#BAB 4 MANGSA HASRAT (21+)
Kesadaran Nana datang dan pergi seperti ombak, diseret oleh arus rasa memabukkan yang belum pernah dia rasakan.
Dia merasakan pergerakan, angin malam yang menyapu kulitnya yang sensitif, dan kehangatan yang solid di sekelilingnya.
Bai Xing membawanya. Nana ingin menolak, ingin berteriak, tetapi setiap upaya hanya menghasilkan desahan lemah. Tubuhnya bukan lagi miliknya, itu adalah kumpulan saraf yang terbakar, menuntut sesuatu yang hanya sosok yang membawanya ini yang bisa berikan.
Mereka memasuki sebuah gua...
Keheningan di dalamnya tiba-tiba, menelan suara hutan. Udara terasa lebih dingin, membawa bau tanah basah dan batu.
Bai Xing meletakkan Nana dengan lembut di atas permukaan yang rata dan halus, sepertinya batu yang telah dipoles oleh waktu atau sering diasah.
Cahaya bulan purnama menyusup dari suatu celah di langit-langit atas gua, menerangi ruangan kecil itu dengan cahaya perak.
Dan saat Nana memutar kepalanya yang lemas, dia melihatnya...
Gua ini. Bentuknya, batu yang menonjol, bahkan kesan umumnya… sama persis. Ini adalah gua tempat dia menemukan ular putih yang terluka, dulu.
"Di sini," gumam Bai Xing, suaranya bergema rendah di ruang tertutup.
Dia berlutut di samping Nana, dan di bawah cahaya bulan, dia tampak seperti makhluk dari dunia lain. Perak dan emas serta bayangan.
Nana mencoba untuk bicara, untuk memohon. "Tolong… jangan…" Tapi kata-katanya terpotong oleh erangan saat Bai Xing meletakkan tangannya yang dingin di perutnya, di atas kain baju kaosnya.
Sentuhannya bukanlah sentuhan kekasih. Seperti seorang dokter memeriksa pasien. Tapi itu mengirimkan gelombang kejut kenikmatan yang liar melalui tubuh Nana, membuatnya melengkung.
"Sshh," dia mendesis, dan desisannya seperti ular. Matanya yang keemasan tak berkedip, mempelajari setiap kedipan mata, setiap kedutan otot di wajah Nana. "Ini harus terjadi. Biarkan ini terjadi."
Dengan tangan yang sama stabilnya, dia meraih ujung kaos Nana. Nana menangis, tangisan ketakutan dan protes yang tulus, ketika kain itu ditarik ke atas dan dilepaskan, membiarkan udara gua yang dingin menyentuh kulitnya yang terbakar.
Rasa malu membara di pipinya, tetapi itu tenggelam oleh banjir hasrat yang lebih besar. Dia memalingkan wajahnya, air mata mengalir ke pelipisnya, menetes ke batu dingin di bawahnya.
Dia mendengar suara kain bergesekan saat Bai Xing melepas pakaiannya sendiri. Dia tidak berani melihat. Tapi dia merasakan kehadirannya yang sekarang telanjang mendekat, merasakan panas yang berbeda darinya, panas yang mengancam sekaligus menggiurkan.
Ketika Bai Xing menyentuhnya lagi, dari kulit ke kulit, Nana menangis keras. Tapi tangisan itu berubah menjadi jeritan yang terengah-engah saat jari-jari Bai Xing yang terampil menjelajahi tubuhnya yang gemetar, menemukan kelembapan yang sudah menunggu di antara pahanya, kelembapan yang memalukan, bukti pengkhianatan tubuhnya sendiri terhadap ketakutannya.
"Ini bagus," bisik Bai Xing, lebih kepada dirinya sendiri daripada padanya. "Tubuhmu ingat. Itu akan membuatnya lebih mudah."
Lebih mudah untuk apa???
Pikiran Nana berteriak, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Kemudian, dia merasakannya. Tekanan yang besar, tumpul, dan sangat asing di ambang dirinya yang paling intim. Napasnya tercekat. Dia mengencangkan setiap otot, berusaha menolak, menutup dirinya.
Bai Xing berhenti. Dia melihat ke wajah Nana, dan untuk sepersekian detik, Nana pikir dia melihat sesuatu, sebuah pertarungan batin, di balik mata reptil itu.
Tapi itu hilang. "Ini akan sakit," dia mengingatkan, suaranya keras. "Hanya sekali."
Dan dia mendorong...
"Aaaaaaakh...!" Nana menjerit.
Sakitnya tajam dan meledak, merobek melalui kabut hasrat, mengingatkan bahwa ini adalah pelanggaran, ini adalah serangan. Nana mencoba mendorongnya, kukunya mencakar kulit pucat di lengan Bai Xing, tetapi dia bahkan tidak goyah.
Bai Xing terus maju, dalam dan semakin dalam, sampai Nana merasa terbelah, terisi penuh dengan cara yang tidak terbayangkan.
Dia terisak, tersedak oleh rasa sakit dan sensasi terlalu penuh di bagian intimnya. Bai Xing diam, membiarkannya menyesuaikan diri, matanya tertancap pada Nana, memantau. Kemudian, perlahan, dia mulai bergerak.
Dan di situlah… segalanya berubah.
Rasa sakit yang tajam mulai mereda, berubah menjadi sensasi menggosok yang dalam, aneh, dan secara bertahap… merangsang.
Tubuh Nana, yang sudah dirangsang oleh racun atau ikatan atau apa pun itu, mulai merespon. Setiap dorongan menciptakan gesekan yang memicu percikan api di sarafnya. Kehangatan menyebar dari tempat mereka bersatu, mengalir ke luar ke setiap ujungnya.
Nana mendesah. Suara itu memalukan, penuh kenikmatan. Dia menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahannya.
"Jangan," perintah Bai Xing, pertama kalinya suaranya mengandung sesuatu selain datar. Dia menarik tangan Nana. "Aku perlu mendengarnya. Aku perlu tahu itu bekerja."
Gerakannya menjadi lebih percaya diri, lebih dalam, menemukan ritme yang membuat Nana kehilangan akal.
Nana tidak bisa menahannya lagi. Erangan lembut keluar dari bibirnya, dengan setiap dorongan pinggul Bai Xing, semakin keras, semakin putus asa.
Tangisannya masih terisak, tetapi sekarang mereka bercampur, antara air mata karena pelanggaran, karena rasa malu, dan air mata karena kenikmatan yang memaksakan yang naik di dalam dirinya, tak terbendung.
Dia tidak menginginkan ini. Tapi tubuhnya mendambakannya. Dia merasakan tekanan yang mengumpulkan, sebuah kumparan yang mengencang di pangkal pahanya, mendorongnya ke arah sesuatu yang dia takuti dan inginkan dalam ukuran yang sama.
Bai Xing membungkuk, wajahnya dekat dengan lehernya. Napasnya yang hangat membelai kulitnya.
"Ya, sssssh..." desisnya, suaranya serak. "Begitulah. Lepaskan."
Izin itu, diucapkan dengan nada perintah, adalah yang mematahkan pertahanan Nana. Gadis itu berteriak, suaranya bergema di gua, saat gelombang kenikmatan menghancurkannya.
Klimaks itu liar, kasar, dan begitu intens sehingga seperti rasa sakit yang nikmat. Dia berguncang di bawah kungkungan Bai Xing, tidak berdaya, sementara Bai Xing terus bergerak, gerakannya menjadi lebih kasar, lebih terburu-buru, seolah dia juga sedang ditarik ke tepi.
Dia mengerang, suara rendah yang lebih mirip geraman hewan, dan Nana merasakan semburan kehangatan cairan di dalam dirinya, mengisi ruang yang sudah dia nikmati sensasinya. Bai Xing bergetar di atasnya untuk beberapa saat, lalu diam.
Keheningan turun, hanya terisi oleh suara napas mereka yang terengah-engah. Kabut di pikiran Nana mulai sedikit tersibak, dan kenyataan kembali dengan kekuatan yang menghancurkan.
Apa yang baru saja terjadi??
Apa yang dia biarkan terjadi??
Apa yang dia nikmati?!
Isaknya pecah, keras dan tak terkendali. Dia menarik lututnya, ingin menyembunyikan diri, tapi Bai Xing masih di atasnya, miliknya masih berdenyut mengaliri air mani di dalam rahim Nana. Gadis itu memalingkan wajahnya, air mata mengalir deras.
Bai Xing perlahan menarik diri. Dibarengi dengan cairan hangat yang meluber keluar dari sela paha Nana. Dia berdiri, bayangan dirinya jatuh di atas Nana.
Bai Xing berpakaian dengan efisiensi yang sama seperti dia melepasnya. Dia memandangi Nana yang tergulung dan gemetar, dan ekspresinya kembali seperti topeng batu yang tidak terbaca.
"Diamlah," nasehat Bai Xing, suaranya kembali datar, seolah-olah momen intensitas di antara mereka belum pernah terjadi. "Tidurlah. Kita perlu mengumpulkan kekuatanmu."
Dia berbalik, mengambil sesuatu dari lantai gua, sepertinya selembar selimut yang terbuat dari kulit atau bulu halus dan membungkus tubuh Nana yang menggigil. Nana sedikit tersentak, lalu nafasnya mulai teratur kembali.
"Besok," tambahnya, sambil berjalan menuju pintu masuk gua, bayangannya menyatu dengan kegelapan di luar. "Kita lanjutkan lagi."
Dan Bai Xing pergi, meninggalkan Nana sendirian di gua yang hanya diterangi cahaya bulan, bau keringat dan mani mereka bercampur di udara, tubuhnya masih berdenyut dengan kehancuran, jiwa terbelah antara kengerian dan sisa-sisa kenikmatan yang memalukan.
Dia menarik selimut itu ke atas tubuhnya yang telanjang dan kotor, meringkuk menjadi bulatan bola yang bergetar, dan menangis sampai tidur yang gelap dan tanpa mimpi menyelimutinya...
*
