Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Tragedi

Setelah menyerahkan selembar uang seratus ribu ke tangan driver taksi online, aku melangkah memasuki lobi sebuah hotel bintang lima di kawasan Jakarta Pusat.

Aku tidak kuasa mengalahkan rasa gugup yang seketika melanda hebat saat menapaki lantai marmer bercorak abstrak yang terhampar indah di hadapan. Kedua telapak tanganku basah saat aku memandangi langit-langit lobi yang menjulang tinggi dengan lampu-lampu kristal cantik bergelantungan di beberapa sudutnya.

Bukan karena aku baru pertama kali mengunjungi tempat elegant ini. Aku tidak se-kampungan itu. Meski dulu tinggal di sebuah kabupaten, aku pun pernah memasuki gedung semewah ini. Saat diajak mendiang ayah dan mama ke acara resepsi pernikahan kerabatku di Sumatera. Juga saat bank tempat Desta bekerja mengadakan acara tahunan di sebuah hotel bintang lima beberapa bulan lalu, aku pun datang mendampingi Desta. Jadi, bangunan seindah ini bukanlah sesuatu yang asing bagiku.

Aku gugup karena harus bertemu dengan dosen pembimbing skripsiku di tempat yang tidak seharusnya, menurutku. Ingin berbalik langkah, tapi tekad untuk menyelesaikan tugas akhirku ini begitu mendominasi. Jadi, lekas aku singkirkan rasa gugup yang menjalari diri sejak tadi.

Duduk di sofa merah berbentuk setengah lingkaran di salah satu sudut ruangan, aku meletakkan bawaanku di atas meja kaca di hadapan. Lalu meraih ponsel dari dalam tas untuk segera menghubungi Pak Elang.

“Pak, saya sudah di lobi. Bapak dimana?” tanyaku setelah suara Pak Elang terdengar dari seberang. Aku edarkan pandanganku ke sekeliling ruangan luas itu. Namun, tidak juga tampak sosok laki-laki yang sedang aku tunggu.

Yang tampak hanya tiga wanita di balik meja resepsionis, empat laki-laki setengah baya yang duduk tak jauh dari tempatku berada, juga beberapa pria dan wanita yang berlalu lalang sambil berbincang-bincang.

Di sudut kanan beberapa meter dari tempatku, terdapat sebuah coffee shop dengan cahaya temaram. Aku pikir mungkin Pak Elang ada di dalam sana.

Tapi, jawaban Pak Elang sontak membuatku menelan saliva bulat-bulat. “Kamu langsung naik saja ke lantai sepuluh, Ra. Saya tunggu di kamar 105 sekarang.”

“Kamar? Kata Bapak kita ketemuan di lobi saja.” Suaraku bergetar. Bukan hanya suara, tapi juga sekujur raga.

“Kamu nggak usah takut begitu. Saya disini bersama istri dan anak saya. Ke sinilah, cepat. Saya nggak punya banyak waktu. Sebentar lagi saya pulang.” Suara Pak Elang terdengar enggan disertai decakan malas dan embusan napas panjang.

“Atau Bapak saja yang turun ke lobi, Pak. Kita diskusi di sini saja.”

Hening. Tiga detik aku menunggu jawabannya yang aku harap adalah ‘iya’.

“Kalau begitu sampai ketemu satu minggu lagi, okay? Itu pun kalau saya punya waktu untuk kamu.”

“What? No, Pak! Pak! Wait!” Aku kalang kabut, panik mendengar keputusan sepihaknya itu. Terlebih, ketika suara si dosen brengsekk itu menghilang. Dia memutuskan sambungan begitu saja.

Aku hubungi dia kembali. Hanya nada sambung yang terdengar. Ketika aku lihat di statusnya, dia masih online. Lalu, jemariku menari cepat mengetikkan pesan singkat untuknya.

‘Kamar 105, ya, Pak. Saya ke sana sekarang.”

Centang dua warna biru. Artinya dia sudah membaca pesanku. Bergegas aku meraih berkas-berkas dari atas meja dan mencangklong tas secepat cahaya. Lalu mengayunkan sepasang kaki panjangku melintasi lobi menuju barisan kamar lift di sudut kiri.

Untung saja, di dalam kamar lift ini aku hanya seorang diri. Jadi aku bisa leluasa menenangkan napas yang menderu dan jantungku yang berdegub tak menentu.

Sejenak aku merapikan penampilan lewat dinding lift yang keseluruhannya dilapisi kaca cermin. Kemeja putih pas body, jeans bootcut dark blue, sepatu sneakers putih. Rambut lurus sepinggang yang aku biarkan tergerai dan wajah tanpa sedikit pun riasan yang menjadi kesukaan Desta.

Menilai penampilan gadis berbobot 60 kg dan tinggi 170 cm di pantulan dinding cermin, aku pikir tidak berlebihan untuk menghadap dosen sialann itu.

Bunyi ‘ting’ terdengar. Tanda lift sudah tiba di lantai yang kutuju. Lantai 10. Setelah pintu kamar besi itu terbuka, aku susuri lantai berkarpet tebal itu dengan perasaan ragu.

Tapi, sudahlah. Aku yakin semua akan baik-baik saja. Toh, Pak Elang bilang dia bersama istri dan anaknya.

Sejak lama aku memang sudah tahu Pak Elang Kafka Maghenda, dosen favorite seluruh mahasiswa –tidak termasuk aku- itu sudah berkeluarga. Memiliki istri yang sangat cantik, sosialita kelas atas dan seorang putri kecil berusia sekitar lima tahun.

Begitu yang aku dengar dari beberapa mahasiswi pengagum Pak Elang. Sampai sedalam itu mereka men-stalking kehidupan dosen sialan itu. Seperti wartawan pemburu berita selebritis saja.

Tiba di depan pintu bertuliskan angka 105, aku atur napas dan detak jantungku yang kembali menggila. Dengan tangan gemetar, aku tekan bel di sampingnya.

Cukup lama pintu itu belum juga terbuka. Sehingga aku harus kembali menekan bel itu beberapa kali.

Akhirnya, pintu terbuka. Raut Pak Elang telihat di baliknya. Seperti biasa, datar tanpa senyum dan sapaan hangat. Seperti itulah sikapnya padaku. Tapi pada mahasiswa lain, jauh berbeda.

Dosen yang aneh! Pilih kasih! Tidak adil!

Padahal aku bukan mahasiswa bodoh. IPK terakhirku mencapai 3,2. Bukan pula mahasiswa yang rajin turun ke jalan untuk berdemo menentang kebijakan kampus atau pun pemerintah. Intinya, aku mahasiswa lurus, tidak neko-neko selain ingin lulus menjadi sarjana.

Namun, bodohnya aku, kenapa sejak awal tidak menolak dia sebagai dosen pembimbingku. Lebih baik memilih Pak Teguh yang sama arogannya dengan Pak Elang, tapi tidak pernah mempersulit mahasiswanya yang butuh bimbingan.

“Masuk.” Hanya itu perintahnya. Aku menurut saja. Aku masuki kamar 105 itu setelah dia membuka pintu lebar-lebar dan berdiri dengan satu tangan berkacak pinggang.

Ruangan itu cukup besar untuk dikategorikan sebagai kamar. Perkiraanku sekitar empat puluh meter persegi luasnya. Kamar mandi di samping pintu utama bersandingan dengan wardrobe. Ranjang berukurang besar dengan alas putih berada di tengah ruangan. Terdapat meja kaca bulat dan sofa kecil di samping pintu balkon yang tertutup tirai coklat. Semuanya itu dinaungi cahaya lampu dowlight yang cukup terang.

Tapi ....

Aku menoleh ke kiri kanan, depan belakang dan ke seluruh penjuru ruangan. Istri dan anaknya, atau salah satu dari mereka tidak terlihat.

“Istri dan anak Bapak mana?” tanyaku mulai panik pada Pak Elang yang melangkah santai menuju minibar.

Dia belum menjawab. Pria yang saat ini mengenakan kemeja biru tua dengan lengan yang digulung asal hingga di bawah siku dan celana kain slimfit warna hitam itu sibuk dengan dua gelas dan sebotol air soda di atas meja minibar.

Setelah satu menit memunggungiku, dia berbalik arah dengan dua gelas cola di tangan.

Dia tersenyum ketika menyodorkan salah satu gelas ke hadapanku. “Minum dulu. Kamu pasti capek, kan ngejar-ngejar saya sampai sini,” katanya dengan intonasi lembut.

Fenomena langka bagiku. Dia sudi tersenyum padaku dan bertutur selembut itu. Aku pun menerima segelas cola itu darinya.

“Maaf,” Aku meringis malu ketika tersadar menerima gelas yang dia sodorkan itu menggunakan tangan kiri, karena kecenderungan kidalku yang membuatku spontan saja melakukan itu.

Namun, dia tetap memasang senyuman kecil seraya mengangguk. “Nggak apa-apa, Ra. Kamu kidal, saya maklum, kok,” katanya.

Bersyukur, Pak Elang memaklumi kecenderunganku yang satu itu. Dia dan semua rekan mahasiswa yang mengenalku memang sudah tahu aku kidal karena seringkali melihat aku menulis dan beraktivitas menggunakan tangan kiri.

“Istri saya ke kolam renang bersama anak saya. Sebentar lagi mereka selesai, karena pukul enam nanti kami pulang.” Kemudian dia menjawab santai pertanyaanku yang menggantung sejak tadi setelah menyesap minumannya.

Walau rasa panik dan takut masih bergelayutan di hati, tapi akhirnya aku mengangguk dan membalas senyumannya dengan kaku.

“Sini ... “ Dia melambaikan satu jari, mengisyaratkan aku untuk mengikuti langkahnya menuju pintu balkon. Aku pun mengikuti dengan bimbang. Lalu, dia menyibak tirai coklat dan lapisan putih, kemudian jari telunjuknya yang panjang dan besar menunjuk ke arah kolam renang di bawah sana.

“Itu istri saya, yang pakai baju merah lagi gendong anak kecil baju putih,” beritahunya tanpa menoleh padaku yang sudah berada di sampingnya.

Pandanganku mengikuti arah telunjuk dan bola matanya. Aku memicing menajamkan penglihatan saat mengamati di kejauhan sana seorang wanita cantik berambut panjang mengenakan kacamata hitam dan dress merah sebatas lutut bersama seorang bocah kecil di gendongan.

Melihat dua wanita beda usia di kolam renang sana membuatku mengembuskan napas lega, walau pelan-pelan. Artinya, kedatanganku ke kamar ini aman dan aku yakin dosen sialan ini tidak mungkin melakukan sesuatu yang membahayakan aku.

“Sebentar lagi mereka datang,” katanya lagi seraya menoleh ke arahku. Aku pun menoleh padanya. Sehingga wajahku dan wajahnya hanya berjarak tidak lebih dari dua jengkal saja. Bagiku, itu cukup dekat dan mampu menangkap binar-binar di lensa matanya yang coklat.

Informasi singkatnya itu cukup membuatku lega. Segera aku memalingkan wajah ke lain arah, enggan berlama-lama menatapnya.

“Baiklah, mana materi bab tiga yang sudah kamu kerjakan. Sini saya periksa.” Ia menjauh, menuju sofa dan duduk di sana dengan satu kaki menopang di salah satunya.

“Oh, iya.” Tersadar, aku langsung meletakkan gelas cola di atas meja di samping sofa, lalu menyerahkan berkas-berkas yang masih kugenggam ke hadapannya.

Dia menerimanya, lalu membaca seluruh berkas materiku lembar demi lembar dengan seksama. Aku melihat kedua alis legamya bertautan. Jika rautnya seperti itu, aku merasa ada kejanggalan pada materi yang aku ajukan.

“Pinjam pena, Ra.” Salah satu telapak tangannya terjulur. Lekas aku memberinya pena yang aku ambil dari dalam tas.

Dia melirikku sekilas. “Banyak yang harus dikoreksi. Aspek-aspek safety management ini belum lengkap, Sahara. Jangan cuma tiga point. Minimal lima supaya lengkap. Dan penjelasannya masih sangat minim. Harus disertai alasan dan juga dampak ekonomisnya,” jelasnya seraya memberi coretan bulat pada lembaran di tangan.

Aku berdiri di sampingnya hanya mengangguk meski dengan rasa kecewa di dalam ddada. Padahal menurutku materi yang dia minta itu sudah sangat lengkap aku jabarkan. Karena itu semua berdasarkan pengalaman dan risetku selama Praktek Kerja Lapangan di sebuah gedung instansi pemerintahan selama satu bulan.

Dia menoleh lagi ke arahku, lalu memberiku senyuman kecil. Mungkin untuk mengurai ketegangan yang tampak di wajahku. Entahlah. Tapi lumayan, senyumannya itu cukup menenangkanku yang cukup gelisah sejak masuk ke kamar ini.

“Nggak capek berdiri terus?” tanyanya. Aku tersenyum rikuh seraya menggelengkan kepala.

“Duduk saja di sana, ini akan makan waktu lama.” Dia menunjuk ranjang di hadapan dengan dagunya. “Minumlah dulu. Supaya nggak tegang begitu. Santai saja,” suruhnya dengan intonasi tenang.

Masih kikuk, aku mengangguk. Lalu kuraih segelas cola yang tadi aku letakkan di atas meja. Kemudian aku meminumnya hingga tersisa setengah. Ternyata benar, ketegangan yang aku rasakan mulai memudar. Lantas, aku menempatkan diri di tepi ranjang yang berjarak dua meter dari tempatnya.

“Variabel independen juga kurang lengkap, Ra. Ini, kan berisi risiko-risiko dalam pekerjaan konstruksi bangunan vertikal sepuluh lantai. Tidak bisa disamakan dengan bangunan vertikal yang tidak terlalu tinggi. Ini harus kamu lengkapi lagi. Benar-benar lengkap. Jika datamu terlalu minim seperti ini, kamu bisa habis dilibas dosen penyidang nanti. Kemungkinan besar bisa remidial skripsi.” Pak Elang kembali melanjutkan membantai hasil tulisanku. Walaupun sikapnya santai, namun ada decak sebal terdengar di bibirnya. Jangan lupakan tangannya yang dengan ringan memberikan coretan-coretan panjang pada berkas-berkasku.

Aku meneguk saliva bulat-bulat. Kerongkonganku rasanya mengering drastis. Terbayang kembali bagaimana repotnya revisi habis-habisan yang akan aku kerjakan setelah ini. Kemudian harus kembali mengatur janji dengan dosen sok sibuk ini. Bahkan pejabat negara pun tidak sesulit dia untuk ditemui.

Mengusir rasa kesal, aku teguk lagi segelas cola di tangan hingga tandas. Rasanya menyegarkan sekaligus ... membuat kepalaku seperti ada sebongkah batu besar yang meniban.

Tiba-tiba sekelilingku terlihat berputar-putar. Jangan-jangan terjadi gempa bumi. Tapi telingaku masih bisa menangkap suara Pak Elang yang sedang menjelaskan kelengkapan materi skripsiku, walaupun samar.

Tanganku bergetar hebat, hingga tanpa sadar gelas ditangan jatuh ke lantai. Aku pegangi sisi kepalaku yang terasa mengembang, bahkan seakan-akan hendak meledak. Ruang di dadaku pun terasa menghangat, seiring dengan jantungku yang berdetak begitu cepat.

“Sahara?” Itu suara Pak Elang. Aku tidak tahu kapan suara itu tiba-tiba terdengar sangat dekat. Ketika aku mengerjap-ngerjap, aku melihat wajah Pak Elang sudah berada di hadapanku. Aku merasakan punggungku diusap lembut. Begitu juga pipiku.

“Bapak ... mau ... apa?” Aku berusaha menepis tangannya dari wajahku, tapi rasanya tulang-tulang ini tak berdaya lagi. Lemah seperti lumpuh layu.

Hingga aku merasa punggungku sudah bersandar pada sesuatu. Bukan bersandar ... tapi berbaring pada sesuatu yang sangat nyaman, ranjang.

“Jangan, Pak.” Walau tanpa daya, aku berusaha berontak ketika aku merasakan kancing kemejaku dibuka satu per satu.

“Nggak apa-apa. Tenang saja.“ Suara Pak Elang terdengar sayup-sayup seperti menjauh. Tetapi, hangat napasnya terasa di kulit leherku.

“Ya, Tuhan. Tolong ... jangan, Pak.” Entah, apakah suaraku yang berdesis ini terdengar olehnya. Namun, sepertinya ia tidak menggubris, karena aku merasakan tubuh bagian atasku terasa dingin. Tak lama, aku merasakan tubuh bagian bawahku juga begitu. Bagai diselimuti salju. Dingin dan membuatku menggigil beku.

“Saya suka sama kamu sejak lama, Sahara. Tapi kamu selalu mengabaikan saya.”

Penglihatanku mulai mengabur, seiring dengan kecupan-kecupan basah yang kurasakan di sekujur tubuh.

“Istri dan ... anak ... Bapak ... “

Aku mendengar kekehan kecil di telinga. “Itu bukan istri dan anak saya, Sayang! Saya hanya asal tunjuk saja.”

“Ya, Tuhan ... “ Hanya itu yang bisa aku ucapkan dengan lirih. Setelahnya, pandanganku semakin kabur dan menghitam pekat.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel