Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Dosen Arogan

Siang ini aku terpaksa membatalkan ajakan makan siang Desta di resto tempat biasa aku dan pacarku itu bertemu. Padahal sudah dua hari ini aku menanggung beban rindu padanya. Kesibukanlah yang merentangkan waktu di antara kami berdua. Aku dengan skripsiku, dia dengan pekerjaannya yang seakan tidak ada habisnya.

Aku, walau masih berusia 23 tahun dan tergolong belia, tapi merasa jauh lebih dewasa darinya dalam menjalin hubungan asmara ini. Desta yang berusia enam tahun lebih tua dariku justru sangat posesif terhadapku. Sedangkan, aku tidak terlalu.

Cemburu dan posesif kronis memang bukan sifatku. Karena aku tidak ingin hubungan percintaan ini menganggu aktifitas masing-masing dan mengekang langkah kami menuju masa depan. Terutama untukku yang masih menggenggam cita-cita setinggi angkasa.

“Kalau begitu Mas ke kostan, ya, kita makan siang di sana saja. Rara mau makan apa? Nanti Mas bawakan,” putus Desta ketika dia menelepon tadi dan aku katakan tidak bisa makan siang di luar bersamanya.

“Maaf, Mas. Rara benar-benar nggak bisa. Hari ini Rara harus ketemu Dospem untuk bimbingan. Ini juga Rara sudah di depan ruang dosen, nunggu Pak Elang selesai ngajar.” Sejujurnya aku merasa bersalah tidak bisa memenuhi permintaannya kali ini. Tapi, lagi-lagi, ini semua karena skripsi.

“Nggak bisa Senin depan aja bimbingannya, Ra? Kebetulan setelah Jumatan nanti Mas ada waktu luang cukup panjang. Mas kangen berat sama Rara. Nggak tahan pengin cubit-cubit pipi chubby-nya Rara.” Desta masih saja berusaha mengalihkan niatku. Nada suaranya yang berat terdengar merajuk.

Membayangkan bibir tipisnya yang kemerahan itu mencebik, aku terkikik sambil menutup mulutku dengan jemari. Desta memang sangat menggemaskan di segala ekspresi. Aku yakin, Tuhan sedang tersenyum bahagia saat menciptakan Desta dua puluh sembilan tahun lalu.

Aahh ... Lelaki tersayang-ku.

“Atau besok saja Mas ke kostan Rara. Besok, kan hari Sabtu. Mas libur, kan? Rara pengin jalan ke mall, ya, Mas. Kemarin Rara lihat di olshop ada ankle strap sandal model baru. Rara ngidam itu, lho, Mas,” seruku memberi ide untuknya.

“Rara ngidam? Belum juga Mas kawinin masa udah ngidam aja?” Nada suara lelaki-ku itu meninggi. Aku terkekeh menanggapi.

“Maksud Rara, Rara lagi pengin sandal itu, Mas. Beliin, ya, please? Sekalian kita makan siang di mall aja.”

Sesaat terdengar desahan panjangnya, lalu Desta kembali bersuara. “Oke, Sayang. Besok pagi Mas jemput di kostan, ya. Eh, tapi, Ra ... jangan dandan cantik-cantik, ya.”

Aku menautkan kedua alis, tak mengerti. “Maksudnya gimana, Mas?”

“Kamu nggak dandan aja bikin mata cowok-cowok jadi jelalatan. Apalagi pas dandan, cowok-cowok pada berliur ngeliat kamu. Pokoknya, Mas nggak suka kamu jadi pemandangan indah cowok-cowok gatel. Jantung Mas kebat-kebit, Ra, setiap kamu dilirikin mereka. Mas-mu ini nggak rela.”

Aku tertawa cukup nyaring mendengar alasannya yang menggelikan itu. Sehingga dua mahasiswa yang juga sedang duduk di sampingku menoleh dan mengernyit bingung.

“Ya, udah. Besok Rara pake helm dan baju astronot, ya. Supaya nggak ada cowok yang liatin Rara. Rara jamin jantung Mas tetap aman di tempatnya,” sahutku di sela tawa yang masih tersisa.

Gantian Desta di seberang sana tertawa renyah. “Ya, nggak gitu juga, Ra. Yang penting cantiknya Rara cuma untuk Mas, ya. Cowok lain cukup mupeng aja di pojokan sana.”

Kembali tawa geliku membahana. Begitu juga Desta. Setelah saling memberi kecupan jauh, Desta pun mengakhiri sambungan telepon kami.

Aku memaklumi sikap cemburu Desta yang terkadang sulit dikompromi. Karena dia memang serius dengan hubungan ini. Bahkan dia pernah mengatakan padaku ingin menjadikanku istrinya setelah aku lulus kuliah nanti.

Bahagia, sudah pasti. Aku pun berharap bisa menjadi permaisuri hatinya sampai mati. Karena aku juga sangat cinta padanya. Tapi tentu saja tidak secepat itu juga. Setelah lulus kuliah aku ingin merasakan dunia kerja lebih dulu. Ingin menerapkan ilmu dan pendidikanku yang sangat berharga ini. Dan ingin merasakan bagaimana senangnya menggenggam gaji pertama dari sebuah perusahaan properti ternama atau dari perusahaan milik pemerintah.

Yaaa, mungkin sekitar 3 tahun lagi, saat usiaku 26 tahun aku akan mengatakan “Yes, I do.” saat Desta melamarku secara resmi.

Tapi untuk sekarang, aku benar-benar harus memaku konsentrasiku pada skripsi ini. Dan di siang hari yang sangat terik ini Pak Elang si dosen sialan itu ternyata tidak kembali ke ruangan setelah mengajar tadi.

“Pak Elang langsung pulang, Mbak Sahara. Tadi beliau bilang begitu sama saya. Kelas berikutnya saya yang menggantikan,” kata Bu Indri, asisten dosen yang aku tahu sering menggantikan Pak Elang memberi kuliah saat pria itu sedang berhalangan.

“Tadi di WA, beliau suruh saya tunggu di sini. Gimana, sih?!” Tekanan darahku mulai meninggi. Rasanya sebentar lagi tembus ke ubun-ubun kepala. Aku tidak peduli Bu Indri terkesiap melihat sikapku yang berubah drastis. Semula ramah dan sopan, kini nyaris histeris.

Bagaimana tidak? Hampir dua jam aku menunggu di depan ruang dosen ini seperti kambing kurban menunggu giliran disembelih, menahan lapar, haus dan teriknya sinar matahari yang menyengat kulit, ternyata dosen sialan itu tiba-tiba pulang tanpa memberitahuku.

Ya, Tuhan. Jika aku punya dosa pada seseorang di masa lalu, tolong pertemukan aku padanya untuk meminta maaf sambil bersujud di kakinya. Mungkin orang itu sempat menyumpahiku agar hidupku dipersulit oleh orang lain. Dan saat ini aku sedang merasakan sumpahnya. Urusan hidup matiku dipersulit oleh seorang manusia bernama hewan. Elang.

“Coba ditelepon lagi, Mbak. Bikin janji di lain hari.” Bu Indri yang melihat mataku mulai berkabut airmata, merasa iba. Dengan dada yang terasa sesak, aku hanya mengangguk lemah.

Melangkah gontai dengan tumpukan berkas dan diktat di tangan, aku menyusuri koridor menuju keluar gedung fakultas. Dengan rasa kesal yang masih tebal, aku raih ponsel dari dalam tas. Mencari nama kontak Elang Dosen Sialan, lalu lekas menggeser logo hijau untuk menghubunginya.

Dua kali tidak dijawab. Namun aku lihat status aplikasi WA-nya sedang online.

Begitu pun pada panggilan berikutnya. Laki-laki brengsek itu tidak juga menjawab teleponku.

Tapi aku pantang menyerah. Sekali lagi aku telepon dia.

Dan ... akhirnya. Suara si berengsek itu menggetarkan gendang telinga.

“Ya?” Dingin bagai angin lalu, dia menyambut sapaan hormatku.

“Tadi saya menunggu di depan ruang dosen seperti yang Bapak suruh. Tapi kata Bu Indri, Bapak langsung pulang. Saya nggak suka di-PHP begini sama Bapak. Saya butuh Bapak periksa tugas saya, Pak. Bagaimana, sih?! Sudah janji tapi diingkari sendiri.” Aku merasa sudah tidak perlu beramah-tamah lagi dengan dosen satu ini. Biar saja dia menganggap aku mahasiswa kurang ajar. Dosen seperti ini memang tidak bisa dikasih hati.

“Saya sedang ada keperluan penting.” Suaranya tetap datar tanpa rasa bersalah sedikit pun. Alih-alih minta maaf karena membuat susah mahasiswa yang mendambakan ijasah sarjana, tawa renyah laki-laki itu justru terdengar sembari berbincang-bincang santai dengan seseorang yang mungkin sedang bersamanya.

“Tugas saya ini juga penting, Pak. Tolonglah jangan bikin susah saya, Pak. Teman-teman seangkatan tinggal menunggu jadwal sidang. Sementara saya masih berjuang di bab itu-itu saja. Kenapa, sih Bapak nggak adil sama saya? Kalau sejak awal Bapak nggak bersedia menjadi dospem saya, harusnya tolak saja, Pak. Jadi saya bisa meminta dosen lain yang punya waktu membimbing tugas akhir saya. Jangan mempermainkan hidup saya seperti ini, dong, Pak! Nyebelin banget sih jadi orang!”

Masa bodo dengan tata krama. Amarahku sudah menggila. Tugas akhir ini adalah hidup matiku. Lalu laki-laki arogan ini mempermainkan hidupku seenak perut. Sepertinya aku harus mempertimbangkan untuk mengganti dosen pembimbing secepatnya, walaupun harus mengorbankan waktu sedikit lebih lama.

“Sudah marah-marahnya?”

What?

Panjang lebar aku protes, tapi tanggapannya begitu saja?

Benar-benar kelewatan ini orang!

Aku sudah senewen karena kelakuan absurdnya, dia justru bilang aku marah-marah.

Aku bukan marah, Elang Sialaaan! Aku Gila!

“Temui saya sekarang.” Pria itu buka suara datarnya lagi setelah sekian detik kami terpaku keheningan.

Aku terbelalak, tanpa sadar tampilan wajahku yang semula menegang mulai mencair.

“Baik, Pak. Bapak dimana sekarang?” Tak ingin membuang waktu lebih lama aku lekas menanyakan. Aku pikir, jangan sampai si Elang Sialan ini berubah pikiran.

“Di hotel Aryadita.”

“Ho ... hotel?” Aku tergagap bersamaan jantungku yang tiba-tiba menyentak. Baru kali ini aku mendengar mahasiswa menemui dosen pembimbing skripsi di hotel. Kalau di sebuah restaurant atau tempat terbuka lainnya aku sering dengar. Dan menurutku itu masih wajar.

Tapi ini ... di hotel?

Seketika aku langsung bergidik ngeri.

“Tunggu saja di lobi. Setelah urusan saya selesai, nanti saya periksa materi skripsi kamu di lobi.”

“Tapi, Pak. Ditempat lain saja bagaimana, Pak? Di restaurant, barangkali.” Aku mencoba bernegosiasi dengan suara lirih.

“Jangan berpikiran yang aneh-aneh! Saya tunggu sampai jam 5 sore. Saya hanya punya waktu hari ini. Besok saya berangkat keluar kota untuk urusan bisnis selama satu minggu. Jadi, kalau kamu mau menunggu sampai minggu depan, ya silakan.”

Menurutku minggu depan terlalu lama. Sedangkan jadwal sidang skripsi yang terpaksa aku ambil di gelombang kedua tidak bisa lagi dibatalkan jika ingin diwisuda secara bersamaan dengan teman-teman seangkatan.

Jadi, terpaksa aku memutuskan, walau dengan terbata-bata. “Ba ... baik. Saya ... kesana ... sekarang.”

Sedetik kemudian, Pak Elang menyudahi komunikasi telepon kami. Tinggallah aku mengernyit bingung. Antara bimbang dan tentu saja ragu akan keputusanku menemui dosen pembimbingku itu di sebuah hotel.

Tapi, demi skripsi, aku buang jauh-jauh prasangka buruk di hati. Toh, Pak Elang bilang aku hanya menemuinya di lobi. Itu wilayah terbuka dan cukup ramai di sebuah hotel, kan?

Sambil mengucapkan berbagai doa di dalam hati, aku berdiri di depan gerbang fakultas teknik menunggu taksi online yang akan mengantarku menemui Pak Elang sore ini.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel