Bab 1 - Kota Tokyo
Kota Tokyo merupakan pusat ibu kota Negara Jepang. Kota yang memiliki teknologi yang sangat canggih dan memiliki banyak budaya unik di dalamnya itu bisa kita nikmati bahkan sampai ke manca negara sekalipun. Dimulai dari teknologinya, budaya serta tempat wisatanya yang sangat memukau.
Siapa sih yang tidak ingin datang ke Jepang? Banyak sekali orang-orang yang ingin sekali tinggal di Tokyo termasuk gadis yang berasal dari Indonesia ini. Gadis ini selalu berangan-angan ingin sekali bisa tinggal di Negara Jepang sejak kecil dan ketika kedua orang tuanya menyetujui hal tersebut, gadis itu langsung memutuskan untuk tinggal disana bersama sahabat jauhnya yang memang tinggal di Negeri Sakura tersebut.
Nama gadis itu adalah Natasya. Karena kesibukan orang tuanya yang tidak berujung membuat Natasya sampai nekad meminta izin kepada mama dan papanya agar dia bisa tinggal di Tokyo bersama dengan sahabat dekatnya yang kebetulan tinggal disana. Alasannya cukup sederhana karena Natasya sendiri merasa kesepian karena ia selalu ditinggal sendirian di rumah.
Papanya merupakan seorang direktur perusahaan ternama sedangkan mamanya sendiri memiliki perusahaan merek komestik ternama di seluruh Indonesia. Orang tuanya selalu saja sibuk dan jarang sekali pulang ke rumah dan tidak jarang orang tuanya juga selalu pergi ke luar negeri dan malah meninggalkannya sendirian.
Untungnya, meskipun selama ini gadis itu tinggal di Indonesia tapi gadis itu sangat fasih berbicara Bahasa Jepang karena dia selalu diajarkan oleh sahabatnya yang tinggal di Jepang meskipun mereka hanya berteman secara online saja tapi tak jarang mereka juga suka bertemu saat musim liburan sudah tiba.
Natasya selalu menyempatkan diri untuk bisa berlibur ke negara sahabatnya itu.
Nama sahabatnya adalah Namikara Wade, anak bungsu dari Keluarga Namikara. Keluarga Namikara merupakan keluarga terkaya kedua di negara Jepang untuk saat ini. Jarak umur mereka juga hanya terpaut dua tahun saja. Walaupun jarak memisahkan mereka tapi hubungan mereka sudah layaknya seperti adik dan kakak kandung.
Awal mereka berkenalan tidak disengaja saat mereka sedang iseng mencari teman di media sosial. Waktu itu, Natasya sedang iseng-iseng mencari sahabat dari Jepang yang bisa ia ajak bicara dan secara kebetulan, Natasya akhirnya berkenalan dengan Wade. Awalnya Wade itu sangat kaku dan juga selalu bersikap dingin padanya tapi akhirnya mereka bisa berteman akrab sampai sekarang. Perjuangan untuk meluluhkan Wade itu pastinya tidak mudah.
Saat ini, terlihat Natasya sedang berada di dalam kamarnya dan terlihat sedang melakukan video call bersama dengan Wade yang baru saja pulang kerja. Meskipun masih muda tapi Wade sudah dipercaya oleh keluarganya untuk mengurus perusahaan besar.
Hebat, bukan? Kadang Natasya jadi merasa iri dengan Wade yang bisa melakukan segalanya.
"Benarkah? Kau benar-benar akan pindah ke Tokyo? Apa ayah dan ibumu sudah mengizinkanmu?" Wade tampak terkejut.
"Tentu saja." Natasya mengatakannya dengan bersemangat. " Jangan khawatir!! Papa dan mama juga sudah menyetujui keberangkatanku ke Jepang bahkan mereka sudah menyiapkan visa dan juga pasporku agar aku bisa berangkat kesana." Natasya tersenyum lima jari.
Wade langsung terlihat melongo mendengarnya. Secepat itu? Apa ayah dan ibu gadis itu sama sekali tidak merasa jauh dengan anaknya atau merasa kesepian karena ditinggal anaknya pergi jauh?
Benar juga!! Ayah dan ibu gadis itu selalu saja sibuk dengan pekerjaan mereka dan dia tahu kalau Natasya sebenarnya merasa kesepian selama ini. Kasihan juga gadis ini…
Kehidupannya tidak jauh berbeda dengannya sekarang.
"Begitu.." Wade mengangguk paham.
"Kak Wade..." Natasya mendesah kecewa. "apa Kak Wade tidak suka kalau aku tinggal di sana?" Natasya merengut kecewa. Karena hubungan mereka sudah sangat dekat, Natasya bahkan sampai memanggil Wade dengan sebutan kakak layaknya Natasya sudah menganggap Wade seperti kakak kandungnya sendiri.
Keluarga Wade juga sudah sangat mengenal Natasya bahkan mereka pernah berniat mengadopsi Natasya menjadi keluarga mereka ataupun sekedar berniat menjodoh-jodohkan Natasya dengan Wade yang membuat Natasya hanya bisa cengengesan pada saat itu. Tidak hanya dekat dengan Wade saja tapi Natasya juga dekat dengan kakak kandung Wade yaitu, Namikara Kazuha.
Melihat raut wajah Natasya yang menekuk sedih membuat Wade langsung tertawa. "Maaf… maaf.. aku hanya terkejut saja tadi. Tentu saja dengan senang hati aku akan menerimamu disini. Jadi kapan kau akan berangkat kemari? Jadi aku juga bisa menjemputmu di bandara nanti." Wade bertanya.
Natasya terlihat berfikir sambil menopang dagunya kebingungan. “Mungkin… minggu depan." Natasya terdiam sejenak. "aku harus mengurus beberapa berkas perpindahanku dulu soalnya."
"Tentu saja, Natasya." Wade tersenyum balik. Hatinya ikut menghangat ketika membayangkan mereka akan hidup di satu negara yang sama sekarang. "kalau begitu, kita akhiri dulu pembicaraan kita sekarang! Masih ada urusan yang harus kuselesaikan."
Dia lupa masih ada berkas yang harus ia kerjakan untuk rapat penting besok.
Ya ampun!! Benar-benar melelahkan.
Natasya mengangguk dan memilih mengakhiri panggilan video call mereka. Layar gadgetnya sudah kembali ke menu utama. Dia sudah tidak sabar untuk bisa segera bertemu dengan sahabatnya itu.
Mungkin ke depannya, kehidupannya akan jauh lebih berbeda.
.
.
.
Tidak terasa hari keberangkatan Natasya telah tiba. Tidak seperti wanita kebanyakan, Natasya hanya membawa barang-barang penting saja seperti pakaian, berkas-berkas penting, laptop beserta gadget dan beberapa keperluan penting lainnya. Natasya juga sudah meminta tolong kepada Wade untuk mencarikan tempat tinggal untuknya selama ia tinggal di Jepang.
Awalnya Wade tidak setuju dan menyuruhnya untuk tinggal saja di Kediaman Namikara saja tapi Natasya menolak dengan tegas dengan alasan, dia juga ingin hidup mandiri dan akhirnya Wade pun terpaksa mengalah.
Berdebat dengan gadis itu tidak akan ada ujungnya sama sekali.
Perjalanan dari Indonesia ke Jepang memakan waktu sekitar 8 jam. Perjalanan itu benar-benar menjadi perjalanan yang melelahkan untuk Natasya. Saat ini saja, dia sudah merasa mual dan pusing. Natasya memang tidak terbiasa melakukan penerbangan jauh. Inginnya dia langsung istirahat dan tidur di kasur yang empuk agar dia juga bisa segera menyebrang ke alam mimpi.
Jam berapa ini? Matahari sudah tenggelam ke ufuk barat, digantikan oleh cahaya rembulan dan juga bintang-bintang.
"Lelahnya!!" Natasya meregangkan ototnya yang terasa kaku karena merasa kelelahan akibat perjalanan jauh yang baru saja ia tempuh. Kepalanya menoleh kesana kemari mencari, mencoba mencari sosok sahabatnya yang tidak terlihat dimanapun. " Mmh...dimana Kak Wade?" rengutnya sebal.
Natasya memutuskan untuk menunggu Wade di ruang tunggu bandara. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya orang yang ditunggunya datang juga. Sahabatnya itu memang masih sangat tampan dengan rambut spike coklatnya yang tampak sedikit mencuat ke atas dengan mata onyx-nya yang tajam. Wajah Natasya langsung terlihat berseri-seri ketika melihat Wade sudah datang.
"Kak Wade..." panggil Natasya dengan bersemangat.
"Natasya, akhirnya kau datang juga." Wade memeluk Natasya dengan erat. "selamat datang di Tokyo, Natasya."
“ Terima kasih…" Natasya membalas pelukan Wade tidak kalah eratnya. "Kak Wade, apa kau sudah mendapatkan tempat tinggal untukku? Aku lelah sekali karena habis melakukan penerbangan jauh. Aku ingin segera beristirahat," rengeknya manja.
Wade langsung tersenyum mendengarnya. "Tentu saja. Kau lupa kalau kau bisa mengandalkanku!" Wade menunjuk dirinya dengan bangga.
Natasya yang mendengarnya sontak terkikik geli. Pada akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk berangkat bersama.
TBC
