Suffering Begins
Laporan sudah kubuat. Tetapi, polisi menyarankan sebaiknya laporanku disertai bukti dan saksi. Jujur, aku bingung menghadapi masalah ini. Karena selain tidak memiliki saksi dan bukti kekerasan fisik di sekujur tubuhku, chat pribadi antara aku dan Pak Elang pun sama sekali tidak kuat untuk membuktikan bahwa pelecehan seksual itu terjadi.
Aku hanya menangis saat ditanya polisi. Sedangkan Desta di sebelahku hanya mampu mengusap punggung dan meremas tanganku.
Tetapi, sesuai prosedur hukum, polisi akan tetap melakukan penyelidikan atas laporanku terhadap Elang Kafka Maghenda yang diduga telah melakukan tindak pelecehan seksual terhadapku.
Tidak berbeda dengan pihak universitas ketika sore harinya aku melaporkan tragedy yang menimpaku. Mereka menerima pengaduanku dan berjanji akan menindaklanjuti.
“Ini masalah sensitif yang berpotensi mencemarkan nama baik kampus, Sahara. Kami harus hati-hati menangani ini. Apalagi Pak Elang Kafka Maghenda salah satu dosen tetap dan mempunyai predikat cukup baik di sini. Bukti yang kamu tunjukkan pun terlalu minim. Namun begitu, kami akan segera memanggil Pak Elang untuk meminta keterangannya. Jika memang terbukti terjadi pelanggaran, kami akan menggelar sidang etik universitas.”
Hanya itu yang dikatakan Ketua Jurusan Teknik Arsitektur, Pak Ardi, saat aku mengadu padanya disertai deraian airmata. Jujur, aku pesimis meminta penanganan kasusku dari kampus. Lagi-lagi karena bukti yang aku punya tidak cukup menunjukkan pelecehan itu terjadi.
Diantar Desta aku kembali pulang ke kostan. Meskipun sepanjang jalan kami terjebak bungkam, tetapi tanganku tetap dia genggam. Itu cukup memberiku ketenangan setelah melihat bagaimana amukannya tadi pagi yang begitu menakutkan.
“Mas, maafin Rara karena tidak bisa menjaga diri,” ucapku lirih saat Desta menghentikan mobil tepat di depan halaman kostku.
Lelakiku menoleh. Tanpa senyum dia mengangkat tangan, mengusap pipiku pelan. “Mas cinta sama Rara. Sejak tadi Mas berharap ini hanya mimpi,” desisnya dengan suaranya yang berat dan serak. Aku tahu dia sempat menitikkan airmata sewaktu di perjalanan menuju pulang tadi. Tapi aku takut membuka suara untuk menenangkannya.
“Rara juga cinta sama Mas. Rara takut Mas nggak percaya dengan Rara.” Airmataku kembali luruh. Ibu jari Desta yang lembut mengusap pipiku, menepikan airmata itu. Lalu, senyumannya terbit di bibir, walau terlihat getir.
“Istirahatlah. Mas pulang dulu.”
Aku mengangguk, lalu meraih tangannya dan mengecup telapak tangannya yang basah karena airmataku. Dia pun meraih kepalaku, lalu mendaratkan kecupan hangat dan lama di keningku.
Setelah sekian detik kami saling menatap dengan perasaan haru, aku keluar dari mobil dan memandangi sedan putih itu melaju menjauh sebelum akhirnya menghilang di kelokan jalan.
Sebelum aku memasuki kamarku yang tidak terkunci, aku melirik kamar sebelah. Aku lihat bayangan Nadine di balik jendela kaca. Aku merasa sahabatku yang bertingkah sinis pagi tadi itu tengah mengintip aku dan Desta. Lalu, tirai itu tertutup kasar saat pandangan kami bertemu.
Entah apa yang membuatnya berubah sedrastis itu. Seperti tidak punya empati sedikit pun pada peristiwa buruk yang menimpaku.
Aku enggan memikirkannya. Masalahku saat ini jauh lebih penting dan memaksaku menyita perhatian.
Pintu kamar aku kuak lebar. Keadaan di dalamnya masih tampak berantakan akibat amukan Desta. Headboard ranjang yang patah. Alat-alat tulis, pecahan botol parfum dan buku-buku berserakan di lantai. Juga lembaran uang seratus ribu yang aku tidak tahu berapa jumlahnya bertebaran di segala arah.
Di atas meja masih teronggok tumpukan berkas dan buku yang aku bawa saat bertemu sang dosen sialan. Aku menatap semua itu dengan hati dipenuhi penyesalan dan kekecewaan.
Mengabaikan keadaan kamar yang tidak karuan seperti baru saja diterjang gelombang Tsunami, aku baringkan tubuhku ke atas ranjang. Mencoba terpejam. Dan menyamakan harapanku dengan harapan Desta, bahwa apa yang terjadi padaku hanyalah mimpi belaka. Mimpi buruk yang kuharap menghilang setelah aku terjaga dari lelap yang panjang.
***
Tiga hari berlalu dari kejadian buruk yang menimpaku. Setelah nyeri di sekujur tubuh sudah tidak terasa lagi, terutama di bagian inti, aku mencoba bangkit dari keterpurukanku yang membuatku tidak punya gairah melakukan apa pun, kecuali membaringkan diri di tempat tidur.
Lemah, aku raih ponsel di atas meja. Aku baru sadar ternyata ponselku tidak menyala karena kehabisan daya. Lekas aku sambungkan ke pengisi daya, lalu aku nyalakan segera.
Seketika, bunyi notifikasi pesan berdentingan. Aku lihat barisan chat room terisi penuh percakapan. Bahkan ada yang sampai ribuan. Semuanya dari teman-temanku, ada juga dari Desta, serta group chat teman satu jurusan dan group chat teman satu lokal.
Semuanya menanyakan keadaanku. Namun, yang membuat jantungku semakin berdetak tak menentu, ketika aku membaca dua group percakapan itu. Semua membahas berita pelecehan seksual yang dilakukan oleh Pak Elang, dosen favorit mereka terhadapku.
Aku bingung, secepat itu mereka tahu. Tidak mungkin Pak Ardi yang melempar bola panas itu ke permukaan. Sebagai salah satu petinggi kampus, beliau pasti akan menutupi berita ini agar tidak terjadi kehebohan yang membuat nama universitas negeri ini tercemar.
Sebenarnya aku tidak ingin menuduh, tapi aku yakin Nadinelah yang menyebarkan berita itu. Karena hanya dia satu-satunya warga kampus yang lebih dulu tahu tentang kasusku.
Yang lebih menohok ulu hatiku, dari seluruh peserta percakapan itu tidak ada satu pun yang membelaku. Mereka justru menyalahkanku, bahkan percaya bahwa justru akulah yang menyodorkan diri pada Pak Elang dengan sukarela agar tujuanku tercapai, meluluskan skripsiku dengan nilai memuaskan.
Mataku terbelalak lebar ketika membaca beberapa baris percakapan yang sangat menyakitkan.
‘Dia memang sudah berniat bernegosiasi dengan Pak Elang. Dia akan merayu Pak Elang, bahkan menawarkan diri jika Pak Elang sepakat memberinya nilai skripsi tinggi.’ Kalimat itu ditulis oleh Nadine di group percakapan Jurusan Teknik Arsitektur.
‘Gila Sahara! Mentang-mentang cakep, punya body oke, dijadikan modal untuk ngerayu dosen.’ Itu dari Laras, teman satu jurusan yang tidak begitu akrab denganku.
‘Rusak, deh, kredibilitas kampus kita kalau orang luar tahu ternyata ada ayam kampus di Jurusan Teknik Arsitektur.’ Itu dari Bimo. Dia beberapa kali mencoba mendekatiku tapi tidak aku gubris sama sekali.
‘Padahal pacarnya Sahara tuh cakepnya kebangetan juga, lho. Nggak kalah, deh sama Pak Elang. Lumayan berduit juga. Dasar Sahara nggak ada puas-puasnya. Aku jadi kasihan sama pacarnya, punya cewek kok menghalalkan segala cara cuma demi skripsi.’ Kalimat itu dari Nadine lagi. Menciptakan panas luar biasa di dalam dada ini.
‘Kasian, deh tuh cowok, dapat ampasan Pak Elang.’ Kalimat Nadine itu ditanggapi oleh Jeremy. Aku pun tidak terlalu akrab dengannya. Hanya kenal muka.
‘Pake ngaku-ngaku diperkosa, pula. Udah basi playing victim begitu. Nggak mungkinlah model Pak Elang memperkosa cewek. Kalau dia mau, tinggal tunjuk, bayar, selesai. Ya, kan?’ Kalimat ini ditulis oleh Roni, teman satu jurusanku yang lain.
‘Ya emang begitu, Ron. Pas pulang dari acara perkosa-perkosaan itu di tasnya Sahara ada duit segepok. Aku rasa puluhan juta, kayaknya.’ Kalimat menyembilu ini lagi-lagi dari Nadine. Aku geleng-geleng kepala dengan airmata yang seketika luruh tanpa kusadari.
‘Perkosa cewek, kok bayar? Itu sih namanya jajan. Pak Elang jajannya paha dan dada ayam.’ Entah siapa yang berkomentar, identitasnya hanya berupa icon tak jelas. Lalu disambut icon tawa dari yang lainnya.
‘Sebagai laki-laki normal, Pak Elang nggak mungkin nolak disodorin body montok kayak gitu. Apalagi cuma demi nilai. Pas sidang skripsi nanti ngasih nilai A juga nggak merugikan Pak Elang, kok. Lah wong, udah dikasih enak sama Sahara.’ Yang satu ini dari Rocky. Dan kalimatnya itu disambut ratusan komentar lainnya yang tidak ingin aku baca lagi.
Ya Tuhan. Kenapa mereka jahat sekali hingga menuduhku sebejad itu?
Apa mereka tidak punya perasaan membunuh karakterku sehina itu secara terang-terangan, sementara aku juga berada di dalam forum percakapan?
Kharisma Elang ternyata membius semua mahasiswa. Dengan pesonanya sebagai dosen tampan berhati peri, tidak pelit nilai, dan sangat dekat dengan mahasiswa membuat dirinya seakan dewa yang begitu sempurna dan tidak pernah salah.
Namun, bagiku Elang Kafka Maghenda adalah orang sakit jiwa. Predator menjijikan berkedok akademisi berintelektual tinggi. Bertampang malaikat, namun berhati iblis.
Kutepikan airmata dengan kasar. Lalu kubuka pesan dari Desta. Senyumku kembali terkembang saat membaca barisan kalimat menyejukkan disana.
‘Rara, ponselmu jangan dimatikan. Mas ingin tahu keadaan Rara setiap saat. Oh, iya. Mas minta bantuan seorang pengacara untuk mendampingi laporan Rara. Namanya Attala Tirtayasa, dia juga sepupu Mas. Mas sudah kasih nomor Rara ke dia. Nanti Rara ceritakan saja semua padanya, ya. Jangan patah semangat, Sayangnya Mas. Kabari Mas segera. I love you.’
Baru saja aku hendak membalas pesan Desta, terdengar ketukan tiga kali di pintu. Aku menoleh ke sana, lalu aku letakkan ponsel ke atas meja. Perlahan aku bangkit dari ranjang, lalu mengintip dari balik jendela lebih dulu.
Ibu Retno, ibu kostku bersama dua orang petugas berseragam kepolisian berada di depan kamarku.
Segera aku buka pintu dan mengangguk hormat ketika kedua petugas polisi itu menyapaku dengan sopan. Tapi tidak dengan Ibu Retno. Wanita setengah baya itu menatapku dengan sorot mata curiga. Dia memindai tubuhku seakan aku menyembunyikan sesuatu yang mencurigakan di balik baju.
“Sahara, bapak-bapak polisi cari kamu. Ada apa sih? Narkoba, ya? Jangan merusak citra kostan ini, dong!” serang Bu Retno asal tuduh.
Aku meneguk salivaku berat seraya menatap dua petugas di hadapanku bergantian.
“Bukan narkoba, Bu. Kami hanya mengantar surat pemanggilan Mbak Sahara untuk klarifikasi sebagai saksi pelapor.” Seorang petugas polisi yang menjawab dengan tenang.
“Laporan apa, Pak? Saya kok deg-degan ya kalau ada anak kost sini yang berhubungan sama kepolisian? Kostan saya ini terkenal bersih, Pak. Narkoba, free sex dan yang haram-haram lainnya tidak diijinkan masuk sini.” Ibu Retno masih saja menyerocos.
Ibu kostku ini memang terkenal ceriwis dan tukang gossip. Pelit dan mata duitan. Anehnya, setiap kali menerima uang pembayaran kost, dia selalu lupa mencatatnya. Jadi, hampir setiap bulan terjadi percekcokan dengan para penghuni kost, termasuk denganku. Padahal Desta sudah membayar sewa kamar kost seluas 20 meter persegi ini untuk satu tahun penuh. Begitu diperlihatkan kuitansi pembayaran, barulah dia menyerah untuk menagih padaku.
“Yang pasti bukan narkoba atau sejenisnya, Bu,” sahut Pak polisi yang aku lihat dari badge namanya bernama Wira.
“Ini surat pemanggilannya, Mbak. Ditunggu besok pagi di kantor,” alih Pak Wira padaku seraya menyerahkan surat beramplop coklat berukuran panjang ke tanganku.
“Terima kasih, Pak. Besok saya datang,” ucapku. Lalu mengangguk setelah kedua polisi itu meminta diri untuk pamit.
Tanpa mengacuhkan Ibu Retno yang masih penasaran denganku, aku banting pintu di hadapannya. Hingga aku dengar pekikan kagetnya disertai makian yang memanggang telinga.
Secepatnya aku akan pergi dari kostan ini. Aku pun sudah tidak tahan dengan suaminya yang mata keranjang, selalu merayuku saat aku sedang sendirian. Bahkan Desta pernah mencekik leher suaminya itu saat dipergoki tengah mengintipku dari lubang angin di atas pintu.
