#BAB 1 SISIK YANG MENGHANGAT
Kuliah Antropologi Budaya lokal seharusnya menarik. Tapi hari ini, bagi Nana, suara dosen hanya menjadi gumaman samar di kejauhan kesadarannya. Matanya tertuju pada jendela, memandang pepohonan di kejauhan yang berbatasan dengan bukit hijau. Bukit belakang kampus. Tempat yang selalu terasa… memanggilnya.
“Nana! Nana, kamu ngelamun lagi!”
Sentuhan di bahunya membuatnya tersentak. Riko, teman sekelas sekaligus sahabatnya, melihatnya dengan ekspresi khawatir. “Kamu baik-baik saja? Wajahmu pucat.”
Nana menggeleng, memaksakan senyum. “Baik, kok. Cuma… kepenatan aja, kayaknya.”
“Nah, itu dia!” Riko berseri-seri, seperti mendapat ide brilian. Dia mendekat, berbisik meski kelas sudah hampir bubar. “Aku dan beberapa anak lain rencananya mau berkemah akhir pekan ini. Di bukit belakang, deket air terjun kecil yang katanya jernih banget. Mau ikut? Refreshing, hilangin penat!”
Bibir Nana hampir saja membentuk kata “ya”. Tapi sebelum suara keluar, sesuatu yang lain terjadi.
Rasa panas tiba-tiba menyengat di dada kirinya.
Nana terkesiap, tangannya refleks menepuk tepat di atas kantung baju kausnya. Di balik kain katun tipis itu, diikat oleh rantai perak sederhana, terpendam sebuah benda yang tak pernah lepas darinya. Sebuah sisik berwarna keperakan, sebesar kuku jempol, dengan tekstur yang halus namun kuat. Peninggalan dari masa kecilnya yang samar. Hadiah dari seseorang yang tak bisa ia ingat wajahnya, ditemukan di sebuah gua setelah dia tersesat.
Sisik itu biasanya terasa dingin, nyaris seperti kaca. Tapi sekarang…
Panas...
Bukan panas terbakar, tapi hangat yang dalam, merambat dari logam itu langsung ke tulang dadanya, seolah hidup dan berdenyut dengan irama sendiri.
“Na...?” Riko mulai bertanya lagi, tapi suaranya tiba-tiba teredam.
Kepala Nana pusing. Ruangan kelas berputar. Dia memejamkan matanya dengan erat, mencoba menelan rasa mual yang mendadak. Dan di balik kelopak matanya yang tertutup, kilasan-kilasan visual, bukan mimpi, tapi seperti kenangan yang dipaksakan, menyerbu.
Sebuah hutan yang lebih gelap, lebih purba. Cahaya bulan menyaring melalui kanopi daun. Lalu, sepasang mata. Bukan mata manusia. Mata dengan pupil vertikal, menyempit seperti pedang, berwarna keemasan cair yang memancarkan cahaya sendiri. Mata itu menatapnya, bukan dengan ancaman, tapi dengan… pengakuan? Kerinduan?
Kemudian, ada sosok. Hanya siluet pria tinggi, berdiri di antara pepohonan, rambutnya seperti ditaburi cahaya bulan perak. Sosok itu mengulurkan tangan.
Dan rasa sakit. Bukan sakit fisik, tapi sakit yang menusuk jiwa, rasa kehilangan yang mendalam.
“Nana!”
Kali ini, suara Riko lebih keras, penuh kepanikan. Nana membuka mata, terengah-engah. Ruangan sudah sepi. Hanya mereka berdua yang tersisa. Riko berjongkok di sampingnya, wajah pucat pasi.
“Apa yang terjadi? Kamu tiba-tiba diam, napasmu berat, dan… dan matamu…” Riko terdiam, ragu.
“Mataku kenapa?” tanya Nana, suaranya serak.
“Berkilau. Seperti… seperti mata kucing terkena lampu mobil. Cuma sebentar.” Riko menggeleng, seperti tak percaya pada apa yang baru dilihatnya. “Pasti efek lampu. Kamu pasti kurang tidur. Makanya kamu harus ikut berkemah! Udara segar, alam, bintang-bintang… pasti bikin tidur nyenyak.”
Nana mengusap dahinya yang berkeringat dingin. Panas di dadanya sudah mereda menjadi hangat yang konstan, seperti bara kecil yang terus membara. Dia meraih kalungnya melalui baju, meraba bentuk sisik itu. Masih hangat. Dan sekarang, dia bisa bersumpah benda itu sedikit… berdenyut?
Peringatan neneknya tiba-tiba bergema dalam ingatannya, jelas dan keras seperti kemarin diucapkan. Suara nenek Gae yang biasanya lembut menjadi tegas, tatapan matanya serius. “Nana, nak, dengarkan nenek. Hutan belakang kampus itu… jangan pernah kamu masuk sendirian. Lebih baik jangan dijamah sama sekali. Tempat itu dijaga oleh mahkluk lain.”
“Dijaga siapa, Nek?” tanya Nana dulu waktu kecil, setengah bercanda.
“Oleh yang sudah ada di sana sebelum kakek nenek buyutmu lahir,” jawab neneknya samar, sebelum mengalihkan pembicaraan. “Pokoknya, janji sama nenek.”
Nana sudah berjanji. Tapi itu dulu. Sekarang dia sudah dewasa, mahasiswi yang berpikir rasional. Tempat berkemah pasti ramai, bukan dia sendirian, kan?
“Kamu yakin tempatnya aman?” tanya Nana pada Riko, berusaha terdengar normal.
“Aman banget!” Riko meyakinkan, kembali bersemangat. “Aku udah survey. Lokasinya terbuka, dekat sungai. Ada beberapa tenda kelompok lain juga katanya. Kita bakal bawa banyak makanan, alat masak komplit, bahkan speaker portable. Pokoknya seru!”
Nana melihat ke luar jendela lagi. Bukit itu berdiri di sana, hijau dan seolah berbisik. Hangat di dadanya berdenyut sekali lagi, lebih kuat. Seolah sisik itu setuju dengan rencana itu. Atau… memperingatkannya?
Kilasan mata emas vertikal itu muncul lagi di pikirannya, membuat jantungnya berdebar kencang. Bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang lain. Sebuah rasa penasaran yang dalam, hampir naluriah.
Mungkin… mungkin neneknya hanya terlalu khawatir. Cerita rakyat. Dongeng pengantar tidur yang terbawa sampai tua.
Dan mungkin, panas dari sisik ini ada hubungannya dengan sesuatu yang menunggu di hutan itu. Sesuatu yang telah dimulai bertahun-tahun lalu di sebuah gua, ketika seorang anak kecil menemukan ular yang terluka dan diberi hadiah sebuah sisik berwarna keperakan.
“Oke,” kata Nana akhirnya, suaranya lebih mantap dari yang dia duga. “Aku ikut!”
Riko bersorak kegirangan, langsung merencanakan jadwal dan barang bawaan. Nana hanya setengah mendengar. Jarinya masih memegang erat sisik di balik bajunya. Hangatnya sekarang terasa nyaman, seperti teman lama yang membisikkan janji akan sebuah pertemuan.
Saat mereka berjalan meninggalkan gedung kuliah menuju asrama, Nana melirik sekali lagi ke arah bukit. Sinar matahari sore menyembunyikan bayang-bayang di antara pepohonannya.
Dia tidak tahu bahwa keputusannya untuk pergi bukanlah kebetulan.
Bukan pula pilihan bebasnya semata.
Itu adalah panggilan...
Dan di dalam hutan yang gelap, sesuatu yang telah menunggu selama bertahun-tahun akhirnya membuka mata keemasannya. Helaan napas panjang mengeluarkan desisan pelan, penuh antisipasi.
“Akhirnya...” bisik sosok di balik rimba, suaranya seperti gesekan dedaunan kering.
Di dada Nana, sisik keperakan itu berpijar hangat sekali lagi, memberikan jawabannya.
