#BAB 3 REUNI YANG MENGGIGIT
Gelap yang tidak terlalu pekat menyambut Nana di bawah kanopi hutan di sisi yang berbeda. Ini gelap yang hidup, bernafas, penuh dengan bisikan daun dan suara tanah yang terinjak makhluk tak terlihat.
Nana hanya berjalan beberapa langkah dari tepi sungai, tetapi sudah merasa terputus dari dunia api unggun dan tawa teman-temannya. Hanya sorotan bulan purnama yang menyusup di antara cabang-cabang pohon, menciptakan kolam-kolam cahaya perak di tanah berumput.
Sisik di dadanya tidak lagi hangat. Sekarang dia membara, seolah menyatu dengan panas aliran darahnya sendiri. Setiap langkah semakin dalam, aroma herbal dan logam itu semakin kuat, memenuhi paru-parunya, membuat kepala sedikit pusing.
“Halo?” suara Nana pecah di tengah keheningan, lebih seperti desahan daripada panggilan. “Apa… ada orang?”
Jawabannya bukan kata-kata. Tapi...
Sebuah bayangan memisahkan diri dari batang pohon besar di depannya. Bukan bayangan gelap, tetapi sesuatu yang menyerap cahaya bulan dan memantulkannya kembali dalam nuansa mutiara dan perak.
Nana berhenti, napasnya tertahan.
Sosok itu... adalah sosok pria. Atau, sesuatu yang mengambil wujud pria. Tinggi, jauh lebih tinggi darinya, dengan bahu bidang yang terisi sempurna oleh kemeja hitam sederhana. Rambutnya yang sebahu, berwarna perak platinum yang berpendar lembut dalam cahaya bulan, seperti sisik yang diterjemahkan menjadi helaian rambut. Tapi yang membuat Nana tak bisa bergerak adalah...
Matanya!
Mata dengan pupil vertikal sempit, berwarna emas cair.
Mata yang Nana lihat di mimpinya. Mata dari ingatan masa kecilnya.
Dia tidak perlu bertanya siapa sosok ini. Namanya muncul di benak Nana, seperti selalu ada di sana.
Bai Xing.
“Kau…” Nana berbisik, suaranya hilang.
Rasa takut yang murni mencengkeram tenggorokannya, tetapi di bawahnya ada gelombang pengakuan yang lebih dalam, lebih bijak. Tubuhnya mengenali sosok ini, meski pikirannya berteriak untuk lari.
Bai Xing tidak tersenyum. Wajahnya sempurna, dipahat dengan garis rahang tajam dan bibir tipis, tetapi tanpa emosi. Dingin seperti batu marmer di bawah cahaya bulan.
Dia memandang Nana, tatapannya menyapu dari wajahnya ke lehernya, seolah bisa melihat sisik yang tersembunyi di balik baju kaos yang Nana pakai.
“Aku datang,” ucapnya, suaranya serak dan dalam, seperti gesekan kerikil di dasar sungai. “Untuk apa yang sudah kau janjikan.”
“J-janjikan?” Nana mengulangi, bingung.
Pikirannya berputar. Dia tidak ingat pernah menjanjikan apa pun. Dia hanya seorang anak yang menolong seekor ular yang terluka. “Aku… aku tidak merasa janji apa-apa. Aku cuma… menolongmu.”
Bai Xing mengabaikan protesnya. Dia melangkah maju, gerakannya halus dan mengalir, tidak seperti manusia. Tidak ada suara kaki menyentuh tanah. Nana ingin mundur, tapi kakinya tertanam, tak bisa bergerak.
“Janji itu tidak diucapkan dengan kata-kata, Nana,” jawab sosok itu.
Nana mendengar namanya diucapkan oleh suara asing itu membuatnya menggigil.
“Janji itu tertulis dalam darahmu. Dalam ikatan yang kau ciptakan saat kau menyentuhku dengan kehidupanmu yang masih murni.” ucap sosok itu lagi.
Dia sekarang hanya berjarak satu hasta. Nana bisa mencium aromanya sekarang. Campuran yang sama dari hutan, herbal, dan sesuatu yang liar, tetapi lebih terkonsentrasi, memabukkan.
Bai Xing mengangkat tangannya. Jari-jarinya panjang, ramping, dengan kuku yang terpelihara namun tajam.
Nana menjerit kecil saat ujung jari dingin itu menyentuh kulitnya di atas tulang selangka, tepat di tempat sisik keperakan tersembunyi di balik baju dan rantai kalung. Saat sentuhan itu menekan, dua hal terjadi sekaligus.
Pertama, sisik di dada Nana menyala dengan panas yang begitu intens, begitu menyengat, hingga Nana yakin akan membakar kulitnya.
Kedua, sengatan yang menyentak. Bukan listrik, tapi sesuatu yang lebih alami, lebih dalam dan merambat dari titik sentuhan itu, menyebar ke seluruh tubuh Nana dengan kecepatan cahaya.
Nana merinding hebat. Seluruh kulitnya menjadi sensitif, setiap bulu kuduk berdiri. Dari dalam, rasa hangat aneh mulai merayap dari perutnya, menyebar ke anggota tubuh lain, membuatnya lemah dan ingin berlutut. Bukan demam. Ini… berbeda. Menggelitik. Mengganggu.
“Apa... apa yang kau lakukan?” teriak Nana, suaranya bernada tinggi dan panik. Dia akhirnya berhasil mundur, tersandung di atas akar.
“Mengingatkan jiwamu pada ikatannya,” jawab Bai Xing, tetap datar.
Matanya yang emas itu, memancarkan cahaya redup sendiri. “Kau memanggilku. Dengan setiap napasmu sejak kau tiba di hutan ini. Dengan setiap denyut jantungmu yang berdebar kencang untuk sesuatu yang tidak kau mengerti.”
“Itu tidak benar!” Nana membantah, tapi rasanya seperti kebohongan.
Kehangatan di tubuhnya semakin menjadi, berubah menjadi rasa geli yang dalam, membuatnya ingin menggesekkan kulitnya pada sesuatu. Dia merasa… gelisah. Kosong dan terisi penuh sekaligus.
Ketakutan Nana akhirnya menang. Nana berbalik dan lari.
Dia berlari secepat yang dia bisa, kembali ke arah cahaya api unggun yang jauh, kakinya terhuyung-huyung di atas tanah tidak rata. Suara darah yang mendesis di telinganya memekakkan. Dia tidak melihat ke belakang.
Dia tidak perlu!
Nana belum berlari sepuluh langkah ketika sosok itu muncul di depannya, seolah dia terbang dan terhanyut di udara itu sendiri. Bai Xing berdiri di jalannya, tidak terengah-engah, tidak terganggu.
“Jangan sia-siakan tenagamu,” cegah Bai Xing, suaranya sekarang mengandung sedikit nada dengan kesabaran yang habis. “Kau tidak bisa lari dari takdirmu. Dari aku.”
Nana berbalik lagi, berniat untuk berlari ke arah lain, ke dalam hutan yang lebih gelap, ke mana pun asal menjauh. Tapi gerakannya terlalu lambat. Bai Xing sudah di sisinya, tangannya yang dingin namun kuat menangkap pergelangan tangan Nana.
“Lepaskan!” jerit Nana, berjuang.
Tapi cengkeraman sosok itu seperti besi. Dan sentuhannya… sentuhannya memicu reaksi yang lebih buruk. Kehangatan itu menjadi panas. Kegagalannya kabur menjadi keinginan yang membara. Napasnya menjadi pendek.
Bai Xing memandangnya, dan untuk pertama kalinya, ekspresi datarnya retak. Ada sesuatu di matanya yang keemasan itu. Frustrasi? Putus asa?
“Aku telah menunggu terlalu lama,” desisnya, wajahnya sekarang sangat dekat. Nana bisa melihat bintik-bintik emas yang lebih kecil di iris matanya. “Dan waktunya hampir habis.”
Kemudian, sosok itu menarik napas dalam-dalam, dadanya mengembang. Dan dia menghembuskannya perlahan ke arah wajah Nana.
FUUUUUH...
Aroma yang keluar bukanlah aroma napas biasa. Aromanya manis, seperti madu dan bunga tropis yang terlalu matang, dicampur dengan keharuman kayu cendana yang hangat. Sangat memabukkan. Nana secara naluriah menghirupnya, dan aroma itu langsung menyergap indranya, memenuhi kepalanya dengan kabut.
Efeknya langsung terasa...
Semua kekuatan di kaki Nana mengalir keluar. Perlawanannya meleleh. Kehangatan yang menggelitik di tubuhnya meledak menjadi gelombang panas yang menyilaukan, berkonsentrasi rendah di perutnya, menyebar ke tempat-tempat yang membuatnya malu.
Nana mendesah, suara yang terengah-engah dan tidak terkendali keluar dari bibirnya, dan dia bergantung pada cengkeraman Bai Xing agar tidak terjatuh.
Pikirannya berjuang melalui kabut. Ini salah! Ini sangat salah! Tapi tubuhnya… tubuhnya merespon seolah ini adalah hal yang paling benar di dunia. Seolah kosong yang dia rasakan tadi akhirnya menemukan bentuk yang dimaksudkan untuk diisi.
Bai Xing menatapnya, dan Nana, melalui kepulan keinginan yang memabukkan itu, melihat sesuatu yang mirip kesedihan melintas di mata emas itu.
“Lihatlah,” bisiknya, suaranya sekarang lembut, hampir menyesal. “Lihat bagaimana jiwamu mengenali kebenaran, meski akalmu menolak.”
Dia mengangkat tangan bebasnya, dan dengan kuku yang tajam, dengan lembut menyentuh sisi leher Nana, tepat di mana denyut nadinya berdetak kencang liar.
“Ini takdirmu, Nana,” gumam Bai Xing, kata-katanya seperti mantra terakhir. “Dan takdir tidak meminta izin.”
Suasana hutan yang temaram, rasanya manis, dan panas menyelimuti Nana. Gadis itu merasakan dirinya diangkat, dunia berputar, dan kesadarannya memudar, bukan menjadi ketidak-sadaran, tetapi menjadi penyerahan total terhadap gelombang aneh dan liar yang sekarang menguasai setiap inchi dari kesadarannya.
