#BAB 2 AROMA KENANGAN
Senja mulai merangkul bukit belakang kampus dengan jubah jingga dan ungu ketika Nana dan rombongan kecilnya yaitu Riko, dua teman lainnya, serta seorang lelaki baru bernama Leo, akhirnya mencapai lokasi perkemahan.
Tempatnya persis seperti yang dijanjikan Riko, lapangan terbuka di tepi sungai kecil yang airnya beriak jernih, dikelilingi oleh hutan lebat yang mulai diselimuti bayangan panjang.
Sisik di dada Nana masih hangat. Sejak mereka mulai mendaki tadi, kehangatan itu berdenyut-denyut pelan, seperti kompas yang menuntunnya semakin dalam. Dia berusaha mengabaikannya, fokus membantu Riko mendirikan tenda biru mereka.
“Tahan tiangnya, Na!” seru Riko sambil memasang tali.
Udara sore yang sejuk dan kicau burung seharusnya menenangkan. Tapi bagi Nana, setiap desir angin yang melewati daun terasa seperti bisikan. Setiap bayangan yang bergoyang di pinggir hutan seolah menyembunyikan mata yang mengawasi.
Dia sedang membenamkan pasak tenda ke tanah ketika angin berganti arah, membawa serta sekilas aroma dari dalam hutan.
Nana membeku...
Itu aroma yang samar, namun langsung menancap di benaknya. Campuran antara peppermint liar dan sage, herbal yang biasa digunakan neneknya untuk pengobatan, dibalut oleh sesuatu yang lain. Sesuatu yang… mirip tanah basah, dan anehnya, mengingatkannya pada bau logam dingin atau kulit yang baru berganti.
Bau kulit bersisik.?!
Kenangan yang terlupakan tiba-tiba mengambang...
Di dalam kenangan Nana, seorang anak kecil berada di dalam gua gelap, mengunyah daun herbal, lalu mengoleskannya pada luka panjang di tubuh seekor makhluk putih yang gemetar. Bau yang sama. Herbal dan darah, dan sesuatu yang ajaib.
“Kamu kenapa?” tanya suara seorang pria di sebelahnya.
Nana menoleh. Leo, teman Riko dari fakultas teknik, berdiri dengan tangan di pinggang, mengamatinya dengan alis naik. Dia bertubuh tinggi, dengan sikap percaya diri dan tatapan skeptis yang sepertinya sudah melekat permanen.
“Aroma,” gumam Nana, kembali menatap ke tanah. “Aku mencium sesuatu.”
Leo mengendus udara dengan berlebihan. “Aroma tanah basah dan daun membusuk. Welcome to the jungle, princess.”
Ucapannya bernada mengejek, tapi tidak jahat. Hanya… tidak percaya pada apa yang tidak bisa diukur oleh indranya.
Nana memilih diam, menyelesaikan tendanya. Tapi perasaan diawasi itu tak kunjung hilang. Dia beberapa kali menoleh ke hutan, menyapu pandangannya di antara batang-batang pohon. Tidak ada apa-apa. Hanya kegelapan yang semakin merayap.
---
Malam turun dengan cepat. Api unggun mereka berkobar, menghalau dingin malam dan mengusir bayangan sejauh beberapa meter. Cahayanya menari-nari di wajah mereka, menciptakan suasana akrab. Mereka membagikan makanan, tertawa pada lelucon konyol, dan cerita pun mulai mengalir.
“Aku pernah denger,” kata salah satu teman, Bayu, dengan suara berbisik dramatis. “Katanya di hutan ini ada penunggunya. Siluman harimau atau apa gitu.”
“Ah, mitos,” potong Leo sambil memutar stik marshmallow-nya. “Biasa, orang kampung bikin cerita biar anak-anaknya nggak masuk ke hutan sembarangan. Semua ada penjelasan ilmiahnya.”
Riko memandang Nana yang diam termenung di seberang api. “Nana kan dari keluarga yang dekat sama alam ya, Nenek-nya dukun herbal gitu. Pernah dengar cerita soal sini?”
Semua mata tertuju padanya. Panas di dadanya berdenyut. Nana menarik napas. Mungkin ini caranya menguji realita. Dia pun mengucapkannya keras-keras.
“Aku… pernah tersesat di hutan waktu kecil,” mulai Nana, suaranya pelan, teriris oleh gemercik api. “Bukan di sini, tapi di hutan dekat rumah nenekku. Saat hujan deras, aku menemukan sebuah gua.”
Dia melihat ke arah api, gambarannya jelas. “Di dalamnya, ada… seekor ular. Tapi bukan ular biasa. Warnanya putih seperti mutiara, tapi ada darah di sisiknya. Matanya… emas.”
Leo mendengus pelan, tapi Nana mengabaikannya.
“Aku nggak takut, anehnya. Aku ambil daun-daunan yang biasa aku liat nenek pake buat nyembuhin luka, aku kunyah, terus tempelin di lukanya. Aku tinggal semalaman di sana sama ular itu. Paginya, dia menghilang. Cuma ninggalin…”
Tangan Nana refleks meraih sesuatu di balik bajunya, di mana sisik itu tersembunyi. Dia berhenti. Tidak jadi mengeluarkan sisik itu. “…ninggalin ingatan yang samar.”
Semua terdiam sejenak. Hanya suara api yang bergemeretak.
“Dan kemudian kamu terbangun di kasur, dan ternyata itu cuma mimpi?” seloroh Leo, dengan senyum kecil di bibirnya.
“Itu bukan mimpi,” bantah Nana, lebih keras dari yang dia rencanakan. “Luka di tanganku dari duri saat nyari herbal itu nyata. Dan…”
Dia hampir mengatakan soal ‘sisiknya’, tapi menahan diri. “Dan aku nggak pernah bisa lupa bentuk matanya.”
“Mungkin ular albino langka,” tangkis Leo, dengan logika orang teknik. “Kamu waktu kecil, trauma, otak kamu bikin narasi sendiri buat ngatasinnya. Itu biasa.”
Teman-teman yang lain terlihat antara terpesona dan ragu. Riko memandangnya dengan simpati. “Serem juga ya… Tapi ya, bisa jadi bener kata Leo sih.”
Percakapan beralih ke hal lain, tapi energi di sana telah berubah. Nana merasa semakin terasing. Ceritanya yang adalah bagian paling nyata dari ingatan masa kecilnya, dianggap hanya sebagai dongeng. Dan mungkin Leo benar. Mungkin dia hanya anak kecil yang ketakutan yang membangun fantasi.
Tapi… aroma tadi siang. Panas sisik yang tak pernah padam. Perasaan diawasi yang tak henti-henti.
Dia merasa sesak. Tawa teman-temannya, asap api, dan pandangan skeptis Leo tiba-tiba terasa seperti sangkar.
“Aku… mau cari udara sebentar,” ucap Nana tiba-tiba, berdiri.
“Sendirian? Malam-malam gini?” tanya Riko, khawatir.
“Nggak jauh. Cuma ke pinggir sungai, lihat bintang,” jawab Nana, sudah berjalan menjauh dari lingkaran cahaya api.
“Jangan lama-lama!” teriak Riko.
Leo hanya menggeleng, kembali ke marshmallow-nya, berbisik yang cukup terdengar Nana, “Hati-hati sama ular ajaibnya.”
Nana tidak menanggapi. Dia menyusuri tepi sungai kecil, meninggalkan suara dan cahaya di belakang. Kegelapan hutan di seberang sungai itu tampak pekat, namun justru memanggilnya.
Di sini, sendirian, aroma herbal dan logam itu kembali menguar, lebih kuat. Dan ada sesuatu yang lain, sebuah keheningan yang terlalu pekat. Seperti hutan menahan napas.
Dia berdiri di batas antara lapangan terbuka dan dinding pepohonan, memandang ke dalam kegelapan yang hidup. Di dadanya, sisik keperakan itu tiba-tiba berpijar sangat hangat, hampir panas, mengirimkan sensasi yang bukan sakit, tapi sebuah pengakuan.
Dia di sini...
Pikiran itu muncul begitu saja, bukan dalam bentuk kata-kata, tapi sebagai keyakinan yang tak terbantahkan. Makhluk dari masa kecilnya. Mata emas itu. Dia ada di sana, di dalam kegelapan itu, menunggu...
Rasionalitas dari Leo, keamanan dari api unggun, semua terasa sangat jauh dan tidak penting. Yang ada hanyalah panggilan dari aroma kenangan dan kehangatan di dadanya.
Dengan hati berdebar kencang, bukan karena ketakutan, tapi karena antisipasi yang mendalam, Nana mengambil satu langkah melewati batas rerumputan, masuk ke dalam bayangan pohon pertama.
Langkah itu mengantarnya keluar dari dunia yang dia kenal, dan masuk ke dalam area di mana mahkluk itu menunggunya...
