#BAB 5 PENOLAKAN
Nana terbangun dengan cahaya pagi yang pucat merayap masuk melalui celah langit-langit gua, menerpa wajahnya. Untuk beberapa detik yang dis-orientasi, dia tidak ingat di mana dia berada.
Lalu, semuanya datang kembali dengan ingatan memori otaknya. Hutan, mata reptil keemasan, desahan manis, batu dingin di punggungnya, dan rasa... penuh gairah klimaks.
Dia duduk dengan cepat, dan serangkaian rasa sakit yang tajam menyambutnya. Otot-otot yang tidak biasa digerakkan berteriak protes. Ada rasa sakit yang tumpul dan dalam di antara pahanya, dan rasa lengket yang tidak nyaman di kulit paha bagian dalam.
Dia masih telanjang di bawah selimut kulit, dan saat dia melihat sekeliling gua yang sunyi, rasa malu yang membara memanas di pipinya.
Tapi yang lebih mengganggu daripada rasa sakit atau malu adalah sisa sensasi lainnya. Sebuah kehangatan yang masih bersemayam di dalam perutnya. Sebuah keinginan samar yang menggelitik, seolah tubuhnya mengingat kenikmatan paksa itu dan... merindukannya.
"Tidak," dia berbisik ke udara yang dingin, suaranya serak karena tangisan. "Tidak, tidak, tidak!"
Dia menggenggam kepala dengan kedua tangan, jari-jarinya menancap ke kulit kepala. Dia membenci dirinya sendiri. Membenci tubuhnya yang berkhianat. Membenci rasionalitasnya yang goyah.
Nana bangkit, membungkus selimut itu erat-erat di sekelilingnya seperti perisai pelindung, dan mulai mencari pakaiannya. Kaos dan celana pendeknya tergeletak di lantai, kusut dan sedikit kotor. Dia mengenakannya dengan tangan gemetar, setiap gerakan mengingatkannya pada kejadian semalam.
Saat dia merapikan baju, jarinya menyentuh sisik di lehernya. Dingin kembali. Seperti sepotong logam mati.
Apakah ini yang memanggilnya?
Apakah benda ini semacam umpan?
Dia sedang mengikat tali sepatunya ketika dia mendengar suara langkah kaki. Tenang. Tidak terburu-buru.
Bai Xing muncul di mulut gua, membelokkan cahaya pagi. Dia membawa sesuatu dengan daun lebar yang dibungkus menjadi seperti piring, berisi buah beri merah dan beberapa potong daging panggang yang masih mengepulkan asap tipis. Dia juga membawa sebuah kantung air dari kulit.
Dia terlihat sama sempurnanya seperti semalam, tanpa tanda-tanda kerusuhan atau penyesalan. Rambut peraknya disisir rapi, pakaiannya bersih. Dia hanya memandang Nana yang baru saja siap berdiri.
"Kau sudah bangun," ucapnya, menyatakan fakta. Dia meletakkan makanan di atas batu datar dekat dinding. "Makanlah. Kau butuh energi."
Suara itu datar, tanpa emosi, memicu amarah di dalam dada Nana. Amarah yang menenggelamkan rasa malu dan ketakutan.
"Energi untuk apa?!" sergah Nana, suaranya bergetar namun keras. "Untuk putaran berikutnya? Untuk memuaskanmu lagi? Iya?!"
Bai Xing berhenti, lalu perlahan menoleh untuk menatapnya. Mata emasnya menyapu tubuh Nana dari kepala hingga kaki, seolah menilai. "Jika diperlukan."
Dua kata itu membuat Nana meledak. "APA MAKSUDMU?!" teriaknya, suaranya bergema di dalam gua. "Kenapa aku?! Apa yang kau inginkan dariku? Aku cuma menolongmu waktu itu! Kenapa kau balas dendam seperti ini?!"
Bai Xing mengamatinya dengan tenang, seolah Nana adalah fenomena cuaca yang menarik tapi tidak berbahaya. Ketika teriakannya mereda menjadi isakan marah, dia baru bicara.
"Ikatan," jawab Bai Xing, satu kata yang penuh bobot. "Darahmu. Kebutuhanku."
Nana menatapnya, bingung. "Darahku? Kau minum darahku?"
"Tidak secara harfiah." Bai Xing melangkah lebih dekat, dan Nana secara refleks mundur, punggungnya menempel ke dinding gua yang dingin.
Bai Xing berhenti, seolah paham. "Waktu kau kecil. Saat kau menyembuhkan lukaku. Darahmu, darah sang perawan yang murni, penuh kehidupan menyentuh darahku. Itu menciptakan sebuah ikatan. Sebuah... jalur. Menghubungkan jiwamu dengan milikku."
Nana menggeleng, menolak untuk memahami. "Itu tidak masuk akal."
"Di duniamu, mungkin tidak," jujur Bai Xing. "Tapi di duniamu, ular juga tidak bisa bicara atau mengambil wujud manusia." Dia melirik ke sisik di leher Nana. "Dan jimat manusia tidak berdenyut dengan panas."
Nana menyentuh sisik itu. Diam. Dingin. Tapi kenangan tentang kehangatannya tidak bisa disangkal.
"Kebutuhan...mu?" tanya Nana akhirnya, suaranya lebih kecil.
Bai Xing memandangnya untuk waktu yang lama, seolah mempertimbangkan seberapa banyak yang harus diungkapkan.
"Klan-ku," ucap Bai Xing akhirnya, kata-kata itu tampak dipaksakan keluar. "Kami semua sakit. Melemah. Darah kehilangan potensinya. Darah perawanmu yang dewasa, darah dari keturunan yang sama yang pernah menyembuhkan, yang terikat padaku, diperlukan untuk ritual. Untuk menyembuhkan kami."
Nana merasa perutnya mual. "Jadi... aku hanyalah... bahan ritual? Obat? Atau... TUMBAL?!"
Bai Xing mengangguk, sekali, tajam. "Awalnya, IYA."
"Awalnya?" Nana menangkap pilihan kata itu.
"Sekarang," lanjut Bai Xing, matanya tertancap pada Nana dengan intensitas yang membuat Nana merasa ditelanjangi lebih dalam daripada semalam.
"Ikatan itu telah diperkuat. Darahmu telah bercampur dengan milikku dengan cara yang berbeda."
Maksud Bai Xing jelas, dan Nana menunduk, pipinya memanas. "Kau bukan lagi sekedar donor. Kau adalah... kunci. Bagian dari ritual itu sendiri."
"Kunci untuk apa?!" Nana mendesak, air mata kemarahan berkumpul di matanya.
"Untuk membuka apa yang tertutup. Untuk menyembuhkan apa yang rusak." Bai Xing melihatnya, dan untuk pertama kalinya, Nana pikir dia melihat secercah kesungguhan di balik sikap dinginnya.
"Ini bukan tentang dendam, Nana. Ini tentang kelangsungan hidup. Klan-ku sekarat. Dan kau... kau adalah satu-satunya harapan yang tersisa."
Seketika itu, semuanya menjadi jelas dengan kenyataan yang menyakitkan. Dia bukan korban dari nafsu liar. Dia adalah korban dari sebuah rencana. Sebuah kebutuhan.
Tubuhnya, darahnya, kemurniannya, semua hanya alat dalam sebuah skema besar yang tidak Nana pahami. Keintiman semalam bukanlah tentang keinginan semata, tapi tentang mengumpulkan energinya. Sebuah langkah dalam prosedur.
Rasa penghinaan itu lebih pahit daripada rasa sakit, lebih menusuk daripada ketakutan.
Dia adalah kunci. Sebuah benda. Sebuah alat.
"Jadi semuanya... semua ini... hanya untuk ritual?" suara Nana terdengar hampa.
Bai Xing mengangguk. "Sekarang kau mengerti."
Nana mengerti. Dan pemahaman itu memberinya kekuatan yang dingin dan jernih. Dia melihat ke arah makanan yang dibawakan Bai Xing. Dia melihat ke arah mulut gua, di mana cahaya pagi bersinar dengan indah. Dia melihat ke arah Bai Xing, makhluk tampan sekaligus mengerikan yang berdiri di antara dia dan kebebasan.
Dengan tenang yang mengejutkan dirinya sendiri, dia berkata, "Aku tidak mau menjadi kuncimu. Aku tidak mau menjadi bagian dari ritualmu."
Bai Xing mengerutkan kening, sedikit. "Kau tidak punya pilihan. Ikatan itu..."
"AKU MEMILIH TIDAK!" potong Nana, teriakannya memecah ketenangannya yang singkat. "Aku manusia, bukan alat! Dan aku menolak!"
Sebelum Bai Xing bisa bereaksi, Nana melompat ke samping, menjauh darinya dan langsung menuju mulut gua. Dia lari, kaki-kakinya yang sakit protes, jantungnya berdebar kencang di telinganya.
Dia mendengar suara desisan... marah? Terkejut? Dari arah belakang, tapi dia tidak mau melihat ke belakang.
Nana menerobos keluar gua, disambut oleh hutan pagi yang basah oleh embun. Dia tidak tahu arah, tapi dia berlari menuruni lereng, menuju suara aliran sungai, menuju tempat di mana dia berharap teman-temannya masih ada.
Dia akan kembali ke perkemahan. Dia akan berpura-pura semuanya baik-baik saja. Dia akan pergi dari hutan ini dan tidak akan pernah kembali. Dan biarkan klan ular itu menemukan kunci lain, selain dirinya.
Tetesan air mata mengalir di pipi Nana saat dia berlari, tetapi kali ini, bukan air mata ketakutan atau kenikmatan. Itu adalah air mata kemarahan.
Dia tidak akan menjadi kunci bagi siapa pun!
Di belakangnya, dari mulut gua, Bai Xing berdiri diam, menatapnya menghilang di antara pepohonan. Ekspresi datarnya retak, menunjukkan sesuatu yang mirip dengan... frustrasi. Dan mungkin, sedikit rasa hormat.
Dia tidak mengejar. Dia hanya berdiri di sana, seperti patung perak dan emas yang terborgol di kegelapan gua, sementara kuncinya melarikan diri ke arah cahaya.
*
