkan aku!!” Ethan menampakkan cengiran lima jarinya seperti biasa.
Mendengar perkataan Ethan saat ini sukses membuat wajah Natasya langsung berubah menjadi meram padam. Natasya memang belum terbiasa dengan suasana disini. Biasanya kalau di rumahnya, dia mau bangun jam berapa saja tidak akan ada yang peduli.
Ughh… kenapa dia malah memberikan kesan yang buruk di hari pertama sih?
“A-aku… anoo…” Natasya terlihat gugup.
“He..he… tidak apa-apa. Aku juga masih suka bangun siang kok.” Ethan mengibaskan tangannya. “kau juga pasti masih merasa kelelahan karena penerbangan kemarin, bukan? Terlihat dari raut wajahmu itu..” komentar Ethan kemudian.
“Hee…benarkah?” Natasya terkejut.
“Umhh.. begitulah. Maksud kedatanganku kemari karena aku ingin mengajakmu sarapan bersama tadinya. Kebetulan Kak Yui dan yang lainnya juga sedang berkumpul di bawah. Apa kau mau ikut bergabung bersama dengan kami?” tawar Ethan sambil tersenyum.
“Apa boleh?” tanya Natasya dengan penuh keraguan.
“Tentu saja. Seperti yang Yukira bilang kemarin kalau kita semua adalah keluarga disini termasuk kau juga. Meskipun kita berbeda tapi kita sudah disatukan menjadi satu keluarga sejak awal.”
“Keluarga, ya?” Senyum Natasya mulai terlihat mengembang. Sudah lama sekali dia tidak merasakan kehangatan keluarga. “baiklah. Aku akan bersiap-siap terlebih dahulu. Tunggu saja aku di bawah! Aku akan segera menyusul.”
“Baiklah...” Ethan melangkahkan kakinya menuju tangga sambil tersenyum. “ Aku tunggu kau di bawah, ya.”
“ Baik!”
Sudah lama sekali dia tidak merasakan suasana seperti ini. Meskipun mereka hanyalah sekedar tetangga apartemen biasa tapi entah kenapa dia merasa nyaman sekali berada disini berbeda dengan keluarganya yang tidak pernah memiliki waktu luang untuknya membuat dia merasa sangat kesepian.
Sekarang dia mengerti kenapa Wade sampai menawarkannya untuk tinggal di apartemen ini. Sepertinya Wade juga sudah sangat mengenal orang-orang yang ada disini dengan baik.
Mereka semua memang orang-orang yang sangat baik dan juga ramah.
Setelah bersiap-siap, Natasya sendiri terlihat langsung melangkahkan kakinya menuju lantai bawah, tempat semua orang sedang berkumpul saat ini. Terdapat zashiki kecil yang sepertinya sudah mereka jadikan tempat berkumpul seluruh penghuni apartemen.
“Selamat pagi, Natasya.” sapa Yukira dengan riang. “bagaimana dengan tidurmu? Apakah nyenyak?” Yukira tersenyum.
“Umh.. tidurku nyenyak sekali. Apartemen ini benar-benar sangat nyaman,” jawab Natasya sambil tersenyum.
“Syukurlah kalau kau merasa nyaman disini. Ayo, makanlah! Aku sudah menyiapkan sup miso dan juga tempura. Mungkin makanan ini cukup asing bagimu tapi kuharap kau menyukainya.” Yui menyerahkan semangkuk sup miso dan juga tempura yang langsung diterima dengan baik oleh sang empu.
“Masakan Kak Yui ini sangat enak lo. Kau pasti akan menyukainya.” Aiden mengatakannya dengan bersemangat.
“Aiden…sudah kubilang telan dulu makananmu sebelum kau berbicara. Kau ini!” Yukira mendengus kesal.
Natasya langsung tertawa melihat perdebatan keduanya saat ini. Dibandingkan dengan di rumahnya, di tempat ini terasa lebih ramai dan juga nyaman. Lingkungan di sekitarnya juga terasa lebih hidup. Meskipun dia orang baru disini tapi mereka juga selalu bersikap hangat padanya. Mereka benar-benar seperti keluarga baginya.
“Hey.. kenapa kau melamun?” Ethan menepuk pundak Natasya yang berada di sebelahnya dengan cukup keras hingga membuat sang empu langsung terkejut. “tidak perlu gugup ketika kau sedang bersama dengan kami. Santai saja.”
“Uhh.. tidak. Aku hanya merasa senang saja melihat kalian bercanda tawa seperti ini. Dulu, saat aku masih di Indonesia, suasananya tidak seperti ini.” Tatapannya menerawang. Natasya mengambil sumpitnya dan mengambil salah satu tempura. “ Selamat makan.”
“Memang apa bedanya?” tanya Aiden dengan nada heran. Sepertinya Aiden tidak menangkap apa maksud dari kalimat Natasya tadi. Mungkin Aiden mengira kalau Natasya sedang membahas suasana yang berbeda saat tinggal di Indonesia.
“Kau selalu merasa kesepian karena ditinggal oleh kedua orang tuamu yang selalu sibuk bekerja karena itulah kau selalu merasa canggung dengan suasana seperti ini. Kau tidak terbiasa berada di tempat ramai seperti ini. Aku benar, kan?” Ethan menepuk kepala gadis itu dengan perlahan, terlihat prihatin dengan keadaan Natasya saat ini.
“Ba-bagaimana kau bisa tahu!!” Natasya terkejut.
“Wade sempat menceritakan tentang dirimu padaku saat kau akan pindah kemari. Awalnya aku juga tidak tahu kalau Wade memiliki sahabat perempuan seperti dirimu. Awalnya aku cukup terkejut karena aku juga baru tahu Wade bisa dekat dengan seorang gadis.” Ethan tertawa. “kau selalu kesepian karena kedua orangtuamu yang selalu sibuk bekerja karena itulah kau memutuskan untuk tinggal di Tokyo sekarang.” Ethan menyuapkan kuah sup miso ke dalam mulutnya membuat semua orang yang disana mulai mengerti dengan kondisi Natasya saat ini.
“Kak Wade menceritakan semuanya padamu?” Natasya cukup terkejut plus heran. “tapi biasanya Kak Wade tidak pernah menceritakan apapun dengan sembarangan kalau tidak pada orang terdekatnya.” Kening Natasya terlihat mengkerut bingung.
Ethan terlihat tersenyum maklum mendengarnya. “Tentu saja! Aku dan Wade itu sudah sangat dekat. Dia sudah kuanggap seperti adikku sendiri mungkin sama seperti Wade menganggapmu sebagai adiknya. Meskipun agak menyebalkan tapi dia adalah orang yang sangat baik.”
“Begitu.” Natasya mengangguk paham. Wade juga pernah bilang, kalau ia juga sudah menganggap Ethan seperti saudaranya sendiri.
“Tapi apa kedua orangtuamu tidak merasa khawatir meninggalkan anak gadis mereka di negara orang sendirian saja?” tanya Yui agak heran dengan tingkah laku kedua orang tua Natasya saat ini.
Kalau ia yang jadi orang tua Natasya, pastinya dia akan merasa cemas sih apalagi mengingat Natasya itu masih anak yang duduk di bangku SMA.
Natasya menggelengkan kepalanya sebelum akhirnya ia menjawab, “Aku sudah mendapat izin dari orangtuaku untuk tinggal disini. Mereka juga terlihat tidak peduli dan malah sibuk dengan urusan masing-masing. Sebenarnya aku juga merasa sangat lelah. Mereka juga selalu bertengkar dan bertengkar, tidak pernah menganggap keberadaanku sama sekali. Mereka berpikir kalau aku hanya butuh uang mereka padahal yang kubutuhkan adalah cinta kasih sayang mereka.” Natasya berkata dengan lirih.
“Ya ampun… malang sekali nasibmu.” Yukira terlihat prihatin mendengar cerita Natasya sekarang.
“Karena itulah, sekarang kau bisa menganggap kami seperti keluarga keduamu. Jangan pernah merasa sungkan terhadap kami!” Yui tersenyum dan bangkit berdiri. “aku harus pergi. Masih ada beberapa tugas yang harus kuselesaikan. Aku permisi dulu, ya.” Yui berpamitan kepada semuanya yang sedang berada di ruangan saat ini.
“Pekerjaan seorang mangaka memang berat, ya. Kak Yui harus bekerja dari pagi sampai malam untuk menyelesaikan deadline setiap minggunya.” Aiden berkomentar. “aku juga harus berangkat ke sekolah. Duluan, ya.”
“Umhh…tidak apa-apa jika kalian kutinggal berdua kan? Aku juga harus berangkat ke cafe..” Yukira menatap keduanya dengan pandangan tidak enak.
“Tidak masalah. Kalian pergi saja. Aku bisa menjaga Natasya sendirian,” jawab Ethan dengan nada santai.
“Baiklah. Jangan berbuat macam-macam ya, kalian berdua.” goda Yukira usil.
Ethan langsung mendengus mendengarnya membuat Yukira dan Aiden yang melihatnya langsung tertawa.
“Memangnya kalian pikir aku akan berbuat apa?” erang Ethan jengkel.
“Kami hanya bercanda. Ayo Aiden, kita berangkat!!” Yukira tertawa.
Ethan sendiri terlihat hanya bisa mendengus melihat teman-teman apartemennya yang kini malah sering kali menggodanya sejak Natasya tinggal bersama dengan mereka.
Menyebalkan memang!
TBC
