Bab 2 - Kedatangan Tetangga Baru
Selama di perjalanan, Natasya terlihat begitu bersemangat ketika melihat kota Tokyo yang terlihat berkelap-kelip karena cahaya lampu dimana-mana.
Orang-orang masih terlihat ramai berlalu lalang saat ini. " Woah…keren. Meskipun aku sudah beberapa kali kemari tapi aku tidak pernah bosan berjalan-jalan di kota Tokyo saat malam hari.” Natasya menatap sekelilingnya dengan tatapan penuh binar.
"Hmm..benarkah?" Wade tertawa. Dia sudah terbiasa menghadapi kecerewetan sahabat perempuannya ini.
"Umhh… banyak sekali tempat yang ingin kujelajahi di kota ini. Pasti akan sangat seru. Selama ini, aku kan hanya bisa melihatnya dari internet tapi sekarang aku sudah menjadi warga Jepang juga dan aku pasti akan memiliki banyak waktu untuk mengunjungi tempat-tempat yang selama ini ingin kunjungi!” serunya dengan nada girang.
"Kalau aku ada waktu luang, aku akan mengajakmu untuk berkeliling." Wade tersenyum kecil.
"Benarkah?" Natasya menatap sahabat dekatnya itu dengan tatapan antusias.
"Tentu." Wade menoleh sekilas kepada Natasya sebelum akhirnya ia kembali fokus menyetir. "aku jadi heran kenapa kau tidak mau tinggal di kediaman Namikara saja bersamaku. Padahal papa dan mama saja sudah menyuruhmu untuk tinggal di rumah kami saja. Mereka bilang, mereka sangat merindukanmu.”
" Aku kan sudah bilang kalau aku tidak ingin merepotkan keluargamu, Kak Wade lagipula aku juga ingin hidup mandiri di kota ini." Natasya menjawabnya dengan gemas. “aku datang kemari bukan untuk merepotkan keluarga Kak Wade tahu..”
"Baiklah..." Terdiam selama beberapa saat, Wade terlihat seperti mengingat sesuatu dan langsung mengambil gadget yang berada di sakunya. Menempelkan benda pipih itu ke telinganya, Wade terlihat sedang menghubungi seseorang. Natasya sendiri terlihat masih asyik menatap pemandangan ke luar jendela saat ini tanpa mempedulikan apa yang sedang dilakukan Wade saat ini.
Tit-tit..
"Bagaimana? Apa kau sudah mempersiapkan segalanya, Ethan?” Wade terlihat terdiam sejenak, mendengar suara seseorang dari sebrang sana sebelum akhirnya ia kembali berkata, “kami akan segera sampai.” Natasya melihat Wade yang terlihat mengangguk sesekali. terima kasih. Kita bertemu disana.”
Natasya hanya menatap sahabatnya dengan raut wajah bingung. “Ethan.. siapa dia?” tanya Natasya yang terlihat penasaran.
“Dia calon tetanggamu yang baru.” Jawab Wade dengan santainya.
“Huh!” Natasya terkejut. “a-apa maksudnya?”
“Nanti kau juga akan tahu sendiri.” Wade tersenyum dan pada akhirnya kembali fokus menyetir. Natasya sendiri tampak tidak berniat berkata apa-apa dan memilih fokus pada pemandangan di luar saja.
Dia tidak boleh kepo!
.
.
.
Sementara itu di sisi lain, kita bisa melihat ada sekelompok orang yang sedang berkumpul yang kelihatannya sangat bersemangat, seperti ingin menyambut seseorang yang akan datang.
"Teman-teman, sebentar lagi Wade dan juga sahabatnya yang berasal dari Indonesia akan segera datang. Kita harus segera bersiap-siap.” Ethan mengatakannya dengan semangat tinggi.
“Aku baru tahu Wade memiliki sahabat perempuan. Sejak kapan dia betah berdekatan dengan perempuan?” Yukira tertawa.
“Bahkan aku juga langsung terkejut ketika Wade menceritakan padaku kalau dia memiliki sahabat perempuan. Dia memang tidak pernah mau terbuka padaku. Bahkan ketika mengenai gadis ini saja, dia tidak mau cerita.” Ethan mengeluh kesal.
“Mungkin Kak Wade memang menyukai gadis itu atau jangan-jangan…. dia kekasih Kak Wade lagi?” Aiden terkikik geli.
“Yang benar saja…” Ethan memutar kedua bola matanya dengan malas. “Tidak mungkin Wade tidak menceritakan apapun padaku kalau dia memang sudah memiliki seorang kekasih.”
“Tapi aku bersyukur akan ada seorang anak perempuan selain aku di apartemen ini. Jadi aku tidak perlu terjebak bersama kalian, tetangga-tetangga usil.” Yukira menghela nafasnya dengan lega.
“Hey, apa maksudmu!!” sungut Aiden tidak terima.
“Aku kan tidak usil!!” gerutu Ethan tidak kalah kesalnya.
“ Hey… hey…jangan bertengkar! Bukankah seharusnya kita memberi kesan pertama yang baik kepada penghuni baru apartemen kita yang akan datang sebentar lagi?”
Yui, selaku pemilik apartemen ini terlihat keluar dari kamarnya sambil memijit pelipisnya dengan agak kesal, melihat tingkah penghuni apartemennya yang terkesan kekanak-kanakan. Tiada hari tanpa mereka bertengkar dan ini tidak bagus untuk pekerjaannya. Padahal dia memerlukan ketenangan untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Yui adalah seorang mangaka terkenal dan apartemen ini termasuk warisan dari kedua orang tuanya sehingga Yui memutuskan untuk menjaga apartemen ini dan terus menjalankannya.
Yukira merupakan pekerja di sebuah café ternama yang sudah berumur 21 tahun sedangkan Aiden sendiri masih merupakan pelajar SMP yang memutuskan untuk belajar hidup mandiri, jauh dari kedua orang tuanya dan terakhir adalah Ethan, seorang mahasiswa jurusan seni. Mereka bertiga tinggal di apartemen yang sama dan sudah menjadi seperti seorang keluarga. Karena itulah, setiap ada penghuni baru yang akan datang ke apartemen mereka, mereka pasti akan langsung merasa antusias seperti sekarang.
“Dia berasal dari Indonesia kan?” tanya Yui kepada Ethan yang masih sibuk berdebat dengan Yukira.
“Begitulah… tapi kalian tenang saja. Meskipun berasal dari Indonesia tapi dia fasih berbicara bahasa jepang kok. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan!” Ethan tertawa.
"Tapi aku bersyukur Wade yang dinginnya seperti kulkas itu ternyata masih bisa berinteraksi selain dengan kau." Yukira tertawa.
"Jujur aku juga merasa terkejut. Kalau gadis ini bisa menarik perhatian Wade sampai Wade juga betah berteman dengannya, gadis ini pasti bukan gadis biasa." Ethan tertawa. "Aku sudah mengenal Wade sejak kecil. Dia orangnya sangat tertutup dan sulit mempercayai orang lain. Jadi aku sendiri masih tidak mempercayainya."
"Bukankah harusnya kau bersyukur, Kak?" Aiden tertawa. "Tapi setidaknya tidak hanya kak Wade saja yang mendapat teman tapi kita juga. Akus sudah tidak sabar menyambut tentangga apartemen kita yang baru. Bagaimana dia?" tanya Aiden dengan nada antusias.
"Menurut yang Wade katakan, dia gadis yang ceria tapi juga pemalu. Aku tidak tahu pasti bagaimana sifatnya karena ini pertama kalinya juga aku bertemu dengannya."
"Cerita tapi pemalu, heh? Sepertinya dia lucu juga." Aiden terkekeh pelan.
"Hey... jangan genit, ya! Kakak tidak akan memaafkanmu kalau sampai kau menggodanya." dengus Yukira jengkel yang membuat Aiden yang mendengarnya langsung terkekeh pelan.
"Lagipula kau ini masih anak SMP, Aiden. Masa kau mau mengincar gadis yang duduk di bangku SMA sih?" Ethan menggelengkan kepalanya.
"Selama dia cantik, kenapa tidak sih?"
Semua orang terlihat hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat tingkah cap kadal Aiden yang mulai keluar. Aiden memang masih anak SMP tapi sepertinya sifat-sifat pubernya sudah mulai keluar.
Wajar saja sih lelaki tertarik pada wanita tapi-
Ting-Tong
“Ah…itu pasti mereka.” Ethan berdehem sejenak. “biar aku yang menemui mereka berdua terlebih dahulu.” Ethan langsung bergegas menuju luar apartemen membuat semua orang yang melihat tingkah Ethan yang terlampau sangat bersemangat terlihat hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Cck... dasar dia ini...” Yui berdecak.
TBC
