Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Perih

Rasanya .... seperti baru saja ada ombak besar menggulung-gulung diriku, entah dibawa kemana aku. Lalu serasa dihempaskan pada sebuah batu karang sehingga seluruh tulang belulang ini remuk redam. Dan ...

“Aaakhh... “ Sakitnya luar biasa tak tertahankan. Seperti ditikam oleh belati tajam, namun tak kasat mata. Bukan di kepalaku, tapi di bagian bawah tubuhku. Tepat di pusat ... kehidupanku.

Cahaya benderang di ruangan ini seakan menusuk mata. Aku mengerjap-ngerjap pelan seraya menahan perih yang teramat menyiksa.

Kesadaranku mulai terkumpul setelah entah berapa lama berpencar keluar dari tubuh. Kuputar kepala perlahan, memindai langit-langit ruangan.

Ini masih di ruangan yang sama dengan yang terakhir kuingat. Di kamar hotel yang luas, di mana terakhir aku bicara dengan ... Pak Elang.

Pak Elang?

Sontak, aku meraba tubuhku yang terbalut selimut putih dan tebal. Perlahan aku angkat tepian selimut, dan aku intip ke dalamnya.

“Astaga!” Di dalam selimut ini tubuhku ... telanjang.

Kembali aku gemetaran hebat. Pikiran buruk pun mulai menggenangi benak. Terlebih rasa sakit di bagian inti tidak juga lenyap.

Perlahan aku sibak selimut yang menutupi tubuhku, kemudian bersusah payah beranjak dari ranjang itu.

Aku terkesiap saat mendapati bagian dalam pahaku terdapat bercak darah yang mengering. Juga di alas ranjang. Di depan sana, cermin besar memperlihatkan sekujur tubuhku penuh dengan memar kecil berwarna merah keunguan. Di leher, di dada dan di sekitar perut. Bulu kudukku meremang saat menduga itu semua jejak sesapan bibir seseorang.

Meski aku belum pernah mengalami, namun aku cukup memahami bahwa rasa sakit dan perih disertai darah yang keluar dari bagian inti itu pertanda keperawananku sudah terkoyak.

Tanpa bisa kubendung lagi, airmata pun pecah bersamaan dengan prasangka pasti, bahwa aku telah dilecehkan.

Aku ... diperkosa!

Tubuhku yang lunglai kembali terjatuh ke atas ranjang. Bantal yang tergeletak sembarang menjadi sasaran amukan. Dengan tenaga yang masih tersisa aku hantam bantal itu bertubi-tubi untuk meluapkan kekesalan. Sementara, orang yang seharusnya menerima hantamanku tidak terlihat batang hidungnya.

Lelaki sialan itu pergi begitu saja setelah merenggut keperawananku. Mahkota yang kelak akan aku persembahkan untuk lelaki yang berhak atas diriku telah dia rampas dengan cara biadab.

Apa yang harus aku lakukan. Ya, Tuhan?

Apa yang akan terjadi setelah ini?

Berharap semua baik-baik saja? Tidak bisa!

Aku hancur!

Letih dan perih memaksaku menghentikan pukulan bertubi-tubi pada bantal dan ranjang. Dan membiarkan airmata ini terus bercucuran. Airmata penyesalan karena kebodohanku sendiri. Bodohnya aku karena terpedaya oleh kata-kata laki-laki sialan itu hingga membiarkan diriku terjebak di dalam kamar hotel ini.

Gontai, aku pungut satu per satu pakaian dan sepatu yang tercecer di lantai. Aku kenakan perlahan. Kulirik arloji yang masih melingkar di pergelangan tangan. Aku terperanjat saat melihat jarum panjang di pukul delapan.

Delapan malam? Atau delapan pagi?

Menahan perih di bagian inti, aku berjalan menuju pintu balkon. Lalu aku sibak tirai yang menutupi. Seketika, cahaya benderang matahari langsung menghujam mata dari balik kaca.

Berarti lebih dari dua belas jam aku tidak sadarkan diri. Dan sepanjang malam si Elang laknat itu memangsa tubuhku ini.

Berkas-berkas dan buku-buku yang aku bawa kemarin sore masih tertumpuk di atas meja itu. Gemetaran, aku raih semuanya bersama tasku. Lalu kudekap erat di dada dengan seluruh perasaan yang sejatinya telah hancur tak berbentuk.

Tertatih-tatih menahan perih, aku melangkah keluar, meninggalkan ruangan yang menjadi saksi bisu kebiadaban Elang Kafka Maghenda atas diriku.

***

Di sana, di depan kamar kostku, lelakiku tengah menunggu. Desta menegakkan tubuh menyambutku ketika aku turun dari taksi yang membawaku pulang ke kostan. Pancaran matanya penuh kekhawatiran menatapku dari kejauhan. Membuat airmata ini kembali luruh berderaian.

“Rara?” Desta menyapaku panik ketika melihat keadaanku yang sangat kacau. Rambut acak-acakan dan sekujur tubuh gemetaran. Dia bergegas menghampiriku, lalu meraih bahuku.

“Mas ... Rara ... “ Tak sanggup rasanya lidah ini mengadu pada Desta. Terlebih sorot matanya yang teduh itu memindai tubuhku dari kepala hingga ke bawah. Dia membelai rambutku dan menyampirkannya ke belakang telinga. Lalu menangkup wajahku dan menatapku penuh tanya.

“Mas tunggu Rara dari jam tujuh tadi. Kata Nadine kamu nggak pulang dari semalam. Rara kemana?” tanyanya lembut, namun disertai rasa panik yang menusuk hatiku.

Ya, Tuhan. Desta-ku. Cintaku. Apa yang harus aku katakan padanya?

Apakah aku sanggup melihat raut kecewa di wajah tampan itu ketika aku mengatakan sejujurnya?

Aku bingung. Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Yang aku bisa hanya menangis dan menangis tanpa bisa berkata-kata.

“Rara? Ada apa?” Kembali suara bariton itu meminta jawabanku. Namun, karena tidak tahan dengan rasa bersalah dan penyesalan, tubuhku luruh di dekapannya.

Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Ketika aku buka mataku yang mengering, aku melihat Desta berdiri tak jauh di sisiku dan Nadine duduk di bibir ranjangku. Aku berusaha bangkit menegakkan tubuh, dibantu Nadine yang menopang punggungku.

“Mas ... “ panggilku pelan pada Desta yang melipat kedua tangan di depan dada. Tapi wajahnya berubah, tidak seperti di awal bertemu tadi. Tidak tampak lagi kepanikan dan kekhawatiran di sana. Yang terlihat justru guratan geram dengan rahang menegang kencang, disertai sorot mata menatapku begitu tajam.

“Kamu chek in di hotel tadi malam?” tuduh Desta tanpa basa-basi. Menanggalkan panggilan sayangnya untukku. Aku menggeleng lemah dan menatapnya heran.

Bagaimana dia tahu aku berada di hotel tadi malam?

Baru saja hendak aku tanyakan itu padanya, Desta meraih ponselku dari dalam tasku dan memperlihatkan layar ponsel itu ke hadapanku.

“Kamar 105, ya, Pak. Saya ke sana sekarang.” Dia membaca isi pesan di aplikasi percakapan yang terpampang di depan mataku, tanpa melihat layar ponsel. Berarti dia sudah membuka ponselku dan menemukan pesanku untuk Pak Elang.

Melihat guratan geram dan penasaran di wajah Desta, sepertinya aku tidak sanggup lagi menyembunyikan tragedi yang menimpaku kemarin malam. Pengakuan yang sejujurnya harus aku ungkapkan saat ini juga.

“Mas, Rara ... Rara di ... perko ... sa.” Tangisku kembali pecah. Kututup wajah dengan kedua telapak tangan. Rasanya aku tidak kuat menampakkan wajah di depan Desta.

“Sahara? Maksudmu apa? Siapa yang perkosaa kamu?” Itu suara Nadine yang terdengar panik seraya menarik tanganku ingin melepas kedua tanganku dari wajahku.

Aku menggeleng kencang disertai raungan tangis yang menyesakkan.

“Sahara!” Tanganku tersentak. Desta yang melakukannya. Lalu, dia mendongakkan wajahku untuk berhadapan dengan wajahnya.

“Siapa? Siapa orangnya?” tanyanya geram dengan cengkraman kencang di daguku.

“Bilang, Ra! Siapa?” desaknya lagi lantaran melihat ketakutan di bola mataku yang basah.

“Bilang, Ra. Siapa laki-laki yang sudah berbuat kurang ajar sama kamu.” Nadine ikut mendesakku.

Tidak ada lagi yang bisa aku perbuat selain pasrah dan mengatakan semua. Walau aku tidak yakin Desta dan Nadine akan percaya. Terlebih melihat sepasang bola mata Desta yang memerah penuh amarah dan cengkeraman tangannya di daguku yang semakin mengetat.

“Pak ... Elang. Dosen pembimbingku.” Akhirnya lolos juga nama pria biadab itu dari bibirku.

“Apa? Pak Elang?” Nadine tersentak.

Cengkeraman tangan Desta mulai mengendur perlahan dan terlepas dari wajahku. Lelakiku itu menegakkan tubuh, lalu ...

“Bangsaaat!” pekikan Desta begitu kencang disertai hantaman tinjunya pada headboard ranjang. Aku sontak memekik merasakan headboard kayu di belakangku berguncang dan patah.

“Mas ... “ panggilku lekas beranjak dari ranjang dan meraih tangan Desta, berusaha menenangkan dirinya yang menggila. Dia menendang apa saja yang ada di dalam kamarku ini.

Aku peluk tubuhnya dari belakang. Lalu luruh ke lantai bersama deraian airmata yang tak sanggup aku tahan. Desta masih membelakangiku dengan napasnya yang terasa memburu. Tiba-tiba, dia menyentak kedua tanganku, hingga aku terjengkang ke belakang.

Cepat, dia meraih tasku dan merogoh isi di dalamnya. Lalu ... lembaran-lembaran uang merah berhamburan di depan wajahku.

“Itu apa? Bayaran setelah kamu memuaskan Pak Elang-mu itu?” bentak Desta, menuduhku tanpa ampun.

Aku terperangah bingung menatapi lembaran uang seratus ribu yang terhampar di lantai. Sangat banyak. Aku tidak mengerti darimana uang itu. Tapi aku duga itu adalah uang Pak Elang yang dia selipkan di salah satu saku tasku.

“Aku melihat uang itu di dalam tasmu saat aku mencari kunci kamarmu, Ra. Dan kamu mengatakan kamu diperkosa? Bagaimana bisa diperkosa tapi kamu terima uang yang sangat banyak?!” Desta berteriak di depan wajahku. Tangannya mengepal kencang membuatku terpejam, takut menerima hantaman.

Aku kembali membuka mata seraya menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Sejenak menepikan airmata yang sedari tadi bercucuran tanpa henti. “Mas, Rara nggak tahu uang itu. Sumpah! Rara memang ke hotel itu karena Pak Elang yang menyuruh Rara. Tujuan Rara hanya untuk bimbingan skripsi. Bukan yang aneh-aneh.” Aku berusaha menjelaskan. Tetapi mendengar decihan di bibir Desta, aku semakin yakin lelakiku ini tidak percaya.

“Bodoh! Mana ada bimbingan skripsi ke hotel?” sarkasnya sembari mengibaskan tangan kasar ke udara.

“Mas, itu yang sebenarnya. Dia bilang dia bersama anak dan istrinya. Karena itu Rara percaya. Tapi ternyata ... “ Kalimatku menggantung ketika teringat kembali kekehan kecil Pak Elang sewaktu mengatakan bahwa wanita dan anak di kolam renang itu bukan istri dan anaknya.

“Ra, kamu nggak serius, kan waktu kamu bilang akan memberikan apa pun yang Pak Elang inginkan asalkan dia memperlancar skripsimu dan memberimu nilai memuaskan?” Ucapan Nadine menyentakku. Aku menoleh ke arahnya dan menatapnya heran. Begitu pun Desta yang langsung menoleh pada Nadine dengan tatapan menyalang.

“Nad, kamu tahu saat itu aku bercanda,” tampikku tegas.

Apa maksudnya Nadine ini? Justru dia yang menyarankan aku untuk skinship tipis-tipis pada Pak Elang agar skripsiku dilancarkan. Kenapa sekarang dia menyudutkanku seperti ini? Seakan-akan perkosaan ini hanya rekayasaku semata.

“Aku pikir kamu serius saat itu. Karena aku yakin Pak Elang bukan tipe laki-laki yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu. Apalagi berbuat tidak senonoh pada perempuan dengan cara paksa.”

“Nadine! Dia pemerkosa! Dia perkosa aku!” jeritku.

“Mana ada pemerkosa janjian di hotel dengan yang diperkosa?”

Aku beranjak dari lantai dengan tubuh semakin bergetar hebat. Tanganku mengepal kencang. Ingin rasanya kubungkam mulut Nadine dengan tinjuku. Aku sama sekali tidak menyangka Nadine berkata seperti itu di depan Desta. Membalikkan keadaan seolah aku sudah memfitnah dosen kesayangan mereka.

“Kalau kamu yakin diperkosa, laporkan dia pada polisi dan juga kampusmu.” Desta membuka suara. Memberi keputusan untukku. Aku menoleh ke arahnya, lalu mengangguk tegas.

“Rencanaku memang begitu, Mas.”

“Aku antar. Cepat!”

Tanpa menungguku, Desta melangkah panjang keluar kamar. Meninggalkanku dan Nadine yang masih saling bersitatap tajam.

Aku menggelengkan kepala dan memicing tajam pada Nadine yang justru mendengkus mengalihkan wajah ke arah lain. Lalu, dengan langkah tertatih menahan perih pada tubuh bagian bawah, aku bergegas keluar menyusul Desta yang sudah menunggu di balik kemudi mobilnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel